Sang Antagonis

Sang Antagonis
Di Terima


__ADS_3

Nafas Nana tercekat.


" Ibnu, maafin gw tapi gw.. " Ucap Nana terhenti, menarik nafas kemudian menghembuskan nya. " Untuk sekarang gw belum mau pacaran, maaf " ucap Nana melepaskan tangan nya kemudian bangkit.


Sekarang Nana harus pergi secepat nya dari sana, agar keadaan tidak berlarut larut. Namun tak si sangka kalau Ibnu menarik tangan nya, Nana yang belum siap kini sudah jatuh di dada bidang Ibnu.


Laki laki itu menatap manik mata Nana yang indah, mata Ibnu sudah basah karna air mata. Melihat hal itu membuat Nana tak tega, ini lah yang buat Nana tidak bisa berlama lama disana.


Sebab kalau Nana tetap disana, kemungkinan hati Nana akan luluh, apa lagi melihat air mata Ibnu yang mengalir deras. Tatapan tulus dan juga menyirat kan luka itu membuat Nana tak bisa menahan diri nya untuk tetap egois.


" Kenapa Nana? Apa nana masih sayang sama Rizal? Apa Nana ingin Ibnu seperti Rizal juga? Kenapa Nana sayang banget sama Rizal padahal Rizal gak suka sama Nana, bahkan Nana suka di permalukan sama laki laki itu. Tapi kenapa Nana masih sayang sama diam? Nana gak liat aku? Nana aku akan lakukan apa pun asal Nana mau jadi pacar Ibnu " Ucap Ibnu dengan derai air mata, bahkan laki laki itu sudah sesegukan.


Tatapan Nana berubah jadi lembut, perlahan namun pasti, Nana menghapus air mata Ibnu yang mengalir deras.


Melukis senyum di bibir nya, kemudian membawa Ibnu kedalam pelukan nya.


Ibnu langsung memeluk Nana erat, menyembunyikan wajah nya di ceruh leher Nana. Wangi gadis itu yang lembut membuat Ibnu nyaman, dengan usapan tangan di punggung nya membuat Ibnu tenang walau sesegukan nya masih sesekali terdengar.


Nana bimbang, di sisi lain Nana tidak ingin pacaran. Di sisi lain pula rasa iba menyeruak di relung hati nya, Nana tidak tega melihat Ibnu yang menangis karna diri nya.


Nana sangat jelas melihat ketulusan di mata Ibnu, bahkan sorot tak ingin kehilangan pria itu sangat jelas.

__ADS_1


" Nana- "


" Sssstt.. " potong Nana kemudian mengurai pelukan nya, melukis senyum manis. " Jangan nangis lagi, gw gak mau liat lo nangis, apa lagi terlihat lemah kek gini. Lo cowok, masa iya sih nangis " Ucap Nana lembut.


Ibnu menunduk saat mendengar penuturan lembut nan penuh perhatian itu, kemudian kembali menatap mata Nana intens.


" Nana kamu- " ucap Ibnu terhenti.


" Iya, gw mau jadi pacar lo. Tapi janji yah jangan nangis lagi " Ucap Nana lembut.


Ibnu membulat kan mata nya seakan tak percaya, kemudian tersenyum bahagia, dan kembali memeluk Nana gadis yang sangat dia cintai.


Tok tok..


" Tuan, minuman nya " Teriak Maid dari luar kamar.


Nana mengurai pelukan nya kemudian ingin membuka kan pintu, namun di cegah oleh Ibnu.


" Biar aku aja yang buka, Nana duduk aja di sofa " ucap Ibnu tersenyum manis.


Nana tersenyum kemudian mengangguk.

__ADS_1


Setelah mengambil mampan berisi dua gelas juss jeruk, Ibnu meletak minuman itu di atas meja. Kemudian duduk di sofa depan Nana.


" Lo mandi aja Ib, gw gak papa kok tinggal bentar. Makasih ya minum nya " ucap Nana dengan senyuman manis.


" Nana gak papa di tinggal bentar? " Tanya Ibnu ragu.


" Iya, gak papa kok " Jawab Nana lembut.


" Nana gak akan pergi kan? Nana bukan nya pengen ngalihin perhatian aku biar Nana pergi kan? " Tanya Ibnu dengan tatapan selidik.


Nana terkekeh melihat tatapan selidik Ibnu yang bagi Nana malah terlihat lucu dan menggemaskan seperti anak kecil yang takut di tinggal orang tua nya.


" Iya sayang.. Nana gak akan kemana mana, gih mandi " Ucap Nana dengan senyum manis.


Ibnu yang mendengar kata sayang dari Nana membuat pipi laki laki itu memerah hingga telinga, buru buru Ibnu berjalan masuk kedalam kamar mandi, berharap Nana tidak melihat wajah merona nya yang sangat menggemaskan.


Namun terlambat, Nana sudah melihat wajah merona Ibnu dengan jelas, dan hal itu membuat Nana semakin gemes melihat nya.


" Pacar baru gw ternyata gak seburuk itu " Ucap Nana tersenyum manis.


•••

__ADS_1


__ADS_2