Sang Antagonis

Sang Antagonis
Rahasia Abimayu


__ADS_3

“Sejak kapan?” ulang Nayla. Sampai saat ini, Abimayu belum menjawab pertanyaannya. Alih-alih menjawab, sang suami malah mengajak duduk di sebuah kursi dekat pinggir pantai.


“Duduk dulu, Sayang.” Abimayu menepuk kursi tempat ia duduk. Ia tersenyum menyembunyikan rasa bersalahnya pada sang istri. Ia pasrah jika sang istri marah, memang itu sudah sepatunya.


Nayla tidak beranjak, “Sayang,” panggil Abimayu dengan suara mendayu dan mata memelas. Ia memeluk pinggang sang istri yang masih berdiri di depannya. Membenamkan kepalanya di perut rata perempuan cantik itu. Nayla menghela napas, mengikuti keinginan sang suami. Ia duduk berdempetan sesuai keinginan pria itu.


“Kamu boleh marah, boleh cubit, boleh pukul, terserah kamu. Tapi, jangan pernah tinggalkan aku.” Wajah Abimayu kini penuh dengan rasa bersalah, Nayla menatapnya lekat.


“Memangnya kamu mau melepaskan aku?” ujar Nayla mengangkat satu alisnya.


Dengan cepat Abimayu mengangkat kepala. “Ya, nggak lah. Mana bisa aku jauh-jauh dari kamu.” Pria itu menggenggam kedua tangan Nayla lalu mengecupnya.


“Nggak usah sok romantis, aku lagi marah ya.” Nayla memasang wajah marah dengan bibir yang mengerucut.


Duh, imutnya. Padahal lagi marah. Kalau gini, nggak bisa nahan diri. Batin Abimayu.


Cup! Mata Nayla membelalak.


“Kalau marah kamu jadi tambah cantik, Sayang.” Cengengesan Abimayu tanpa merasa bersalah. Wajah Nayla jadi merah padam, entah marah atau tersipu.


“Okeh, okeh, jadi apa yang harus ku lakukan agar istriku yang cantik ini tidak marah lagi?”


“Kamu masih hutang penjelasan, ya.” Nayla melepaskan tangannya, lalu bersedekap dada.


“Maaf.” Ucap Abimayu lirih dengan kepala menunduk. Ia pun mulai menceritakan awal kebohongannya dengan berpura-pura lumpuh. Mulai dari membayar dokter yang menanganinya saat kecelakaan itu terjadi untuk mendiagnosisnya lumpuh. Lalu mengungkapkan tujuannya untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, yang nyatanya tetap tidak peduli.


“Walaupun tidak berhasil, tapi setidaknya dengan kebohongan itu aku jadi tahu mana saja yang memang peduli dan setia padaku. Atau yang hanya pura-pura baik karena tertarik dengan kekayaan yang ku miliki.” Contohnya Maya sang mantan kekasih dan beberapa orang lainnya. “Dan yang paling penting ... karena hal itu juga, kamu jadi milik aku sekarang.” Setidaknya dibalik rentetan kejadian itu ada hikmah dibaliknya. Abimayu bersyukur akan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Nayla menghela napas, dan kini ia yang balik menggenggam kedua tangan Abimayu. “Mas, aku ngerti apa yang kamu lakukan ini. Aku juga nggak berhak untuk menyalahkan kamu, karena itu semua sudah kamu pikirkan dan sudah menjadi keputusan kamu. Tapi, kamu tahu ‘kan keutuhan rumah tangga itu terletak pada kejujuran dan saling terbuka satu sama lain.” Manik mata Nayla memandang lekat manik mata sang suami. Ucapan Nayla tidak membuat Abimayu berkecil hati, justru laki-laki itu tampak kagum akan kedewasaan sang istri.


“Iya, Sayang. Setelah ini aku nggak akan bohong lagi. Rahasia aku jadi rahasia kamu juga.” Kata Abimayu dengan tekad, ia tidak akan lagi menyembunyikan sesuatu pun dari sang istri.


“Begitu pula sebaliknya.” Angguk Nayla. “Kalau begitu, uang kamu jadi uang aku juga dong.” Mata Nayla penuh binaran ketika mengatakan itu. Wajah tegasnya beberapa saat lalu sempurna hilang bak diterpa angin pantai.


Abimayu terkekeh, “Itu sudah dari dulu, Sayang. Kamu aja yang tidak pernah gunakan black card yang aku selipkan di dompet kamu.” Karena mencintai perempuan itu bukan hanya modal cinta, tetapi juga uang. Abimayu tentu tahu konsep itu, walau ia yakin sang istri tidak terlalu mengharapkan uangnya.


“Oh yah,” Nayla tampak tidak tahu, ia hanya jajan dengan uang tunai dari suaminya. Bukan karena ia tidak punya uang, ayahnya selalu memberikan ia uang saku tiap bulannya. Tahu sendiri ia anak tunggal dari keluarga Arthama. Tapi membelanjakan uang suami, rasanya berbeda, dan sungguh menyenangkan.


“Eh, Abi jangan kira aku suka uang ya.” Jelas Nayla, takut suaminya memiliki pemikiran seperti itu.


“Lalu kamu suka apa?”


“Tentu saja suka Abi lah!” hati laki-laki itu tentu saja berbunga-bunga.


“Aku juga suka kamu,” katanya langsung menyambar bibir sang istri.


*****


Hal itu membawanya ke sebuah cafe yang terlihat cukup ramai, Widya menaikkan salah satu alis. Gadis muda itu membuka helmnya dibantu lelaki mudah yang memboncengnya.


“Jadi di sini tempat kamu kerja sekarang, Ky?” tanya Ayu melihat ke dalam kafe yang tersekat kaca transparan. Ya, orang yang diikuti oleh Widya adalah sang anak bungsu, Ayu, dan juga Rizky adik dari Maya.


Keduanya sudah berbaikan dengan Rizky yang meminta dan memohon maaf pada gadis itu. Keduanya memang sudah tak menjalin kasih lagi dan memutuskan untuk berteman.


Ayu memutuskan Rizky dengan baik-baik, saat lelaki itu bertanya alasannya. Tentu seperti yang dijelaskan sang kakak ipar, Nayla, ia hanya ingin fokus pada masa depannya dan memperbaiki diri. Sedikit juga Ayu menjelaskan telah mendengar percakapan antara Rizky dan kakaknya Maya di rumah sakit.

__ADS_1


Dan Rizky mengakui bahwa tidak berhubungan lagi dengan sang kakak, ia bahkan sudah mengembalikan segala fasilitas yang kakaknya itu berikan. Motor buntut yang ia pakai sekarang ini adalah hasil jerit payahnya sendiri menjadi pelayan cafe. Rizky tidak ingin mengikuti jejak sang kakak dan ayahnya yang sudah tersesat jauh.


“Masuk, yuk.” Ajak Rizky diangguki Ayu, keduanya berjalan beriringan tanpa berpegangan tangan. “Hari ini aku traktir minuman kesukaan kamu.”


“Benar nih?” tanya Ayu terlihat senang, Rizky membalasnya dengan senyuman untuk membenarkan.


“Asikk,” girang gadis itu, lalu terhenti karena seseorang menariknya dengan kuat. Ayu hampir saja terjatuh jika Rizky tidak cepat meraih tangannya yang lain.


“Cih, lepaskan anak saya dari tangan kotormu itu.” Bentak Widya melepas dengan paksa tangan pemuda yang tidak ia kenali. Walaupun sempat berhubungan dengan Maya, perempuan paru baya itu tidak pernah memperhatikan Maya yang memperkenalkan saudaranya yang dekat dengan sang anak bungsu.


“Mah,” Ayu tidak suka mendengar bentakan mamanya, juga dengan perlakuan kasarnya pada Rizky.


“Kamu kenapa sih, suka sekali dekat-dekat sama orang miskin. Kamu tidak takut dapat pengaruh buruk dari mereka!” tuding Widya tepat di wajah sang anak. “Orang-orang seperti ini nggak akan selevel dengan kita, Yu. Kamu ngerti nggak sih. Kalau cari teman itu, carilah yang satu circle sama kita.” Ujar Widya, menohok.


“Yu, kita ketemu lain kali aja ya.” Rizky pamit. Memberikan waktu untuk keduanya berbicara.


“Tapi, Ky—“


“Tidak ada lain kali, kamu jangan dekat-dekat lagi sama anak saya!” sela Widya.


“Kalau begitu, aku pamit Ayu, Tante.” Demi sopan santun Rizky menunduk kilas pada Widya. Ia pun memasuki kafe meninggalkan keduanya.


Jujur saja, perkataan Widya membuatnya tertohok. Tapi, Rizky tidak ingin terlalu memikirkannya. Tepatnya tidak ingin membuat musuh dan mencemari hatinya dengan kebencian.


“Mah, Mama apa-apa sih.” Sentak Ayu, melepaskan pergelangan tangannya yang di cengkeram oleh sang ibu. Gadis muda itu menatap ibunya kecewa, lalu berlari dari sana dan menaiki taksi.


“Ayu!” panggil Widya tak dihiraukan.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2