
Sibuk memamerkan menantu satu sama lain membuat mereka lupa akan satu fakta penting. Sejak kapan Mita Saraswati Munandra memiliki menantu? Sejak kapan anak semata wayangnya itu menikah? Dan sekarang, menantunya hamil?!
Pertanyaan-pertanyaan itu langsung terpatri di benak teman-teman Mita, mereka menatap perempuan yang langsung membawa dan memperkenalkan menantu itu dengan berbagai tatapan. Salah satunya tatapan cemoohan oleh Widya yang seolah mengembalikan perlakuan Mita beberapa menit yang lalu.
Kini Mita menjadi meradang sendiri, mengepalkan tangannya dibalik gaung. Ia berusaha mengendalikan emosinya, tidak ingin terjebak oleh menantu Widya yang tidak berguna!
“Pernikahannya digelar beberapa hari lalu, kami memang memilih tempat yang tertutup.” Alasan Mita, melambaikan tangan. Berusaha menyudahi pembahasan tentang dirinya.
“Tapi kau tidak mengundang kami Mita, tega sekali.” Tapi, teman-temannya masih tampak ingin membahas. Nayla di tempatnya tampak tenang, kembali menyeruput tehnya.
“Tentu saja kalian semua akan diundang, anakku akan mengadakan resepsi di hotel bintang lima.” Pernikahan Barra dan Maya memang belum diadakan resepsi. Bukan mereka tidak ingin mengadakan, tetapi karena perusahaan mereka yang baru saja bangkit dari keterpurukan.
Maya meneguk ludahnya susah payah, ‘Hotel bintang lima?’ beonya dalam hati. Biaya untuk mengadakan resepsi di sana tidaklah main-main. Ah, mulut mertuanya memang licin sekali!
“Wah, benarkah.” Teman-temannya tampak kagum.
“Tentu saja. Iya ‘kan, Sayang.” Maya hanya bisa mengangguk ketika sang mertua mencari pembenaran pada dirinya.
Kini para sosialita itu mulai mengelukan Mita dengan pujian, perempuan yang dipuji seakan terbang dibuatnya. Senyum manis yang sinis ia layangkan pada Widya yang terlihat iri dimatanya. Satu lainnya, dari sekian teman sosialita Mita tampak mengernyit.
“Menantumu hamil?! Ke isi apa, padahal baru menikah beberapa hari lalu ‘kan?” dahi Nita semakin mengerut, bertanya polos pada Mita yang senyum manisnya langsung lentur.
Mita dan Maya menatap Nayla jengkel, karena perempuan itulah pembahasan ini terjadi. Perempuan itu tidak hanya terlihat menikmati tehnya, tetapi juga menikmati cercaan orang-orang yang tertuju pada mereka.
Mita mengepalkan tangan, ini tidak boleh terjadi. Batinnya. Tujuan ia ke sini bersama menantu kesayangan adalah untuk mempermalukan perempuan itu dengan mertuanya. Tapi, kini keadaan sepertinya terbalik. Tidak bisa dibiarkan!
“Kalian tahulah, anak muda jaman sekarang ... kawin dulu baru mau nikah.” Minta terkekeh sumbang. Teman-teman saling pandang, heran! Bisanya hal tersebut dijadikan lelucon.
Seakan menciptakan kebanggaan tersendiri bagi Mita, padahal itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Sungguh memprihatinkan. Teman-temannya menggeleng, sepertinya teman mereka ini mengalami krisis moral.
“Anakmu saja itu. Anakku nikah dulu baru kawin.” Seloroh Nita tidak setuju, yang lain ikut mengangguk.
“Aduh, Jeng ... itu bukan untuk dibanggakan. Seharusnya malu dong!” kata Widya telak. Mita dan Maya tentu saja semakin tersinggung.
__ADS_1
“Aduh duh, Jenggg. Tidak usahlah kau urus masalahku. Urus saja itu anak lumpuh dan menantu mandulmu itu.” Mita menghina Widya terang-terangan, Maya tersenyum sinis pada Nayla.
“Hah! Buang-buang waktu urus masalahmu, lagi pula kau sendiri yang umbar-umbar aib.” Widya mengibaskan rambut.
“Terima kasih atas perhatiannya, Tante. Tante juga urus saja menantu dan calon cucunya.” Nayla menekankan di kalimat terakhirnya, seraya membalas tatapan Maya.
Maya berkelip, ucapan Nayla barusan seolah mengandung makna terselubung. Wajah Maya terlihat mulai tidak tenang. Jangan-jangan ...
Ah, tidak mungkin. Nayla tidak mungkin mengetahui fakta tentang bayi ini. Segala pemikiran buruk mulai bersarang di kepala wanita hamil itu.
“Kenapa—“
“Bayi ini milik, Barra.” Teriak Maya tak terduga. Membentak Aurel yang ingin bertanya keadaannya, pasalnya perempuan itu terlihat gelisah. Tapi ia malah dibentak, membuat terkejut.
“Apa-apaan, kamu.” Nita tidak terima menantunya dibentak seperti itu.
“Udah, Mah.” Aurel tidak ingin memperpanjang.
“Sepertinya menantu Tante butuh istirahat.” Nayla tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Sayang, ayo kita pulang.” Ajak Mita mulai tidak tahan berada di sana. Bersamaan dengan itu suara lift terdengar.
“Sayang, ayo kita pulang.” Sosok paripurna keluar dari lift dengan gagahnya, jas navy dengan celana senada semakin melengkapi penampilannya.
Semua orang terkejut, termaksud Nayla. Perempuan itu bahkan mengucek matanya berulang kali, takut salah lihat.
Begitu mencintaikah dia pada sang suami? Sampai pria yang berjalan dengan gagahnya itu terlihat seperti Abimayu.
Abimayu terkekeh di tempat melihat istrinya dengan mulut terbuka lebar, tampak sangat menggemaskan.
“A-abimayu!” gumam Maya tidak percaya. Ya, orang itu tak lain adalah Abimayu Bhaskara.
Cup!
__ADS_1
Abimayu mengecup bibir bawah sang istri. Nayla seketika mengatupkan bibirnya. Perempuan itu masih tampak shock, tepatnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Setahunya sang suami masih menggunakan kursi roda, tadi pagi ia pun melihat hal demikian.
Abimayu sendiri sudah memutuskan tidak ingin melanjutkan sandiwara konyolnya lagi. Toh, percuma saja. Niat untuk mendapatkan perhatian kedua orang tuanya, malah mengundang hinaan dari keduanya.
Hati kedua orang tuanya terlanjut tumpul untuk sekedar disadarkan dari apa yang mereka lakukan selama ini. Kedua orang tuanya sudah terlanjur dibutakan oleh harta, kasta, dan tahta. Mereka terlanjut memuja semua itu, sehingga keberadaan anak mereka tidak dihiraukan.
“Ayo kita pulang, Sayang.” Ajak Abimayu mengaitkan tangan mereka dengan lembut. Nayla seolah terhipnotis sehingga ia mengikuti suaminya itu dengan tenang.
“A-abi.” Bibir Widya bergetar menyebut nama sang anak dengan lirih.
Abimayu menggandeng sang istri, pergi dari sana dengan masih meninggalkan keterkejutan dari semua orang. Mengabaikan panggilan sang ibu yang sebenarnya ia dengar.
“Kenapa bisa?” Maya menunduk, memilin jari-jarinya. Mimik wajah perempuan itu tidak bisa dideskripsikan. Namun, sedikit ada raut penyesalan di sana. Entah, ia menyesal untuk apa. Tapi yang pasti, semuanya tidak ada gunanya lagi.
“Mereka terlihat serasi.” Puji Aurel jujur. Abimayu dengan pakaian navy nya dan Nayla dengan pakaian baby blue nya.
“Jeng tidak cerita kalau anaknya sudah sembuh?” timpal salah satu teman Widya yang melihat kepergian anak dan menantu temannya.
“Aku sepertinya harus pergi.” Widya beranjak dengan tiba-tiba, ingin menyusul sang anak dengan istrinya.
“Tapi Jeng, acara kita saja belum mulai.” Yang lain ingin menahan. Namun, sudah tak bisa.
“Sejak kapan dia sembuh? Kenapa tidak memberitahu? Keluarga sudah terlanjur banyak menanggung malu!” bahkan harga saham sempat anjlok akibat Abimayu. Begitulah pemikiran Widya. Bukannya bersyukur, ia malah ingin membuat perhitungan pada sang anak. Ia yang ingin bersandiwara terharu, diabaikan oleh Abimayu. Padahal Widya ingin dianggap sebagai ibu yang perhatian pada anak.
“Pokoknya papa harus tahu.” Perempuan dengan barang-barang branded itu segera menghubungi suaminya.
Mita menatap ternganga dengan kepergian mantan menantunya itu dengan mobil mewah bersama suami lumpuhnya yang sudah sembuh. Hatinya jadi semakin panas melihat itu.
Abimayu mengendarai mobilnya sendiri tanpa sang asisten, Alex. Ia menoleh melihat istrinya yang tengah menunduk, Abimayu mengusap kepalanya dengan lembut.
“Sejak kapan?” suara lirih dan datar, menghentikan pergerakan tangan Abimayu yang tengah mengusap kepala Nayla.
*****
__ADS_1
Bersambung...