
Seorang perempuan paruh baya yang tampak masih terlihat mudah dari usianya, turun dari pesawat dengan tampilan elegan serta barang branded yang ia kenakan.
Ia mengibaskan tangannya, menurunkan lagi topi bundarannya untuk menghalau sinar matahari yang amat menyengat. Terlihat berjejer dua koper besar di sampingnya.
“Aku paling tidak suka udara di sini, panas dan sumpek.” Matanya menyapu seluruh area, mencari penjemputnya. “Mamang, mana sih?” Ia mulai tidak sabaran dan merogoh tas limited edition untuk mencari ponsel.
“Ayu juga mana, sih. Padahal sudah dikabari sejam yang lalu.” Dumel perempuan itu mengotak-atik ponselnya.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, ia segera menggeser tombol hijau.
“Mama sudah di bandara. Kamu di mana, Yu?” tanyanya langsung memberondong anak bungsunya itu.
Di seberang sana Ayu terlihat meringis, “Aduh maaf, Ma. Aku nggak bisa jemput, soalnya masih ada kegiatan sekolah.” Widya tampak terlihat marah, sudah lama ia menunggu di sini.
“Mama telpon kak Abi aja ya, atau aku saja yang kabari suruh jemput mama.” Kata gadis itu mencari solusi, Widya terlihat mencebikkan bibir.
“Suruh pak Mamang saja jemput mama.”
“Tapi mah, pak Mamang ijin pulang kampung. Istrinya sedang sakit.” Beritahu Ayu, supir mereka memang sudah mengambil cuti beberapa hari yang lalu. “Atau mama pesan taxi aja, ya ...”
Widya menggeleng tegas usulan anaknya itu, tidak mungkin seorang nyonya Bhaskara menaiki taxi. Selain ribet tentu ia merasa gengsi, apalagi jika ada teman sosialita yang melihat mau di taruh di mana mukanya. Widya pun mau tidak mau meminta Abimanyu untuk menjemputnya.
“Ah, ini semua gara-gara mas Indra.” Gerutunya yang entah sudah ke berapa kali. Ia sudah mengajak suaminya untuk pulang bersama, tapi masalah pekerjaan yang selalu menjadi prioritas suaminya itu. Dan kepulangan Widya kali ini juga karena acara arisan yang akan dilakukan di rumah salah satu temannya di Indo. Widya tidak akan melewatkannya, ia sangat menjaga nama baik yang sudah ia bangun dengan susah payah. Ketidakhadirannya akan menjadi buah bibir dari teman-temannya itu.
Di perusahaan Bhaskara Group Abimanyu baru mendapatkan kabar kepulangan ibunya. Pria itu dengan segera menyimpan pekerjaan dan memanggil sang asisten.
“Nyonya pulang? Kenapa tidak mengabari lebih awal, saya akan siapkan supir kantor untuk menjemputnya.” Bingung Alex, Abimanyu mengangkat bahu tidak tahu. Mereka pun berjalan bersama turun dari lobi perusahaan, tentu dengan Abimanyu di kursi roda dan Alex yang mendorongnya.
“Abi ....” Abimanyu menoleh dan mendapati sang istri berlari menghampirinya, di belakang terlihat Elis yang mengikuti.
__ADS_1
Pria di atas kursi roda itu melebarkan bibir, memberikan senyuman manis untuk sang istri. Beberapa pegawai terperangah, baru kali ini mereka melihat senyuman atasannya. Mereka dengan cepat menunduk tak kala tatapan tajam Alex menghunus.
“Mau ke mana, aku bawakan makan siang.” Nayla menunjukkan rentengan bekal makan. Ia memberikan pada Alex lalu dirinya mengambil alih mendorong kursi roda Abimanyu.
Tatapan Elis dan Alex bertemu. Namun, dengan segera Alex mengalihkan pandangannya.
Perempuan dengan pakaian hitam itu mengernyit, tidak biasanya Alex berlaku seperti itu. Ia akan melihat tatapan lembut penuh kegirangan tak kala dirinya bertemu dengannya. Namun tidak masalah, ia merasa diuntungkan karena hal ini. Tatapan Alex dan usahanya yang ingin selalu mendekatinya membuat ia risi, tidak nyaman.
Alex sendiri menahan gejolak hatinya, seolah ada yang tengah berkelahi di dalam sana. Ingatannya kembali tertuju pada kejadian malam itu, bertemu dengan bocah kecil, dan ia pun memutuskan untuk bertingkah seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Jemput mama.” Jawab Abimayu, memiringkan wajahnya ke belakang melihat Nayla.
“Mama, pulang?” Nayla tampak terkejut. Dan ia pun memutuskan untuk mengikuti suaminya untuk menjemput sang mertua.
Mobil yang dikendarai Elis dan Alex berhenti pada tempat tujuan. Alex dan Nayla membantu Abimanyu untuk turun dan berpindah di kursi rodanya, mereka memang satu mobil yang dikendarai Alex.
“Mama tidak mau tahu, pecat saja pak Mamang.” Cerocos Widya tak kala rombongan Abimanyu menghampirinya. Ia berjalan dengan elegan, meninggalkan kedua kopernya yang kini berpindah tangan pada Alex dan Elis.
Abimanyu mengernyit, “Kenapa, Mah? Perasaan pak Mamang tidak melakukan kesalahan,” Nayla mengangguk setuju.
“Tidak melakukan kesalahan?! Mama sudah nunggu di sini lama, dan pak Mamang enak saja mengambil cuti.”
“Istri pak Mamang sakit,” Abimanyu membela supir keluarganya itu, Widya melambaikan tangan tampak tidak peduli. Menurutnya, supirnya itu memang tidak kompeten.
“Mama naik mobil yang itu? Tidak ingin bersama kami?” tanya Nayla melihat mertuanya menuju pada mobilnya yang dikendarai oleh Elis, di sana juga barang-barang Widya dimuat.
“Ya, Mama akan naik bersama pembantu baru ini.” Widya menaiki mobil itu dengan cepat, menurunkan topinya agar semakin menutupi wajahnya. Perempuan paruh baya itu terlihat resah.
“Dia bukan pembantu.” Ujar Nayla. Namun, tidak didengar oleh mertuanya itu. Widya langsung menaiki kursi penumpang tanpa menunggu respon Nayla maupun Abimanyu, apalagi Elis.
__ADS_1
Nayla memandang Elis, ia merasa tidak enak dengan ucapan Widya barusan. Jujur saja, ia sudah menganggap Elis sebagian saudara. Sosok kakak yang selalu menjadi pelindungnya, sekaligus sahabat yang menemani di mana pun dan kapan pun.
Elis balas menatap Nayla dengan tatapan menenangkan, ia pun memberi seulas senyum singkat lalu memasuki mobil dan siap di kursi kemudi.
Abimanyu juga merasa tidak enak, tapi mau bagaimana lagi, itulah ibunya. Mobil mereka pun berkendara menuju kediaman Bhaskara.
Widya menurunkan kaca mata hitamnya, dan menghela napas. Semoga saja salah satu teman sosialitanya tidak melihat dirinya tadi. Kalau tidak, ia pasti akan sangat malu. Apalagi dirinya bersama Abimayu.
Sudah cukup ia mendapat olokan karena Abimanyu yang cacat pada pertemuan sebelumnya.
Elis mendengar helaan napas Widya beberapa kali. Namun, ia tampak tidak peduli. Matanya fokus melihat jalanan yang sedikit mulai padat, mungkin karena waktu makan siang.
Malam harinya semuanya sudah tiba di meja makan, dan kini mereka tengah menunggu kedatangan Widya.
“Mungkin mama lupa kalau kita makan malam bersama.” Kebiasaan makan di meja makan itu memang baru saja diterapkan, selain karena keluarga yang jarang berkumpul juga karena Widya dan Indra selalu memutuskan makan di luar bersama kenalannya atau tidak dikamar untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan baik Abimanyu maupun Ayu selalu makan di kamar mereka masing-masing.
“Padahal aku sudah beritahu mama tadi.” Kata Ayu. Abimanyu melihat lantai dua, penampakan ibunya tak kunjung terlihat membuat raut wajah laki-laki itu berubah.
Nayla meraih tangan Abimanyu di bawah meja, lalu menggenggam. Abimanyu menoleh dan mendapati senyum teduh sang istri.
“Kayaknya mama lupa, aku pergi panggil aja deh.” Ayu sudah ingin berdiri dari kursinya, namun Widya terlihat menuruni tangga. Ia pun bergabung di meja makan tersebut. Nayla berdiri, mulai melayani suaminya. Widya mengamati semua itu.
“Bagaimana? Kamu sudah hamil, Nayla?” Perempuan yang tengah menyendok sayur itu seketika membeku.
“Kalian ‘kan sudah lama menikah.” Lanjutnya, semakin membuat Nayla tidak berkutik. Pasalnya di kehidupan sebelumnya, ia memang divonis mandul oleh dokter. Dan itulah yang membuat ia tidak bisa melawan akan semua hinaan baik dari Barra maupun Maya di kehidupan lalu.
*****
Bersambung...
__ADS_1