Sang Antagonis

Sang Antagonis
Dia Suamiku!


__ADS_3

Pagi itu aktivitas anak manusia kembali menjemput, termaksud pasangan suami istri yang semakin hari semakin dekat. Ungkapan kasih sayang terpancar di mata masing-masing, saling menyejukkan walau tidak ada ungkapan cinta yang secara langsung keluar lewat mulut.


Ya, itu hanya berlaku pada Nayla saja. Karena Abimayu, sang suami selalu mengungkapkan setiap hari, bahkan setiap jam, menit, dan detik.


Seperti saat ini, Nayla tengah membantu Abimayu memasang jasnya, lalu memperbaiki dasi yang oleng. Sang suami terus saja mengungkap cinta.


“Sekarang kuping ku hanya dipenuhi kata cinta mu.” Ucapnya sembari fokus membenarkan dasi sang suami.


“Dan sampai sekarang kamu belum membalasnya.” Raut wajah Abimayu dibuat sedih.


“Entah kenapa aku geli saja mengatakan itu.” Jujur Nayla, karena menurutnya kata-kata tidak ada artinya untuk membuktikan sebuah kebenaran. Buktinya di kehidupan sebelumnya Barra yang selalu mengungkapkan kata-kata manis, cinta, setia, ternyata mengkhianatinya dan itu dengan sahabatnya sendiri.


Jawaban Nayla membuat suaminya jadi murung.


Cup ... Cup ... Cup ...


Mata Abimayu membulat. Istrinya mencium pipi, dahi, dan terakhir bibir yang sedikit ia *****.


“I-ini—“


“Artikan sendiri deh!” Perempuan itu kabur dengan wajah merona, meninggalkan suaminya yang tersenyum sangat lebar.


*****


Abimayu baru saja selesai melakukan pertemuan bisnis dengan kliennya di sebuah restoran hotel. Dan tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang pernah mengisi dan menduduki hatinya.


“Maya.” Terlihat perempuan itu tengah berjalan sempoyongan dengan wajah pucat seolah tak ada darah mengalir di sana. Dan beberapa langkah kemudian perempuan itu terjatuh di depan toilet wanita.


“Maya—“ Abimayu menggerakkan kursi rodanya menghampiri perempuan itu. Juga menghubungi asistennya Alex untuk membantu.


“Haruskan kita menolong perempuan jahat sepertinya?!” Alex memberengut, menanyakan penempatan kebaikan tuannya pada manusia yang tak tepat.

__ADS_1


Walaupun Maya sudah mengkhianati dan melakukan tindak kejahatan, tapi saat ini perempuan itu adalah seorang manusia yang tengah membutuhkan pertolongan. Pikir Abimayu.


Dengan paksaan dari sang bos, Alex mau tak mau menggendong perempuan itu. Membawanya ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit.


Dan di sinilah mereka, mendampingi Maya yang tengah diperiksa oleh dokter. Tangan perempuan itu juga sudah dipasangkan jarum infus untuk memberikannya tenaga.


Baik Abimayu maupun Alex bingung mau mengabari anggota keluarga yang mana, jelas tidak ada nomor keluarga perempuan itu yang mereka simpan.


Setelah memeriksa perempuan di atas ranjang pasien yang tak lain adalah Maya, dokter perempuan paruh baya memancarkan senyum pada Abimayu yang masih berada di ruangan tersebut. Sebab sang asisten keluar, ijin untuk mengangkat telepon.


“Saya belum bisa memastikan kebenarannya, tapi ibu bisa diperiksakan di dokter kandungan.” Abimayu mengernyit, ‘ibu?’ Maya kah yang di maksud. Lalu kenapa pula harus diperiksa oleh dokter kandungan?


Dokter tersebut pun mengundurkan diri, dan akan mendatangkan dokter kandungan untuk Maya. Abimayu mengucapkan terima kasih untuk mewakili Maya kepada dokter tersebut.


Tak lama kemudian dokter kandungan masuk bersama seorang suster dengan membawa alat USG bersama mereka. Ia melemparkan senyuman sebagai tanda sapaannya, dan dibalas anggukan kilas dari Abimayu.


Mendengar keributan di sekitarnya, kelopak mata Maya perlahan terbuka. Ia menyesuaikan netranya dengan cahaya ruangan tersebut.


“Ibu sudah sadar, ya.” Dokter memberikan senyum hangat pada Maya yang tampak masih bingung dengan keadaan sekitar.


“Tunggu, Dok. Ada apa ini?” Maya kembali menurunkan bajunya, ia mengedarkan pandangan melihat Abimayu yang juga berada di sini.


Abimayu terbatuk, “Saya akan keluar, Dok.” Katanya mulai menuju pintu keluar.


“Tunggu, Pak.” Cegah dokter. “Anda tidak ingin melihat apakah istri Anda hamil?” tanya dokter bingung dengan sikap Abimayu, ia seperti suami yang tidak memedulikan istrinya. Maka dari itu nada bicara sang dokter terdengar tidak suka.


“Istri?!” Beo Abimayu terdengar tidak suka. Kesalahpahaman dokter tersebut sangat, sangat fatal. Sedangkan Maya sendiri tampak shock mendengar perkataan dokter mengenai kehamilan. Apakah mualnya selama ini karena dia sedang hamil? Tidak, tidak mungkin. Perempuan itu menggeleng.


“Iya, Anda harus membersamai istri Anda.” Tekan dokter pada kata ‘istri’ agar laki-laki di atas kursi roda itu tidak meninggalkan istrinya yang masih berbaring di atas ranjang pasien. Dan agar mereka berdua sama-sama bisa melihat apakah akan memiliki momongan.


“Dia bukan istri saya!” Abimayu tak kalah menekan suaranya, pria itu berkata dengan datar penuh kejengkelan. Siapa yang menyangka niat baik menolong, malah dihadapkan dengan kesalahpahaman yang menjengkelkan seperti ini.

__ADS_1


“Tapi sekedarnya Anda harus bertanggung jawab!” Dokter masih kekeh dengan praduganya yang kini mengira Abimayu telah menghamili anak perempuan orang di luar nikah. Abimayu memijit pangkal hidungnya tidak habis pikir.


“Dia suamiku!” Pintu ruangan itu terbuka lebar menampilkan sosok perempuan yang berjalan diikuti Alex. Atensi semua orang tertuju padanya.


“S-sayang.” Wajah Abimayu tampak kaget melihat kedatangan sang istri, Nayla. Lalu ada juga Elis di sana, paling akhir masuk di ruangan tersebut.


Nayla melihat name tag dokter tersebut yang tertulis Siska Adinata.


“Dokter Siska, biasakan mengetahui kebenaran terlebih dahulu sebelum Anda berbicara. Ini sangat fatal, sama dengan Anda salah mendiagnosis seorang pasien. Pikirkan sendiri akibatnya jika Anda salah mendiagnosis.” Nada lembut, namun terdengar tegas keluar dari mulut sang istri membuat Abimayu terkesima. Sedangkan dokter Siska mulai menyadari letak kesalahannya.


“Suami saya tidak ada hubungannya dengan perempuan itu.” Nayla meraih pegangan kursi roda sang suami. “Jadi kami mohon pamit, tidak ingin membuang waktu lagi di sini.” Katanya, lalu langsung menarik Abimayu bermaksud keluar.


Sebelum benar-benar keluar, dokter Siska meminta maaf pada keduanya. Perempuan ber-jas putih itu jadi tidak enak hati pada Nayla yang merupakan istri laki-laki tersebut.


“Tapi ibu ini sendiri yang tidak memberikan penjelasan, saya hanya mengira suami Anda adalah pasangannya karena beliau berada di ruangan ini.” Jelas dokter, tak ingin disalahkan sepenuhnya.


Dan ketika keluar Nayla berpapasan dengan Barra, laki-laki itu terlihat sangat khawatir. Maya sendiri tidak terlalu memikirkan sekitarnya, ia hanya fokus pada kehamilan. Yang entah siapa yang akan harus bertanggung jawab akan ini. Kebingungannya semakin menjadi ketika melihat Barra, dan ada rasa takut jika anak yang dikandung bukanlah anak Barra.


“Kamu kenapa bisa di sini, Sayang?”


Nayla berdecak, “Seharusnya aku yang nanya, kamu kenapa bisa di sini?!” Ada nada jengkel di akhirnya. Dan tentu saja ia tahu keberadaan sang suami pada orang-orang suruhannya, dan tertutup dengan ia pura-pura menelepon Alex untuk menanyakan keberadaan sang suami.


Alex sendiri tidak mengira istri sang tuan datang secepat itu, padahal baru saja ia mengirimkan lokasi mereka. Dan ketika menanyakan hal tersebut pada Elis. Perempuan itu menjawab datar karena mereka mengebut.


“Aku hanya menolongnya.” Jawabnya jujur.


“Kenapa nggak suruh orang lain saja,” tentu banyak orang di sana ‘kan, bukan hanya suaminya saja. Terlebih Nayla masih tidak terima atas kecelakaan sang ayah akibat ulah Maya. “Atau karena kamu mau reuni sama mantan!”


“Kamu cemburu, ya?” Abimayu tersenyum jahil.


“Iiihhh.” Nayla tidak mendorong lagi, ia meninggalkan suaminya dengan menghentak kaki. Abimayu terkekeh, memanggil-manggil nama istrinya.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2