Sang Antagonis

Sang Antagonis
Penyelidikan


__ADS_3

Di lorong rumah sakit Abimayu berjalan dengan tergesa menuju ruangan ICU. Dari jauh ia dapat melihat sang ibu mertua duduk di kursi panjang tampak kacau, di sampingnya ada Elis yang terlihat menguatkan. Laki-laki itu mengernyit tak mendapati sang istri.


Tepat setelah rapat itu selesai, Abimayu tercengang akan kabar yang dilaporkan Alex. Gudang utama perusahaan Artama Group mengalami kebakaran, api melahap segalanya tanpa sisa. Semuanya hangus dalam waktu yang singkat sampai tak ada yang dapat diselamatkan, beruntung tidak ada korban jiwa di sana.


Gudang itu merupakan tempat penyimpanan bahan baku usaha keluarga Arthama. Tempat bahan mentah disimpan dan diproduksi hingga barang siap untuk dipasarkan. Total kerugian yang dialami keluarga Arthama tak terkira, bahkan perusahaan sungguh terguncang oleh hal tersebut. Beberapa investor mulai mencabut saham mereka, tidak ingin ikut mengalami kerugian akan hal tersebut.


“Mah,” Abimayu mendekat pada ibu mertuanya itu.


“Nak,” kembali air mata Nila berlinang, perempuan berumur hampir setengah abad itu tampak terguncang akan apa yang terjadi. Bawah matanya hitam dengan garis wajah yang semakin kentara. Ada raut terkejut yang ditampilkan oleh sorot matanya.


“Mama tenang ya, semua akan baik-baik.” Kata Abimayu berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan sang ibu mertua. Rasanya tak rela melihat Nila dalam keadaan terpuruk seperti ini, ibu mertuanya adalah pribadi yang ceria. “Semuanya akan baik-baik saja,” ulang Abimayu memberikan kata-kata pemenangnya, walaupun ia sendiri tak tenang karena tidak mendapati keberadaan sang istri dan kabar dari mertua laki-lakinya.


“Papa bagaimana?” Nila menggeleng, memandang ruang rawat darurat.


“Dokter masih melakukan pemeriksaan, Tuan.” Elis yang menjawab. Abimayu menoleh, lalu bangkit. Ia masih bertanya-tanya akan keberadaan sang istri. Tidak mungkin istrinya meninggalkan rumah sakit tanpa mengetahui kabar ayahnya terlebih dahulu, kecuali karena sesuatu yang mendesak.


“Istriku di mana?”


“Nona ... nona sedang bertemu dengan klien bersama asisten tuan Arsyad.” Benar, setelah mengunjungi rumah sakit dan membiarkan Elis menjaga ibunya. Nayla lekas pergi bersama sekretaris sang ayah untuk menenangkan para klien yang sudah mendengar kabar kebakaran gudang.


“Nak, tolong, tolong kamu bantu Nayla—“ mohon Nila.


“Pasti. Mama sekarang istirahat, jangan lupa makan dan tetap jaga kesehatan. Aku tidak mau Mama kenapa-kenapa. Papa sama Nay membutuhkan Mama.” Abimayu tak ingin ada lagi anggota keluarganya yang lain sakit. Nila mengangguk, ia juga tak ingin hal itu terjadi. Tidak ingin menambah beban mereka, juga tak ingin sang anak semakin khawatir.


Abimayu pamit, sembari menelepon sang asisten setelah ia memberitahu orang-orangnya untuk menjaga sang mertua.


Setelah Abimayu hilang dari pandangan, Elis kembali menawarkan makanan pada Nila. Perempuan yang sudah memperlakukannya selayaknya anak sendiri. Nila tak menolak lagi sekarang, ia berusaha masukan makanan walau tak berselera.

__ADS_1


*****


“Apa yang Anda katakan benar, Tuan. Kebakaran ini tidak terjadi begitu saja seperti yang diberitakan, ada sesuatu yang janggal dan masih saya selidiki.” Lapor Alex di seberang telepon. Abimayu segera menyuruhnya menyelidiki kasus kebakaran gudang utama keluarga Arthama. Walaupun semua terlihat nyata dan status kebakaran dinyatakan karena kecelakaan, Abimayu tetap ingin menyelidikinya sendiri.


“Terus selidiki, bila perlu cek semua CCTV yang dekat dengan area kejadian.” Bahkan satu gedung yang memiliki CCTV tidak boleh terlewatkan!


“Baik, Tuan.”


“Satu lagi, kirimkan daftar klien yang bekerja sama dengan Arthama Group.” Alex tak banyak bertanya, ia pun segera melaksanakan perintah dari Abimayu.


Di sisi lain, Nayla dan sekretaris ayahnya baru saja keluar dari sebuah restoran. Bukan, bukan untuk menikmati makanan. Keduanya baru saja melakukan negosiasi bersama klien akan pembahasan perubahan kerja sama mereka.


Tak terhitung sudah berapa kali pertemuan yang mereka lakukan. Para klien ada yang menerima ada juga yang langsung menolak perubahan kesepakatan mereka sehingga kerja sama pun batal.


Nayla menghela napas, “Sekarang ke mana lagi, Pak Yan?” tanyanya pada sekretaris ayahnya. Lelaki yang seumuran ayahnya itu mulai melihat list pertemuan yang sudah ia atur.


“PT. Cakra meminta pertemuan secara langsung di kantor mereka, Nona. Dilanjut klien kita pak Brian meminta pertemuan di cafe area bandara, Mis Sella mengajak bertemu di—“


“Abi ....” Panggil Nayla ketika menemukan sosok itu, matanya mulai berkaca-kaca.


Abimayu terenyuh melihat raut lelah di wajah istrinya, ia segera mendekat dan membawa perempuan itu dalam dekapan. Nayla menahan tangis, membalas pelukan dari suaminya.


“Aku bersamamu,” ujar Abimayu mengusap kepala Nayla lembut, lalu mendaratkan kecupan di sana. Banyak sekali kejadian yang telah terjadi, dan kalimat dari suaminya memberikan ketenangan baginya. Jujur saja, ia tak sanggup menghadapi semua ini sendiri. Ia butuh sandaran, butuh tempat untuk berbagi. Dan Abimayu dengan senang hati menerima itu semua. Ia tak ingin sang istri menanggung segalanya sendirian.


“Sekarang kita pulang, kamu butuh istirahat.” Abimayu melonggarkan pelukan mereka.


“Tapi—“

__ADS_1


“Sttt, kamu percaya ‘kan sama aku?” Nayla memandang manik mata suaminya tanpa ada keraguan, lalu ia pun mengangguk.


“Sebaiknya Bapak kembali ke perubahan saja dan meyakinkan para investor serta pemegang saham. Orang-orang saya sudah menunggu Anda di sana.” Setelah beberapa patah kata lagi Abimayu menuntun istrinya menuju mobil. Asisten Arsyad mengangguk hormat atas bantuan Abimayu.


Setelah kendaraan Abimayu yang membawa anak dari bosnya menjauh, pak Yan mendapatkan panggilan dari sekretarisnya yang memberitahu bahwa para klien sudah ditangani dan perusahaan mereka mendapatkan suntikan dana dari Bhaskara Group.


Kini laki-laki paru baya yang merupakan tangan kanan Arsyad bisa menghembuskan nafas lega, tidak menyangka menantu dari bosnya itu sangat cekatan dalam menangani masalah ini.


“Tua—“ Abimayu memberikan isyarat agar Alex tidak bersuara. Ia tengah menggendong sang istri yang sudah terlelap ketika menuju rumah.


Abimayu memasuki kamar mereka, lalu membaringkan Nayla dengan perlahan. Dikecupnya kening sang istri dan menyelimutinya dengan selimut. Pintu kamar pun ia tutup dengan rapat.


Abimayu akhirnya masuk ke ruang kerjanya yang tak terlalu jauh dengan kamarnya. Alex mengikutinya lalu menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi ia pegang untuk diserahkan pada sang tuan.


“Ini hasil penyelidikan kami, Tuan. Kebakaran tersebut bukanlah disebabkan karena kecelakaan, ada seseorang yang memang sengaja ingin membakar gudang tersebut. Kami juga mendapatkan gambar pelaku yang memasang bom di beberapa sisi gudang.” Alex menyerahkan rekaman CCTV yang berhasil ia dapat pada Abimayu.


Abimayu melihatnya dengan serius, tanpa sadar tangannya mengepal di atas meja. “Kau sudah menangkapnya?” suara Abimayu tidak bersahabat.


“Sudah, Tuan. Bahkan kami sudah menginterogasinya.”


“Siapa?!”


“Itu ....” Alex terlihat ragu menjawab.


“Katakan!” sentak Abimayu. Alex tak menjawab, ia langsung menyodorkan kartu undangan resepsi pada sang tuan.


“Barra dan Maya?!”

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2