Sang Antagonis

Sang Antagonis
Rahasia Aku, Kamu, dan Shower


__ADS_3

Pasangan suami istri itu pulang di kediaman Bhaskara dengan mengendarai kendaraan masing-masing dan hanya selisih beberapa meter saja.


Abimayu memutuskan pulang walaupun jam belum menunjukkan jam pulang kantor, ia tidak ingin melewatkan sikap cemburu sang istri yang tampak manis.


Melihat sang istri berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya semakin membuat Abimayu gemas, ingin sekali ia berlari dan merengkuh pinggang rampingnya itu.


"Tuan!" Alex melotot, melihat Abimayu yang tengah berdiri dari kursi rodanya. Memang tidak ada siapa pun di ruang tamu itu kecuali mereka bertiga. Dan yang menjadi sumber masalahnya, Nayla menoleh ke belakang. Melihat seperti apa yang Alex lihat.


Abimayu merutuki dirinya sendiri, mengira keinginannya berdiri tadi hanya dalam angan saja. "Argh," dengan cepat Abimayu terjatuh, merintih amat kesakitan. Kedua orang itu berlari menghampirinya, namun hanya Nayla saja yang tampak khawatir. Sedangkan Alex memutar jengah bola matanya, lalu mencebikkan bibir. Pelototan Abimayu membuat ia ikut berakting.


"Abiii."


"Tuan, Anda baik-baik saja?"


Dua orang itu menghampiri Abimayu dengan cepat.


"K-kamu bisa jal—"


"Ini luar biasa! Anda sudah mulai bisa berdiri, Tuan."


Wajah Abimayu sudah pucat akan pertanyaan sang istri, tapi untung saja Alex segera mengalihkannya.


"Y-ya, itu juga spontan karena ingin mengejar kamu sayang." Abimayu menatap istrinya sejenak, lalu segera mengalihkan pandangan. Takut saja jika kebohongannya terlihat. Sedangkan Nayla sendiri masih tampak shock, antara rasa khawatir dan senang. Karena Abimayu mulai menunjukkan perubahan untuk sembuh.


"Wah, wah, luar biasa. Berarti Anda harus marah terus Nyonya agar suami mu memiliki refleks yang baik." Kata Alex langsung mendapatkan tatapan tajam dari Abimayu. Bagaimana bisa ia mengusulkan hal seburuk itu. Bahkan sangat buruk, karena ia tidak akan bisa melihat senyuman manis sang istri yang bisa membuat jantung berdetak setiap saat.


"Maaf, Tuan. Saya hanya bercanda." Kekeh Alex, garing.


"Heh, sudahlah. Ayo, kami akan membantu mu kembali ke kursi roda." Sela Nayla, tidak ingin memperpanjang urusan keduanya.


"Kau mau ke mana?" tanya Abimayu ketika ia sudah kembali ke kursi rodanya berkat bantuan Alex dan sang istri.


"Mau PDKT sama rekan kerja, Tuan." Alex berucap tanpa sedikit pun rasa malu, membuat seorang perempuan cantik yang baru saja berdiri di sana mengalihkan pandangannya.


Baik Abimayu maupun Nayla saling bertukar pandang, mereka memandang Alex lalu beralih pada Elis.


Elis berlalu keluar dengan tergesa. Entahlah apa yang dirasakannya sekarang, yang jelas telah tertutupi oleh wajah datarnya. Dan di belakang terlihat Alex mengejar.


Semenjak insiden pemesanan kamar hotel untuk atasan mereka, hubungan Alex dan Elis masuk ke tahap pertemanan.


"Aku tidak menyangka kau mau memakainya." Alex menghampiri Elis yang mulai pemanasan untuk lari, ia melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya menyisakan kemeja yang ia gulung sampai siku. Terlihat sangat memesona untuk perempuan lain, namun tidak untuk Elis.


Dan itulah yang membuat Alex tertantang. Lupakan wanita baik dan lemah lembut, karena yang ini lebih menantang untuk ditaklukkan. Selalu ada sesuatu yang menjadi rahasia di diri Elis membuat Alex penasaran untuk mengetahuinya. Matanya memancarkan kemisteriusan membuat ia harus menggali lebih dalam untuk mengetahui maknanya.

__ADS_1


"Kita harus menghormati pemberian orang dengan memakainya." Kata Elis datar. Melihat sepatu sport wanita yang melekat pada kakinya dengan sempurna dan tampak elegan. Dan jauh dari itu semua, sepatu pemberian Alex sangat nyaman.


Elis mulai berlari, rencananya akan mengelilingi rumah sebanyak seratus kali seperti hari biasanya.


"Bagaimana? Nyaman?" Alex mengikutinya dengan mengenakan sepatu pantofel. Elis meliriknya sejenak. Pasti tidak nyaman untuk dipakai lari, namun perempuan itu nampak tidak peduli. Membiarkan saja Alex memalukan sesuai keinginannya.


Di lantai dua, terlihat pasutri itu tengah mengamati tangan kanan mereka. Elis dan Alex.


"Nelpon siapa sih?" tanya Nayla melihat sang suami yang tampak sibuk dengan gawainya, lalu tatapan yang senantiasa mengamati Alex.


"Siapa lagi kalau bukan dia." Abimayu menunjuk dengan dagunya mengarah pada Alex. "Jam pulang kantor belum tiba, enak saja dia berada di sini."


"Ihhhh, apaan sih. Jangan ganggu." Nayla malah sebaliknya, ia ingin Alex berada di sana. Lalu menaklukkan hati pengawalnya, karena dialah satu-satunya pria yang tertarik lalu berani mengejar Elis. Biasanya pria hanya tertarik saja, mereka tidak bisa menjangkau wajah datar dan sikap dingin sang pengawal.


Ting!


Satu pesan masuk di ponsel Abimayu.


[Maaf, Tuan. Saya tengah mengejar tender masa depan.] Pesan Alex yang ikut dibaca oleh Nayla. Perempuan itu jadi kegirangan, bahkan sampai melompat-lompat.


"Sayang hati-hati!" Abimayu memperingati.


"Iya."


"Iya."


Tapi Nayla masih melompat-lompat kegirangan.


"Sayang bantu aku mandi."


"Iya!" Seketika Nayla diam terpaku. Apa barusan? Sedangkan Abimayu tersenyum kegirangan mendengar jawaban sang istri. Tersenyum penuh maksud.


Haruskah ia berterima kasih pada Alex?


"Tidak, aku tarik kembali ucapan ku." Nayla berucap cepat. Tapi tentu sudah terlambat, penolakannya tidak berlaku lagi. Abimayu menuntunnya menuju kamar mandi dengan senyuman lebar bak mentari pagi.


****


Dan di sinilah mereka, dibawa shower dengan masih mengenakan baju lengkap yang sebentar lagi akan menanggal. Abimayu juga masih dengan kursi rodanya, masuk di sana.


Wajah Nayla tidak bisa digambarkan lagi, merah merona bak kepiting rebus. Perasaannya juga jadi panas dingin.


Abimayu tampak menahan senyum menikmati setiap respon yang diberikan sang istri. Ia mulai menanggalkan jas hitamnya, dan sisanya akan menyuruh sang istri.

__ADS_1


"Sayang, buka."


"Ih, bukan sendiri." Pinta Nayla, berusaha mengendalikan wajahnya.


"Nggak bisa sayang." Pria itu mulai merengek.


Nayla tak tahan melihat sikapnya yang sudah seperti anak-anak itu, dan sekalian juga ia memperlakukannya seperti anak-anak.


Ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja sang suami yang kini menampakkan dada bidang dengan perut sixpack.


"Celana juga sayang."


Glek!


Nayla menelan ludah, tangannya gemetar menuju resleting berada. Digerakkan nya resleting itu ke bawah, pada bagian yang tampak mulai membusung menyisakan celana keramat berwarna hitam. Seketika otak Nayla kembali pada kenyataan, ini tidak bisa lagi dianggap anak-anak. Sangat tidak bisa!


Abimayu senyum-senyum sendiri, dilihatnya sang istri mulai menutup mata sembari ingin membuka celananya. Mata Nayla tertutup begitu rapat dan mulai menarik celana itu dengan cepat.


Dan ketika terlepas, ia segera berdiri dengan tegak. Matanya senantiasa tertutup rapat, tidak berani melihat. Napasnya terdengar tak beraturan.


"Hahahah, sayang bernapas lah dengan baik. Kita bahkan belum memulai." Abimayu menarik pinggang Nayla dan membuatnya terjatuh di pangkuannya.


Perempuan itu menjerit tertahan merasakan benda asing di bawah yang sangat kokoh, Abimayu membalikkan badan sangat istri dengan mudah, lalu membungkam bibir manis dengan bibir tebalnya.


Awalnya Nayla tak merespon, tapi sikap lembut yang di suguhkan sang suami membuat ia terlena dan mengikuti permainannya.


Tanpa sadar jemari Nayla bergerak manja di perut Abimayu yang kekar membuat laki-laki itu semakin bergairah. Ia melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan Nayla hingga satu helai pun tak tersisa.


Satu tangan pria itu memencet tombol membuat air shower meluncur membasahi kulit mereka yang meremang akibat hasrat tak tertahan.


Bibir Abimayu turun ke pundak, menghisapnya meninggalkan tanda kemerahan. Lalu merayap menyusuri setia inci leher jenjang sang istri. Tangannya tentu tidak tinggal diam yang mulai menjelajahi setiap benda-benda kesukaannya.


Kursi roda bergerak di bawah shower yang mengucurkan air hangat menjadi saksi dari aksi percintaan mereka dalam keadaan sama-sama sadar.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Abimayu pada sang istri yang tampak malu-malu setelah aksi panas mereka.


“Tau, ah!” Nayla berlari masuk ke ruangan wall in closet.


Abimayu terkekeh, “Tenang sayang, itu akan menjadi rahasia aku, kamu dan shower.” Ucap pria itu kembali membuat wajah Nayla memerah.


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2