Sang Antagonis

Sang Antagonis
Arisan Sosialita


__ADS_3

Nayla menggeliat, merasa terusik. Diraihnya lagi selimut untuk menutupi kepalanya. Abimayu berdecit pelan melihat kelakuan sang istri, ia menarik selimut itu lagi sehingga menampakkan wajah tenang Nayla. Istrinya ini masih betah menutup mata, padahal kemarin mengatakan ada janji.


“Hm, siapa yang kemarin suruh di bangunin?” pria itu menghujani pipi istrinya dengan banyak kecupan, sang empu jadi merasa terusik.


“Sayang, kamu ‘kan ada janji.” Abimayu memainkan rambut Nayla, sesekali mengusap dan menciumnya. Harum bunga menguar dari rambut sang istri membuat laki-laki itu nyaman.


“Aku sebenarnya malas ke acara begituan, palingan pamer barang-barang.” Kata Nayla mengerucutkan bibirnya dengan mata masih tertutup. Abimayu setengah mati menahan gemas.


Tak tahan, ia mendekati benda kenyal yang berwarna cery itu. Manis, tentu saja. Ia dibuat mabuk setia kali menyentuh benda ini.


Manik mata Nayla langsung terbuka lebar tak kala merasakan ******* lembut dari pria tampan miliknya.


“Bangun sayang, bukannya kamu ada sesuatu yang dilakukan.” Kata Abimayu lembut setelah melepaskan pagutan mereka dengan tidak rela. Ia harus ke kantor karena ada beberapa hal yang harus ia kerjakan, sedangkan sang istri diajak mamanya untuk menghadiri arisan kalangan sosialita.


Ketika di dapur, saat Widya menahan Nayla, perempuan paruh baya itu mengajaknya untuk mengikuti acara arisan. Teman-teman sosialitanya sepakat membawa menantu masing-masing. Widya tentu tak mau kalah, ia pun mengajak Nayla.


Nayla menceritakan itu pada suaminya, Abimayu sendiri memberikan keputusan pada Nayla. Dan perempuan itu memutuskan untuk pergi, menyuruh suaminya untuk membangunkannya lebih pagi.


Nayla memegang wajah Abimayu dengan tangan lentiknya, memandang wajah Abimayu yang semakin hari semakin tampan.


Cup!


Perempuan itu mengecup sekilas bibir Abimayu, lalu melihat reaksi suaminya yang tidak rela karena sekilas saja.


“Sepertinya kita tidak akan keluar kamar deh.” Ucap pria itu dengan nada berat, istrinya adalah penggoda yang ulung. Tidak bisa untuk dilewatkan.


Terdengar kekehan Nayla, “Apaan sih, mandi deh. Nanti kita terlambat.”


“Mandi bareng, yuk.” Ajak Abimayu semangat, Nayla terlihat berpikir. Lalu mengangguk malu-malu kemudian.


*****

__ADS_1


Ketika keluar dari kamar mandi, Nayla tercengang menatap tempat tidur mereka yang sudah sesak oleh barang-barang mewah. Nayla menoleh pada suaminya yang tampak biasa saja.


“Sejak kapan?” perempuan itu tampak bingung, pasalnya sebelum masuk ke kamar mandi tadi semua itu tidak ada.


“Itu tidak penting sayang, sekarang kamu pilih mau pakai yang mana.” Nayla dihadapkan dengan pilihan yang sulit, di sana terbentang beberapa gaun mewah dengan model berbeda, juga beberapa set berlian limited edition yang belum rilis di pasaran.


Ah, suaminya turun tangan secara langsung menyiapkan penampilannya di debut pertama menghadapi kaum sosialita.


“Kamu berlebihan, deh.” Nayla bukannya tidak menghargai usaha suaminya, tapi ini memang berlebihan untuk dirinya yang suka tampil biasa saja.


“Kalau ingin menaklukkan kaum sosialita memang begini caranya sayang.” Abimayu menarik Nayla agar mendekati barang-barang itu.


“Pilihlah, kamu bebas pakaian yang mana saja.” Nayla menatap gaung dan berlian itu, lalu kembali menatap suaminya dengan tatapan bingung. Ia memang bodoh mengenai hal seperti ini.


Abimayu menarik Nayla agar duduk di pangkuannya, kini beban kursi roda itu bertambah. “Suka warna apa?”


“Baby blue.” Jawab Nayla. Abimayu mengedar pandangannya pada beberapa gaun, dan matanya jatuh pada gaun polos dengan bahan terbaik berwarna baby blue. Ia rasa itu cocok.


Nayla berjalan dengan anggun menuju anak tangga, dan bertepatan itu juga Widya keluar dari kamarnya. Pandangan keduanya bertemu, Widya menatap Nayla dari bawah ke atas lalu mengangguk.


“Tidak malu-maluin, lah.” Batinnya tidak terucap. Nayla ikut mengangguk, sepertinya sang ibu mertua menyukai penampilannya. Ia harus berterima kasih pada suaminya.


Kedua wanita berbeda generasi itu menaiki mobil yang sama, sopir menancap gas ke tempat yang disebutkan oleh nyonya besarnya.


Rooftop restauran di salah satu hotel bintang lima tempat perkumpulan sosialita teman-teman Widya, tiba-tiba hening. Semua orang tanpa terkecuali memandang ke arah mertua dan menantu itu tanpa berkedip. Aura keduanya begitu terpancar oleh barang-barang yang mereka kenakan, beberapa suara terdengar menjerit histeris melihat barang incaran mereka dikenakan oleh Nayla.


“Duh, aura Jeng Widya menyilaukan mata sekali.” Kata salah satu temannya, Widya tersenyum simpul dengan elegan. Ia sangat suka mendengar pujian-pujian itu, telinganya melebar menikmati. Tatapan iri dari mereka sangat memanjakan matanya.


“Ah, Jeng Nita bisa aja.” Ia duduk di kursi yang masih kosong, diikuti Nayla.


“Yang datang dengan Jeng ini ...?” tanya salah satu temannya, melirik Nayla yang duduk tampak anggun. Nayla mengukir senyuman manis membalas lirikan itu, auranya terlihat berkelas. Tentu saja! Tidak sia-sia ia mengikuti mamanya ketika bertemu dengan orang-orang sosialita seperti ini.

__ADS_1


“Oh, ini menantu ku. Nayla, istrinya Abimayu.” Teman-temannya mengangguk, lalu berdecak kagum akan kecantikan Nayla dan tata krama yang ditunjukkan. Ternyata anak Widya dan Indra yang lumpuh itu bisa memikat perempuan cantik seperti ini.


“Mah, lihat deh. Bukannya itu berlian yang ingin kita incar minggu depan. Kok, udah dipake aja sih. Bukannya belum di rilis, ya?” Menantu Jeng Nita histeris sendiri melihat berlian yang dikenakan Nayla. Semua mata tertuju pada berlian itu, dan mengangguk setuju dengan menantu Nita yang bernama Aurel.


“Iiih... benar loh, Rel. Tante juga udah siap mau incar belian ini.” Sahut yang lain terperangah. Nayla kembali menampilkan senyuman, sudah ia duga. Ini akan menjadi ajang pamer barang-barang branded dari desainer terkenal berserta berlian yang harganya selangit. Tentu saja mereka ingin mempertegas status sosial mereka masing-masing.


Lalu pembahasan mereka pun seputar barang-barang itu, Widya tersenyum riang sambil sesekali tertawa karena ia yang lebih unggul dari teman-temannya.


“Aduhh ... kayanya kita terlambat nih, Sayang.” Semua mata tertuju pada suara itu, termaksud Nayla. Dan tatapan perempuan itu berubah dingin tak kala melihat dua perempuan yang sangat ia kenali.


“Santai aja, Jeng Mita. Kita juga belum lama kok.” Benar, dia adalah Mita. Mantan calon ibu mertua Nayla yang merupakan ibu dari Barra. Perempuan paruh baya itu datang bersama Maya yang mengenakan pakaian sedikit longgar. Nayla mengangkat salah satu alisnya, tidak percaya Maya mau mengenakan pakaian seperti itu. Ia sangat tahu selera perempuan itu.


“Mohon di maklum ya, Jeng. Menantu ku ini lagi hamil.” Pamernya memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.


“Udah berapa bulan? Menantuku juga lagi hamil loh.” Yang lain menimpali tak kalah girangnya.


“Menjelang tiga bulan ini.” Jawab Mita bangga dengan tatapan mengarah pada Widya yang tengah mencebikkan bibir. Mita tertawa puas melihat itu.


“Wah, sama dong. Menantuku juga hampir tiga bulan.” Nita mengelus perut Aurel yang pipinya kini tengah merona. Widya menghela napas, tidak suka dengan pembahasan ini.


“Jeng Widya gimana? Menantunya udah hamil belum?” tanya Mita dengan nada dibuat-buat, Maya menatap Nayla dengan tatapan merendahkan. Yang lain tertawa pongah mendengar pertanyaan Mita yang mereka sudah tahu jawabannya. Widya mengepalkan tangannya di bawah meja, ia ingin membalas. Namun, tidak bisa. Sedangkan Nayla masih terlihat tenang, sama sekali tidak terpengaruh.


“Hm, selamat Tante Mita. Sebentar lagi memiliki cucu.” Kata Nayla tersenyum anggun. “Ngomong-ngomong pernikahannya kapan?” tanya Nayla terdengar basa-basi.


Teman-teman sosialita Mita mulai berbisik-bisik. “Eh, iya. Kapan anakmu nikah? Kok, kita nggak tahu sih! Sekarang tahu-tahu udah hamil aja menantumu?”


Sekujur tubuh Mita membeku, ia menatap tidak suka pada Nayla yang terus menampilkan senyuman anggunnya. Menantu Widya itu terlihat menyesap tehnya perlahan.


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2