Sang Antagonis

Sang Antagonis
Berbaikan


__ADS_3

Nana memalingkan wajah nya, " Kalau lo suka sama gw, tentunya lo gak perlu nyamar hanya demi cari perhatian dari gw. Hal yang paling gw benci di dunia ini adalah kebohongan. Kalau lo suka sama gw, sekarang gw tanya baik baik sama lo. Siapa lo sebenar nya? " Ucap Nana dengan tatapan menantang.


Ibnu hanya menatap Nana santai, kemudian menatap lurus bangunan tinggi di kota itu.


" Gw hanya seorang pewaris, gw di latih dari kecil untuk tidak lemah. Pewaris, mewarisi semua yang di miliki keluarga ku. " jawab Ibnu santai, tanpa ragu sama sekali.


Nana tampak terdiam, kening nya mengerut dari gaya nya saja dan rumah laki laki itu sudah bisa di tebak kalau Ibnu seorang pewaris.


Namun yang Nana ingin ketahui bukan itu, ada yang mengganjal di hati nya namun Nana tidak tau apa. Intinya Nana merasa kurang puas dengan jawaban Ibnu.


" Jadi papa lo mewarisi semua hartanya ke elo?? " Tanya Nana lagi.


" Ya, karna gw anak tunggal " Ucap Ibnu menatap Nana dengan senyum manis.


Nana ngangguk, " Kayak nya papa lo orang yang sibuk, sebab gw kemaren gak liat papa lo. Gw hanya lihat mama lo aja " Ucap Nana mulai santai, melupakan emosi nya yang meluap luap beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


" Papa sudah meninggal, hanya ada gw dan mama. " Ucap Ibnu santai.


Nana terkejut, mata nya membulat kaget. Rasa bersalah tiba tiba menyerang dadanya.


" Sorry " Cicit Nana lirih.


Ibnu melirik Nana kemudian tersenyum, " Santai aja "


Nana menghela nafas berat, " Terus, kalau emang lo di latih dari kecil untuk gak di tindas, kenapa lo mau di bully sama 4 murid tadi? Bahkan gw liat lo pasrah aja tanpa ada memberikan perlawanan " Tanya Nana yang sedari tadi merasa penasaran.


" Hanya untuk menyadarkan diri, bahwa gw dunia ini hanya sementara, dan gak selama nya kita bisa di puji. Gw belajar banyak sejak gw mulai mengejar lo, tapi lo tenang aja.. Gw gak bodoh kok " Ucap Ibnu melirik Nana dengan senyum penuh arti.


Nana terkekeh, benar semua dugaan di otak nya, Ibnu bukan lah laki laki sederhana itu. Semua pasti ada motif dan balasan nya tersendiri.


" Kapan lo akan balas perbuatan mereka? " Tanya Nana penasaran.

__ADS_1


" Di luar sekolah, yang penting tidak di area sekolah. " Jawab Ibnu santai.


Nana tersenyum, mulai tertarik dengan Ibnu. Nana merasa aura Ibnu sangat lah kuat, Nana tidak bisa melewati kesempatan untuk dekat dengan laki laki itu.


Nana tau, Ibnu akan menjadi sangat berguna di masa depan. Entah semisterius apa Ibnu, Nana tidak perduli.


Hanya sedikit informasi dari mulut pria itu saja sudah membuat Nana puas, dan bisa memutuskan apa yang akan dia lakukan untuk kedepan nya.


Ibnu kini menatap Nana lekat lekat, " Setelah lo tau semua nya. Apa lo masih mau nerima gw? Gw paham gw salah, tapi lo mau kan maafin gw? " Tanya Ibnu, mata itu yang tajam dan tegas. Menatap Nana penuh perasaan membuat Nana tak bisa menatap nya terlalu lama.


" Gw maafin lo, asal lo tetap berpenampilan seperti biasa. Dan lo gak boleh pasrah kek tadi ketika lo di bully " Ucap Nana penuh penekanan.


Ibnu tersenyum, " Apa pun akan saya lakukan untuk Nona Alsyena " ucap Ibnu meniru pelayan laki laki ketika mematuhi keinginan nona nya.


Nana terkekeh kemudian mengacak rambut Ibnu gemes.

__ADS_1


•••


__ADS_2