Sang Antagonis

Sang Antagonis
Saling Menyempurnakan


__ADS_3

Pulang terjebak kemacetan, sampai rumah malah dibombardir oleh Widya sang mama. Wajah pria itu terlihat kusut, dan Nayla menyadarinya. Perasaannya juga masih tak nyaman mendengar ucapan sang ibu mertua, apalagi ucapan itu tertuju secara langsung pada suaminya.


"Aku siapin air hangat, kamu mandi ya... biar wajahnya nggak kusut terus." Nayla bukannya tidak tahu bagaimana perasaannya Abimayu. Namun, ia tidak ingin suaminya terus dalam perasaan seperti itu.


Bibir Abimayu mengerucut dengan alis tertaut, Nayla menatapnya gemas. Baru kali ini Abimayu menunjukkan ekspresi seperti ini.


Cup!


Tiba-tiba dua benda lembut itu saling menyatu, sesaat saja. Namun, sudah mampu membangkitkan kupu-kupu di perut pria itu.


Nayla terkekeh menjauh melihat reaksi sang suami, lihatlah ia tengah mematung dengan wajah terkejut.


"Sayang, kamu harus tanggung jawab." Abimayu menyusul istrinya ke dalam kamar mandi. Wajahnya yang kusut kini tergantikan dengan senyuman ceria.


Di rumah sakit, Elis terduduk di kursi samping brankar Gisella dengan menggenggam tangan mungil itu. Tadi Gisella memang sempat sadar. Namun, kembali pingsan. Rasa khawatir semakin Elis rasakan, apalagi setelah mendengar penjelasan dokter bahwa Gisella kembali mengingat ingatannya yang sempat hilang.


Kecelakaan maut dua tahu lalu, selain menewaskan kedua orang tua Gisella juga merenggut ingatkan gadis kecil itu. Elis yang tak ingin membuatnya sedih, membiarkan Gisella memanggilnya dengan sebutan ‘mommy’. Kakaknya yang merupakan ibu Gisella beserta suaminya, telah pergi untuk selamanya dan Elis tidak ingin kabar itu diketahui oleh ponakannya. Cukup rasa sakit ditubuhnya yang ia tahan, tidak dengan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tuanya. Pikir Elis.


Saat itu Elis tidak bisa berbuat apa-apa, keluarganya tengah dalam kesulitan. Gisella harus di operasi dan biayanya cukup mahal. Dan dengan kemurahan hati Arsyad datang menolong mereka tanpa pamrih. Ia sudah seperti malaikat tak bersayap untuk Elis dan ponakannya.


Laki-laki itu tidak meminta imbalan atau apa pun, Elis sangat berterima kasih. Untuk membalas kebaikan Arsyad, ia ingin menjadi berguna untuknya. Arsyad sudah menolak berulang kali, ia tulus membantu.


Tidak ingin melihat kekecewaan dari gadis yang masih mudah itu, ia pun mengusulkan menjadikannya pengawal sang anak. Elis dengan senang hati menerima usulan itu, ia juga memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang tersebut.


"Makan dulu, sejak siang tadi kamu belum makan." Alex menyodorkan makanan, laki-laki itu dengan setia menemani Elis juga dengan ponakannya yang baru ia tahu kebenarannya beberapa jam yang lalu.


"Tidak, aku tidak lapar." Tolak Elis halus, ia memandang wajah cantik Gisella yang masih setia menutup matanya.

__ADS_1


"Kamu harus makan, aku tidak ingin kamu sakit." Suara penuh perhatian itu, menarik perhatian Elis untuk menoleh. Menatap mata Alex yang memancarkan ketulusan.


Ditatap sedemikian intens seperti itu membuat kelompok mata Alex beberapa kali berkedip, "Maksudku, siapa yang akan menjaga Gisella jika kamu ikut sakit." Ia terlihat salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Senyum tulus diberikan Elis pada pria itu, senyuman yang membuat Alex terpesona sekaligus jatuh dalam jeratannya. Hatinya tidak bisa tertolong lagi, tatapan dingin Elis tergantikan dengan tatapan hangat yang mampus melelehkan hatinya.


"Terima kasih." Ucap Elis tulus, lalu mengambil makanan yang belikan Alex. Dua orang itu memakan makanan mereka masing-masing dalam diam, dengan degupan jantung yang bertalu-talu.


"Ta-tante." Suara lemah itu terdengar di bibir Gisella yang pucat, matanya perlahan terbuka.


"Ya, Sweetheart." Elis menyimpan makanannya dengan cepat, ia menghampiri gadis kecilnya itu. Alex ikut bangkit.


"M-mommy, daddy...." Gisella sesenggukan menyebut nama kedua orang tuanya, ingatnya sudah pulih.


Mata Elis berkaca-kaca, sesuatu yang ia takutkan pun terjadi. Tangisannya tak terbendung, begitu pula dengan Gisella.


*****


Dua sejoli itu keluar dari kamar mandi dengan rambut sama-sama basah, Nayla tampak cemberut karena tidak bisa mandi dengan tenang. Abimayu sendiri selalu menampilkan deretan giginya yang rapi, pria itu tampak sekali bahagia.


"Sini." Nayla menarik kursi roda suaminya agar mendekati ranjang. Lalu ia bangkit mengambil handuk kecil dan kembali di samping Abimayu.


Tetesan air mengalir dari rambut Abimayu yang basah, Nayla dengan telaten mengusap rambut  pria itu dengan handuk kecil yang baru saja diambilnya.


"Terima kasih." Ujar Abimayu tulus, ia memandang wajah bersih putih mulus istrinya itu yang belum dilapisi skincare.


"Ini ‘kan sudah kewajibanku sebagai istrimu," Nayla menghentikan sejenak kegiatannya untuk memandang wajah sang suami. Lalu kembali menggerakkan handuk kecil itu mengusap rambut Abimayu.

__ADS_1


Pria itu diam, lalu menundukkan kepala agar memudahkan sang istri mengeringkan rambutnya. Nayla merasa aneh dengan kelakuannya itu, ia pun menghentikan kegiatan dan meraih pipi sang suami dengan kedua tangannya agar mereka saling menatap.


"Kenapa?" tanya Nayla melihat perubahan ekspresi pada raut wajah suaminya.


"Maaf ya, aku menjadi suami yang tidak berguna untukmu."


Nayla mengernyit, "Maksud kamu?"


"Aku lumpuh." Abimayu menunduk. Ia kembali teringat dengan ucapan ibunya, kelumpuhannya ini bukanya mengundang simpati kedua orang tuanya, malah cemoohan yang diberikan. Dan ia pikir Nayla sangat sabar dengan kelumpuhannya ini, dan ia merasa bersalah karena ini semua hanya pura-pura saja. Namun begitu, ia jadi dapat melihat ketulusan sang istri tanpa melihat kelebihan maupun kekurangannya.


"Kamu bicara apa, Abi. Kamu tahu 'kan aku tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Aku tidak butuh orang yang sempurna, yangku butuh ‘kan itu adalah orang yang tulus serta setia." Tangan lentiknya mengusap pipi Abimayu yang tengah menatapnya lekat.


"Sekarang, paham 'kan?" tanya Nayla mempertegas, ia tidak ingin suaminya memiliki pemikiran konyol itu lagi. Terlihat anggukan kepala dari Abimayu. Nayla memberikannya senyuman.


"Aku bukan orang yang sempurna, begitu pula denganmu. Kita di satukan untuk saling menyempurnakan." Nayla mencium dahi Abimayu, lalu terlihatlah semburan merah di pipi karena ulahnya sendiri.


"Hm, aku akan ke dapur untuk minum." Katanya untuk menghindarkan diri agar Abimayu tidak melihat semburan merahnya. Tingkah Nayla membuat Abimayu gemas sendiri. Dalam hati ia terus mengklaim Nayla adalah miliknya seorang, kebahagiaannya adalah prioritas Abimayu sekarang. Tidak akan menyakitinya, apalagi orang lain!


Setelah meneguk segelas air, Nayla kembali mengisi gelas baru untuk ia bawa ke kamar. Bertepatan itu, Widya datang ke dapur. Suasana jadi canggung sejenak.


"Mama, mau minum?" tanya Nayla untuk basa basi. Widya hanya mengangguk dingin. Ketika ia ingin pergi, Widya kembali memanggilnya.


"Nayla, tunggu."


"Ya, Mah." Ia membalikkan badanya, menghadap sang ibu mertua.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2