
Malam semakin larut, jalan yang sepi dengan lampu temaram itu dipenuhi oleh suara pukulan dan tawa mengejek sesekali.
BUK!
"Rizky ...!" Ayu berteriak kencang melihat cowok itu terpelanting jauh akibat pukulan dari para preman yang mencegat mereka.
Awalnya kedua remaja itu ingin pergi ke sebuah kafe terkenal untuk menemui seseorang seperti yang dikatakan Rizky. Tapi nahasnya ketika melewati jalan sepi dengan pencahayaan yang minim kedua dicegat.
Rizky berusaha melawan empat preman itu seorang diri, namun tentu dengan tubuh kecil dan kemampuan bela dirinya yang biasa saja membuat ia kalah dengan cepat.
Beberapa lembam memenuhi wajah juga dara segar keluar dari bibirnya. Remaja laki-laki itu kini meringis kesakitan, matanya berkunang dengan mulut berusaha mengata sesuatu.
"P-pergi—" katanya terputus-putus dengan tangan yang menginstruksi agar Ayu berlari menyelamatkan diri.
"Tidak." Ayu menggeleng dengan air mata memenuhi pipinya, tentu ia tidak akan meninggalkan Rizky dalam keadaan seperti ini.
Tawa para preman pecah, mereka seolah menonton drama yang menggelikan dari dua remaja itu.
"Heh, gadis cantik. Ikuti saja kata pacar mu, lari lah ... dan kami akan dengan senang hati mengejar mu. Hahahah ...."
Bulu kudu Ayu meremang mendengar itu, ia berharap kakaknya bisa segera datang membantu. Walaupun harapan itu sungguh mustahil terjadi, sebab kakaknya yang lumpuh ditambah lagi tidak mengetahui keberadaannya sekarang.
Tapi tetap saja ingin berharap walau mustahil.
"Tenanglah gadis kecil, kami hanya ingin bermain-main dengan mu." Kata preman itu mendekat pada Ayu dengan tatapan lapar, begitu juga ketiga preman lainnya.
Tugas yang mereka lakukan ini sungguh menguntungkan, sudah dibayar ditambah bisa bersenang-senang dengan seorang gadis cantik.
Rizky kini sudah benar-benar pingsan. Ayu mundur secara perlahan ketika para preman semakin mendekatinya. Tubuh gadis itu bergetar tak karuan karena takut, tangisannya semakin menjadi saja. Mulutnya tak henti-hentinya merapal nama sang kakak, Abimayu.
"Jangan mendekat!" teriak Ayu.
"Kau berani berteriak pada kami? Hahahah, aku tidak sabar mendengarmu merintih keenakan nantinya."
"Tenang saja, awalnya memang sakit tapi nanti kita akan sama-sama terpuaskan." Kata yang lain, lalu disambung dengan tawa lebar.
__ADS_1
Cuih! Apa yang mereka bahas? Sungguh menjijikkan.
Ayu tidak tahan mendengar itu, ia mengumpulkan sisa tenaganya. Membalikkan tubuh lalu berlari sekencang dan semampunya. Namun baru beberapa meter, ia dengan mudah ditangkap oleh para preman itu.
"Mau lari ke mana gadis cantik, kita belum bersenang-senang." Katanya membuat tubuh Ayu lemas lunglai, ia merasa menjadi kelinci kecil yang dikelilingi para harimau lapar.
Mobil lamborghini berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya berhenti dengan suara decitan amat nyaring, tepat di depan para preman yang tengah meringkus Ayu.
"Lepaskan dia atau aku patahkan tangan kalian satu persatu!" Seorang pria berperawakan tinggi dengan menggunakan masker penutup wajah menghampiri dengan tangan terkepal kuat.
Ayu mendongak, ia seolah mendengar suara kakaknya. Tapi melihat pria yang berjalan dengan normal itu tidak mungkin sang kakak.
"Berani sekali kau merusak kesenangan kami! Mau jadi pahlawan kesiangan, heh?!" salah satu preman yang diyakini adalah ketua, menyuruh teman-temannya menyerang pria bermasker itu. Ketiganya langsung memasang kuda-kuda untuk melawan satu orang.
Tanpa ba-bi-bu lagi, laki-laki bermasker itu menendang salah satu preman membuatnya terpelanting dan menghantam ke jalan raya yang legam.
Preman lainnya berniat meninju, tapi tangannya langsung diraih, dipelintir ke belakang. Laki-laki bermasker menendang kakinya membuat preman itu terjatuh lalu memukul telak bahunya dengan siku. Seketika preman kedua itu langsung terjatuh pingsan.
Preman ketiga sebenarnya sedikit gentar melihat lawannya yang dengan mudah menghabisi rekan-rekannya. Tapi tuntutan dan paksaan bosnya membuat ia mau tak mau tetap maju.
Pria itu tersenyum miring dibalik maskernya, "Menyerahkan diri, hm." Lalu tak lama, preman ketiga pun ikut menyusul teman-temannya dengan tak sadarkan diri.
"YAK!" tinjunya ditepis dengan mudah membuat preman mengeram marah, tangan lainnya terangkan ingin meninju. Namun langsung ditangkap, dan ...
KRAK!!! Terdengar tulang lengan preman itu patah. Ia mengeram, berteriak kesakitan. Para anak buahnya yang baru tersadar langsung berlari terbirit-birit meninggalkan sang bos.
Tak lama, beberapa mobil lain datang. Dan salah satu yang turun adalah Alex. Lainnya adalah pria kekar yang kini meringkus para preman yang berusaha melarikan diri.
"Kak Alex," Ayu berlari menghampiri pria itu, kini dia bisa bernapas lega. Dan ingin berterima kasih pada pria bermasker yang telah menyelamatkannya. Tapi pria itu telah pergi menaiki mobil setelah bertukar pandang dengan Alex.
"Nona tidak apa-apa?" Ayu menggeleng sembari melihat kepergian mobil orang yang telah menyelamatkannya.
"Kalau begitu, sebaiknya kita pulang." Ajak Alex.
"Tunggu, Kak. Tolong bantu teman ku." Ayu menghampiri Rizky yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Biarkan mereka yang mengurus teman Anda Nona, Tuan Abimayu menunggu di rumah. Beliau sangat khawatir."
Ayu pun teringat kakaknya, benar, kak Abi pasti sangat khawatir apalagi saat mereka bertelepon tadi nadanya ketakutan. Ia pun memilih pulang bersama Alex dan mempercayakan Rizky pada pengawal yang diyakini bawahan Alex.
Abimayu masuk ke dalam kamar dan langsung disambung oleh pertanyaan sang istri.
"Kok belum tidur?" Pria itu tersentak. Nayla menyalahkan lampung, mengucek kedua matanya.
"Ayu belum pulang," raut wajahnya terlihat khawatir.
"Hah? Kok bisa?" Nayla melihat jam yang kini menunjukkan pukul 11 malam. Abimayu pun menggeleng tak tahu, penuh kekhawatiran. Nayla seketika turun dari ranjang.
"Mau ke mana?" tanya Abimayu melihat istrinya ingin keluar kamar.
"Aku akan menunggu Ayu, atau memerintahkan seseorang untuk mencarinya." Ujar perempuan itu ikut khawatir.
"Kalau begitu, aku ikut." Abimayu dan Nayla pun keluar kamar menuju lantai bawah. Mereka tiba di teras rumah, dan di sana terlihat mobil hitam memasuki gerbang. Mata keduanya sama-sama tertuju pada mobil tersebut.
Ayu turun dari mobil dengan sisa ketakutannya, bagaimana pun baru kali ini ia mengalami hal seperti ini.
Nayla yang menyadari langsung memeluk tubuh gadis itu, dan Ayu sama sekali tidak menolak.
Ayu menerima pelukan dari Nayla karena sejujurnya ia memang membutuhkannya, pelukan hangat yang membuat tubuhnya terasa tenang. Kali ini adalah momen pertama mereka tanpa adu mulut, atau tanpa ada tatapan saling sinis.
Nayla membawa Ayu masuk, ia membiarkan gadis itu untuk duduk. Lalu dirinya pergi ke dapur mengambil air minum.
Ia memberikan air minum tersebut padanya, dan tidak menanyakan apa yang baru saja Ayu alami. Memberikan Ayu waktu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Terima kasih, Kak." Ucapan tulus yang Nayla terima pada adik iparnya untuk pertama kali.
"Bagaimana?" Abimayu masih bersama Alex, tidak ikut masuk.
"Mereka sudah dibawa ke gudang, Tuan."
Gudang maksud Alex adalah tempat para preman tadi disekap.
__ADS_1
*****
Bersambung...