Sang Antagonis

Sang Antagonis
Perubahan Widya


__ADS_3

“Barra dan Maya?!” Alex mengangguk mantap, dua orang itu bahkan terlibat interaksi dengan sang pelaku. Ia pun kembali menunjukkan beberapa rekaman bukti kejahatan Barra dan Maya.


“Benar, Tuan. Pimpinan Munandar dan mantan kekasih Anda ....” Abimayu melirik tajam pada pelafalan Alex, membuat asistennya itu meneguk ludahnya susah. “Maksud saya Maya, mereka berdua bekerja sama dalam insiden ini. Untuk motifnya masih kami selidiki.”


“Manusia berhati cacat tidak membutuhkan motif untuk melakukan kejahatan!” geram Abimayu. Pasalnya dia hampir lupa dengan dua manusia itu, mereka tidak pernah lagi bersinggungan. Bertemu pun ...


Abimayu terlihat berpikir sejenak, ia pun teringat akan pertemuannya dengan Maya beberapa hari lalu saat acara arisan mamanya.


Alex mengusap tengkuknya merasa merinding melihat sikap yang ditunjukkan tuannya, aura Abimayu penuh permusuhan, dingin, kelam, tak tersentuh.


Suasana kelam di ruang kerja Abimayu sungguh berbanding terbalik dengan suasana ruang tamu di kediaman Munandra. Di ruang tamu dengan anggota keluarga yang lengkap saling bercengkerama penuh kehangatan, wajah mereka berseri-seri membahas acara resepsi Barra dan Maya yang beberapa hari lagi akan dilaksanakan di hotel bintang lima.


Sepulang dari acara arisan para sosialita, Mita sebagaimana ibu mertua sayang menantu langsung mengadukan segala yang terjadi saat pertemuan itu. Tentu saja di lebih-lebihkan agar mendapatkan simpati dari sang anak, tak lupa ia memberitahukan hinaan serta cacian yang mereka dapatkan karena ulah Nayla dan mertuanya. Padahal kalau ditelusuri mereka sendirilah yang mengundang orang-orang untuk mempermalukan mereka. Namun, Mita tentu saja tidak akan mau jujur mengenai hal tersebut.


Maya yang merasa semakin iri akan kehidupan mantan sahabatnya, Nayla, membenarkan ucapan sang ibu mertua. Barra tentu saja tidak terima akan semua hal itu. Ia pun dengan mudah menyetujui keinginan ibunya untuk mengadakan resepsi pernikahan mereka di hotel mewah. Tak peduli seberapa banyak biaya yang ia keluarkan.


“Mama nggak sabar lihat wajah iri mereka,” lontar Mita membayangkan wajah iri teman-temannya nanti. Membayangkannya saja sudah mampu membuat ia tertawa bahagia.


“Ya, itu juga akan menunjukkan bahwa keluarga kita tidak bisa diremehkan. Mama sangat setuju diadakan pesta ini.” Bagaimana pun semua orang harus tahu kedudukan keluarga mereka sekarang. Nenek Barra mengangguk takzim akan pemikirannya.


Maya dan Barra sendiri saling pandang dan tersenyum penuh maksud. Mereka yang sebentar lagi mengadakan pesta, keluarga Arthama yang tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar. Maya tak sabar mendengar kabar tersebut.


*****


Abimayu meraba kasur di sampingnya, kosong. Ia lantas terbangun mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang istri. Tidak mendapati di kamar mereka, ia pun memutuskan mencari di lantai bawah.


“Sayang, kau di sini.” Abimayu langsung mendaratkan kecupan di leher jenjang sang istri. Tidak peduli sang istri yang tengah sibuk dengan aktivitasnya. Siapa suruh meninggalkannya tanpa izin.

__ADS_1


“Ih, Abi! Geli, ahhh.” Nayla yang tengah sibuk memasak merasa terganggu oleh kedatangan suaminya. Rambutnya yang di sanggul ke atas mengekspor lehernya membuat bibir Abimayu leluasa bermain di sana.


“Abiii ... aku lagi masak nih, jangan ganggu dulu.” Sungut Nayla berusaha menghindari. “Nanti kalau ada yang lihat gimana?” katanya mencari alasan.


“Biarkan saja,” ujar Abimayu enteng. Tidak peduli. Toh, mereka ‘kan pasangan legal. Jadilah, Abimayu yang bak perangko menempeli sang istri. Perempuan cantik itu hanya bisa pasrah saja akan kelakuan suaminya.


“Masaknya banyak banget,”


“Hm, rencananya mau aku bawain untuk papa. Abi ikut ‘kan?” Nayla membalikkan badannya dan langsung dihadapkan dengan wajah bantal sang suami.


“Pfttt! Hahaha ... wajah kamu, Sayang.” Tawa Nayla pecah, baru memperhatikan wajah suaminya. Bukannya marah, pria itu malas tersenyum. Merasa senang karena telah membuat istrinya tertawa sejak rentetan kejadian yang telah menimpa.


“Namanya juga baru bangun. Tapi, masih ganteng ‘kan?” kata Abimayu penuh percaya diri. Nayla hanya mengangguk saja dengan sisa tawanya.


“Iya, iya. Sekarang pergi mandi gih, biar bisa jenguk papa setelah sarapan.” Abimayu patuh, ia menaiki lantai atas pergi membersihkan diri. Setelah Abimayu pergi, Widya memasuki dapur.


“Pagi, Mah.” Sapa Nayla. Widya mengangguk, lalu menuang air untuk ia minum. Lama ia berdiri di sana, membuat sang menantu bertanya-tanya.


“Hm, mama bisa bantu?” bukannya menjawab, Nayla malah diam melongo. Benarkah yang ia dengar barusan?


Untuk memastikan, ia pun memutuskan bertanya lagi. Pasalnya sang ibu mertua tidak pernah ingin repot masuk dapur untuk memasang. Jadi, hal ini bisa dikatakan sebagai suatu keajaiban.


“Mama mau masak?”


“Iya! Memang tidak boleh?” ketus Widya. Membuat Nayla tersadar akan keterkejutannya.


“Eh, tentu saja boleh. Ayoh, Mah.” Ajak Nayla semangat, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesehatan mendekati lubuk hati sang mertua.

__ADS_1


Mertua dan menantu itu akhirnya masak bersama untuk pertama kalinya. Widya terlihat kaku memegang peralatan masak, mungkin karena sudah lama tidak mengunjungi dapur. Walau begitu, bukan berarti ia tidak bisa memasak. Nayla berceloteh ria, dan dibalas deheman oleh Widya.


“Sepertinya kita akan jadi partner memasak yang hebat, Mah!” kata Nayla di sela aktivitas memasaknya.


“Tidak buruk juga.” Batin Widya, mengiyakan menjadi partner memasak dengan sang menantu.


“Ummm, masakan Kakak enak!” Nayla menoleh pada sang adik ipar yang tengah menikmati omelet telur. Widya ikut mengarahkan pandangan pada sang anak bungsu, mengamatinya dalam diam.


“Itu bukan masakan kakak, tapi masakan Mama. Gimana, enakkan?” pergerakan Ayu terhenti, begitu juga Abimayu. Keduanya merasa tidak percaya kalau mamanya mengunjungi dapur dan memasak seperti ini.


“Kalian berdua kenapa?” tanya Nayla bingung. Widya menunduk, fokus dengan makanannya sendiri.


“Nggak, kok. Masakan Mama enak!” puji Ayu dan kembali makan dengan lahap. Abimayu mengangguk setuju, bahkan ia menambah omelet masakan ibunya di piring.


Widya mengangkat wajah, matanya terlihat mengilat. Terharu akan pujian dari kedua anaknya. “Untuk ke depannya, Mama akan sering masak untuk kalian.” Ujar Widya penuh tekat. Ia ingin memperbaiki hubungan dengan kedua anaknya. Menembus segala kesalahan yang telah ia perbuatan di masa lalu. Sekarang ia akan selalu ada untuk anak-anaknya. Memberikan perhatian pada mereka walaupun terlihat sudah terlambat. Ayu dan Abimayu akan menunggu dengan senang hati tekat ibunya.


Tidak ada alasan untuk keduanya tidak menerima perlakuan manis dari ibu mereka. Keduanya juga kini bertekad untuk memperbaiki hubungan. Suasana sarapan pagi kali ini tampak hangat dari biasanya.


Setelah sarapan, Nayla dan Abimayu pun memutuskan menuju rumah sakit, menjenguk Arsyad.


“Aku ingin semuanya sudah siap sebelum acara.” Abimayu menukar pandang dengan sang asisten lewat kaca spion.


“Anda tidak perlu khawatir.” Balas Alex, lalu kembali fokus menyetir. Jalanan menuju rumah sakit, cukup padat pagi ini.


“Kalian ini bahas apa, sih.” Nayla tampak penasaran.


“Nanti kamu juga akan tahu, Sayang.”

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2