Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 10 Perjaka yang Terengut


__ADS_3

Perjaka yang Terenggut


Netra ini perlahan terbuka walau masih berat dan terasa terasa perih. Clarisa sudah tampak segar dengan riasan wajah natural dan balutan dress sederhana, ia tertawa nakal sembari menunjuk jari meledek diriku.


Seketika itu juga aku menarik kembali selimut. Aku meringkuk sembunyi di balik selimut hingga tak menampakkan wajah sama sekali. Ah, saat menyadari bahwa tubuh ini nyaris tak berbus**na.


Entah apa yang terjadi semalam dan apa yang aku lakukan? Hingga bunga mawar merah di atas ranjang sudah berantakan sampai terjatuh dan berserakan di lantai. Clarisa menatapku penuh kepuasan.


"Are you still a virgin?" tanyanya padaku sembari coba menarik selimut. (Apakah kamu masih perjaka)


"Yes, i dare to swear," jawabku kecut dari dalam selimut. ( Ya aku berani bersumpah)


"Pantas saja, kamu belum liar," ucapnya membuatku merasa jijik.


"Ah, sialan," gumamku dalam hati mengutuk diri sendiri.


"Come on baby give me pleasure!" pintanya sambil melepaskan helai benang yang menempel di tubuhnya lagi. ( Ayolah Sayang beri aku kenl**ikmatan)


Desir bayu berhembus yang masuk lewat celah jendela yang sengaja diturunkannya, serasa mengiris batin. seketika kulit wajah ini terasa tebal menahan getir kesucian cintaku telah dijual demi ratusan juta rupiah.


"Ah. Dam you," gerundel dalam hati.


(Sialan kamu)


Keperjakaanku rupanya sudah di merenggutnya semalam. Aku memang meneguk minuman keras bersamanya, tapi hanya beberapa gelas dan sudah cukup membuat kepala ini pening. Semua atas paksaan dan bujuk rayu darinya hingga sesampainya di apartemen mata ini tidak lagi mampu untuk terjaga.


Rasanya begitu getir, sakit bahkan jijik saat otak ini mulai bekerja. Hingga tak bisa untuk menjelaskan detail apa yang ada dalam gejolak batinku saat ini.


****


Begitulah keseharian bersamanya melewati hari, mengunjungi tempat hiburan malam menjadi rutinitas kami, pulang dini hari dalam keadaan tak sadarkan diri sudah hal biasa, lalu berpesta bersama melewati malam.


Setelah selesai perjanjian kontrak dengannya. Aku memutuskan menjauh darinya. Terpaksa setelah tahu rupanya Clarisa itu wanita petualang ****.


Sebagai wanita Demise**sual ia tidak mudah jatuh cinta, tapi wanita seperti ini pun tipe mudah bosan. Akhirnya ia terpikat lagi oleh pria lain yang mempunyai keterikatan emosional saat pandangan pertama dengannya.


Akhirnya ia menjalin hubungan kontrak dengan pria lain saat masih bersama denganku. Sungguh membuat hati ini sakit tiada terkira.


Selama menjalin hubungan dengannya aku diajak menjajaki dunia hiburan, gemerlap malam, mulai dari ke diskotik, bar, yang menjadi rutinitas mingguan kami demi memenuhi sensasi keputusan batinnya. Sungguh membuat diri ini rusak.


Setelah memutuskan tidak memperpanjang kontrak aku pun pindah dari apartemen itu. Demi menetralisir pengeluaran, aku memilih mengontrak di sebuah hunian sederhana terletak di pinggiran kota.


Akan tetapi selama bersamanya sudah cukup mengangkat derajat kedua orang tuaku di kampung, cukuplah membuat rasa bangga Abah dan Ambu padaku.


Satu unit mobil pun telah bertengger menjadi milikku saat ini, hasil selama bersamanya. Bahkan pinjaman pada Adie kala itu Clarissa yang melunasi. Clarisa Santoso wanita yang sangat loyal terhadap pasangannya, aku merasakan itu.


Kini aku memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan yang halal, dan tidak akan tergoda lagi dengan merelakan diri menjadi pemuas napsu bi*ahi kaum hawa di kota Metropolitan.


Itu sudah menjadi tekat kuat dalam hatiku. Toh semua kini sudah tergenggam.


Setiap hari dari pagi hingga siang dengan telaten aku membawa surat lamaran kerja, from dor to door ( dari pintu ke pintu) kantor, pertokoan, bahkan cafe tapi masih nihil. Rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan mencari pekerjaan demi uang halal di kota besar.


Lumayan lama aku menganggur berdiam diri di kontrakan, sesekali hangout jika ada teman yang mengajak dan mentraktir. Di tempat kost baru aku bertemu dengan seseorang. Ia seorang wanita masih muda dan berprofesi sebagai Apoteker di sebuah Rumah Sakit Swasta, ia selalu saja memintaku menemaninya jika pergi ke cafe, atau menjemput dan mengantarkan dirinya ketika piket malam. Lumayanlah mengusir rasa bosan yang mulai menghampiri diri ini.


Kabar ini pun sampai juga ke telinga Adie. Selang beberapa waktu, Adie kemudian bertandang dan menawarkan lagi profesi yang nyaris serupa, tapi segera aku tampik. Aku sudah insyaf.

__ADS_1


Bukan tanpa dasar penolakan ini, karena kabar perihal pekerjaan yang aku jalani sudah terendus oleh orang desa, tentu saja tidak ingin jika kedua orang tuaku sampai mengetahui perihal profesi yang selama ini aku geluti, itulah salah satu sebabnya aku memutuskan menjauhi Clarisa. Padahal ia masih menginginkan dan mengimingi dengan nominal kontrak yang jauh lebih fantastis.


*****


"Kak, Bumi Respati, sebentar malam kita hangout yuk," ajak Widya Chandra saat aku duduk di teras kost sederhana.


"Oke, timbang suntuk," jawabku.


Akhirnya kami pun berangkat ke cafe setelah hari sudah malam. Aku menemaninya sembari sesekali menyedot oranye soda pesanan. Sementara Widya Chandra asik entah mengerjakan tugas apa di depan laptopnya.


"Wid! Widya ...." sapa seseorang dengan ramah dan langsung mengambil posisi duduk di sampingnya.


"Eh ...." Widya Chandra pun mengulurkan tangannya dan mencium lembut punggung tangan pria itu.


"Kenalin teman aku, Mas---" sambung Widya.


Pria itu pun mengulurkan tangan padaku seraya menatap ramah, dan segera aku sambut uluran tangannya.


"Kenalin, Bumi Respati," kataku memperkenalkan diri.


"Dimas Anggara Prayoga," balasnya kemudian.


"Orang asli Jakarta, ya?" Dimas bertanya padaku.


"Ngak, Mas. Aku dari Bandung ...."


"Kalo Mas, aslinya mana?" Aku bertanya padanya.


"Jawa," jawabnya singkat seraya duduk.


"Lumayan, sih. Sudah beberapa tahun," jelasku.


Kami pun cepat akrab, sementara Widya masih asik saja dengan laptopnya.


"Maaf, jika boleh tahu profesinya, apa?"


"Ah. Lagi nganggur saja, nih," jawabku sembari tertawa kecil.


"Oh ..."


"Mas, punya kerjaan buat aku, gak?"


"Kerjaan apaan, hehe ...," jawabnya disertai tawa renyah.


"Serius, lho, Mas ...." timpalku.


"Aduh, gimana nih."


"Aku lagi nganggur, Mas. Sekarang butuh pekerjaan asal halal. Perkara gaji itu nomor dua buat aku saat ini." Aku mencerca serius.


Dimas pun mengerutkan dahi menatap ke arahku.


" Serius?" selidiknya.


"Suwerr. Dua rius, Mas," godaku sembari mengangkat kedua jari.

__ADS_1


"Hemmm ...."


"Aku serius, lho."


"Seriusan teman kamu, Wid?" Dimas bertanya kepada Widya.


"Hum ...." Widya Chandra pun mengangguk, tetapi ia masih saja sibuk dengan laptopnya.


"Please help me, Mas ...." kataku dengan mimik wajah yang semakin serius.


"Ya, nanti saja aku kabari lagi deh," balasnya.


"Sip. Aku menunggu."


Kami pun lanjut bercerita banyak hal, hingga tidak terasa malam makin larut dan kami memutuskan segera berpamitan pada Dimas untuk pulang.


Dimas ternyata pemilik cafe tersebut. Pantas saja ia tadi memesan menu istimewa untuk kami santap bersama sebagai makan malam.


***


"Makasih, Kak, Bum," ucap Widya sembari menutup pintu mobil saat sudah tiba di kost. Sesaat kemudian ia bergegas masuk ke dalam. Rumah kost kami bersebelahan hanya terpisah dinding tembok pembatas teras saja.


"Iya, bawel."


Aku juga masuk, sesampainya kemudian merebahkan diri di ranjang untuk beristirahat. Tapi mata ini engan untuk terpejam, berbagai macam bergelayut dalam benakku.


Bagaimana jika tidak secepatnya mendapatkan pekerjaan? Tiba-tiba saja tawaran Adie tadi kembali terngiang walau coba terus dihempas pergi jauh agar tidak merusak moral lagi.


"Sekali lagi, Bum. Pikiran!" Adie geram saat aku menampik tawarannya siang itu saat ia bertandang.


"Entahlah ...."


"I just give a solusi!"imbuhnya.


(Aku hanya memberi solusi)


"Biarkan aku sendiri ...."


"Life is money, Bum!"


( Hidup adalah uang, Bum)


"Aku sedang terpuruk!"


"Butuh dukungan dana gak?" tanyanya padaku sembari akan membuka dompetnya.


"Ngak, Die. Masih punya kok," jawabku siang itu.


"Aku masih selalu ada untukmu, Bum. Juga teman-teman yang lainnya, jika butuh bantuan gak perlu sungkan," jelasnya sembari berlalu pergi.


Adie Permana sahabat yang baik, begitu banyak membantuku secara materi dan segalanya, hingga sampai detik ini ia masih begitu peduli padaku.


"Huuff!"


Napas---- hempas dengan kasar, dan jemariku meraih handphone yang tergeletak tepat di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2