
Adi mengangkat teleponku. Aku bercerita ia justru meledekku dengan hanya tertawa di ujung telepon, membuat aku kesal saja. Saat aku memintanya untuk menjelaskan Adi justru memintaku untuk ke rumahnya. Seketika itu aku berputar arah ke apartemennya. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi hingga Adi hanya tertawa saat aku bercerita kronologis kejadian. Sekarang aku sudah sampai di apartemennya. Kemudian memarkir mobil.
Sebelum turun aku mengusap wajah menggunakan tisu basah, darah di bibir masih saja menetes sejak tadi bahkan pelipisku terlihat bengkak dan membiru sekarang. Aku meraih topi dan mengenakan, lumayan cukup menutupi.
Sesampainya rupanya Adi sudah menunggu di depan pintu. Bukanya iba, ia justru tertawa saat aku membuka topi. Tanpa mengucap salam aku langsung nyelonong masuk. Kemudian menjatuhkan diri dengan kasar di atas sofa sesaat kemudian aku meregangkan rahang terasa kaku sekarang, pukulan Togar baru terasa sakitnya. Berulang kali aku mendesis lalu menjotos sofa.
Aku menatap Adi dengan tatapan aneh Adi melipat kedua tangan menyilang dada ia berjalan mondar-mandir seraya melirik dan sesekali tersenyum ke arahku yang sibuk berkaca mengamati memar di wajah ini
"Kamu itu ngapain?" tanyaku sinis seraya kembali mengeringkan ujung bibir ini menggunakan tissue.
Adi tidak lantas menjawab, ia mendekatiku dan menepuk pundak ini berulang kali. "Kamu, sih."
"Apanya?" Aku menatap balas.
"Kenapa telepon aku, gak diangkat?"
"Aku sibuk!"
__ADS_1
"Sibuk mencari masalah!"
"Hah! Apa Die?"
Adie kembali berkelakar rupanya dirinya akan memberitahu agar aku jangan pernah mencari dan menemui Clarissa lagi. Wanita berdarah campuran itu telah dijaga oleh banyak Bodyguard karena sudah tahu bahwa aku sudah di Jakarta lagi. Kata Adie untung saja nasibku masih mujur hanya ketemu Bang Togar saja. Pria itu sudah menjadi suami Clarissa Santoso. Ah, sialan, nyaris saja aku mampus di tangan para Bodyguard atau mungkin akan menjadi santapan anjing pemangsa yang biasa dibawa oleh para bodyguard Clarissa.
"Sudahlah, santailah saja dulu. Aku akan membuatkanmu kopi." Adie menepuk lengan ini.
"Tidak usah kopi, Die!" Adie menghentikan langkah. "Apa, dong. Teh, jeruk madu? Hangat?" cercanya seraya berbalik badan.
"Alkohol, saja! Aku butuh itu."
"Sudah, itu saja. Saya sedang tidak punya stok, sedang menjauhkan barang itu juga sekarang." Adie paham dan nyerocos saja.
Tidak terasa, sudah hampir habis saja. Sementara Adie hanya menemani saja. Terasa sudah mulai lega sekarang bahkan rasa sakit di pelipis dan rahang ini lebyap, memang barang itu menjadi penolong.
Aku mulai merokok Seraya bercerita tentang tadi. Tentang Bianca tiba-tiba saja datang dan mengaku hamil membuat kepalaku terasa mau pecah saja. Adie kembali menenangkan dia sahabat terbaikku Adie memberi masukan membuatku kembali mengingat, terlalu cepat menikahinya saat itu bisa jadi itu bukan benihku. Sangat tolol yah, jelas bukanlah benihku. Itu benih Bima yang telah bersemayam sebelum. Yah, Adie pun setuju dengan insting ini. Aku mendesis Bianca rupanya licik juga.
__ADS_1
Hari ini aku ingin mengeluarkan unek-unek ysng menjejali otak. Aku mulai bercerita tentang Mozza mantanku itu sekarang sudah berubah ia tidak lagi bekerja di tempat Dimas. Cafe itu sekarang sudah berpindah tangan. Sementara itu Dimas juga sudah menikah, itu jelas Adie. Selama di Jakarta aku belum pernah menemui mereka atau hanya melalui kontak tidak terpikirkan sama sekali.
Mozz sekarang menjadi berubah profesi. Wanita cantik itu menjadi kupu-kupu malam. Tentunya dengan tarif fantastis. Itulah sebabnya hidupnya semakin bergelimang harta saja.
Saat aku mengumpat Adi justru membela Mozza. Wanita itu sempat sangat susah dan terpuruk menanggung utang yang sangat banyak. Bahkan Adie bercerita ia pernah menangis meminta bantuan. Mozza dikejar depkolektor. Akibat tagihan wedding kami yang tidak sedikit jumlahnya, bahkan Adie pernah memberikan bantuan pinjaman. Kemudian atas saran Adi pula ia berubah profesi. Memang pekerjaan mudah yang sangat menjanjikan.
Adi menasehati agar jangan lagi mengusik ketenangan Moza. Biarkan dia dengan hidupnya atau justru aku akan tertimpa masalah lagi. Iya tentu, bagaimana jika Mozza berpikir kami harus membayar utang bersama? Bisa rugi saja aku di buatnya. Tutup mulut dan diam perlahan menjauh itu kata Adie. Yah, aku setuju dengan itu, Mozza menjadi coretan Diary yang sudah kututup. Bahkan kubuang di hari ini Diary itu sudah kubuang jauh ke tong sampah agar tidak lagi menjejali kepala. Cukuplah aku menikmati hidupku sekarang.
Menikmati kehidupan malam sembari mengumpul pundi-pundi untuk bekal menuju insaf, bukan tidak ada niatan Insaf di benak ini. Rasa itu tetap tertanam dalam hati, tapi belum ada waktu yang tepat. Mungkin Tuhan belum berkenan, saat beruang justru Tuhan menjatuhkan diri ini kembali ke lembah nista yang sama lagi.
Sudah lama aku nyerocos. Sembari bibir tiada henti menghisap rokok, tapi Adie tetap menjadi pendengar. Mungkin dia tahu aku sedang di fase stres. Tidak terasa tubuh terasa limbung, aku merebahkan diri di atas sofa. Atas saran Adie aku tidak pulang terlebih dahulu. Menunggu diri ini tenang dulu baru kembali itu kata. Mataku terbuai dalam kantuk.
Aku berada di satu tempat memegang dan mendekap seekor burung, tapi indukan itu pergi terlihat olehku. Sangat menyayat hati indukan itu berlumuran darah. Hewan cantik itu meregang nyawa di depanku. Aku memeluk anak burung penuh kasih.
Ada rasa kasihan memenuhi bilik hati, makhluk sekecil itu menjadi yatim dihadapanku. Kemudian ada halimun mendekat ke arahku dan sesaat kemudian, berubah menjadi seorang perempuan, sangat cantik, tapi aku tidak kenal. Itulah sebabnya, aku juga tidak menyapa. Hanya menatap aneh padanya.
Sepertinya itu bidadari, tapi seperti manusia. Walaupun sangat cantik, kakinya bisa menyentuh tanah. Wanita cantik itu mengenakan gaun putih dengan tudung senada. Matanya menatap menusuk menembus dinding jantung ini.
__ADS_1
Senyumnya mengembang perlahan mendekat, mengulurkan tangannya, aku ingin meraihnya dengan satu tangan masih dengan memeluk burung kecil yang masih tidak berdaya. Sesaat kemudian ia mengambil alih memeluk burung, kami berjalan menuju tempat duduk di bawah pohon yang rindang. Perempuan cantik itu membelai lembut burung mungil yang baru saja melihat indahnya semesta. Aku tersenyum menatap wajahnya yang begitu cantik, keibuan suaranya begitu damai saat menyapaku, "wahai Imamku." Saat akan menjawab dan meraih jemarinya mataku terjaga.
Adie menepuk wajah ini, entah berapa kali. Adie membangunkan, rupanya hari sudah sore. Cukup lama aku terbuai dalam mimpi yang serasa nyata saja. Berulang kali aku mengusap wajah di depan cermin setelah membasuh wajah dari kamar mandi.