Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 25 Keluar dari Lingkar Hitam


__ADS_3

Keluar dari Lingkar Hitam


Sepanjang perjalanan aku memilih untuk tidur, melepaskan segala. Penat tiada terkira. Semua diluar ekspektasi, sungguh tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak ini. Ah, sial! Aku sungguh telah teledor. Sudahlah, sesal kemudian tidak ada membantu. Mata ini kian mengantuk, lantunan suara milik Letto lirih dari jok depan, membuatku terhipnotis. Tidak terasa sudah tiba saja.


"Maaf, Pak. Sudah sampai tujuan!"


"Oh, maaf. Saya lelah sekali." Supir taksi membangunkan lelap tidurku.


"Kembalinya ...??"


"Ambillah." Aku menutup pintu mobil dan melengos.


Masih seperti mimpi saja. Berulangkali aku mengacak rambut dan gerundel kesal, meruntuk diri atas keteledoran.


Sesampainya di apartemen, merebahkan diri dengan kasar di atas ranjang. Sesaat kemudian berdiri, aku mondar-mandir. Pikiran ini melayang tidak karuan rasanya seakan menopang beban berton-ton saja. Bagaimana mana tidak hal yang tidak pernah terlintas di pikiranku terjadi, sungguh membuat mataku memerah. Rahang gemeretak menahan rasa marah dengan tangan mengepal.


******


Bulan berganti aku tetap bertahan hingga sewa apartemen nyaris selesai, itu pertanda harus membayar kembali membuat pikiran ini kacau.Tiba-tiba saja aku teringat Adie Permana, setelah sekian lama tidak pernah sekali pun menghubunginya, dengan berat hati mencoba mengontaknya.


"Selamat berbulan madu, kawan!"


Wajahku terasa meremang saat Adie membahas tentang itu.


"Ah, gak usah dibahas!"


"Lho, kok??"


"Sudahlah, Die. Kamu pasti sudah mengetahuinya."


Terdengar Adie berkelakar membuatku ingin menonjok dinding saja. Murka masih merajai hati ini.


Jelas saja nada Adie menyapa dengan ledekan di ujung telepon, karena waktu itu aku tidak mengundang dirinya di acara wedding kami.


Aku pun menjelaskan demi keamanan rahasiaku jadi tidak mengundangnya. Adie pasti bisa memaklumi hal itu. Tidak perlu untuk menjelaskan detail.


Akhirnya aku mulai bercerita tentang kejadian beruntun yang sedang menimpaku selama beberapa hari terakhir. Hingga kondisiku saat ini yang miris.


Adie memang sangat peduli, ia turut prihatin. Akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Aku meminta bantuannya agar bisa merengkuh kembali milikku. Tapi untuk kali ini ia tidak bisa. Semua bukan atas namaku, itulah kesalahan terbesar yang aku buat, terlalu ceroboh. Aku hanya bisa pasrah atas takdirku.


*****


Setelah sekian lama aku baru tahu, rupanya dulu diam-diam Clarisa dan anak buahnya sering mengintimidasi Mozza dengan mengirim foto-foto syur-ku selama bermain api bersamanya, tetapi saat itu Mozza masih mentolelir semuanya. Itulah sebabnya membuatnya marah besar. Toleransi itu tidak lantas aku pergunakan, aku masih menjalin hubungan cinta terlarang hingga bertunangan. Kemudian, menikah dengan Mozza.


Kini diri ini memutar otak, bagaimana caranya mendapatkan hak. Diri ini mondar-mandir dalam ruangan, resah gelisah tidak bisa menjelaskan.

__ADS_1


Aku meremas rambut dengan kasar, berulang kali mendengus kesal. Setelah berpikir lama, ide cemerlang tetiba muncul di kepalaku.


"Tunggu, kamu!" teriakku seraya mengepal, lalu memukul keras sofa.


Aku emosi, usahaku mengiba pada Clarisa tidak mendapatkan respon lagi. Bahkan dalam waktu dekat ia akan meninggalkan Indonesia. Itu katanya waktu mencoba menghubungi.


Mungkin karena lelah tidak terasa mataku terlelap, hingga terjaga keesokan harinya saat dobel berbunyi berulang, dengan gontai aku berjalan menuju pintu dan membukanya, seketika mataku terbelalak.


"Apa-apaan, ini?" tanyaku pada pria yang berdiri di depanku.


Rupanya baju dan barang milikku yang selama ini masih berada di apartemen milik Mozza di kembalikan semua. Aku pun menerima dengan lapang atas keputusan mantan istriku yang sudah bulat, karena tidak ada gunanya untuk bertahan.


"Tidak tahu, Pak, Bumi. Kami hanya menjalankan perintah dari Ibu Mozza," jelas pria itu lalu bergegas pergi tanpa perduli padaku.


"Oh, ya. Terima kasih, ya!" timpalku seraya menarik tas masuk ke dalam.


Aku kembali duduk di sofa, lalu menelpon Clarisa. Berkali-kali ia tidak menangapi hingga rasanya aku ingin mencarinya lagi. Aku harus membuat perhitungan kembali, melampiaskan amarah ini padanya.


Tidak putus asa, terus mengulangi, akhirnya benar saja, Clarissa mengangkat panggilan telepon dariku. Aku memberi tahu jika tidak memberikan sejumlah uang yang aku minta, maka koleksi video tak senonoh miliknya akan aku sebar luaskan.


Namun, ia tidak takut justru menantang balik. Ah, hingga beberapa kali aku mengumpat kesal, kemudian berjalan mondar-mandir, resah gulana berkecamuk menguasai jiwaku.


Aku tidak habis akal, segera kembali menghubunginya lalu mengancamnya jika tidak aku akan menemui anaknya dan menceritakan semuanya tentangnya dengan bukti yang ada padaku.


Benar saja Clarissa pun kini melunak, akhirnya mengiyakan semua permintaanku dengan syarat aku menghapus semua file tentang apapun yang menyangkut hubungan antara kami dulu.


*****


Aku memutuskan untuk pulang ke desa setelah menyelesaikan semua urusan, akhirnya kini sudah perjalanan pulang kembali ke desa. Dengan mengendarai mobil pribadi walau tidak lagi semewah dulu, sudah cukuplah ketimbang tidak sama sekali.


Uang hasil dari memeras Clarisa seketika itu membelikan sebuah mobil, guna mempermudah gerak langkah kakiku, juga apa kata orang kampung jika sampai tidak lagi mengendarai mobil saat pulang.


*******


Sesampainya di desa, Ambu pun mempertanyakan perihal menantunya, akhirnya perlahan aku menceritakan semuanya pada Ambu, tampak wanita yang telah melahirkan aku itu menangis meratap.


Aku menjelaskan ada sesuatu yang tidak bisa, di katakan yang akhirnya membuat Mozza minta talag dariku dan aku pun mengabulkan permohonannya. Walau berat hati kedua orang tuaku pun hanya bisa menyerahkan sepenuhnya keputusan padaku lagi.


*******


Beberapa kali Adie kembali membujukku, merayu dengan iming-iming mengiurkan. Akan tetapi aku sudah bulat dengan keputusanku, menepi dari kehidupan bingar-bingar kota Metropolitan.


Sudah cukup dosa yang aku perbuat selama ini. Untung saja Tuhan masih memberikan kesempatan kedua padaku saat overdosis dan nyaris meregang nyawa.


Dengan menjalani rehabilitasi yang cukup lama, aku lepas dari jeratan barang pembawa petaka itu, tapi tidak bisa lepas dengan kehidupan se*s bebas yang telah membutakan akal sehatku. Kehidupan glamor menjadi salah satu penyebabnya.

__ADS_1


Mataku menerawang jauh menatap langit-langit kamar. Terbayang olehku saat Bianca Mariana menangis tersedu saat aku berpamitan padanya akan mengakhiri masa lajang.


Bianca masih berharap cinta dariku. Akan tetapi aku menjelaskan padanya bahwa saat itu aku tidak punya rasa lagi padanya, semua perhatian yang ada untuknya tidak lebih hanya sebatas rasa sayang pada seorang adik.


Dengan kecewa Bianca hanya bisa menelan lava lalu pergi meninggalkan diri ini. Kebetulan saat itu sedang bertandang seorang diri di rumah Neng Sutiyah, saat datang bersama Mozza lalu hari.


Tiba-tiba saja bayangannya menggangguku, ada rasa iba padanya, Bianca kini sebatang kara setelah Haji Romli meninggal dunia, mungkin shock atas apa yang menimpa anaknya, Bianca di perlakukan tidak baik oleh suaminya saat ikut hijrah ke Jakarta.


Hingga Bianca depresi lalu melarikan diri pulang, kemudian memutuskan menceraikan suaminya. Ah, bayangnya terus mengusik relung hati ini yang terdalam.


*****


Aku pun memutuskan bertandang ke rumahnya, dengan berjalan kaki menapaki jalan desa. Akhirnya sampai, tampak aura rumah itu kini berbeda, mungkin karena setelah sekian lama tidak lagi pernah berkunjung , seperti masih ada duka yang menyelimuti, suasananya sepi.


Tok ... tok ... tok!


"Assalamualaikum," ucapku.


Lumayan lama, hingga akhirnya aku kembali mengulangi, setelah tidak ada jawaban lagi aku memutuskan untuk segera pulang, mungkin waktunya yang tidak pas karena sudah malam.


Namun, langkahku terhenti saat suara jawaban salam terdengar dari dalam. Pintu pun terbuka Bianca kaget atas kehadiranku.


Aku pun diterimanya di ruang tamu, guna menghindari fitnah katanya, secangkir kopi pun menemani obrolan ringan kami. Akhirnya ia bertanya perihal keadaanku lalu segera menjelaskan semuanya.


"Yah, Neng hanya bisa bilang, sabar, ya."


"Terima kasih, Neng."


"Semua pasti ada hikmahnya, betul, kan. A'a Bumi?"


"Iya, sih, Neng," jawabku walau dengan wajah lesu.


Bianca bercerita banyak hal, perihal mengapa hingga terjadi perceraian ia dan suaminya. Perlahan Bianca mulai menuturkan bahwa di Jakarta suaminya berprofesi sebagai gigolo, lalu selalu membandingkan dirinya dengan wanita kota, akhirnya membuatnya stress dan depresi berat. Itulah sebabnya keputusan itu ia ambil.


Aku hanya mengerutkan kening, pura-pura tidak mengerti apa yang ia katakan. Suami Neng Bianca teman seprofesi denganku bahkan seiring bertukar informasi klien denganku.


Bianca bertanya perihal rencanaku ke depan. Apakah akan segera mencari pengganti? Lalu aku pun bertanya padanya, apakah ia mau menjadi pengganti jiwaku yang telah hilang?


Tampak senyum itu tersungging di sudut bibirnya. Bianca mau dan menerima apapun masa laluku, baik dan buruknya. Kemudian, aku menjelaskan padanya bagaimana dengan Ambu yang terlanjur membencinya, karena buatku lebih baik kehilangan bidadari dunia dari pada kehilangan surga untuk selamanya.


"Apakah, Neng siap?"


"Yakinlah, A'a. Yakinlah padaku, aku akan berusaha menggapai hati Ambu, karena aku yakin rasa sayangku padanya akan ia balas Dengan hal yang sama tentu seiring berjalannya waktu," jelas Bianca mantap.


******

__ADS_1


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyatukan cinta kami dalam ikatan suci pernikahan. Kami hidup sederhana di desa, layaknya cerita cinta Si Kabayan dan Neng Iteung.


Walau awal resmi menjadi istriku perlakuan tidak mengenakkan sering Bianca terima. Namun aku salut, Bianca teguh akan janjinya dan akhirnya membuahkan hasil. Ambu kini begitu menyayanginya, tidak ada lagi rasa benci yang dulu sering terucap dari lisannya.


__ADS_2