Sang Primadona

Sang Primadona
bab 52 Takdir Cinta sang Primadona


__ADS_3

Takdir cinta sang primadona


Pria berpostur tubuh kerdil mengenakan kaos oblong dan celana kolor hitam, serta sarung tersampir dileher itu membulatkan matanya menatap wajah ini dari balik gerbang kokoh. Kedua tangannya menggenggam erat besi.


"Pak Bumi, mau ngapain ke mari?"


Jelas saja pertanyaan itu membuatku paham apa gejolak dalam batinnya. Sedikit kikuk, aku mengacak rambut, kemudian menangkup wajah dengan kedua tangan.


"Apel, Mas. Ah, gak tahu saja malam Minggu, nih."


Kembali Mas Codet mengerutkan keningnya dan membalikkan tubuh melihat ke arah lantai atas. Kemudian dia kembali mendelik.


"Bukannya Neng Dimitri Vangelis sudah mewanti-wanti agar tidak bertandang malam hari?"


Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Codet berlaku meninggalkan diri ini. Hingga berkali-kali aku meruntuk kesal. Bukan Bumi Respati namanya bila menyerah begitu saja. Keputusan tetap berdiri depan gerbang berjalan mondar-mandir. Sementara dari tadi telepon dariku tidak diterima oleh Mitri.


Cukup lama nyaris satu jam aku bertahan, sementara cuaca malam indah ini mendadak kelabu berselimut kabut tebal. Sepertinya paham akan perasaan ini. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan.


Akan tetapi, tidak menyurutkan semangat ini. Aku tetap bertahan, sementara sejak tadi Mas Codet mengintip dari celah jendela kamarnya yang terletak dilantai bawah. Setiap dia membuka jendela aku pun melambaikan tangan. Berharap dia paham dan menyampaikan pada Mitri.


Mata ini tertuju pada lantai atas, Mitri menyalakan lampu di kamarnya. Seperti harapanku, Mitri keluar ke area balkon. Dia memandang lepas ke arahku. Doa terus meluncur dari bibir ini, memohon agar Mitri berkenan menemui. Aku melambaikan tangan.


Akan tetapi, tidak ada respon darinya. "Ahkh! Sialan!" Aku mendengus kesal seraya menginjak puntung rokok. Sementara itu hujan rintik mulai menyentuh kulit ini. Buset! Apakah akan bertahan ala di sinetron? Gila! Aku tidak serendah itu. Sepertinya pertahanan ini mulai goyah seiring hujan semakin deras membasahi tubuh ini.


Baru saja kaki akan melangkah, suara Mas Codet memanggil sontak membuat aku membalikan tubuh. Tapi rasa kesal tetap menjejali membuat rona wajah ini remang.


"Bumi! Tunggu!"


"Ada apa? Aku capek berdiri, Mas!"

__ADS_1


"Neng Dimitri Vangelis memintaku untuk membuka gerbang." Mas Codet langsung membuka pintu. Aku menuju mobil dan parkir dalam garasi.


Dalam hati aku berkelakar, Bukan Bumi Respati dari tanah Pasundan bila gagal. Setelah mengunci gerbang Mas Codet mengantarkan aku masuk. Setelah tiba di ruang tamu dia langsung pamit keluar. Entah ke mana.


Mata ini tertuju pada anak tangga, Mitri berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya depan dada. Dia begitu cantik mempesona mataku. Walaupun dada ini bergemuruh hebat, tapi langkah sudah pasti. Malam ini aku harus mengutarakan isi hati ini.


"Maafkan aku datang malam begini, Mit." Parau suara ini, tiba-tiba kejentelan seorang primadona luluh didepan mata dibalik cadar.


"Gak apa-apa, Bum. Mbak Widya dan Mas Dimas sudah menceritakan semuanya."


Aku bernapas lega, mereka memang sahabat terbaikku. Dengan demikian tidak susah payah menjelaskan tujuanku datang dengan niat mulia ingin membawanya menuju mahligai rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah.


"Terus, maukah kiranya dirimu menemani sisa hidupku? Menuntut diriku mencari Ridha Allah?" Mata ini berkaca-kaca dengan suara bergetar, entah tiba-tiba saja saat menyebut nama pemilik semesta jiwa ini rapuh dan bergetar.


"Harusnya aku yang melempar pertanyaan seperti itu, Bum." Mitri maju beberapa langkah hingga kami saling berhadapan. Kemudian dia duduk di anak tangga.


Aku langsung mengambil posisi duduk dengan memegang kedua lututnya yang berbalut pakaian syar'i coklat senada dengan warna hijab lebar yang dia kenakan.


"Bukankah katamu kita menjadi orang baru? Aku juga ingin dirimu melakukan hal yang sama, aku bukan Bumi Respati yang dulu. Tapi Mas Bumi."


Mitri tersenyum, setelah mengeringkan sudut matanya dengan mengunakan ujung hijab. Lalu aku memeluknya erat, tapi Mitri menjauhkan tubuhku, "Belum mahram." godanya lembut. "Kok, Mas? Bukannya ...."


Aku mengangkat kedua tangan, kemudian menjawab pertanyaan Mitri."Kan, dirimu orang Jawa, Sayang. Kalau Sunda mah, A'a. Jangan panggil aku dengan sebutan itu."


"Lah, kenapa? Mas?"


"Takutnya gak kuat cobaan dan menduakan cintamu." Aku tertawa lepas.


"Huuu, belum juga Istikomah sudah niat nih?!"

__ADS_1


"Gak, Sayang----" kami berdua semakin rileks.


Kemudian kami berpindah duduk di ruang keluarga. Mitri memanggil Mas Codet untuk berbaur, sebelumnya pria itu memanggil istrinya yang memang sama-sama bekerja di rumah Mitri. Pasangan dengan keterbatasan fisik menjadi saksi di mana detik-detik jemari Mitri berhiaskan cincin dengan hiasan mutiara berbentuk love di jari manisnya. Emas putih itu begitu indah melingkar, kemudian Mitri berhambur memeluk erat tubuhku. Dia terharu melihat keseriusan ini.


"Tolong jaga aku, jagalah kesucian cinta ini. Aku hanyalah sebatang kara yang penuh dosa ...." Secepatnya aku menutup bibir tipisnya agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Kamu adalah mutiara yang terjatuh dalam lumpur, aku akan memuliakan cintamu hingga Jannah, Sayang----"


Hari kian larut, aku berpamitan pulang dan mempersiapkan segala sesuatunya. Secepatnya akan mengajak Mitri bertandang ke rumah orang tuaku. Itu menjadi permintaan Mitri, dia ingin melangsungkan pernikahan di desa saja tanpa keramaian asal sudah sah menjadi pasangan suami istri.


******************


Waktu yang kunanti tiba, aku dah Mitri pulang ke rumah orang tuaku. Betapa bahagianya Ambu dan Abah melihat calon pendamping hidup ini. Mitri memanggil Ambu dengan sebutan Mbok e. Sementara Abah berganti menjadi Pak e. Terdengar asing dan lucu, rumah yang biasanya sepi mendadak penuh gelak tawa. Apalagi setelah kami resmi mengucapkan ijab Kabul di depan penghulu.


Tiada pesta pernikahan yang penuh hingar bingar seperti dulu. Cukup kami sekeluarga dekat saja mendatangi kantor Urusan Agama dan sekaligus melakukan ijab di sana. Bahkan Bima dan Bianca pun yang sejak kedatangan kami mewanti-wanti agar diundang, tidak kukabari. Aku ingin menutup lembaran lama dengan tidak lagi menjalin hubungan dengan mereka. Cukup tahu mereka dalam keadaan baik-baik saja dan tidak kekurangan satu apapun sudah cukuplah membuat diri ini berbahagia.


Sepertinya Bima paham itu, demi mental Bianca yang sempat depresi kami sudah tidak lagi menjalin silaturahmi.


*************


Bulan terlewati, sepertinya kami akan kembali ke Jakarta guna menjual aset milik Mitri. Dia ingin membuka usaha butik sendiri disela-sela kesibukan menjadi seorang ibu nantinya, aku telah berhasil menanamkan benih dalam rahim perempuan yang sangat kucintai.


Sementara aku membuka usaha toko elektronik di area pasar. Lumayanlah untuk ukuran kota kecilku, omset penjualan pun semakin tinggi. Aku pergi pagi hingga sore hari baru pulang. Rutinitas yang membuat bahagia saat kembali disambut seorang istri shalihah yang sangat menyayangi kedua orang tuaku.


Dalam suhud simpuhku selalu dengan doa yang sama, agar mampu menempatkan kedua bidadari surga milikku di atas singgasana emas. Agar tiada kecemburuan, apalagi setelah kematian Abah. Mereka adalah harta berharga milikku.


Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT aku telah bisa kembali ke jalan yang diridhai oleh-nya. Dengan demikian Abah bisa tidur dalam damai di alam keabadian.


TAMAT

__ADS_1


Terima kasih ya, tolong support karyaku untuk berikutnya. Ayok request hehe .... Horor misteri atau Romance? Hatur nuhun, masih banyak cacat sana-sini mohon dimaafkeun. Wasalam ....


__ADS_2