Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 18 Dilema cinta sang primadona


__ADS_3

Dilema cinta sang primadona


Dari balik kaca terlihat olehku wanita itu tarik kasar oleh bodyguard pribadiku dan akhirnya ia pun di paksa masuk ke dalam mobil oleh seorang pria dan membawanya pergi.


Aku pun kini bisa bernapas lega walau degup jantung yang tidak beraturan.


Bagai badai petir menyambar tengah malam dalam gelap gulita di tengah lautan lepas meluluh lantakkan kembali serpihan hati yang lama beku bahkan nyaris mati dan aku tidak punya sudah rasa cinta lagi.


Baru saja akan aku akan mendapatkan tambatan , dalam hati yang selama ini tidak ada nahkodanya hingga tidak tahu arah jalan tujuan, insiden tidak terduga terjadi.


Aku terus meyakinkan dan berusaha menjelaskan pada Mozza.


Aku tidak ingin terjadi kegagalan seperti yang sebelumnya lagi.


Aku pun mendekatinya tampak ia masih membisu diam seribu bahasa. Ia masih duduk dan menundukkan kepalanya masih menatap pilu kearah cincin yang tersemat di jarinya.


Kemudian perlahan bulir-bulir bening itu mengelinding dan jatuh tepat di jemari tangannya.


Aku meraih tissue dan dan bersimpuh di hadapannya lalu mengusap dengan perlahan sudut netranya yang sembab, tampak netra itu masih saja berembun, kembali aku mengulangi agar tak lagi gulir itu kembali mengelinding melewati pipinya.


Sementara Widya dan Dimas memilih bungkam dan pamit untuk pulang terlebih dahulu mungkin karena melihat suasana yang kurang mengenakan.


"Kak, Bum. Aku balik duluan, ya!" pamit Widya seraya mengelus bahuku.


Aku masih dengan posisi menunduk dan bersimpuh di hadapan Mozza, dengan tangan memegang kedua jemarinya.


Lidah ini terasa kelu hingga tidak bisa menjawab, saat Dimas Anggara Prayoga juga pamit, lalu menepuk pundak dan mengikuti langkah Widya segera keluar.


Beberapa saat kemudian Mozza sudah tampak mulai tenang, beberapa kali ia menarik napasnya lalu membuang perlahan


Mungkin untuk meredam gejolak batin.


Lalu ia akhirnya berdiri dan menarik lenganku untuk segera berdiri juga, mata kami pun beradu pandang.


Aku menatap penuh iba, padanya.


Mozza pun tampak mencari jawaban dalam binar bola mataku yang menyiratkan rasa bersalah juga takut jika akan kehilangan cintanya.


"Maaf ... atas kejadian tadi," pintaku memelas.


"Hisss!"


"Hanya perempuan ****** dan pemabuk!" pintaku.

__ADS_1


Aku tidak lagi memperdulikan jika ada mata yang mengamati atau bahkan mengabadikan moments itu, aku sudah tidak perduli dengan orang lain.


Mozza Pramesti hanya diam lalu melangkahkan kakinya setelah mendorong tubuhku agar menyingkir dari hadapannya.


Coba segera menggapai tangannya, tetapi ia lebih cekatan menghempas tanganku dengan kasar.


Segera aku ikuti langkahnya dengan tergesa. Akan tetapi langkahku terhenti. Lalu memberi isyarat kepada bodyguard pribadiku untuk mengikuti Mozza segera.


Dengan cekatan ia pun bergegas dan berjalan tepat di belakang Mozza. Sementara aku kembali masuk ke dalam ruang kerja untuk mengambil kunci mobil.


Saat sudah kembali terlihat olehku Mozza lengangnya sedang di cengkraman keras oleh bodyguard.


Ia pun tampak berontak dan berkali-kali mengarahkan pukulan tepat mendarat bertubi di tubuh kekar itu.


Pria itu pun hanya memasang badan kekarnya dan membiarkan menjadi pelampiasan amarah Mozza.


Aku berjalan mendekat dan segera meraih tubuhnya lalu mendekap erat, ia pun seketika menangis sejadi-jadinya dalam pelukanku di halaman parkir area Cafe milikku.


Rupanya ia tadi akan memanggil taksi, tetapi di halangi oleh bodyguard pribadiku hingga ia memberontak agar di lepaskan.


Bodyguard pribadiku pun beranjak masuk setelah mendengar perintahku.


Aku memeluk tubuh wanita pujaan dan menuntunnya masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan ia pulang.


"A'a. Tolong jangan membohongi aku," pintanya memelas, tampak netranya berkaca-kaca.


"Itu hanya pengemar, saja!" jawabku singkat .


"Hah! Penggemar?" Mozza bertanya padaku.


Mozza kaget atas jawaban dariku.


"Iya. Pengemar Sayang ...."


"Serius?"


"Yah, cintaku hanya untukmu," kataku.


"Tolong, dong, A'a. Jangan mempermainkan cintaku." Mozza memelas lagi.


Akhirnya aku pun jujur dan menjelaskan bahwa wanita tadi adalah seorang partner kerja, saat awal-awal aku tiba di Jakarta dan kurang komunikasi saja hingga mengira bahwa aku telah menipunya, mungkin wanita itu sengaja datang untuk menghancurkan image aku sebagai founder.


Akhirnya Mozza mengangguk kemudian meminta maaf kepadaku atas sikapnya tadi.

__ADS_1


Ia nyaris saja melepas cincin tunangan dan menolak lamaran tadi, tapi urung ia lakukan karena menurutnya ada kejujuran di bola mataku yang menyiratkan cinta tulus untuknya.


Aku tadi sudah membuat air matanya tumpah, dan tadi ia ingin mengakhiri hidupnya, ia bertuturnya panjang lebar saat dalam perjalanan menuju apartemennya.


Aku pun tersenyum lega dan menarik napas dalam-dalam lalu perlahan melepaskan.


Huh hufff!


Aku mengucapkan terima kasih padanya dengan mengusap lembut rambutnya yang di sangul rapi.


Dalam hati aku mengucap puji syukur karena Tuhan kembali berpihak padaku.


Sesampainya di apartemen miliknya aku pun turun dan segera membukakan pintu mobil lalu meraih pucuk jemari tangannya untuk keluar dan kami pun berjalan masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam ia mempersilahkan aku untuk segera masuk, lalu ia pun menutup kembali pintu dan melempar tasnya di atas ranjang. Lalu berjalan semampai menuju ke arah dapur.


Ini kali pertama aku berkunjung ke apartemennya selama menjalin hubungan cinta.


Karena selama ini tempat pertemuan di cafe dan sesekali hangout keluar guna melewati dan menghabiskan malam mingguan bersama dengannya.


Ia wanita tangguh dan mandiri juga pekerja keras, walau pun berpenampilan modis, dan seksi ia tetaplah seorang wanita muslimah yang taat.


Itulah sebabnya aku segan untuk bertandang ke apartemen miliknya selama ini.


"A'a, Bumi Respati. Ini teh hangatnya."


Suara lembut Mozza dari arah belakang, membuyarkan lamunanku yang sedari tadi menunggu kedatangannya dari dapur, lumayan lama aku duduk di sofa menunggu dengan berbagai macam kecamuk memenuhi pikiranku.


"Oh. Iya ... Sayang," jawabku sambil meraih secangkir teh hangat dari tangannya.


Ia pun duduk tepat di sampingku, dadaku berdesir hebat rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya pada wanita manapun yang selama ini dekat denganku.


Segera menseruput teh panas buatannya guna meregangkan otot leherku yang terasa kaku.


"Oh. Nikmatnya ...."


Tampak Mozza tertawa kecil mendengarnya. Kami pun berbincang tentang banyak hal hingga ia meminta agar hubungan kita segera di resmikan saja.


Aku pun senang atas permintaannya dan mengiyakan ajakan untuk segera menikah. Karena usia kami pun sudah matang di tambah lagi kesiapan finansial yang sudah memungkinkan untuk berkomitmen dalam membina hubungan rumah tangga.


"Aku mau membersihkan diri dulu, ya ...." pamit Mozza.


Aku pun menganggukkan kepala, tampak ia kini melepaskan high heels yang sedari tadi masih ia kenakan di kaki jenjangnya.

__ADS_1


Lalu meletakkan di atas rak sepatu yang tampak berjejer rapi. Ia melempar senyum ke arahku dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2