
Sesampainya di rumah Mami, aku melirik ke arah jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 23:20. Pantas saja mataku sudah gak kuat dari tadi minta di ajak istirahat. Mataku masih berkunang-kunang, lidahku pun masih terasa kelu setelah percobaan pertama merasakan minuman yang belum pernah ku minum sebelumnya. Ku lihat Yuli masih sibuk memainkan ponsel. Sepertinya dia sedang berkirim pesan kepada seseorang. Aku memejamkan mata, ku harap esok hari badanku lebih baik dari malam ini.
Kami diberitahu Mami bahwa jadwal merias di bar hanya di hari Rabu, Jumat dan Sabtu. Selebihnya kami membantu Mami Luna di salon kecil miliknya di garasi rumah. Hari-hari berlalu tanpa terasa sudah hampir satu tahun kami membantu Mami sebagai asistennya. Mami Luna memperlakukan kami dengan baik. Tenaga kami dibayar dengan layak. Tempat tinggal dan makan disediakan tanpa harus kami membayar. Aku pun sudah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk bisa dikirim ke ibuku di kampung.
Hari itu hari Senin, tidak ada jadwal merias di bar. Aku berniat minta izin Mami Luna untuk pulang ke kampung menengok keluargaku. Mami Luna memastikan bahwa aku akan segera kembali lagi ke rumahnya.
__ADS_1
"Hari gini susah cin, cari asisten yang oke. Banyak ngeluh masalah ini..." pesan Mami Luna sambil mengisyaratkan ibu jarinya yang digesekkan ke telunjuk yang artinya uang.
Aku gembira, akhirnya aku bisa bertemu Edo. Sudah lama sekali aku tidak memeluknya. Sudah bisa apa dia sekarang? Usianya sudah menginjak tahun kedua, pasti sudah bisa berlari-lari. Tak sabar rasanya ingin segera berjumpa. Senyumku merekah lebar membayangkan wajah tampan anakku. Sedangkan Yuli sendiri belum ingin kembali ke kampung halamannya. Wajarlah, walaupun usianya lebih dariku tapi dia masih gadis. Tidak mengapa baginya tidak buru-buru pulang kampung.
*
__ADS_1
*
Aku putuskan bertanya ke tetangga sebelah rumah. Menurut keterangan mereka, ibu beserta adik dan anakku sedang membawa Edo berobat. DEG....... Edo sakit??? Seketika lemas rasa kaki ini, bulir air mata menyapu pipi. Ohh anakku, maafkan bunda nak. Setahun kita berpisah, tak seharipun aku mencari tahu kabar keluarga ku di sini.
"Sakit apa ya Bude si Edo? Apa ibu pernah cerita?" tanyaku pada tetangga sebelah.
__ADS_1
"Kurang paham sih ndok, tapi katanya Edo ini koq belum bisa jalan juga padahal umurnya sudah 2 tahun. Tapi kakinya masih lemes, gak bisa diajarin 'titah'. Trus belum bisa ngomong apa-apa juga loh katanya." jawab tetanggaku ini.
Makin banjir lah air mataku. Aku permisi balik ke rumah sambil menunggu anggota keluarga ku, aku tata makanan yang ku bawa dari kota tadi. Ada buah-buahan, ada kue, ada ayam goreng. Aku harap kedatanganku tidak membuat ibu marah.