Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 11 Bertemu sang Primadona


__ADS_3

Bertemu Sang Primadona.


Tampak deretan notifikasi masuk, bahkan beberapa panggilan tidak terjawab, selama handphone aku senyap-kan tadi waktu di cafe Diantaranya dari Neng Surtiyah, entah mengapa tiba-tiba saja hati ini terasa berdesir. Rasanya begitu ngilu, saat melihat panggilan darinya.


Seketika aku menghubunginya kembali. Ah, benar saja, kesehatan Ambu kembali memburuk ia menyarankan aku untuk segera balik ke kampung .


Tanpa pikir panjang segera aku berkemas dan memutuskan untuk berangkat dengan mengendarai mobil pribadiku. Sebelum pergi aku harus berpamitan pada Widya Chandra.


Tok ... tok ... tok!


Lumayan lama tiada respon. Akhirnya kembali diriku mengulang mengetuk pintu, tapi tiada respon. Akhirnya aku mencoba memangilnya berulang kali.


"Wid ... Widya. Widya! kamu masih hidup kan?!" Aku memanggil dengan notasi tinggi sembari terus mengetuk pintu.


"Kak, Bum?!" Mungkin Widya bingung dengan kedatangan ini.


"Iya, Wid. Ini Kakakmu ...."


"Lho, Kok?" Widya terperanjat saat pintu sudah dibukanya.


"Aku, mau pamit Wid ...." jelasku dengan notasi rendah.


"Hah. Kakak mau kemana? Masih dinihari, lho." Widya kian heran.


"Iya--- "


Widya kaget saat membuka pintu dan melihat aku sudah dengan dandanan kasual yang berbeda. Ia tampak mengerutkan alis sembari mengucek mata menahan kantuk.


"Mau pulang kampung, Wid," jawabku.


"Lho, emang ada apaan, Kak?"


"Emak sakit, tadi ada teman yang mengabari mengatakan alangkah baiknya aku pulang dulu. Titip rumah ya, Wid," jelasku


Aku berpamitan sembari menitipkan kunci rumah padanya.


"Oh, ya. Hati-hati di jalan ya, Kakakku," katanya sembari menerima kunci dariku.


"Iya--- bawel."


"Daa ... daa ... aa!" seru Widya


"Sudah, masuk sana," timpalku


Widya melambaikan tangannya padaku lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Akhirnya aku pergi meninggalkan Kota Jakarta. Mobil terus kupacu hingga tidak terasa sekarang sudah menyusuri jalanan Kota Bandung. Dan akhirnya kini sudah menyusuri jalanan desa yang sepi jika pagi karena rata-rata penghuninya pergi ke ladang.

__ADS_1


Lumayan banyak perubahan, sejauh mataku memandang, deretan bangunan rumah dengan model kekinian pun tampak kokoh berdiri. Terutama jika mereka yang punya anak pergi merantau sepertiku.


Tit ... tit ... tit.


Aku membunyikan klakson, tampak Abah keluar dari dalam rumah dengan senyum merekah dengan gimik wajah penuh kebanggaan, ia mendekat ke arah mobilku yang terparkir di halaman depan rumah.


"Assalamualaikum, Abah---" ucapku sesaat setelah keluar dari mobil.


"Waalaikum salam warahmatullahi." Abah menjawab dengan suara bergetar dan segera memelukku erat.


Aku pun memeluk kembali tubuh renta itu penuh sayang juga kerinduan.Tersirat jelas kekagumannya padaku. Abah mengamati anaknya ini dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Kemudian, Abah pun dengan bangganya mengusap lembut bemper mobil hasil kerja keras ini. Aku mengamatinya sesekali senyumku tersungging ia pun membalas tersenyum bahagia.


"Ah, Abah. Gitu amat," godaku sambil melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan dirinya seorang dengan kekaguman.


"Assalamualaikum ...." ucapku.


Namun, tidak ada jawaban lalu aku menyibak tirai pintu kamar, tampaknya Ambu terlelap hingga tidak mendengar salam.


Aku mendekat dan mengambil posisi duduk di ranjang tepat disampingnya. Terus kuamati wajah tua itu tanpa mengusik lelap tidurnya. Lumayan lama ia pun akhirnya terjaga dan seketika menangis histeris sembari memelukku erat.


"Bu-bu-bumi. Anak Ambu, ini bukan mimpi?"


"Bukan mimpi dong, Ambu. Iya, ini aku Bumi Respati anak tampan Ambu," bisikku dengan suara bergetar.


Kemudian, aku merangkul tubuhnya agar luruh dalam dekapan.


"Sudah dong, nangisnya, entar aku balik lagi lho, kalo masih sedih begini." Aku mengancamnya sambil menyeka kembali gulir bening itu enggan beranjak.


"Jangan! Mah. Ambu masih kangen, atuh," balas Ambu manja, sembari tersenyum dan kembali merebahkan diri dalam pelukku.


Abah datang lalu menyibak tirai pintu dan duduk bergabung bersama kami, ia tadi mengemas oleh-oleh bawaanku dari dalam bagasi mobil.


"Sudah semua, Abah?" tanyaku.


"Sudah," jawab Abah.


Kemudian Abah mulai bercerita panjang lebar menceritakan bahwa Ambu sakit karena menahan rindu yang amat sangat padaku. Akan tetapi mereka enggan untuk memberi tahu. Takut kalau-kalau aku tidak punya uang bekal pulang jika dikabari hal ini.


Seketika itu juga Ambu langsung semangat dan sehat lalu dengan cekatan ia segera beraktivitas di dapur, memasakkan menu istimewa untukku.


Neng Surtiyah pun datang setelah aku mengabari bahwa saat ini aku sudah berada di desa.


Ia pun tidak percaya dan langsung saja bertandang ke rumah. Akhirnya kami bercerita panjang lebar, banyak yang ia sembunyikan dariku selama ini, perihal Neng Bianca.


Semua demi ketenangan di rantau itu asumsi mereka. Ah, rasanya jantung ini berdegup kencang dan napas pun tak beraturan menahan gejolak batin, saat satu per satu Surtiyah mulai menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Aku pamit dulu ya, Kak."


Neng Surtiyah berpamitan karena suaminya mengabarkan bahwa anaknya sedang rewel. Ah, waktu begitu cepat berlalu, ia kini sudah menikah dan memiliki seorang anak.


"Iya, Neng. Terima kasih atas bantuannya selama ini," tuturku


Kemudian, aku mengantarkannya sampai depan pintu.


"Sama-sama, aku mah, senang akhirnya Kak Bumi sukses seperti ini," ungkapnya seraya melangkah pergi.


Tampak Ambu tergopoh sembari membawa bungkusan yang akan ia berikan pada Neng Surtiyah. Aku memanggilnya untuk kembali, akhirnya Neng Surtiyah menerima oleh-oleh yang aku bawa tadi.


Ambu sengaja membagi-bagikan ke tetangga juga kolega jajanan yang sengaja aku beli dalam jumlah banyak.


Setelah hari sudah malam, aku memutuskan bertandang ke rumah Neng Sutiyah, guna menemui Neng Bianca . Karena tadi ia mengirim pesan bahwa Neng Bianca ingin bertemu denganku.


Dengan hanya berjalan kaki aku menapaki jalan desa memecah keheningan malam. Akhirnya sampai juga, tampak Neng Bianca sudah duduk di teras ditemani Neng Sutiyah juga suaminya. Mereka pun menyambut kedatanganku dengan bersalaman dan sejenak mengobrol ringan sesat kemudian Surtiyah dan suaminya pun pamit masuk. Mungkin untuk memberikan ruang pada kami untuk berbicara.


Neng Bianca tertunduk lesu, ia tidak berani menatap bola mataku yang menyiratkan rasa kecewa yang teramat dalam.


Bianca telah mengingkari janji akan setia menunggu dan menanti sampai kapan pun aku kembali dengan sukses direngkuh.


"Huh! Huff ...."


Aku menghela napas dengan kasar dan membuangnya, lalu menjatuhkan puntung rokok yang terasa pahit dihisap menjalar masuk dalam kerongkongan. Kemudian aku menginjaknya dengan penuh rasa amarah.


Tampak Neng Bianca takut tersirat dari raut wajahnya, kemudian aku mencoba untuk memulai pembicaraan.


"Kamu, pendusta!" bentak ini penuh murka.


"Ma-ma-maafkan, aku," pintanya terbata.


"Siapa yang tidak menepatinya janji, hah!"


Bagaimana tidak ia telah mampu menolak perjodohannya kala itu tapi sekarang ia justru menerima pinangan sahabatku sendiri, tanpa memberi tahu padaku terlebih dahulu.


Jujur saja walaupun aku tidak pernah kontak langsung dengannya selama di Jakarta, akan tetapi sketsa wajahnya masih simpan rapat dalam sudut hatiku yang terdalam.


Cintaku padanya masih tulus dan suci seperti dulu. Itulah sebabnya sesekali pupuk agar tidak layu sebelum bertemu kembali dan bersatu.


Semua itu hanya komunikasi yang terputus. Memang kami kurang komunikasi , karena Bianca tidak di perkenankan menghubungi aku oleh Haji Romli orang tuanya, bahkan ketika aku yang mencoba menghubunginya selalu nihil, karena Haji Romli yang menerima panggilan telepon dariku, hingga akhirnya aku lelah dan tidak pernah sekalipun lagi untuk mencoba berusaha kembali menghubunginya.


Sementara itu kian rumit Bianca tidak lagi di perbolehkan bertandang ke rumah Neng Surtiyah. Jelas saja otomatis komunikasi pun terputus semenjak itu dan dalam waktu yang cukup lama.


"Ma-ma-maafkan, aku A'a ...." pintanya kembali memohon.


Bianca mencoba meraih jemariku, tapi segera tepis, karena begitu sakit rasanya dikhianati oleh seorang wanita yang menjadi idaman.

__ADS_1


Tampak gulir bening mengelinding perlahan melewati pipinya saat aku memutuskan pergi dan meninggalkannya sorang diri dan tidak memberikan jeda untuk ia menjelaskan lagi.


Karena aku tidak butuh penjelasannya, tapi bukti yang telah menjadi kenyataan ia telah berkhianat, mengingkari janji untuk setia menanti sukses dan kembali pulang untuk meminang dan mempersatukan cinta dalam biduk mahligai rumah tangga.


__ADS_2