Sang Primadona

Sang Primadona
Chapter 4


__ADS_3

Sekitar hampir 2 jam lamanya menunggu kepulangan ibu dan yang lainnya, akhirnya mereka datang. Aku sempat ketiduran di ruang tamu karena masih lelah dari perjalanan jauh. Ibu kaget melihat kedatanganku, ia memelukku tiada henti sambil berlinangan air mata. Kedua adikku, mereka laki-laki semuanya. Bram sudah duduk di kelas 1 SMA, sedangkan Tio kelas 2 SMP. Mereka juga memelukku erat.


Sepeninggal ku, rupanya Bram sepulang sekolah bekerja paruh waktu di pabrik tempe tempat ku bekerja dulu. Hasilnya lumayan untuk membantu ibu mencukupi kebutuhan sehari-hari, walaupun aku tahu hasil yang diperoleh tidak seberapa. Ibu bercerita tentang Edo, tadi mereka membawa Edo ke pengobatan alternatif katanya ada yang mengguna-guna aku melalui Edo sehingga Edo jadi seperti ini. Tapi aku tidak sepenuhnya percaya, pasti ada penjelasan secara medis tentang yang diderita Edo.


Perihnya hatiku, yang kubayangkan sebelum pulang kampung, aku akan berlarian mengejar Edo yang sudah mulai lancar berjalan nyatanya aku salah. Ku lihat kaki Edo memang seperti tidak mengalami perkembangan. Tatapannya pun sering kosong, liurnya selalu mengalir. Ya Tuhan,, cobaan apa lagi ini. Kemudian Ibu mengeluarkan sebotol air yang tadi diberikan oleh di tabib.


"Bu, Edo gak akan sembuh kalau hanya diberi air putih semacam ini terus. Kita harus membawa Edo secepatnya ke dokter." ungkap ku penuh harap.


"Tapi di sini dokter jauh sekali jaraknya Eli, kita juga gak punya kendaraan. Dan pastinya ongkos dokter gak murah nak." jawab ibuku dengan nada sedih.

__ADS_1


Jawaban ibu ada benarnya. Memang betul jarak rumah kami jauh dari tempat praktek dokter. Memang betul ongkos dokter tidaklah murah. Dan kami juga tidak ada kendaraan. Semakin tersayat hati ini rasanya.


Aku hendak mengambil Edo dari gendongan ibu, tapi Edo menolak. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu jadi ia sudah tak mengenaliku lagi. Aku tersenyum pahit. Aku berusaha menahan air mataku di hadapan pangeran kecilku. Sekalipun dia tak sempurna, Edo tetaplah buah hatiku. Air susuku mengalir dalam tubuhnya.


*


*


Sambil memeluk Edo, ku bisikkan kata maaf ku. Sungguh aku merasa bersalah telah menjadi ibu yang tidak layak bagi anakku.

__ADS_1


"Bunda minta maaf ya nak, Edo anak yang kuat. Edo anak baik. Semua sayang sama Edo. Edo sehat ya sayang, nanti kita jalan-jalan di kota." kataku tersenyum sambil menangis.


*


*


Setelah menempuh perjalanan 5 jam lamanya, sampai juga aku di rumah Mami Luna. Tampak Yuli dan Mami sedang bersiap-siap berangkat ke bar untuk merias lagi. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung gabung dengan mereka.


"Aiihh anak Mami udah sampe di sini lagi." sambut Mami sumringah.

__ADS_1


Kami pun bergegas menuju ke bar. Di dalam bar, sempat aku berpikir. Wanita-wanita yang suka menemani karaoke itu katanya bayarannya lumayan, ada yang Rp. 100.000 ada pula yang dibayar Rp. 300.000 per jamnya. Jadi per malam penghasilan mereka lebih dari cukup. Aku sempat berkenalan dengan salah seorang lady escort tersebut.


__ADS_2