Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 32 Nekat


__ADS_3

Seorang satpam langsung membuka gerbang matanya terlihat berang menatap ke arah dalam mobilku, aku sedikit menurunkan kaca mobil agar mereka bisa melihatku.


Aku dulu sering bertandang ke kompleks ini ah, sial! Sepertinya mereka orang baru semua terlihat asing olehku. Kemudian aku membunyikan klakson setelah itu menginjak gas melajukan mobil pergi meninggalkan mereka.


Sebelum berangkat aku sengaja tidak memberi tahu Clarissa terlebih dahulu niatku adalah suprise entah kenapa rasanya bergembira akan kembali bertemu. Akhirnya sampai juga aku di depan garasi rumah dan gerbang tidak dikunci. Garasi itu tidak tertutup aku langsung memutar mobil masuk dan parkir di tempat biasa. Beberapa menit kemudian aku turun terlihat sepi, seperti biasanya aku berjalan kearah pintu dan membunyikan door bell berulang kali seraya membenahi kemeja yang aku kenakan. Akhirnya pintu terbuka tapi bukan Clarissa melainkan Simbok, ia tidak asing lagi olehku.


Aku bertanya seraya penglihatan mencuri pandang ke arah dalam aku berharap Clarissa muncul dari balik sana. Suara Simbok mengagetkan dan membubarkan pikiran ini.


"Lho, Nak Bumi." Si mbok memegang lenganku iya terlihat rindu padaku maklum saja dulu kami sering bercengkrama.


"Iya, Mbok ini saya." Aku menjawab tanya Simbok seraya membalas tatap teduh, lalu meraih pucuk jemarinya dan mendaratkan ciuman di punggung tangan Simbok.


Namun, terlihat Simbok masih heran, netranya menelisik tanya di bola mataku. Aku kembali memegang ujung jemari tangan Simbok seraya mengerutkan dahi. Terlihat Simbok memamerkan gimik wajah aneh menurutku.


"Kenapa ke sini, Nak?" Aku kembali mengerutkan kening.


"Emangnya, kenapa? Kok, seperti ...." Lidah ini seketika kelu.


"Mbok! Berbincang dengan siapa?" Suara perempuan itu membuatku tidak melanjutkannya tanya tadi.


"A-a-aku ...." Simbok tidak menjawab, ia terlihat terbata dan bingung. Sikap Mbok membuat aku penasaran.


"Mbok, lho ...."


"A-a-anu, Nak Bumi, cepatlah pulang saja." Mbok berkata seraya menjauhkan tubuhku dari depan pintu. Sejak tadi kami hanya berbincang di bibir pintu.


"Aku bertamu, Mbok!"

__ADS_1


"Cepatlah pulang, Nak Bumi!" Mbok menghardik lagi seraya menoleh ke belakang.


"Mbokkk ...!"


"Iya, Non!"


"Kok, lama sih?!"


"Sebentar, ini ada tukang servis AC!"


Melihat gelagat Simbok aku paham ada sesuatu terjadi selang beberapa menit kemudian seorang perempuan membuat mataku membulat, perempuan cantik dan masih muda aku coba mengingat sepertinya pernah melihatnya, ia mendekati kami. Saat beradu pandang ia mengamati dari ujung kaki hingga kepala kemudian melipat kedua tangannya menghilang di depan dada ia mengerling. Entahlah mungkin ia juga mencoba mengingat. Simbol langsung berpamitan, "Non, saya tinggal dulu."


"Tukang, servis AC?" tanyanya.


"Em ...."


"Oh, maafkan aku, lupa ...." Aku mencoba berbasa-basi.


Sesaat kemudian ia memberitahu bahwa Carissa memang sudah tiba tapi tidak langsung menuju ke rumah ini, rupanya Clarissa berada di kediamannya yang lain. Sementara itu selama memberitahu garis cantik di depanku tidak menjauhkan padang dariku.


Aku langsung mengakhiri percakapan dan pamit. Kemudian meninggalkan aria pemukiman itu dan langsung menuju ke kediaman Carissa selanjutnya.


Tentu aku sudah tahu di mana kediamannya, karena kami dulu pernah tinggal di sana sumringah rasa ini saat sudah memasuki pelataran luas. Gerbang terbuka lebar memudahkan niat ini.


Aku segera turun setelah memarkir mobil. Kemudian membunyikan dorr bell. Tidak butuh waktu lama, pintu dibuka dan benar saja, Clarissa begitu cantik memukau mataku.


Bibirku merekah, memamerkan senyum tapi tidak dengan Clarissa ia terlihat kaget refleks tangannya mendorong tubuhku menjauh dari pintu hingga teras. Ia memukul dadaku dengan keras dengan logat barat-baratan ia mulai mengomel ke sana ke mari tidak karuan saja membuatku kesal bukan menyambut dengan baik.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan?"


"Cla ...." Aku tidak melanjutkan ucapan.


Selanjutnya menjelaskan bahwa aku merindukannya, kemudian meraih tangannya, tetapi clarissa menghempas sekerasnya tanganku. Terlihat wajah cantik itu memerah sesekali netranya menatap ke arah dalam rumah lewat kaca jendela yang jernih. Membuat aku mengangkat bahu dan membuka kedua tangan pada bertanya ada apa sebenarnya dengannya.


"Oh, me God! Bum, you stupid!"


"Cla, jangan katakan itu. Bukankah kau sudah tahu aku memang bodoh karena tidak bisa melupakan semuanya, tentang kamu." Aku menjelaskan seraya mencoba menyentuh kedua bahunya.


Aku tahu darah Clarissa mendidih saat ini. Aku memang pandai dan paham memperlakukan dirinya, ia pasti suka gayaku. Sedikit kasar dan memaksa awalnya saja dia akan menolak, tapi ujung-ujungnya kembali luluh padaku.


"Bum, no!" Aku tidak memperdulikan larangannya. Tubuh Clarissa aku pepet hingga tersandar di dinding. Tadi Clarissa sedikit berlari untuk menghindari hingga ke arah pintu. Tapi langkahnya terhenti saat tangan ini menariknya. Aku terus memepet, kemudian memberikan ciuman walaupun memang aku memaksa. Dalam hati aku terkekeh geli melihat tingkah yang sok suci, toh, biasanya ujung-ujungnya Clarissa akan menarik diri ini ke dalam, seperti seekor sapi akhirnya aku yang tunduk patuh saat ia mempermainkan tubuh ini aku sesuka hatinya


Nafasku mulai memburu darahku terasa mendidih begitu hangat mulai menjalar hingga membuat wajah memerah tangan Clarissa memencet tombol door bell berulang kali entah apa maksudnya. Padahal ia tinggal seorang diri. Aku terus melakukan aksi, tapi akhirnya harus terhenti saat satu tarikan keras di punggung ini. Saat aku menoleh satu bogem mendarat di wajah ini, membuatku terhuyung nyaris tersungkur.


Aku meregangkan leher seketika. Cukup membuat leher ini mengeras hadiah bogem tadi. Aku mendehem, untuk kali ini membuatku harus melakukan perhitungan. Seorang pria kekar yang tidak asing olehku ia body guard Clarissa yang dulu menjadi orang yang paling dipercaya. Dulu aku memanggilnya Bang Togar pria itu telah lancang dan banyak membuat sakit hati.


Aku menyingkirkan lengan baju kemudian mengambil ancang-ancang kami berdua tidak menghiraukan teriakan Clarissa yang menyuruh berhenti menyudahi adu- pukul.


Tendangan keras Bang Togar melesat dan aku balas serupa. Wajah kami babak belur darah kental keluar dari pelipis Togar.


Aku mengusap bibir, ah, rupanya bibirku pecah. Darah membuat tapak tangan ini berubah warna merah. Reflek aku memutar badan dengan satu tendangan terbang aku menghadiahi tegangan maat. Serangan dadakan dariku membuat tubuh Togar tersungkur dengan posisi mencium lantai. Secepatnya Togar membalikkan tubuhnya, ia akan berdiri. Tapi clarissa menjerit saat aku akan menginjak perut Togar yang sekarang membuncit. Teriakannya menyadarkan diri ini akan hubungan mereka adalah sebagai suami istri.


Mataku mendelik tidak percaya, tapi apa daya Clarissa membenarkan kembali ucapannya. Seketika aku meninggalkan tempat itu. Ah, sialan di luar dugaan benar-benar ini hari sial buatku! Tadi aku tidak tahu ada mobil Togar masuk dan memergoki, kemudian langsung memukul dari arah belakang. Tapi saat melihat itu aku, ia juga terpental Tapi apa daya kami sudah saling adu pukul. Didalam mobil berulang kali aku memukul setang mengutuk bodoh ini.


Aku mendesis kesal, kemudian meraih handphone yang tadi aku lempar di jok, kemudian memanggil kontak Adie, tadi ia berulang kali menghubungi.

__ADS_1


__ADS_2