
"Tolongin??" Clarissa melipat kedua tangannya di depan dada, menatap bola mataku.
Aku mengerutkan kening, "ya, bantuin ...." Sengaja tidak meneruskan, agar menggantung tanya.
Clarisa tersenyum malu, ia tahu maksudku. Salaman adegan ranjang cukup membuatnya melupakan sejenak masalahnya.
Sesampainya di depan pintu, Clarissa kembali menarik lenganku, memaksa langkah terhenti. Kembali aku membalikkan badan seraya memegang kedua pundak Clarisa, wanita cantik di depanku memang tidak berpostur tubuh tinggi, hingga ia mendongak saat menaikan dagunya.
"Aku pulang dulu, nanti malam lagi, ya. Telepon saja bila ada sesuatu atau sedang dalam masalah." Aku menenangkan.
"Tawaranku tadi? Bersedia? Aku akan membayar, Bum."
Tegas aku menjawab, "tidak bisa berkata, iya---"
Perlahan aku melepaskan tangan Clarissa yang bergelayut di pinggangku. Terdengar Clarisa mendengus, tapi tidak menghentikan langkah ini.
Sebelum mengemudi, aku menyempatkan diri untuk menelepon sahabatku. Adie tidak mengangkat panggilan dariku, hingga membuatku memutar arah mobil menuju kediamannya.
Kembali mengulangi, tapi tetap tiada jawaban. Tidak biasanya sahabatku begitu, biasanya jika handphone tidak ditangannya sesat kemudian, Adie pasti merespon. Entah kenapa akhir-akhir ini rasa cemas berlebihan kerap bertandang.
Setengah jam aku mengemudi, jalanan hari ini cukup membuat diri berulang kali mendengus. Bagaimana tidak, biasanya hanya dalam waktu tempuh 15 menit saja.
Akhirnya aku bernapas lega, setelah memarkir mobil aku bergegas, tetapi sejenak mataku mengamati beberapa mobil yang terparkir di lobby. Tidak pernah sekalipun ada mobil petugas bertandang, membuat hati bertanya-tanya?
Sesampainya mataku membulat ada garis polisi. Ditambah lagi terdengar Caroline meraung keras, membuatku cemas. Aku mencari jalan masuk di antara banyaknya orang yang berkerumunan ingin aku berteriak! Rasanya tidak percaya, sahabatku tersungkur di lantai. Setahuku dia sedang di rumah seorang diri karena istrinya sedang acara keluarga. Itu percakapan kami yang terakhir saat kontak, menerima job darinya.
__ADS_1
Aku tergugu pilu melihatnya. Hanya bisa mematung dari batas garis polisi lane. Beberapa petugas mulai mengidentifikasi, sementara itu Caroline menggendong anaknya. Wanita berkewarganegaraan asing itu masih menangis dalam dekapan seorang Polwan.
"Bumi!" Caroline memanggil, tapi saat akan menembus garis polisi seorang di sana melarang. Membuat aku mundur beberapa langkah, saat akan meninggalkan tempat itu suara seseorang memanggil namaku sontak membuat langkah ini terhenti dengan jantung berpacu tidak beraturan.
"Pak! Tolong jangan pergi ...."
Aku membalik, kembali mendekat. Rupanya petugas berpakaian preman meminta aku untuk ikut serta nanti ke kantor polisi guna dimintai keterangan karena di panggilan telepon Adie kemarin ada riwayat kontak terakhir denganku.
Tiada sepatah kata jawab dari bibirku saat dua orang lainnya menghampiri dan menepuk pundak ini agar mengikuti langkah ketiganya menuju salah satu mobil ber plat nomor pemerintah yang terparkir didepan.
Sesampainya aku baru tahu rupanya Adie sedang depresi terjerat kasus perdagangan manusia. Mungkin dia merasa di intimidasi hingga memutuskan mengakhiri hidupnya. Sementara saat kejadian Caroline tidak ditempat dia sedang jalankan ibadah bersama keluarganya, karena semenjak menikah Adie bukanlah suami yang patuh akan keyakinan yang baru dianut. Adie tidak pernah turut serta ketika hari Minggu dan malam Jumat saat doa bersama digelar.
Rasanya tidak percaya Adie baru saja bersamaku. Tertawa lepas melupakan segala gundah yang coba simpan rapat dengan tetap tersenyum. Kenapa dia secepat itu mengambil putusan? Aku benar-benar tidak habis pikir.enurut penyidik Adie bunuh diri dengan cara menenggak racun.
Sebagai mucikari Adie tentu berteman dengan petugas. Logika tidak mungkin dia tertekan hanya karena kasus yang sudah berulang kali menimpanya. Itu hal biasa sebagai pebisnis haram, persaingan ketat saling sikut sudah lumrah. Bahkan keluar masuk berurusan dengan penegak hukum sudah biasa. Aku tahu itu, tapi Adie tidak pernah merasa tertekan. Kenapa? Sekarang berakhir begini? Sungguh aku gerundel, tidak percaya!
Penegak hukum hanya meminta keterangan dariku tentang apakah Adie sedang ada masalah dengan lawan bisnis. Akan tetapi setahuku tidak ada, Adie tidak pernah bercerita itu, justru dia ingin mengajak aku menjadi partner bisnisnya yang kian membludak pelanggan. Menurut penegak hukum Adie dilaporkan telah menjual pria di bawah umur guna dinikmati keperjakaannya oleh customer.
Tapi rasanya aku tidak percaya, soalnya sebelum barang baru menerima customer Adie lalu membintangi diri dengan perjanjian kerja dan kontrak di atas kertas ber materai. Di situ ada pernyataan bahwa kami bersedia dengan sadar menandatangani dan bekerja sama bahkan jelas dibacakan oleh Adie kami tidak boleh menuntut kemudian hari.
Aku menceritakan sedetil-detilnya tentang sahabatku. Petugas terus mendengarkan apa yang coba sampaikan. Ketiga orang yang sejak tadi berdiri dengarkan. Entahlah berapa ratus pertanyaan yang dilontarkan orang perempuan seraya mengetik. Terlihat mereka saling tatap saat jawaban terakhir dariku. Aku berpikiran ada orang lain yang mencekoki Ade.
Rasanya lega, sudah mengeluarkan isi hati. Entah apa yang mereka pikirkan? Semoga saja sama dengan isi kepalaku, seperti mau pecah saja kepalaku sudah dijejali da bermanuver mengingat masalah apa yang terakhir Adie bahas.
Sementara itu, yang kudengar dari ketiganya jenazah Adie sedang di bawah ke rumah sakit guna keperluan visum lebih lanjut.
__ADS_1
Rasanya sesak dada ini, baru kemarin rasa sahabatku yang terbaik itu ingin kembali pada iman-Nya. Akan tapi sayang Tuhan tidak mengizinkannya. Adie akan mengubur niat sucinya bersama jasad.
Aku bernapas lega saat petugas mengatakan sudah boleh pulang. Tadi aku sempat berpikir akan menjadi tersangka atau mungkin lebih parah dari itu. Rupanya aku hanya dijadikan saksi dan akan kembali dipanggil jika sewaktu-waktu dibutuhkan kembali.
Aku menjawab dengan tegas! Ya, aku pastikan untuk itu demi sahabatku. Demi menguak apakah ini murni bunuh diri biasa atau jangan-jangan ada dalang dibalik semua.
"Oh, ya. Bapak Bumi Respati sudah kami persilahkan untuk pulang."
Aku membuang napas----
"Terima kasih, Pak." Hanya datar keluar jawab dari lisanku.
"Akan tetapi, kami akan menghubungi kembali jika dibutuhkan."
"Baik, Pak! Saya akan kooperatif demi sahabatku."
"Terima kasih, maafkan kami tadi." Seorang petugas dengan wajah garang meminta maaf seraya mengembalikan kunci mobilku.
Tadi mereka yang membawa mobil, sesampainya pelataran aku memutuskan tidak langsung pulang, aku memutar arah jalur ke sebuah rumah sakit yang tadi disebutkan aparat.
Sepanjang jalan rasanya tidak karu-karuan saja ini. Bingung apakah harus memberi kabar pada keluarga Adie di desa?
"Ah, Adie! Apa yang kamu lakukan?!" Aku protes serasa memukul stang mobil berulang kali.
Tinggalkan komentar, ya Kakak Sayang ❤️ terima kasih 🙏
__ADS_1