Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 43 Kedatangan Tamu


__ADS_3

43 Kedatangan Tamu


"Gak sabar amat, sih!" Aku membiarkannya lagi. Langsung mengenakan pakaian lengkap, sementara Clarissa masih meringkuk, sesekali ia menggeliat dan mengumam lirih.


"Sayang, bangunlah!" perintahku seraya memberikan sentuhan lembut dipipi Clarisa.


"Mmm ...." Hanya gumam lirih terdengar.


"Ya, udah. Aku pamit, ya ...." Aku mengecup kening Clarisa, tiada respon.


Setelah mengenakan jam tangan, aku meraih tas milikku yang tergeletak di atas meja rias, sekalian mengambail kunci mobil kemudian kembali lagi, "Sayang, kenakan lingerie dulu, jangan bugil." Seraya mengecup pundaknya aku membisik.


"Hati-hati, Bum!" Suara Clarisa terdengar saat aku sudah depan pintu tinggal beberapa langkah membuka tuas pintu.


"Iya, Sayang ....." jawabku dengan posisi badan berada di luar.


"Bangsat!"


"Sialan!"


Saat kepalaku mendongak dan berniat masuk kembali, satu tarikan keras membuat tubuh ini nyaris mencium tembok.


"Bajingan kamu, Bum! Masih berani mengoda istriku!" Togar mencengangkan keras kerah kemeja yang kunakan hingga terasa leher tercekik. Satu tangan Togar mengepal di atas siap meluncurkan pukulan di wajahku.


Aku memberikan tendangan perlawanan pada kedua kakinya, sedikit membuatnya goyah. Tapi tidak lantas mampu melepaskan cengkraman tangannya. Padahal sekuat tenaga mencoba melepaskan.


Napas kami beradu, sementara dua orang lainnya hanya mengamati sekitarnya. Selang beberapa menit tubuhku diseret masuk dan mereka menutup pintu. Masih saja tangan Togar mencengangkan keras. "Singkirkan tanganmu! Atau ...!"


"Atau apa? Hah!" Togar justru membentak dengan mata melotot.


"Aku kasar padamu!"


"Kasar? Jika aku mau sekarang ini juga aku bisa menjagalmu, primadona ************!"


"Tutup mulutmu! Jangan katakan itu padaku!" Aku menepis tangan Togar, sangking kerasnya membuat tangannya tersingkir seketika.

__ADS_1


Rasanya langsung memerah wajahku saat mendengar kata-kata itu, apalagi diiringi tawa ketiganya. Mataku mendadak gelap beriringan emosi mencapai puncak.


"Kenapa? Bukankah memang benar? Kamu hanyalah pria pemegang sangurdi pelana kuda-kuda betina yang butuh pejantan tangguh sepertimu yang mengharapkan upah demi menopang kehidupan kedua orang tua!"


"Jangan membuat aku semakin marah!" Kami beradu pandang, dua orang lainnya berdiri di depan pintu keluar. Mereka kompak mengikuti tawa Togar. Membuat aku jijik melihat wajah mereka, memamerkan deretan gigi putih dengan mata melotot dan memerah.


Satu pukulan keras mendarat di lenganku. Kepalan yang diberikan Togar cukup keras membuat sedikit tubuhku terhuyung karena tidak sigap. 'Sialan!' batinku kesal.


Aku menghunus tatapan penuh emosi dengan tangan mengepal, kami duel sportif. Rasanya tidak mudah mengalahkan Togar bila masih dengan body yang dulu, tapi sekarang ia sudah berbeda, gemuk. Tentu saja menyulitkan gerakannya.


"Hiyaaattt!"


"Upsssh!"


"Rasakan!"


"Mampus kau!"


Plak, blug!


Kami beradu pukulan dan tendangan. Hingga akhirnya aku memutuskan diam-diam mulai meraba belakang tubuhku memastikan benda yang selalu kubawa standby, kemudian hendak mengambil belati yang selalu terselip di antara celah pinggangku. Aku kian kalap saat Togar tersungkur mencium lantai, saat yang tepat menghabisi nyawa pria yang telah merebut Clarisa dariku, bahkan akhirnya hanya disia-siakannya. Membuat aku jijik saja.


Kedua kawannya masih mematung mengamati kami adu pukul sejak tadi. Terlihat mereka sudah ketar-ketir saling adu pandang.


Saat akan menancapkan belati dipunggung Togar, tiba-tiba terdengar suara keras Clarisa. Sontak menghentikan tanganku seketika, tapi masih dengan mengangkat belati ke atas, aku terdiam, dengan posisi jongkok.


"Hentikan! Bum!" Hanya mengenakan lingerie tipis semalam, bahkan menampakan jelas dalaman merah yang ia kenakan, bahkan tanpa penutup dada, hingga terlihat jelas gundukan montok bergoyang. Clarisa berlari ke arah kami dengan rambut acak-acakan.


Clarisa menarik keras kemejaku, hingga membuat aku berdiri tegak. "Kenapa? Bukankah pria bengis seperti itu pantas mati?!"


"Jangan, Bum!" Clarisa menangis memelukku.


Togar membalikkan tubuhnya, kini posisinya telentang menatap plafon. Terlihat matanya menatap jijik pada kami berdua, jelas saja Togar membuang saliva berwarna merah kehitaman.


Selang beberapa waktu, Togar bertepuk tangan saat ia sudah dengan posisi duduk. Darah mengalir hingga membasahi bajunya. "Cuh!" Kembali Togar mengulangi.

__ADS_1


"Jangan membuang ludah sembarangan, atau aku menyuruhmu menjilatinya!" Aku membentak kasar, masih dengan posisi memeluk erat tubuh Clarisa.


"Pasangan mesum yang tidak bisa terpisahkan!" Togar meledek.


"Baguslah bila kau paham itu!"


"Sejak lama aku paham, Bum. Clarisa tidak bisa move on dari servis yang memuaskan darimu, servis ************ karena butuh uang. Haaaa ...."


Nyaris saja aku kembali menghadiahkan tendangan di mulutnya yang liar tidak menjaga ucapan. Tapi keburu Clarisa menghentikan langkah ini, kembali memeluknya. Seharusnya mulut Togar hancur oleh keras sepatu yang kukenakan.


Kedua pria yang berdiri sejak tadi mendekati Togar dan membantunya untuk berdiri. Kami beradu pandang penuh dengan amarah, sementara Clarisa memilih bersembunyi di belakangku.


"Cla, ayok pulang!" Togar memerintahkan kedua orang tadi dengan isyarat tangan.


"Bum ...." Clarisa menepis keras tangan kedua orang bodyguard.


"Jangan pernah berani menyentuh wanita yang tidak punya hubungan khusus!" Aku membentak keras. Membuat keduanya mengurungkan niatnya dan mundur beberapa langkah. Suasana mencekam, Togar memaksa. Sementara Clarisa bersikeras.


"Ayo, Sayang kita pulang." Suara Togar melunak membuat aku jijik. Beraninya mengatakan kata sakral di depanku.


"Ti-tidak, aku tidak mau pulang sekarang." Clarisa terbata masih memeluk erat pinggangku dari belakang.


"Kamu bisa mendengar bukan? Jangan memasaknya."


"Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Bumi, plisss help me. Tolong mengerti." Clarisa menangkup tangan menghadap Togar.


Aku tercengang oleh ucapan Clarisa. Apa-apa ini? Kenapa mendadak ambigu? Togar memeluk tubuh Clarisa dengan tangan merapikan rambut panjang wanitaku. Tidak boleh seorang pun melakukan itu padanya apalagi di depan mataku!


Berpisah dengan Clarisa cukup lama tidak lantas bisa membuatku lupa, walaupun sudah ada Bianca yang mengisi malam-malamku, juga Mozza kala itu. Permainan Clarisa yang binal membuatku seperti hidup dalam dua alam, dengan siapapun lawan main, Clarisa menjadi media pembangkit gairah memacu adrenalin pria.


Togar masih memeluk tubuh Clarisa yang seksi, bahkan bokongnya terlihat jelas. Terlihat olehku kedua bodyguard mencuri pandang sejak tadi. Sialan! Mereka menikmati keindahan tubuh wanitaku.


Tentunya pemandangan itu membuat dada ini seakan berhenti berdetak beberapa saat. Darahku mengalir kian panas saja. Masih saja ingin menghabisi nyawa Togar. Agar tiada penghalang pertemuan kami selanjutnya. Otakku berputar dengan emosi, masih dengan posisi satu tangan memegang belati, aku mendekati Togar yang masih menengangkan wanitaku. "Pikasebeleun!" Sesat setelah mengumpat aku menarik tubuh Clarisa keras hingga membuat lingerie yang dikenakannya tersingkap. Tapi Togar melayangkan pukulan keras mendarat telak diwajahku, ada yang hangat mengalir membasahi pipi hingga mengalir melewati rahangku.


Saat tanganku mengusap memastikan, benar saja. Pelipis ini pecah, sedikit perih cukup membuat amarahku mendidih kembali. Saat akan mengujamkan belati satu tendangan dan disusul dengan tendangan berikutnya.

__ADS_1


"Auhkh!"


"Bumi ...."


__ADS_2