
Bab 50
"Silahkan membersihkan diri, bergantian. Setelah itu kita makan, cacing perutku sudah berteriak-teriak ini."
Aku mencairkan suasana, sedikit tawa terdengar dan terlihat dipaksakan oleh keempatnya. Mereka bergantian memberikan diri.
Tadi saat baru sampai di apartemen milikku, Amar memberitahu hanya akan beristirahat sejenak saja, keempatnya akan segera pulang guna ikut mengirim doa.
"Bang, kami akan segera pulang hari ini juga." Amar menghentikan langkah saat keluar dari ruang makan bersamaku. Tadi aku sudah mampir ke sebuah warung makan dan membungkus nasi.
"Baiklah, saya akan menelepon taksi online. Jika mau menginaplah barang satu malam saja, mungkin Ayahmu lelah." Aku menawarkan karena sepertinya orang tua itu begitu lelah, kemudian aku berjalan ke ruang tamu, duduk di samping Ayah Adie dan menatapnya menunggu jawaban.
"Terima kasih, Nak Bumi. Saya ingin pulang saja secepatnya. Tolong antarkan ke terminal, itu jika Nak Bumi tidak berkeberatan."
"Baiklah, saya sudah memesan taksi online, tidak perlu repot-repot nanti langsung di antar hingga depan rumah."
"Terima kasih, Nak. Kami begitu merepotkan dirimu. Sekali lagi terima kasih, dirimu sudah banyak membantu kami." Ayah Adie kembali melanjutkan.
"Sudah menjadi kewajiban. Adie juga melakukan hal yang sama padaku, justru jauh lebih besar ketimbang secuil kebaikanku. Aku belum bisa membalas kebaikannya." Mataku menerawang jauh, tetap saja tidak bisa terima kenyataan.
"Ambillah pelajaran atas kasus ini, Nak. Jangan sampai dirimu melakukan hal yang sama. Jika sudah tercapai apa yang kamu cari dari pekatnya malam, lekas-lekas angkat kaki dari lubang lumpur sebelum malaikat pencabut nyawa menyapa. Saat tertekan tidak mampu keluar dari lingkaran setan, jiwa menjadi rapuh dan gelap seakan hidup hanya sendirian dan tidak layak untuk hidup." Ayah Adie memberikan wejangan, membuat aku tertunduk.
__ADS_1
Jujur saja aku pernah merasakan hal yang sama, hidupku kacau. Benar-benar kacau, walaupun pundi-pundi rupiah menjejali rekening sepertinya tujuanku awal hilang.
Aku semakin terbuai oleh cinta sesaat, bahkan nyaris saja terjerumus ke permainan **** yang menjijikkan. Tapi bayarannya fantastis, godaan lembaran merah masih bermain dalam kepala. Bahkan kenikmatan yang dijanjikan bermain di pelupuk mataku.
Saat itu aku menolak penawaran dari Clarisa, ide gila menurutku. Tapi bukan Clarisa bila tidak punya seribu trik. Dia memamerkan fantasi permainan fre ... ****, tontonan dari layar handphone yang menjijikkan. Dua wanita cantik memainkannya seorang pria? Hmm .... Akan tetapi cukup menantang, karena sudah beberapa costumer wanitaku yang menawarkan hal serupa. Tapi gilanya, dua pria akan bergantian memberikan kepuasan. Itulah sebabnya aku menolak saat itu juga. Ah, otakku sudah mulai berfantasi ria tentang adegan ranjang lagi.
Amar berkemas, selang setengah jam kemudian aku mengantarkan mereka hingga lobby. Setelah saling berpelukan dengan haru biru mereka masuk dalam taksi, lambaian tangan seiring mobil mulai melaju.
**********************
Sudah beberapa hari aku tidak menerima jasa panggilan. Padahal banyak yang ingin menikmati keindahan tubuhku, jika dipikir-pikir lumayan untuk menambahkan isi rekening. Tapi aku memutuskan untuk istirahat sejenak, ingin menemui Bima.
Berbekal kartu nama, aku memacu mobil menuju kediamannya setelah sebelumnya sudah menelepon. Setelah sampai depan garasi dua orang pria kekar langsung membukakan pintu pagar dan menutup kembali setelahnya.
"Silahkan masuk, Bos sudah menunggu." Dua bodyguard mengantar hingga depan pintu saja.
"Baiklah, terima kasih, Broo." Aku melenggang masuk, jujur saja dada ini bak ada molekul-molekul yang perlahan mulai mendidih membuat tidak nyaman.
"Assalamu'alaikum, Bumi." Bima menyapa duluan. Dia duduk bak seorang mafia dengan satu kaki di atas meja.
"Seharusnya aku yang mengucapkan salam."
__ADS_1
"Itulah dirimu, Bum! Tidak punya etitude." Bima nyerobot, sial perkataannya tetap menyebalkan.
Bima berdiri dan mengulurkan tangannya, setelah itu memperlihatkan duduk. Kami duduk berhadapan. Pikiran kotor tentangnya sirna seiring dia mulai bercerita, banyak tentang Mitri. Yah, wanita cantik itu sudah dilepaskannya dan dengan senang hati Bima merestui hubungan kami, asalkan mengarah ke ikatan suci. Bima bercerita dia sangat mencintai Mitri, tapi apa daya, bertepuk sebelah tangan. Mirisnya Bima tetapsmaksan diri. Itu membuat Mitri trauma, sekarang sikisnya dalam masalah besar.
Setelah bercerita panjang lebar, Bima memutuskan untuk segera pulang ke kampung guna menengok Bianca. Biar bagaimanapun mereka pernah saling interaksi. Sepertinya Bima antusias mendengar kehamilan Bianca.
Bima pun memberikan alamat di mana Dimitri Vangelis menenangkan diri, Bima mewanti-wanti agar jangan memberi tahu jika alamat yang aku dapatkan justru darinya. Karena selama ini dia hanya memantau perkembangan kesehatan Mitri dari sahabatnya saja. Aku pun bersumpah akan mengunci rapat mulut. Dengan berjabat tangan kami sepakat berdamai, kematian Adie sahabatku memberikan pelajaran, betapa hidup hanya sekejap dan perpisahan itu tanpa pesan. Apalagi pamit.
Aku pamit pulang, para bodyguard memberikan hormat padaku saat klakson mobil tanda pamit berbunyi.
Mobil sudah meninggal area istana Bima. Hari ini aku ingin beristirahat dahulu, sebelum kembali dengan masalah yang rumit. Sesampainya langsung merebahkan diri, disela mata yang didera kantuk, iseng ckroling layar handphone, membaca satu per satu pesan masuk di Waatsp. Ratusan pesan tidak terbaca olehku, terutama dari para costumer yang tidak mengetahui bila bos mujickari tersohor itu telah mati. Sengaja abaikan pesan seperti itu.
Mataku tertuju pada pesan dari nomor baru. Rupanya Widya Chandra mengajakku untuk mengunjungi sahabatnya. Antusias membalas pesannya. Lama tidak ada balasan darinya, aku menunggu sambil rebahan.
Rasanya begitu lega, saat pesan beruntun dari Bima mengabarkan bahwa dirinya akan berangkat menuju kampung hari ini juga, selang beberapa waktu dia kembali mengirim voice note sebagai ucapan terima kasih.
Biar bagaimanapun aku sangat mencemaskan kesehatan Bianca. Apalagi menurut surtyah kondisi fisiknya semakin rungkih. Terbayang olehku dengan perut semakin membuncit tidak ada yang memberikan perhatian. Jujur ngilu membayangkan hal itu.
Beribu-ribu doa keluar dari bibir ini, semoga Bima disambut baik oleh Bianca. Aku segera mengabarkan hal ini kepada Surtyah. Agar bisa memberikan informasi pada koleganya, takutnya kedatangan Bima yang mendadak diartikan negatif oleh Bianca.
Setelah berbicara panjang lebar, Surtyah menyudahi pembicaraan. Dia akan pergi ke rumah Bianca untuk memberikan kabar gembira tersebut.
__ADS_1
Aku mengatakan pada Surtyah agar memberikan informasi terkini tentang keduanya. Wanita desa yang menjadi penyambung lidahku itu berjanji dan akan membujuk Bianca untuk menerima kehadiran Bima. Biar bagaimanapun dia ayah biologis anak yang dikandungnya. Semisalnya rujuk, syaratnya pun sudah terpenuhi. Bianca sudah pernah menikah, pun Bima. Aku pun merestui hubungan antara keduanya, itu pesanku pada Surtyah dan harus dia sampaikan.
Rasanya begitu mengantuk, setelah mengalihkan handphone ke mode pesawat. Aku menjatuhkan diri ke atas ranjang, perlahan kantuk pun bertandang.