Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 07 Hidup Adalah Uang


__ADS_3

Hidup Adalah Uang


Setelah berpakaian rapi, Adie berpamitan akan segera menemui Clarisa di kantornya.


"Babak pertama, kita mulai. Bum."Adie bertutur, kemudian menepuk pundak.


Aku mengusap wajah menggunakan kedua tangan, dan membuang napas dengan kasar rasanya begitu mengganjal terasa begitu berat.


"Huff ...!"


Adie pun bergegas pergi, hilang di balik pintu, sementara aku menunggu dan hanya berdiam diri di apartemen. Tiba-tiba aku di kejutkan oleh getar handpone yang tergeletak di atas meja, tampak panggilan masuk dari Neng Surtiyah., aku pun menerimanya dengan hati diliputi tanya.


"Halo, Assalamualaikum. Kak." Neng Surtiyah mengucap salam di ujung sana.


"Waalaikum salam," jawabku


"Gimana, kabar, Ambu?" tanyaku tidak sabar.


Rasanya tidak sabar ingin mengetahui keadaan orang tuaku membuat mataku berkaca-kaca.


"Udah mendingan, Kak Ini, Neng mau menyampaikan pesan dari Abah. Katanya gak perlu pulang, teruslah berusaha mencari pekerjaan. Sampai sukses," jelasnya.


Rupanya Neng Surtiyah hanya menyampaikan pesan kepadaku, dan mengakhiri percakapannya.


"Ah, sialan!" keluhku sembari menjambak rambut dan menjatuhkan diri ke ranjang. Rasanya diri ini tidak berguna.


Mataku menyalang, menatap ke atas kemudian aku bangkit dan meraih hanpone kemudian melangkah keluar untuk mencari udara segar.


Sesampainya di cafe yang tak jauh dari apartemen, handphone kembali bergetar.


"Halo, Die. Gimana?" Aku mendahului bertanya pada Adie, dengan penuh rasa cemas.


"Beres, Brooooo. Nanti malam kita dinner," jawabnya semringah.


Melihat dari caranya berbicara, sepertinya Adie berhasil dengan misinya akan nominal yang ia tawarkan pada wanita pemilik sebuah perusahaan itu.


"Kamu, di mana Bum?"Adie Permana bertanya padaku.


Mungkin ia mendengar percakapanku saat waiters itu sedang berbicara denganku.


"Cafe dekat apartemen," jawabku singkat.


"Sekalian pesan kan, buat aku, ya. Clasik Milik Tea," pinta Adie.


"Katamu tadi dinner, dengan siapa, Die?" Aku bertanya, tapi sayang panggilan sudah berakhir.


"Tambah Clasik Milik Tea," pintaku pada waiters itu sembari menyodorkan daftar menu.


"Ice Blend Coffee, Clasik Milik Tea, ya, Pak?" balas tanya gadis waiters itu seraya membungkukkan badan.


Aku hanya mengangguk, kemudian memainkan hanpone. Selang beberapa menit kemudian tampak pramusaji datang dengan pesanku, kemudian ia menata di atas meja, lengkap dengan camilan yang aku pesan tadi, cake cokelat.


Dari kejauhan terlihat Adie Permana, ia bergegas dengan langkah tergesa ke arahku, kemudian langsung mengambil posisi duduk di sampingku, tanpa kata tangannya mengambil cake cokelat lalu masukkan ke dalam mulutnya hingga penuh hingga membuatnya susah untuk berbicara.

__ADS_1


"Gimana, Die?" tanyaku tak sabar.


Adie seketika mengentikan makannya, sembari menunjuk jari ke mulutnya, lantas segera membersihkan tangan dengan tisu.


"Ngak sabar ya. Mengganggu saja, ah," protesnya sembari menyedot Classic Milik Tea pesanannya.


"Haaaa. Kamu akan menjadi orang sukses, Bum!"


Mataku seketika menatapnya penuh selidik.


"Jelasin, dong!"


"Sabar ...."


"Apa, sih. Die?" tanyaku penasaran.


Adie kembali menyedot Classic Milik Tea hingga nyaris tandas.


"Udah tenang saja, sebentar malam kita dinner bareng Clarisa," tutur Adie.


"Jika dia gak setuju dengan nominal tadi, tenang. Masih banyak yang lain," imbuhnya.


Aku hanya mengerutkan kening dan mengusap wajah.


"Aku ingin kirim uang pada Ambu," ucapku sembari menatap ke arah Adie, dengan tatapan lesu.


"Berapa?" Adie bertanya padaku.


Jujur saja sebenarnya aku sudah malu merepotkan, bukan hanya tinggal di apartemennya tapi sudah beberapa kali aku meminjam uang padanya dalam jumlah besar.


Aku pun memberi tahu jumlah nominal, dan ia berjanji akan mampir di ATM sepulang dari cafe, untuk mentransfer ke rekening Neng Surtiyah, kemudian ia akan memberikan pada Ambu.


Akhirnya kami pun pulang kembali ke apartemen. Adie menghentikan mobil guna mentransfer uang lalu masuk ke dalam mobil.


"Makasih, Die," ucapku


"Sudah, gak apa-apa, Bum," jawabnya.


Sesampainya di apartemen, Adie tidak lantas masuk di karenakan ia sedang ada janji makan siang dengan seorang klien di sebuah restoran mewah katanya.


Adie memang punya beberapa klien hingga jarang berada di apartemen seharian, biasanya ia akan kembali ketika jarum jam menunjukkan pukul dini hari.


Aku keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam apartemen. Sesampainya di dalam mataku tertuju lagi pada buket bunga mawar merah yang masih berada di atas meja. Segera kuraih dan menciumnya hingga aromanya harum itu masuk ke dalam rongga dadaku.


"Maafkan, aku, Neng," gumamku lirih seraya mendekap erat buket mawar merah itu.


Rasanya begitu sakit, hingga tak bisa untuk menggambarkannya, aku sudah menghianati cinta, janji suci yang terucap padanya, gadis yang selalu bermunajat kepada-nya demi kesuksesanku. Tak terasa netra ini mengeluarkan tetesan hangat dan segera aku singkirkan demi sebuah kesuksesan.


"Life is money!" pekik ini keras sembari melempar buket bunga ke atas ranjang.


Aku tidak mungkin pulang tanpa sukses tergenggam, itulah sumpahku pada Ambu dan Abah, sebelum pergi. Tak terasa jam sudah menunjukkan jam salat magrib dan segera aku menunaikan kewajiban.


Adie tadi berpesan akan menjemput, untuk dinner malam ini. Setelah selesai berpakaian rapi, segera aku berjalan keluar apartemen lalu menghubungi Adie.

__ADS_1


Selang beberapa waktu tampak mobil Adie tiba. Aku pun segera masuk ke dalam mobil saat pintu mobil sudah terbuka.


Kemudian mobil melaju ke arah restoran mewah. Sesampainya di sana tampak wanita cantik dengan pakaian sangat seksi berdiri menyambut kami, di depannya tampak deretan menu istimewa lengkap dengan lilin menambah kesan romantis malam itu.


Adie Permana tersenyum simpul melihatku sembari menaikkan alisnya. Aku pun membalas senyumannya dan mengerutkan kening. Jujur saja sebagai lelaki jiwaku serasa berontak melihat penampilan Clarisa.


Adie pun menjabat tangannya dan mencium ujung jemari tangan Clarisa lalu mencium kedua pipinya.


Aku pun melakukan hal yang sama, mencium pucuk jemari halus bak sutera itu. Aku memegang kedua pinggangnya, saat ia mencium pipiku bergantian dengan sedikit menunggikkan kakinya, tangannya bergelayut di leherku.


Setelah cipika-cipiki kami pun duduk dan larut dalam canda renyah sesekali sambil menyantap hidangan. Selang beberapa saat tampak Adie menerima panggilan telepon dari seseorang.


"Wait baby iwill come soon."


( Sabar sayang aku akan segera datang)


Tampak raut wajah Adie cemas. "Wait . Yes," imbuhnya.(Sabar ya)


Wajah Adie tampak sedikit panik ia pun berdiri.


"You are okey, right?" tanya Adie


( Kamu baik-baik saja kan?)


"I really love you," ucap Adie sembari menutup telepon seluler.( Aku sangat mencintaimu)


Adie pun menepuk pelan pundak dan mencium pipi Clarisa Santoso untuk berpamitan.


"Enjoy heaven on earth," bisiknya di cuping telinga Clarisa. ( Selamat menikmati surga dunia)


"Thanks," balas Clarisa Santoso sembari tersenyum manis padaku.( Terima kasih)


Adie pun kembali menepuk keras punggungku.


"Dam you!" candaku.(Sialan kamu)


'Haha ... haha!" Adie berkelakar.


"Come on guys!" imbuhnya.


( Ayolah kawan)


"Huu! Udah gih, sana. Haaa!" usirku sambil menepuk bokongnya agar cepat henyak karena ada seseorang yang sudah menanti kedatangannya.


Adie pun bergegas pergi, kini tinggal aku dan Clarisa, tapi kikuk untuk memulai pembicaraan tentang pertemuannya dengan Adie siang tadi di kantornya.


Lalu aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya sembari memegang pucuk jemari tangannya.


"Bisakah, malam ini aku memanggilmu dengan kata sayang?" tanyaku sembari menatap dalam bola mata indah itu dan memegang kedua tangannya.


Tampak ia sedikit grogi, atau kaget atas keberanian malam itu, entahlah. Clarisa kembali memamerkan deretan gigi putihnya dan berkata dengan lembut.


"Yes ...."

__ADS_1


Rasanya seketika itu darahku mengalir hangat menjalar di sekujur tubuh, saat Clarisa Santoso memintaku untuk berdansa bersamanya.


__ADS_2