Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 20 Lika-liku kehidupan


__ADS_3

Lika-liku kehidupan.


Aku pun bergegas menuju ke arah satu meja terletak paling sudut, lalu segera menjabat tangannya, kemudian mendaratkan ciuman di ujung jemarinya, aku menatap tajam bola matanya.


"Hayy .... Irene."


"Hay, juga Sayang ...."


Irene pun tersenyum nakal mengamati penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambut, tatapannya penuh gairah.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama."


"Oh, gak masalah, kok," jawabnya sembari menyunggingkan senyum.


"Tidak ada maksud hati membiarkan wanita secantik dan anggun dirimu." pujiku.


"Oh, romantis banget," sahutnya lembut dan manja.


Aku pun menarik kursi tapi urung ia meraih tanganku saat akan mengambil posisi duduk lalu aku kembali bangkit dan berlari.


"Tidak usah duduk, Sayang ...." pintanya tadi.


"Oh, gak sabar saja," godaku.


"Iya, dong. Gak sabar, tahuuk."


Akhirnya tanpa basa-basi lagi Ia pun langsung mengajakku menuju ke dalam kamar hotel yang sudah ia boking sebelumnya.


Dengan bergelayut manja di pinggangku tanpa rasa malu Irene begitu menggoda. Kami pun kini sudah beradu dalam kamar, memadu kasih peluh kenikmatan sesaat yang begitu membuai.


Sebelum pertemuan itu terlaksana ia sudah mentransfer sebagian besar jaminan atas jasaku, itu aturan permainanku, beberapa hari setelah negosiasi tarif.


Lumayan besar tarif yang aku patok siang sekali kencan.


Wanita itu sangat jauh lebih dewasa dariku.


Namun, seperti itulah target yang menjadi incaran selama ini.


Setelah beberapa jam berpacu, bak kuda liar aku sebagai pemegang pelana, memainkan buas kuda betina hingga *******. Kini tugasku pun sudah selesai dengan ucapan yang menjijikkan sangat membuat aku muak saja. Layanan sangat memuaskan hasratnya ucapnya bertubi.


Kemudian Irene pun memberikan uang pelunasan pembayaran padaku, tentu saja dengan tambahan uang tips.


Lalu Irene pun bergegas membersihkan diri kemudian kini giliran aku untuk mandi.


Setelah Irene selesai mengenakan pakaian dan makeup lalu aku menyuruhnya untuk pergi keluar terlebih dahulu. Rasanya tubuh ini begitu lelah hingga aku memutuskan untuk sejenak merebahkan diri meregangkan otot.


"Thanks you. Beby ...." ucapnya dengan gaya yang sangat memainkan libido pria manapun.


Lalu Irene mendaratkan ciu**mannya di bibirku saat aku menghantarkannya sampai depan pintu, membuat darah ini mendidih.


"Semoga puas, atas kinerjaku, Hanny," balasku di cuping telinganya sembari memegang kedua pinggangnya.


Irene pun tersenyum dan mengutarakan akan merekomendasikan jasaku pada teman-temannya. Aku pun berterima kasih dan selalu siap menunggu panggilan darinya.


Kemudian segera aku tutup pintu dan bergegas lalu segera menjatuhkan diri di atas ranjang dengan sprei putih dan bertaburan bunga mawar merah yang sudah tidak berbentuk love lagi kini jatuh berserakan hingga dasar lantai.

__ADS_1


Setelah merasa rileks aku bergegas bangkit dan berjalan ke arah sofa yang berada di sudut kamar hotel, pakaianku tergeletak berserakan di sana.


Kemudian aku segera mengenakan satu per satu. Tadi sehabis mandi aku hanya mengenakan hotpants saja.


Lalu aku segera bergegas keluar setelah memastikan bahwa dandanan benar-benar sudah tampak rapi di depan cermin.


Kini aku pun sudah di luar dan saat berada di lobi hotel serasa mau copot saja jantungku, betapa kagetnya saat melihat Widya dan Mozza berjalan menuju ke arahku.


Setelah keluar dari mobilnya ia pun terlihat mengamati mobilku yang kebetulan terparkir bersebelahan dengan mobil Mozza.


Otakku pun mulai mengatur berbagai macam skenario jika Mozza sampai mempertanyakan atas keberadaanku di sini. Sesekali aku menarik napas dalam-dalam lalu mulai mengatur napas agar tampak tenang.


Dua sosok wanita cantik itu berjalan menuju ke arahku dan semakin dekat saja.


Aku menyibukkan diri seakan sedang sibuk menelpon seseorang dengan posisi membalikkan badan hingga aku bisa mengamati mereka dari pantulan kaca.


"Eh, Kakak!"


Suara keras Widya mengagetkan, di tambah tepukan keras tangannya di mendarat telak punggungku.


"Ah, ngagetin aja, Wid," rintihku


Aku berpura-pura mengakhiri percakapan lalu membalikan badan meringis sembari menahan sakit.


"Lho, A'a. Bukannya tadi bilang masih mau rebahan, saja?" Mozza bertanya penuh selidik.


"Hehe, maaf. Tadi aku gak ngabarin, habis bicara tadi, aku langsung keluar, lupa, rupanya sudah ada janji, tapi ini orangnya malah membatalkan seenak jidatnya saja," jelasku.


Huufff!


Tadi pagi saat aku selesai mandi Mozza menelpon untuk membangunkan tidurku. Namun, saat itu aku sudah terbangun.


Draatt ... draatt.


Suara getar handphone di atas ranjang bunyi, aku menerima panggilan masuk.


"Halo, Sayang." Aku mendahului.


"Eh, sudah bangun?"


"Sudah, Sayang. Ini lagi rebahan capek," jelasku.


"Bisa anterin aku gak?"


"Gak bisa, Sayang. Maaf, aku capek," kilahku.


Tanpa bertanya lebih lanjut aku menolak ajakannya tadi.


Plaakk!


"Bengong!" hardik Widya.


Widya menepuk pundak ini keras.


"Sayang sudah formal gini, temenin aku, dong." kata Mozza

__ADS_1


Sementara Widya tampak gusar.


Sesekali ia membelalakkan matanya padaku, memberikan isyarat agar aku berhati- hati merangkai kata.


Akhirnya aku bisa bernapas lega saat Mozza tidak memperpanjang masalah dan percaya atas penjelasan dariku.


Badanku terasa panas dingin hingga keringatku pun berembun.


Takut jika ia curiga akan gelagat ini karena kejadian di Cafe malam itu membuat ia mulai lumayan protektif terhadap lawan jenis yang dekat denganku.


Tidak segan ia akan menghubungi atau menemui langsung dan mempertanyakan perihal hubungan status kami pada wanita yang ia curigai.


"Ngak bisa, Sayang ...."


"Aku ada urusan penting lagi," jelasku.


"Ya, udah, deh." timpalnya.


Aku pun berpamitan dan mencium pipinya, begitu juga pada Widya, lalu mengacak rambut Widya dan segera berlari kecil menuju tempat mobilku terparkir.


"Huuuu, dasar!" rajuk Widya kesal.


Dari dalam mobil aku mengamati mereka berdua sudah masuk ke dalam hotel.


Mozza sedang ada pertemuan dengan beberapa orang pria rekan bisnis Dimas Makanya ia datang bersama Widya guna menemaninya.


Segera memacu mobil menuju ke arah apartemen, Karena hari ini aku tidak akan mengunjungi Cafe. Ingin beristirahat sejenak dari rutinitas yang sangat padat.


Sesampainya segera aku masuk dan kembali melepaskan pakaian dan menganti dengan dandanan sederhana dengan bokser dan kaos melekat di tubuh sixpack-ku.


Lalu aku bergegas untuk merebahkan diri santai di atas sofa, tidak terasa mataku pun sudah terlelap.


Saat terjaga jam sudah menunjukkan pukul malam, dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian berdandan karena malam ini aku akan bertandang ke rumah Mozza lagi, ingin menghabiskan malam dengannya ingin menikmati secangkir teh hangat buatannya.


Setelah selesai, Kuraih kunci mobil yang tergeletak di atas ranjang, lalu berjalan menuju arah pintu. Akan tetapi saat tangan ini baru saja memegang tuas pintu.


Ding ... dong.


Ding ... dong.


Suara dobel berbunyi berulang dan aku menunduk dan mengintip dari lobang kunci.


"Bangsat!"


"Sialan!"


"Dasar, ******!"


"Huff!"


"Berani sekali kamu! Hah." Aku gerundel kesal.


Kemudian, dengan rasa marah segera kubuka pintu.


.

__ADS_1


__ADS_2