
Bab 47
Kami bergegas menuju tempat parkir dan mengikuti laju mobil Ambulance. Sementara Caroline dan Biksuni menaiki mobil sendiri. Cukup lama kami menuju tempat parkir, karena ayah Adie tidak bisa berjalan cepat hingga harus didampingi. Akhirnya itu membuat kami ketinggalan jauh dari mobil ambulance.
Sesampainya kami langsung masuk rumah duka, tanpa perduli dan basa-basi. Sementara itu di halaman tadi banyak karangan bunga ucapan turut berduka cita atas meninggalnya Adie Permana dari beberapa rekan bisnis yang sudah seperti kolega. Adie memang baik semasa hidupnya. Tidak ketinggalan rangkaian bunga raksasa dan terpampang Nama Bima, dia mengucapkan turut berduka. Melihat namanya sudah membuat dadaku berdesir. Aku tidak bisa membayangkan bila bertemu dirinya apalagi bersama Dimitri.
Ayah Adie langsung dipersilahkan untuk menuju altar, di mana peti mati sahabatku sudah berhiaskan bunga sedemikian rupa. Aroma dupa menyeruak menjejali indra pernapasan. Tangis pria tua itu tidak bisa terbendung lagi. Dia menangis tersedu saat tutup peti(Cit Bok) dibuka, semuanya bergantian memberikan penghormatan terhadap mendiang Adie.
Tiada lagi bisa diperbuat. Setelah cukup lama kami duduk bersama para hadirin yang datang silih berganti memberikan penghormatan, aku mengajak keempatnya untuk beristirahat pulang terlebih dahulu.
Awalnya Ayah Adie menolak, beliau bersikukuh ingin mendampingi jasad anaknya hingga esok bahkan lusa. Setelah Amar membujuk dan memberi tahu agar ia istirahat, takutnya justru merepotkan bila kembali dianfal struk. Ayah Adie menganguk pelan, air mata pria tua itu tidak juga mengering padahal sudah sejak tadi menangis.
Berat hati, langkah kami menuju parkiran dan meninggalkan rumah duka. Menurut Biksuni kremasi jenazah akan dilakukan lusa tepatnya Rabu 16 Desember 2019 itu sudah menjadi keputusan Caroline. Tanggal dan hari istimewa di mana cinta keduanya resmi menjadi sepasang suami istri beberapa tahun lalu.
"Mau ke mana?" tanya Amar tadi sebelum kami keluar saat melewati Caroline duduk dengan wajah tertunduk.
Akan tetapi, Ayah Adie tidak menjawab. Amar mengikuti langkah ayahnya hingga berdiri tepat di depan Caroline. Tetap saja wanita itu tidak menjukkan hormat.
"Tolong bawa cucuku besok, saya ingin melihatnya." Datar suara Ayah Adie seraya kembali menyeka air matanya.
Tidak ada jawaban dari lisan Caroline, Amar terlihat geram bengitu juga dengan kedua pamannya. Darahku serasa memanas melihat pemandangan itu, tidak kusangka wanita loyal itu searogan ini!
"Kamu punya mulut, gak? Biasa menjawab pertanyaan mertuamu?!" Notasiku tinggi.
Caroline menjawab seraya berdiri tepat di depanku, "Iya! Aku tidak tuli apalagi bisu!"
Jawaban yang membuat tanganku mengepal. Paling benci ketika perempuan mengembalikan pembicaraan dengan tidak sopan! "Makanya! Jawab!"
"Baiklah, besok saya akan membawa Radiecarlo. Jangan membuat aku kian membencimu, Bum!" Caroline melongos meninggalkan kami.
Aku tidak habis pikir atas ucapannya. Sial, perkataannya menjejali pikiran ini hingga larut. Mataku menerawang ke luar, menatap lepas ke gemerlap lampu kota. Sementara Ayah Adie baru saja bisa terlelap. Amar sibuk memberikan kabar terkini pada koleganya di desa.
__ADS_1
Terdengar olehku Amar menyampaikan pesan ayahnya agar esok dilakukan pengiriman doa(Yasin dan tahlil). Karena Adie akan dikremasi dan itu pertanda keinginan semula ayah Adie untuk membawa pulang jasad sahabatku tidak terwujud.
Setelah lama berbincang Amar menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menyangga di antara kedua lutut. Aku mendekati dan memberikan support.
"Semoga amal ibadah Abangmu di terima oleh Allah SWT." Lisanku bergetar untuk pertama kalinya menyebutkan nama Tuhanku. Sudah lama aku tidak pernah menyebut nama pemilik semesta. Apalagi menyembahnya seperti dulu.
"Aamiin ...." Amar menjawab seraya mengusap wajah, berharap hal yang sama. Mengingat Adie sosok dermawan di kampung. Itulah sebabnya banyak yang merasa kehilangan.
"Abang Bumi gak tidur?"
"Kamu duluan saja, aku ingin menikmati malam bersama kenangan sahabatku malam ini." Aku menepuk pundak Amar, ia pun beranjak menuju peraduan. Sungguh hari yang sangat melelahkan.
Aku berdiri didepan jendela, angin malam menjamah tubuhku. Tiba-tiba saja bulu kuduk ini mengeridik seiring tengkuk menebal. Sekelebat bayangan membuat mataku mendelik, ******* Adie berada dalam ruangan ini, hingga membuat aku menoleh ke area sofa. Itu tempat terakhir Adie mengucapkan kalimat syahadat. Akan tetapi hanya aku saksinya.
"Adie, maafkeun aku. Sahabatmu ini tidak bisa berbuat apa-apa." Lirih suaraku seraya berjalan menuju sofa.
Setelah duduk, tanganku mulai membuka beberapa buku diary milikku yang tergeletak di bawah meja kaca. Biasanya Adie iseng ikut mencoret-coret isi hatinya. Aku suka menuliskan hati, tentang harapan dan kekecewaan akan tujuan yang belum tercapai.
Ah, rupanya semalam aku tertidur dengan memeluk beberapa diary, bahkan beberapa buku yang di atas meja, sepertinya sudah dibaca oleh Amar. Dia tersenyum menatapku, membuat aku malu. Banyak cerita lucu yang menggelitik, termasuk saat berharap cinta pertamaku kembali.
"Itu rahasia, taruh atau ...." Aku mengoda dengan gaya mengancam, kemudian tertawa kecil dan menyeruput kopi walaupun mata belum sepenuhnya hilang dari kantuk.
"Oke-oke." Amar segera menata kembali dan menaruh rapi satu per satu. Akan tetapi tidak sengaja satu diary milikku terjatuh dari sofa. Rupanya belum sempat kubaca semalam dan masih tergeletak di atas perutku, sengaja membiarkan saat jatuh, karena berburu dengan perut tiba-tiba melilit.
Aku bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Suara dorbell berbunyi, sepertinya Amar membukakan pintu. Sesaat kemudian dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Abang, Bumi. Ada katering!"
Apalah daya, aku sedang buang air besar. Tidak mungkin menyudahi kemudian sebentar lanjut lagi. Sementara belum membayar pesanan. Amar kembali mengetik pintu.
"Ambillah uang di dompetku. 200 ribu, sisanya suruh ambil Bang gojek saja!"
__ADS_1
"Ah, gak enak atuh, Bang! Tunggu Abang saja."
Amar menolak, sementara itu Bang gojek biasanya berburu dengan jam kerja. Biasanya membawa banyak pesanan dileveri, tentunya mengejar jam sarapan si pemesan.
"Ah, gak apa-apa! Ambil saja, sok atuh. Kenapa sih?"
"Iya--- maaf aku sudah lancang, Bang!"
Amar menyahut dan pergi dari dengan pintu kamar mandi. Sementara itu saat akan menguyur tubuh, rasa perih pada jahitan lukaku masih terasa, bahkan sediki mengeluarkan darah. Sepertinya aku harus kontrol. Dengan hati-hati agar tidak terkena air pada luka, mulai membasuh tubuh.
Hanya dengan mengenakan handuk aku keluar dari kamar mandi. Perban pada lenganku terlihat merah, membuat Amar dan ketiganya kaget. Mereka memang tidak mengetahui hal ini. Aku terlihat baik-baik saja, padahal rasa nyeri sejak kemarin coba menahan.
"Lho, Bang! Itu kena apa?" Amar bertanya heran.
Aku tersenyum, "Biasalah, salah paham. Kecelakaan ringan." Sejenak aku berhenti dan melongos masuk kamar.
Setelah ganti pakaian, aku gabung dengan mereka. Rupanya Amar sudah menata sedemikian rupa hidangan di atas meja. Dia supel dan ringan tangan, sejak tadi dia beberes, dari menyapu dan menyediakan kopi.
Kami menikmati sarapan pagi, setelah ini rencananya akan kembali ke rumah duka.
"Nanti, setelah sampai sana, aku tinggal sebentar, ya."
"Emang, Nak Bumi mau ke mana?" Ayah Adie bertanya sesaat menghentikan aktivitas makan. Diikuti oleh yang lainnya menatapku.
"Cuma mau kontrol saja. Sepertinya lukaku ini butuh perawatan."
Paman Adie bernapas lega. Mungkin mereka berpikir lain. Kami pun melanjutkan makan. Setelah selesai, kami kembali cuap-cuap di sofa seraya menikmati rokok.
Amar mengambil kertas yang terlipat rapi, saat akan gabung bersama kami setelah mencuci piring, Amar menghentikan langkah.
"Astagfirullah!" Suara Amar mengagetkan saja. Aku langsung mendekati dan mengambil carik yang terlipat rapi dan kecil. Sepertinya jatuh dari dompetku. Soalnya Amar tadi membawa dompet hingga depan pintu.
__ADS_1
**********