
Bab 46
"Iya, semoga saja ada keajaiban itu." Aku menyela pembicaraan dan mendekati mereka yang lesu dengan wajah-wajah pias.
Amar menenangkan Ayahnya. Begitu juga kedua orang lainnya mereka rupanya adalah paman Adie yang bernama Junaedi dan Albion.
"Mari silahkan makan dulu, nanti kita lanjut ngobrol untuk mencari solusi." Aku menepuk pundak mereka satu persatu, setelah tadi meninggalkan untuk menata pesanan katering di atas meja makan.
"Maaf, sudah merepotkanmu Nak Bumi." Ayah Adie nyelutuk seraya berjalan menuju ruang makan.
"Ah, jangan begitu Abah, anggap saja rumah ini pengganti kediaman Adie di Jakarta."
Ayah Adie menghela napas panjang sejenak mereka terdiam menikmati hidangan. Jelas saja mereka lapar, ini kali pertama keempatnya menjejakkan kaki di Jakarta. Aku juga ikut serta berbaur dengan mereka.
Setelah selesai kami kembali duduk bercengkerama membahas perihal jasad Adie. Setelah berbincang, kami memutuskan untuk beristirahat karena sudah malam.
Setelah berunding, keputusan besok saja memulai rencana. Ayah Adie terlihat tidak sabar. Tapi pada akhirnya beliau menurut. Mau bagaimana lagi, Caroline tidak merespon. Sepertinya akan menemui jalan buntu, penuh tantangan.
**********
Keesokan harinya, setelah semua bersiap kami berangkat menuju Rumah Sakit. Dengan harapan jasad Adie masih di kamar jenazah, rasanya dada ini bergemuruh, dari raut wajah keluarga Adie menyiratkan rasa yang sama. Setelah bertanya kepada petugas Rumah Sakit, dan memberitahukan bahwa mereka adalah keluarga Adie, dengan menyodorkan bukti otentik, dengan senang hati beberapa petugas kesehatan mengantarkan kami hingga mendekati letak kamar mayat. Kami menemukan titik terang jasad Adie masih bersemayam di lemari pendingin. Seorang petugas kamar mayat membukakan salah satu pintu lemari raksasa itu
Benar saja, sahabatku sudah membisu, kaku dengan tubuh sudah mulai membiru. Ayah Adie tidak kuat menahan beban, kenyataan, pria itu terkulai dalam dekapan Amar. Selang beberapa waktu dia dibawa keluar.
Menurut informasi yang tadi disampaikan oleh petugas kesehatan. Jasad Adie akan dimandikan hari ini, dan langsung menuju ke rumah duka umat Buddha. Itu juga yang dibeberkan oleh petugas pemulasaraan jenazah tadi.
Kami memutuskan untuk menunggu kedatangan Caroline. Karena keluarga Adie tidak berhak mengambil keputusan apapun.
Ayah Adie mulai siuman. Keluarga Adie tidak mau meninggalkan area pemulasaraan jenazah, setelah tadi aku menawarkan untuk rehat dan mencari kopi hingga jam di mana Caroline dijadwalkan tiba.
__ADS_1
"Jika Nak Bumi, ingin mencari udara segar, silahkan." Salah seorang Paman Adie berkata.
Sejak tadi aku mengantuk berat hingga beberapa kali tanpa sadar menguap. "Baiklah, Amar, aku tinggal keluar sebentar. Jika ada apa-apa telepon saja."
"Baik, Bang." Amar duduk bersimpuh dilantai bersama ketiganya. Aku segera beranjak keluar menuju sebuah kantin yang terletak masih diarea Rumah Sakit.
Setelah sampai langsung memesan secangkir kopi pahit guna mengusir kantuk, jemari ini memainkan layar handphone. Aku memutar otak bagaimana caranya bisa masuk kediaman Adie? Bagaimana bisa mengetahui surat wasiat ada tinggal atau tidak? Ah, kepala ini terasa berat.
Seraya memainkan sendok kopi tiba-tiba saja aku teringat pada petugas penyidik yang mengenalku. Kami sempat bertukar nomor kontak.
Semringah aku menghubungi."Halo, dengan Pak Bumi?" Suara tanyanya saat sudah mengenali suaraku dari ujung telepon.
"Oh, iya Komandan." Aku menjawab sopan penuh hormat.
"Ada yang bisa kami bantu? Atau ada informasi untuk kami?"
Sejenak lidah ini kelu, aku bingung untuk mengutarakan isi hati. "Begini, Komandan. Saya hanya ingin bertanya, apakah jenazah sahabat saya itu akan dikremasi?"
"Begini, Komandan. Ini ada saudaranya dan orang tua Adie datang. Mereka berkeberatan bila itu dilakukan. Mohon pencerahannya." Aku memberanikan diri menuturkan isi hati yang konyol ini.
Setelah berbincang, petugas penyidik mengatakan itu bisa saja dibatalkan pemulasaraan bila kedua belah pihak saling musyawarah. Atau bila ada surat wasiat almarhum. Itu diantaranya penjelasan dari penyidik. Sungguh tiada solusi. Bahkan berkas penyidikan, sudah menyatakan kematian murni akibat bunuh diri. Padahal aku merasa janggal, tidak mungkin Adie melakukan hal itu. Bukankah dia ingin bertaubat? Harusnya dia tahu dengan mengambil keputusan demikian justru tiada pintu maaf darinya?
'Ah, semoga saja saat detik-detik lepasnya napas dari raga Adie dia masih bisa melafalkan niat kembali keimanan awal.' Aku berbicara sendiri dalam hati.
Setelah menenguk tetes terakhir kopi, aku segera bangkit dan kembali ke tempat pemulasaraan. Sepertinya sebentar lagi Caroline akan tiba. Aku tidak mau bila terjadi sesuatu pada keluarga Adie. Mengingat tadi kedua paman dengan wajah memerah sudah mulai tersulut emosi saat berulang kali aku mencoba menghubungi Caroline.
*************
Dari kejauhan terlihat olehku beberapa petugas berseragam coklat. Sepertinya terjadi pertengkaran, aku berlari secepatnya. Ah, benar saja Caroline sudah sampai dan bersitegang adu mulut.
__ADS_1
Rupanya mayat sudah akan dimandikan, sementara itu Caroline tidak mengijinkan orang tua Adie melakukan kewajiban kepada anaknya.
Ayah Adie hanya ingin mensucikan tubuh kaku sahabatku untuk yang terakhir kalinya menggunakan air wudhu. Caroline menolak keras.
"Saya hanya ingin memberikan hak kepada anak saya." Terdengar tegas suara Ayah Adie menatap dalam bola mata kebiruan Caroline.
Aku merasa geram, seharusnya Caroline menaruh hormat pada orang tua suaminya yang tidak pernah sekalipun dia temui.
"Tapi saya tidak mengijinkan itu. Maafkan semoga Anda paham." Caroline menjawab dengan mengalirkan pandangan.
"Neng, bisa tidak bersikaplah layaknya seorang menantu." Seorang paman Adie menyela pembicaraan.
"Perempuan tidak punya hati dan sopan santun." Amar menyerobot pembicaraan.
Sementara itu. Petugas yang akan memandikan jenazah terdiam menunggu keputusan.
Aku mendekati Amar dan merangkul pundaknya. "Sudahlah ...." Lidah ini tidak lagi mampu berucap.
Setelah mereda, petugas segera memandikan jenazah. Tubuh Adie mulai diguyur air dari selang. Ayah Adie yang sejak kedatangannya terlihat terpukul, justru berbanding terbalik. Beliau tegar saat diperbolehkan untuk menyentuh tubuh kaku sang pencari nafkah. Begitu juga dengan Amar, mereka tegar. Akan tetapi tidak dengan diri ini, justru terisak-isak hingga petugas memintaku untuk keluar ruang pemulasaraan.
Rasanya ngilu melihat kondisi jasad sahabatku. Ingin rasanya menghadiahi bogem agar dia terbangun dan menjelaskan padaku semuanya! Aku jongkok dengan kedua tangan menangkup wajah. Sementara Caroline tidak memperlihatkan wajah kekeluargaan sama sekali, bahkan seperti orang asing saja. Akan tetapi, dia terlihat jauh lebih tegar, dengan balutan atasan putih dan rok plisket hitam sepanjang lutut. Dia datang ditemani oleh beberapa orang pria dan wanita, mungkin akan memberikan doa terakhir pada Adie melihat dari pakaian yang dikenakan.
"Abang, Bumi." Suara Amar dari depan pintu. Aku langsung berdiri dan kembali masuk, walaupun rasanya tidak kuat. Demi sahabat terbaik aku harus menyaksikan!
Seorang Biksuni dengan suara lembut memberikan wejangan pada Caroline. Benar saja wanita itu mulai melunak dan memperbolehkan Ayah Adie mensucikan tubuh anaknya untuk yang terakhir kalinya.
"Toh, semua tujuannya baik." Itu yang terucap dari bibir Biksuni. Wejangannya sangat teduh dan mendamaikan, ditambah lagi lirih suaranya menyentuh dinding hati.
Adegan yang mengharu biru, aku, Amar dan kedua paman Adie tergugu memeluk tubuh kaku di atas keramik, bergantian. Apalagi Ayah Adie, beliau tidak lagi mampu menahan tangisnya.
__ADS_1
Setelah selesai, saatnya jenasah dibawa ke dalam mobil ambulance setelah dimasukkan ke dalam peti sebelumnya. Sesuai keinginan Caroline langsung ke rumah duka, akan dilakukan malam berkabung (mai song). Itu katanya tadi dan dibenarkan oleh Biksuni yang mendampingi.