Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 30 Takdir Mantan Primadona


__ADS_3

Takdir Mantan Primadona


Pikiran ini bermanuver jauh ke masa silam. Saat aku menikahi Bianca, Ia belum lama berpisah dengan suaminya. Bahkan pernikahan kami saat itu tidak dicatatkan terlebih dahulu. Hingga masa indahnya selesai, memang sangat terburu-buru. Aku butuh pelampiasan atas kegagalanku, duka menyiksaku. Benar saja, bukan keputusan salah. Aku melupa semuanya. Dosa dan segala yang menyilaukan dan menyesatkan.


Ah, aku memamerkan senyum kian kecut seraya menatap wajah Bianca. Perempuan desa itu masih sok suci saja. Sangat lancang telah berani menyusul, ah, sialan. Bisa merusak reputasi saja. Benar-benar ia akan merepotkan aku lagi. 'Huff, dasar perempuan pembawa sial!' Aku mengumpat dalam hati.


Aku mendekati Bianca, lalu mendekatkan wajah padanya hingga mata kami beradu tapa sekat, napasnya menerpanya wajahku. Seketika tangannya meraih leherku dengan posisi duduk di sofa, situasi kini berubah beberapa derajat. Walaupun tanpa polesan make up wajah Bianca tetaplah cantik, walaupun cantik itu bersembunyi bak mentari pagi yang enggan menampakkan semburat. Andaikan wajah itu di poles perawatan, tentu ia akan jauh lebih cantik dan mengoda birahi, apalagi bila dikenakan pakaian modis, pasti aduhai. Tangan Bianca kian erat merangkul hingga wajah ini tanpa sekat mencium punggungnya. Iman laki-laki mana yang tidak tertantang.


Refleks kedua tangan ini memegang kedua pinggulnya. Masih enak dipeluk seperti kemarin-kemarin. Aku mendekapnya erat, Bianca pun melakukan hal serupa.


"Bum ...." Dada ini berdesir, ah, sial rupanya masih juga Bianca mampu meluluhkan hati ini.


Akan tetapi, diri ini sekuat tenaga untuk menepis rasa. Selang beberapa menit kemudian aku mencoba menjauhkan dirinya.


"Maaf, Bi." Aku mundur dengan posisi mengangkat kedua tangan ke atas.


"Maafkan aku. Aku mohon. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri," ucapnya lirih seraya menarik tangan ini untuk kembali mendekatinya.


Aku memeluknya, kemudian membelai rambutnya yang hitam dan panjang. Bianca menggenggam erat tangan ini dan meletakkan di antara kedua pinggulnya.


Aku menuruti keinginannya, naluri ini paham apa yang ia inginkan. Jelas saja ia ingin melakukan yang telah lama tidak ia dapatkan. Tangan Bianca meraba rahang ini. Deretan bulu halus yang selalu ia mainkan, tangannya mulai lihai. Aku pun membiarkan apa maunya.


"Bi ...." Aku membisik seraya mengengam tangannya.


"Bum ...." Mata kami bertemu pandang saat bibir saling mencecap. Napasnya mulai naik turun saat aku mulai terpancing. Aku mendorong Bianca ke sofa. Kemudian perlahan membaringkan tubuhnya di atas sana. Ah, dada ini bergemuruh. Perut Bianca sudah membuncit, benar. Sekali lagi tangan ini meraba untuk memastikan. Yah, benar ia sedang berbadan dua. Gelora seketika membeku. Laksana di guyur salju, panas yang tadi mendidihkan darah kini menjadi bongkahan es yang dingin.

__ADS_1


Segera aku menjauhkan tubuh Bianca dariku. Aku tidak ingin terjebak dalam kehidupan cinta lama yang hanya akan membuat diriku siksa saja, seperti dulu lagi.


"Bum---" Bianca mencoba meraih lengan ini.


"Maafkan aku, Bi. Aku tidak bisa berbuat itu lagi padamu."


"Aku istrimu, Bum."


"Bi ...."


"Bum, ini anak kamu." Suara Bianca meninggi.


Aku mundur beberapa langkah lagi hingga dekat pintu, kemudian mengatur napas. Tidak tega jika kembali berbuat kadar.


"Maaf, Bi. Aku tidak bisa, aku tidak bisa lagi hidup bersamamu. Jagalah anakku, jaga buah cinta kita berdua. Kamu tidak sendiri aku akan datang menemanimu saat tangal melahirkan tiba, pulanglah. Aku mohon," jelasku dengan berat hati. Jujur saja berat rasanya lidah ini mengatakan yang sejujurnya, tapi itulah kata hatiku.


"Bum, tapi----" Bianca meraih pucuk jemari tanganku. Tapi secepatnya aku hempas dengan kasar, membuatnya terperangah.


Mungkin Bianca berpikir, dengan mengaku sedang hamil membuat aku iba, lebih parahnya ia ingin aku kembali padanya. Ah, bukan levelku lagi perempuan model sepertinya.


"Sudahlah, Bi. Jangan membuat aku semakin murka, kemudian berlaku kasar!"


"Tidakkah kamu bisa melihat keadaanku, Bum?"


"Aku bisa melihat! Kamu tahu kan, aku punya mata, Bi. Apa sih, kamu!" Aku mondar-mandir di ruangan. Sementara Bianca kembali duduk, mungkin ia lelah berdiri, entahlah. Aku tidak perduli.

__ADS_1


"Sekali lagi, aku minta maaf, to-long ---" Bianca terisak. Ah, sedari tadi hanya mengumbar tangisnya saja! Semakin tidak ada rasa iba untuknya.


"Aduh, aku sudah bukan Bumi Respati dari tanah Pasundan, Bi. Kamu lihat, kan? Lihat!" Aku mendekati Bianca lalu menghentak kedua bahunya, agar kedua matanya bisa melihat. Kemudian, tersadar. Lelaki Sunda di depannya ini bukanlah pria desa yang ia kenal dulu. Sudah bukan suaminya.


Bianca larut dalam pilu, tiada lagi kata-kata terucap dari lisannya. Air mata jatuh kian deras hingga membasahi kedua jemarinya.


Aku berjalan menuju arah meja, mengambil tissue dan mengusap lembut pipinya seraya membungkukkan badan. Kemudian, aku berlutut dihadapannya. Aku merebahkan kepala ini di pangkuannya, Bianca mengelus rambut ini. Sejenak melunak dan bercerita. Terdengar suara detak janin di dalam sana, di balik gaun sederhana. Membuat aku sungkan untuk berlama-lama.


Setelah itu aku berdiri dan kembali membalikkan badan, kemudian memegang rahang Bianca, agar ia bisa menatap bola mataku. Agar ia bisa menemukan jawaban atas permintaannya.


"Sakit, Bum ...." Bianca mengerang, rupanya cengkeraman ini membuatnya merasa sakit. Aku meregangkan sedikit, tapi masih tetap dengan posisi semula.


"Bi, maafkan aku. Pulanglah, ingat janjiku! Pergilah ke lobi nanti ada mobil menjemputmu."


Tanpa mendengar jawabannya. Setelah itu aku merogoh saku celana dan menelepon seseorang.


Hanya dalam hitungan menit, suara ketukan pintu. Aku sudah menunggu kedatangannya.


"Pak Bumi Respati?"


"Iya, silahkan masuk!" Aku memberikan ruang agar dua orang pria berperawakan tinggi besar itu masuk.


"Maafkan kami, Bu. Anda sudah membuat kegaduhan, tolong koperatif Atau----" Keduanya mengintimidasi Bianca yang masih duduk di atas sofa.


Bianca menangis saat satpam menjemputnya untuk keluar segera. Raungannya tidak di indahkan oleh satpam. Bahkan keduanya mencekal lengannya erat keluar paksa, hingga akhirnya lenyap dari pandangan mata ini.

__ADS_1


Aku tidak perduli padanya, toh tadi aku sudah menjelaskan padanya saat merebahkan kepala di pangkuannya. Aku hanya butuh di hargai, itu saja. Jangan pernah ungkit masa kelam yang susah payah coba untuk meninggalkan.


Aku berkata jujur, bahwa kini ingin mencari pendamping yang lain dan mengakhiri kesendirianku bersama seorang wanita yang mampu dan mau menerima dan membimbing diriku menjadi orang yang lebih baik. Itu saja, tidak muluk-muluk. Bianca berjanji akan memberikan apa pintaku, ia ingin mengobati kesalahan dan mengobati luka hati ini. Tapi tidak, batin ini berkata tidak.


__ADS_2