
Menjadi Pengusaha
"Tapi aku mah, gak janji bisa secepatnya," jelasku.
"Iya--- Ambu mengingatkan saja."
"Semoga hari ini urusan bisa selesai, aku langsung pulang," jelasku di penghujung telepon, dengan nada lembut.
Ambu pun mengiyakan saja, kemudian segera aku bangkit dan keluar berjalan menuju ke balkon, meregangkan otot yang terasa kaku dan menikmati udara segar lalu kembali masuk untuk menyibak tirai agar terik matahari bisa masuk melalui celah jendela kamar.
Kemudian aku kembali ke lagi dengan membawa secangkir kopi , lalu duduk santai menikmatinya dan sesekali mengisap dalam rokok yang terselip di antara celah bibirku.
Aku mengecek pesan masuk di aplikasi WhatsApp satu per satu sudah terbaca olehku.
Deretan ucapan Good morning, hello sayang, kata pujian penuh cinta pun sudah antri sejak pagi tadi dari para wanita yang memujaku.
Dengan senyum sinis meletakan kembali handphone di atas meja setelah membalas pesan itu satu demi satu.
Setelah lumayan lama, aku pun segera bergegas masuk dan akan membersihkan diri, karena ada janji hari ini akan kembali bertemu dengan seseorang Desainer interior guna membicarakan konsep ruangan yang akan menjadi daya tarik tersendiri untuk usaha yang akan segera merintisnya.
Mobilku pun melaju menuju ke tempat yang sudah kami sepakati sebelumya, terletak di sebuah cafe. Setelah sampai kami pun langsung membahas tentang konsep yang akan menjadi pilihanku, ia pun menjelaskan detail dan menawarkan banyak pilihan padaku tentang konsep yang akan menjadi acuan hangout yang akan aku usung.
Dari konsep Cafe Vintage, cafe modern, cafe unik, cafe sederhana dengan konsep minimalis atau Instragramable yang ia tawarkan akhirnya pilihanku jatuh pada konsep Instragramable and audor sesuai dengan jiwa mudaku.
Kami pun berjabat tangan tanda kesepakatan, dan akan kembali bertemu dengan janji yang kami sudah sepakati bersama.
Setelah itu aku segera memberi kabar pada Widya karena dialah yang aku minta untuk membantu menjadi dekorator interior, ia akan di bantu oleh salah seorang sahabatnya itu katanya padaku.
"Huff ...."
Aku menarik napas dalam-dalam dan segera beranjak menuju kasir kemudian melangkah untuk segera pulang.
Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan kota Metropolitan menuju ke arah Rumah Sakit Swasta tempat bekerja, karena tadi ia minta untuk di jemput .
__ADS_1
Sesampainya, tak perlu waktu lama, tampak ia sudah keluar dari teras sembari melambaikan tangan, saat melihatku dari kejauhan, mendongakkan kepala dari kaca jendela mobil.
Kami pun langsung menuju tempat makan guna mengisi perut karena sudah jam makan siang.
Setelah selesai aku pun mengantarkan Widya untuk kembali ke rumahnya, lalu aku pun kembali memacu mobil untuk pulang ke apartemen.
Sesampainya aku segera mengabarkan pada Ambu bahwa malam nanti aku akan segera pulang. Ambu pun tampak senang dan memintaku untuk berhati-hati dalam mengendarai mobil.
"Iya, Ambu. Iya ...." potongku menenangkannya di ujung percakapan.
Ia begitu mewanti-wanti dalam berkendara.
Aku segera beristirahat setelah selesai membersihkan diri, kemudian merebahkan tubuh di atas ranjang guna sejenak beristirahat tidur siang.
Setelah terjaga dengan mata masih berat menahan rasa kantuk segera aku menghubungi Widya mengabarkan bahwa aku akan pulang ke desa dulu, untuk beberapa lama.
"Iya, Kak. Pokoknya kami siap membantu," katanya.
"Iya, Wid. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk segera pulang," jawabku.
Akhirnya setelah bersiap mobil pun melaju perlahan sudah meninggalkan Kota Jakarta menuju ke arah Kota Bandung dengan kecepatan penuh melewati suasana kota pada malam hari.
Lumayan lama akhirnya aku pun sampai di desa, tampak Ambu dan Abah langsung menjemput kedatanganku, padahal waktu menunjukkan pukul dini hari.
Rupanya mereka sengaja menanti kedatanganku hingga tidak memejamkan mata sama sekali.
Tampak rona bahagia jelas tergambar di raut wajah mereka, atas kesuksesan yang diraih anaknya.
Setelah berbincang-bincang aku pun pamit untuk beristirahat dulu, lalu aku masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri karena kantuk bergelayut sedari tadi di pelupuk mata.
Terdengar suara Ambu dan Abah sibuk mengemas oleh-oleh bawaanku yang sengaja aku beli dalam jumlah banyak, karena akan mereka bagikan pada sanak saudara juga tetangga, seperti itulah tradisi di desa.
Lumayan lama aku di desa menuntaskan tahap renovasi rumah hingga akhirnya benar-benar finis dan aku pun memberi tahu bahwa akan membuka usaha sendiri di Kota Jakarta dan meminta ridho dari mereka berdua.
__ADS_1
Segala puja dan puji terucap dari lisan kedua orang tuaku. Mereka sangat bangga dan memberikan dukungan juga doa sepenuhnya untuk aku anaknya. Tidak lupa wejangan pun tak henti mereka tuturkan bergantian.
Selama di desa kabar tidak mengenakan datang dari Neng Bianca Mariana, rupanya rumah tangga yang ia bangun sedang berada fase down di ujung tanduk kehancuran.
Beberapa kali ia menyampaikan pesan ingin bertemu, akan tetapi terpaksa aku tak mengindahkan ajakannya untuk bertemu dengannya.
Walau hati ini rasanya ingin memberikan support, tapi urung karena Ambu dan Abah selalu menghimbau agar jangan sampai ada hubungan antara kami berdua lagi.
Hingga akhirnya aku kembali ke kota guna mempercepat proses desain interior Cafe milikku.
Sesampainya di apartemen segera aku menghubungi Widya dan mengurus segala sesuatunya dengan detail.
Akhirnya cafe dengan konsep Instragramable and outdoor pun telah siap beroperasi, dengan dekorator interior yang mewah semua atas bantuan Widya dan sahabatnya seorang wanita cantik yang ternyata ia tinggal di daerah Bandung sama denganku.
Perlahan hubungan antara kami semakin dekat, sesekali ia bertandang ke tempat usahaku dan memberikan dukungan juga masukkan yang sangat membangun, dari cara mengatur karyawan juga menu istimewa yang akan menjadi daya pikat pengunjung untuk kembali datang berkunjung.
Jatuh bangun usaha yang baru saja aku rintis hingga pernah nyaris bangkrut karena saat itu aku memutuskan untuk berhenti dari profesi menjadikan diriku berkantong tebal.
Akhirnya saat kembali ke profesi semula lagi dengan mudah semua handle walau kerugian masih saja terjadi.
Rupanya memulai usaha bisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi kini setelah sekian lama secercah harapan indah sudah tampak di depan mata.
Usahaku perlahan menunjukkan tanda-tanda kehidupan mulai bergeliat dan mampu bersaing dengan Cafe hangout yang bertebaran di mana-mana.
Semua itu tidak lepas dari campur tangan mahir wanita cantik itu ia Manajer cafe milik, Dr. Dimas Anggara Prayoga.
Perkenalan kami berawal dari seringnya aku dan Widya hangout di cafe milik Dimas Anggara Prayoga, saat itu ia akan resign untuk beberapa saat dan aku yang akan mengambil alih posisinya.
Akan tetapi urung ia lakukan, karena rencana pernikahannya gagal.
Semenjak saat itu ia sering gabung bersama kami untuk sekedar bercanda dan tukar pikiran tentang dunia bisnis kuliner yang sangat menjanjikan di kota besar seperti Jakarta.
Itulah sebabnya aku memutuskan untuk segera melakukan investasi, atas jerih payah, peluh dari kerja kerasku selama ini untuk menjajal kemampuan menjadi pengusaha agar mencecap manisnya uang halal.
__ADS_1