Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 44 Nyawa diujung belati


__ADS_3

Bab 44


Aku tersungkur, bahkan nyaris menyentuh lantai, tapi belati tidak lepas dari tangan. Secepatnya aku bangkit sebelum kedua pria hitam buruk rupa, bengis itu menghajarku lagi. Keduanya tadi menendang kedua betisku hingga membuat tubuhku yang tidak siaga jatuh.


Sementara Clarisa bersikeras melepaskan cengkraman tangannya dari Togar. Ia ingin berlari ke arahku, tapi cekatan Togar menariknya keras tadi, hingga membuat tubuhnya jatuh dalam dekapan bajingan tengik.


Benar saja, kedua bodyguard itu mendekatiku dengan posisi kedua tangan mengepal. Aku mengelak saat mereka melesatkan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Sementara itu terlihat Togar memaksa Clarisa untuk berkemas dan segera mengikutinya pulang.


"Cepat ganti pakaian!"


"Tidak!" Clarisa menolak membuat aku tersenyum manis. Seharusnya Togar paham bila istrinya tidak menginginkan dirinya lagi.


"Cepat kataku! Atau aku akan menyeret paksa dengan pakaian memalukan ini, mau? Hah!" Togar kembali mengancam dengan jemari menunjuk wajah Clarisa.


"Aku tidak mau! Jangan paksa aku!"


"Aku suamimu! Kamu harus menuruti keinginanku. Ini demi kebaikanmu!"


"Kamu kasar!"


"Ini karena kamu keras kepala! Tidak bisa meninggalkan kubang dosa! Masih saja suka mencari kenikmatan!" Aku kembali terkekeh geli melihat wajah Togar bak buah tomat. Keduanya saling adu argumen.


"Jangan sakiti dia!" pekik Clarisa.


"Masih saja kamu peduli terhadap bajingan miskin dan tengil itu, Cla!" Togar nyerocos.


"Sudah, cepat ganti! Atau aku telepon aparat keamanan? Bagaimana?" Clarisa terdiam.


Jelas saja Clarisa mencari pelampiasan, Togar tidak lagi enak dipandang. Perut buncitnya membuatnya tidak lagi menarik seperti dulu. Togar orang kepercayaan Clarisa, bahkan awalnya aku berpikir keduanya sering bermain ranjang, tapi penjelasan Clarisa menepis anggapanku.


"Bukh!" Satu tendangan bebas mengenai betisku membuat tubuhku terhuyung.


"Plakk!" Aku membalas, menangkis hantaman bodyguard satunya.

__ADS_1


"Jiattt!" Kembali tendangan bebas mengenai betisku.


"Rasakan!" Aku membalas dengan tendangan bebas.


Sementara itu Clarisa lenyap dari pandanganku tidak berapa lama kemudian, dia kembali dengan menenteng tas berisikan pakaiannya. Dia sudah dengan dandanan rapi. Togar masih mencengkeram tangannya sementara. Dan Clarisa tetap berontak. Apalagi saat melintas aku sedang kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dua bodyguard sontoloyo. Aku masih adu pukul. Ingin rasanya mengambil jalan pintas, menghujamkan belati pada keduanya tapi mereka bukan targetku, Togar lah, yang harus mati! Dia sudah mengambil Clarisa dariku. Membuat semuanya lepas dari genggaman tangan.


Gara-gara Togar pula aku melarat dan terpaksa harus menikahi wanita desa. Membuat kian rumit saja maslahku. Niat hati menumpang hidup pada Bianca tidak berjalan semestinya. Justru aku terbuang, membuat sesalku tidak bertepian hingga kini.


"Auhkh, argh ...." Aku tersungkur dengan wajah menyentuh lantai. Tidak lagi mampu bangkit.


"Bagaimana, Bos?!" Satu bodyguard bertanya dengan satu tangan menjambak rambutku hingga membuat wajahku mendongak.


"Habisi saja!"


"Siap, Bos! Laksanakan."


"Pastikan kerja kalian rapi, seperti yang sudah-sudah."


Clarisa histeris, dia bisa lepas dari cengkeraman Togar dan berlari ke arahku. Ia memeluk dan mencium wajahku, dengan kedua tangan memegang rahangku.


"Tolong lepaskan dia." Clarisa memohon, sementara itu aku tidak bisa berkutik karena kedua tanganku dipegang ke arah belakang. Otot leherku terasa membesar dan berdenyut. Napasku seperti tercekik. Membuat otot-otot wajahku jelas menonjol.


Togar mendekat, setelah membuang tas yang ditentangnya tadi. Dia memaksa Clarisa untuk berdiri, tapi wanitaku tidak mau, dia mau meninggalkanku dan ikut bersamanya asalkan kedua bodyguard itu melepaskanku. Tapi pinta ratapan Clarisa tidak dihiraukan.


Tanpa perkiraan, Clarisa berlari ke sudut ruang. Di sana belatiku tadi terlempar saat salah satu menendang tanganku saat akan melakukan penusukan tadi, bagaimana tidak sudah kepepet. Instingku tidak enak, Togar penyalur tenaga keamanan, yang tidak segan menjadi pembunuh bayaran dan tukang jagal. Itulah sebabnya saat bermasalah dengannya kemanapun aku membekali diri dengan senjata tajam. Bahkan dalam mobilku ada sebilah samurai. Guna mencegah kemungkinan saat aku diitimidasi oleh komplotan mereka.


Seperti itulah saran Adie. Persaingan dunia gelap kian anarkis, bahkan Bima saja yang notabene bekas asuhan Adie suka mengancam. Bukan hanya itu saja, dia seperti Togar, punya banyak bodyguard berjiwa pembunuh.


"Apa yang kamu lakukan?! Clarisa!" Clarisa sudah memegang belati, dengan napas memburu dia mengarahkan belati di atas nadinya.


"Aku mau mati bersama Bumi!"


Clarisa mengancam akan memotong urat nadi bila mana mereka tidak melepaskan diriku. Semuanya terdiam, Togar mendekati Clarisa dengan kedua tangan di angkat.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" Clarisa mengarahkan belati pada Togar. Mata Clarisa berkaca-kaca, tangisnya tertahan oleh emosi, tubuhnya menyender di dinding.


Benar saja ancaman Clarisa manjur. Kedua Bodyguard itu melepaskan diriku saat mendapat isyarat dari Togar. Aku berdiri walau dengan kaki sempoyongan. Mata ini menatap murka pada kedua Bodyguard yang berani menjejakkan kakinya di atas tubuhku.


Dalam hati aku menyimpan dendam. Lihat saja semuanya akan aku balas setimpal Bukan Bumi Respati namaku bila tidak menepati janji! Haaa .... Aku terkekeh dalam hati. Sudah terbayy olehku saat melakukan pembalasan.


Clarisa berlari ke arahku, ia memeluk erat pinggangku kemudian menyerahkan belati. Tapi belum sempat mengambil, Togar sudah melakukan penyerangan.


Belati terjatuh dan cekatan aku meraih, tapi Togar menendang keras tubuhku hingga belum sempat tangan ini meraih. Clarisa menjerit histeris saat kedua bodyguard sudah menariknya paksa untuk meninggalkan tempat.


"Bawa pergi paksa!" Togar memberikan titah disela jual beli pukulan.


"Tolong kerjasama, atau masalah ini kian runyam bila terendus oleh aparat! Paham?" Salah satu dari bodyguard terdengar menceramahi Clarisa.


Sekarang aku dan Togar kembali adu jotos. Sialan! Togar meraih belati saat nyaris kalah menghadapiku. Membuat aku semakin terpojok, benar saja, satu sayatan kecil mengenai lenganku hingga merobek kemeja yang kukenakan.


Aku beringas dan terus menyerang, Togar kewalahan dan satu tendangan bebas mengenai tangannya membuat belati terbang dan mendarat darurat di atas sofa. Cekatan aku meraihnya dan kembali sebelum Togar bangkit.


Sreeeeet.


Satu pembalasan, sayatannya yang sama kuberikan. Togar meringis menahan perih. Darah mengalir membasahi kaos hitam yang dikenakannya. Dengan satu tangan mencengkeram bekas sayatan, Togar memutuskan untuk segera pergi setelah beberapa orang petugas berseragam keamanan hotel datang. Tanpa menghiraukan perkataan tanya dari petugas hotel Togar berlari kecil.


"Ada apa ini? Gaduh sekali?"


"Tidak kami sahabat yang sedang salah faham." Aku menjawab sekenanya seraya meraih kunci mobil dan tas milikku yang tadi sengaja taruh di atas sofa sebelum duel.


"Ta-ta-tapi Bapak berdarah, Anda terluka?"


"Sepertinya Bapak butuh pertolongan medis!" Salah satunya menimpali.


"Sudah tidak apa, ini cuma pemanasan. Biasalah adegan ranjang." Aku berkata seraya melongos meninggalkan mereka yang saling tatap dengan mimik wajah kebingungan.


"Ah, dasar! Dunia susah mau kiamat, adegan ranjang sejenis malah pakai adu pukul sampai babak belur dan berdarah-darah pula."

__ADS_1


"Alamak! Ngeri."


Sebelum lenyap dari balik pintu terdengar bolehku mereka membicarakanku.


__ADS_2