
Entah bagaimana kondisi Bianca, aku tidak mau merusak image sendiri dengan melihatnya atau memberikan dukungan. Takut saja ketika aku sedang bersamanya ada penghuni apartemen yang lain memerhatikan. Bagaikan dilempar lumpur wajahku pastinya punya mantan istri berpenampilan sepertinya.
Aku berjalan mendekati jendela, terlihat jelas Bianca berdiri bersama kedua satpam. Didepannya satu buah tas hitam berukuran kecil tergeletak di atas lantai, ia terlibat diajak berbincang oleh keduanya. Aku hanya mengamati dari gesture saja, sepertinya mereka iba pada Bianca, hingga terlihat berulangkali keduanya mengusap punggung Bianca. Bahkan satu diantaranya masuk ke dalam Pos dan keluar dengan membawa tissue.
Sepertinya perempuan desa itu masih terus menjatuhkan air mata. Aku meraih handphone dan mengetik pesan kepada salah satu satpam. Nomor kontak keduanya ada pada kami semua penghuni apartemen. Selang beberapa menit kemudian terlihat pria itu mengecek handphone seraya melihat ke arahku dan segera membalas melambaikan tangan.
[Oke, Pak Bumi] balasannya di Waatsp.
Aku memintanya untuk mencarikan taksi hingga terminal. Ini kali pertama Bianca menjejakkan kaki di Jakarta. Itulah sebabnya mengapa aku heran, bisa-bisanya ia menemukan diriku. Aku menutup tirai jendela agar tidak terlihat lagi Bianca di sana, mengotori mataku saja.
Setelah berulang kali akhirnya Surtyah mengangkat panggilan telepon dariku. Sejak tadi aku duduk dengan gusar, benar-benar suprise yang berbanding terbalik dengan hari-hari sebelumnya.
"Assalamualaikum, A'a." Surtyah menyapaku diujung sana.
"Waalaikum salam warahmatullahi wa, Neng."
Kami berbasa-basi sejenak, kemudian ke pokok permasalahan. Aku bertanya perihal siapa yang memberitahu alamat baruku. Terdengar lirih suara perempuan yang selalu aku mintai bantuan itu. Ia mengakui bahwa dirinya yang memberitahu alamat itu.
__ADS_1
Surtyah tidak tega melihat Bianca yang notabene masih koleganya. Tadinya surtyah diminta untuk mengantarkan, bukan hanya atas permintaan Bianca tapi juga kolega dan para tetangga, tapi ia tidak berani. Aku sudah mewanti-wanti jangan sampai ada yang tahu di mana aku tinggal. Memang Surtyah banyak tahu tentangku, ketika ada sesuatu pads Ambu dan Abah kepadanya diri ini bertumpu dan meminta bantuan. Dengan ikhlas teman sekolahku itu membantu.
Kami bercerita banyak, rupanya Bianca depresi sebelumnya, mungkin karena masa mengidam dan hidup sendiri. Tapi setelah mendapatkan alamatku Bianca mulai membaik dan memberanikan diri untuk menyusul.
Aku tertegun sejenak, ah, tiba-tiba saja nurani ini berfungsi kembali. Aku ingin segera mengakhiri panggilan telepon, lumayan lama kami bercerita, tapi tidak menceritakan semuanya yang kulakukan pada Bianca. Hanya memberikan kabar bahwa Bianca akan pulang segera. Surtyah kaget dan mengulik tanya, tapi lidah ini enggan untuk menjawab dan memilih mengakhiri percakapan.
Aku menuju jendela, kemudian menyibak tirai dan membuatku tersentak. Bianca melangkah pelan, seorang satpam membantu membawa tas ke dalam taksi aku segera berlari keluar, sebelumnya sudah melakukan panggilan, tapi tidak ada respon dari satpam yang bertugas, dadaku berdesir hebat entah kenapa nurani ini tiba-tiba langsung bertandang. Aku tidak tahu apakah bianca membawa uang.
"Ah, aku tidak punya hati!" Aku berlari keluar secepatnya dengan napas memburu indah sampai lobby aku menarik napas seraya menunduk dan menumpuk kedua tangan di atas lutut. Rupanya aku terlambat Bianca udah pergi bersama taksi hilang dari hadapanku.
Setelah mengatur napas aku menjawab,"ti-tidak." Dengan suara lirih dan terbata. Seorang satpam itu pun langsung meninggalkanku, terlihat ia kembali menoleh mungkin merasa ada yang aneh atas diriku. Aku masih dengan posisi menunduk dan menumpuk kedua tangan di atas lutut. Aku lelaki konyol yang tak berhati seharusnya tidak melakukan hal ini pada Bianca.
Aku berdiri kemudian mengibas rambut dengan kasar dan mendengus berulang kali. Sesaat kemudian melangkah masuk aku menutup keras daun pintu lalu menjatuhkan diri di atas ranjang. Mataku menerawang di atas langit plafon dengan tangan menumpuk kedua kepala rasanya begitu lelah. Ah, sialan! Sudahlah semua harus aku jalani. Nasi telah menjadi bubur toh, itu yang diinginkan Bianca dan aku terima atas takdirku.
Tuhan masih suka menguji iman ini dengan berbagai cobaan, aku berdiri tiba-tiba saja kembali teringat Clarissa sepertinya ia sudah tiba, mungkin hari ini dari negaranya. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya. Tidak ada salahnya toh dia telah begitu banyak membantuku.
Aku bergegas mandi, membuang semua pikiran tentang Bianca. Yang telah berlalu biarlah berlalu bisa jadi itu juga bukan darah dagingku. Bukan benih ku bianca mungkin licik itulah sebabnya dirinya mengemis tiba akan cintaku, tiba-tiba saja aku kembali membenci entah setan apa tadi yang membuatku merasa iba pada perempuan desa itu.
__ADS_1
Atau jangan-jangan dirinya membawa guna-guna, aku ber kelakar "ada-ada saja!" mungkin ia pikir aku masih sebodoh yang dulu. Kebodohan yang cukup sekali saja tidak akan pernah mengulangi.
Di depan cermin aku tersenyum getir kenapa pernah sebodoh itu, banyak cara untuk meraih surga-Nya tidak dengan menderita di desa. Hidup bersama mantan yang telah menikah dengan orang lain bahkan belum masa idah aku sudah meminang, amazing kebodohan yang membuat aku kembali mentertawakan diri ini Bumi respati sang gigolo yang ingin insaf tapi kembali ke lembah yang sama.
Setelah selesai aku menyambar kunci mobil, segera memacu mobil menuju kediaman Clarissa Santoso tidak ada dendam tidak ada sakit hati, aku ingin menjalin silaturahmi itu saja. Semoga harapanku ia sudah menerimaku, setidaknya bisa menjadi kawan baik. Syukur saja jika bisa bekerja sama kelak nantinya. Sepanjang perjalanan lagu milik Agnes Monica menemaniku. Sesekali aku mengikuti lagu larut dalam suasana menghempas semua pikiran tentang yang tidak penting. Seraya memainkan stang mobil aku mengikuti irama menembus jalanan kota.
Belum juga sampai layar handphoneku di atas jok menyala, mataku melirik ah, rupanya panggilan dari Adie. Entah apa yang ia ingin katakan padahal tadi aku sudah membalas cheat mengabarkan bahwa aku akan pergi ke kediaman Carissa dahulu.
Aku mengabaikan panggilan darinya terlihat ia kembali melakukan panggilan, tapi lagi-lagi aku abaikan.
Aku tidak ingin ada yang merusak rencanaku. Ingin menjalin silaturahmi, pesan WhatsApp berulang kali masuk sama, tapi aku tidak ingin mendengar berita apapun, tujuanku cuma satu hari ini ke rumah Clarissa pastinya wanita itu akan jauh lebih cantik.
Setelah lama tidak bertemu jujur saja ada rindu menyeruak dalam dadaku. Apalah aku Bumi Respati sebelum bertemu dengannya semoga saja Clarisa masih merasakan hal yang sama, aku membutuhkannya kali ini.
Setelah mengenal banyak wanita tidak ada satupun yang seperti dirinya ya, semuanya. Bukan hanya segi finansial tapi juga penampilan ia juga royal. Aku menelan saliva ah, sial! Kenapa mengingat masa itu lagi? Dasar otaku permainan permainan Clarissa kembali bermain dipeluk mata, aku tersenyum seraya mengelus rahang kokoh ini.
Tawaku mengembang mobilku sudah berhenti di depan besi pembatas yang menjulang tinggi disebuah perumahan elite. Aku membunyikan klakson berulang beberapa satpam menatap kepadaku.
__ADS_1