Sang Primadona

Sang Primadona
bab 51 Tidak menyangka bertemu belahan jiwa


__ADS_3

Bab 51


Obat tidur yang selalu konsumsi cukup membuat durasi tidur lama. Hingga terjaga saat sudah pagi, semalaman aku lewati tanpa terjaga sama sekali.


Rasanya begitu ringan tubuhku, dengan bernyanyi kecil menuju kamar mandi. Setelah selesai dan mengenakan pakaian rapi, aku menikmati secangkir kopi sambil menunggu jam yang ditentukan oleh Widya. Rupanya beberapa pesan darinya sudah antri dari semalam.


Widya memintaku mengantarkan ke tempat biasa temannya menjalani terapi sikis. Menurutnya Dimas sedang sibuk hingga tidak bisa mengantarkan dirinya. Aku sudah membalas pesan singkat dan mengiyakan ajakan.


Mataku menatap jarum arloji, kemudian beranjak setelah menyambar kunci mobil. Langsung menuju ke arah praktek Dokter Dimas yang sekaligus tepat diarea belakangnya adalah hunian mereka.


Setelah sampai belum sempat turun dari mobil, Widya Chandra sudah datang mendekat. Secepatnya aku membuka pintu dan Widya langsung duduk di samping kemudi.


"Huuu, tetap saja jam karet!"


Adik angkatku masih seperti yang dulu suka protes, tapi itu yang membuat aku merindukan dirinya. Banyak moments yang kami lewati bersama.


"Kamu yang gak sabaran dari dulu, janji jam berapa? Aku sudah tepat waktu, lho."


"Iya, sih. Tapi aku udah menunggu sejak tadi." Widya tetap maunya menang sendiri.


"Lalu, letak salah ada pada siapa?" Aku mengerutkan kening seraya tersenyum menatap sepasang mata dari balik cadar.


"Tetep, Kak Bumi!" Kami tertawa lepas seketika.

__ADS_1


Selama perjalanan Windya bercerita perihal kehidupannya yang bahagia. Anak kembarnya sering dijemput oleh Ibu mertuanya. Menurut Widya mertuanya masih muda dan Dimas anak tunggal. Itulah sebabnya aku tidak menjumpai anaknya saat bertandang.


Widya banyak mengetahui tentang rahasiaku. Pokoknya semua masalahku dia tahu persis, Windya bertanya perihal Mozza, dia sudah lama los kontak dengan sahabatnya itu semenjak Dimas menjual asetnya. Itu terakhir kalinya Widya berkomunikasi. Mozza menganti semua akun media sosialnya.


Kemudian aku menjelaskan bahwa kami sudah tidak lagi menjalin silaturahmi. Aku jujur mengatakan Mozza sudah terjebak kehidupan glamour. Dan sudah lenyap dari diary milikku.


Begitu juga saat Widya bertanya perihal hubunganku dengan Clarisa. Widya tahu aku tidak bisa move on dari perempuan itu. Lalu aku menjelaskan, bahwa umurku semakin tua dan tidak mungkin akan setangguh keinginan Clarisa yang mempunyai libido seksual berlebihan.


Widya mendukung atas keputusan bulat. Aku ingin mengakhiri petualangan dunia malam. Apa lagi saat Widya memberikan pencerahan bahwa ajal itu seperti ada di samping kita, ke mana pun berada mengikuti langkah mahluk bernyawa. Bagaimana jika mati saat maksiat? Aku langsung istighfar.


Menurut Widya sahabatnya itu orang baik, dia berniat menjodohkan kami. Aku hanya mengiyakan saja. Setelah sampai depan sebuah rumah sederhana, aku membunyikan klakson berulang, Widya segera turun dan mengetuk pintu.


Seorang wanita yang tidak asing olehku ada di sana. Yah, itu Dimitri Vangelis! Hingga mengucek mata, berharap ini bukanlah mimpi dan benar saja itu Mitri terlihat cantik dengan balutan busana muslim.


Belum juga semua tubuh ini menampakan diri, Mitri berlari ke arahku, sambil menyebut namaku. Ia berhambur memeluk erat diri ini, seraya terisak-isak. Membuat Widya mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka kami saling kenal.


Akhirnya kami kembali masuk, Mitri menceritakan semuanya bahwa kami saling kenal. Satu yang menyesakan dada ini, Mitri berharap aku datang membebaskan dirinya dari Bima. Tapi hubungan itu kembali terjadi antara keduanya dan akhirnya membuat Mitri nyaris gila. Mujur Bima tidak memaksanya lagi. Mitri dilepaskan dan memilih menepi, dia sering datang ke tempat kajian dan bertemu dengan Dimas dan Widya. Dari situ mereka bersahabat dan Widya respect terhadap masalah pelik Mitri.


Rupanya Widya juga berteman dengan Bima. Pria itu sering mengikuti kajian, tapi saat Mitri tidak hadir. Bima menitipkan Mitri padanya, sesuai janji aku tidak memberitahu bahwa Bima menyerahkan dirinya padaku.


Setelah lama berbincang, rupanya Mitri tidak tinggal di alamat yang diberikan oleh Bima. Dia lebih suka tinggal di rumah kontrakan sederhana tapi banyak tetangga, membuatnya bisa berbaur melupakan segala lara.


************

__ADS_1


Bulan terlewati, aku sudah tidak lagi menerima panggilan costomer. Bahkan nomor kontak khusus bisnis sudah tidak lagi aktifkan. Demi kesehatan imajinasi fantasi seksual yang terus mencoba menjerumus lagi.


Kesehatan Mitri semakin membaik kami sering nongkrong bareng dan pergi ke tempat tabligh Akbar. Tapi tidak pernah sekalipun aku membahas tentang hubungan ranjang atau mengungkapkan perasaan. Rasanya masih takut mengutarakan, padahal Widya sudah memberikan kode keras. Mereka tidak sabar agar kami meresmikan hubungan, maklum saja Mitri sekarang tinggal seorang diri, setelah Ibunya meninggal kerena kangker darah. Cukup banyak budget yang dia keluarkan bersama ayah tirinya. Utang sana sini dan akhirnya tubuh Mitri dijual demi bisa menutupi biaya.


Sekarang Mitri sudah mau kembali ke rumah yang diberikan oleh Bima padanya, bahkan atas namanya. Itu adalah uang kotrak terakhir yang harus Bima tunaikan.


Aku sering main ke rumah Mitri. Ingin rasanya mengungkapkan isi hati, tapi Mitri sekarang terlihat dingin dan suka mengalihkan pembicaraan saat menyangkut urusan hati.


***********


Entah sangking bahagianya, aku sampai bersujud syukur. Bianca telah melahirkan, Bima mengirim photo bayi lucu. Berserta champion "Bima Junior"


Disusul kabar gembira dari Surtyah. Dia membenarkan bahwa Bianca dan Bima sudah sepakat kembali rujuk. Hingga berkali-kali aku berucap"Nikmat apa yang aku dustakan, ya Allah!"


Sekarang tinggal menata hidupku. Setelah selesai mandi, lalu mengenakan pakaian rapi. Sebelumnya sudah salat istikharah bermunajat kepada-Nya agar keinginan untuk memeluk tubuh Dimitri Vangelis dalam konteks halal diridhai Allah SWT.


Sebelum menutup pintu dan pergi, kembali aku menengadah tangan memohon agar Mitri menginginkan hal yang sama.


Dengan berbekal support dari Dimas dan Widya aku menuju kediaman Mitri, ini kali pertama bertandang malam hari. Biasanya selalu siang, karena Mitri tidak mau menerima tamu malam hari. Bahkan satu saat aku nekat, benar saja Mitri ketakutan dan membuat aku merasa bersalah.


Sejak itu aku selalu menghabiskan siang hingga sore hari di rumahnya. Tapi tidak pernah sekalipun membahas tentang kedekatan kami sebelumnya, Mitri meminta agar aku mengenal dia dengan sosok baru. Bukan Mitri yang sempat tergoda dengan kenikmatannya ranjang sesaat.


Tentu saja aku mengerti dan memahami. Kian hari rasa cinta ini semakin besar. Pesonanya kian memancar, apalagi kemampuannya melafalkan kalimat Allah. Membius Indra pendengaran menenangkan hatiku yang beriman tipis. Bayang fantasi **** perlahan mudah tepis saat mulai menari dalam kepalaku.

__ADS_1


Aku terus memacu mobil, ditemani lirih lagu shalawatan akhirnya sampai juga di depan rumah Mitri. Karena hari sudah petang petugas keamanan sudah mengunci pintu pagar. Aku turun dari mobil dan membunyikan bell. Hingga berulang kali akhirnya Mas Gudel penjaga keamanan rumah Mitri keluar tergopoh-gopoh, wajahnya terlihat heran atas hadirku.


__ADS_2