
Murka
Keesokan harinya.
Matahari menelisik masuk lewat pantulan kaca jendela. Seperti biasanya tirai tidak menutup. Aku terjaga lalu segera membersihkan diri. Hari ini jadwal pertamaku ke apartemen Mozza.
Setelah selesai aku berangkat tanpa memberi tahu Mozza terlebih dahulu.Kabar yang aku dengar ia sudah mengetahui perihal hubunganku dengan Bianca yang berantakan. Bahkan ia juga perihal kini aku telah kembali menjadi Bumi penjaja kenikmatan seperti yang dulu.
Beberapa kali bahkan aku sempat berpapasan dengannya di mall, tapi kami tidak saling bertegur sapa karena saat itu antara aku dan dia sama-sama sedang bersama lawan jenis.
Sesampainya di apartemen miliknya. Aku memencet dobel berulang, tapi tiada tanggapan, hingga akhirnya.
Cekrek! Mozza terperanjat setelah melihat siapa yang menjadi tamunya. Aku tersenyum sinis melihatnya.
"Bum! Ngapain kamu? Ngapain datang tanpa permisi!" hardiknya seraya mendorong dadaku keras.
"Kenapa harus permisi!" balasku seraya nyelonong masuk setelah mendorong tubuhnya agar memberikan jalan.
"Jangan masuk kamarku lagi!" Mozza menarik lenganku. Sekali lagi refleks mendorong tubuh Mozza agar menyingkir dari hadapanku.
"Ya, Tuhan!" Seketika mataku terbelalak melihat bahwa benar apa kata Adie Mozza bukanlah perempuan yang seperti aku elukan sebelumnya. Berkali-kali umpatan keluar dari bibirku tanpa lagi bisa ketahan.
"Dasar! Perempuan ******. ****** teriak ******! Sok suci. Rupanya kamu lebih kotor dari aku, Mozz!" Aku gusar seraya menunjuk jari ke wajahnya. Bukannya melunak justru ia semakin garang saja, bahkan berulang kali menarik kasar Hoodie yang membalut tubuh ini.
"Kamu, bajingan!"
"Apa, hah! Aku sudah tahu kamu seperti ini, paham!" Mozza sejenak tertegun mendengar penuturan dariku. Wajahku terasa remang, rahang ini gemeretak. Tanganku mengepal, ingin rasanya memberikan bogem wajah seorang pria dihadapan ini. Ia masih saja bersikap biasa saja. Dengan santainya mengemasi pakainya yang jatuh berserakan di lantai.
"Keluar! Kamu jauh lebih menjijikkan!"
Entah apa saja yang keluar dari bibir Mozza. Ia justru tidak kalah tajam mengumpatiku dengan cacian juga makian.
Sementara pria muda itu tampak santai seperti menikmati pertengkaran antara kami. Aku mengungkit soal kenapa ia datang ke desa lalu menghasut Bianca. Akan tetapi jawabannya membuatku sedikit melunak.
__ADS_1
"Enak saja! Kamu meninggalkan utang setumpuk padaku, lalu enak-enakan di desa bareng perempuan kampung, itu!" serangnya.
Aku kembali tertegun sejenak. Rasanya lidahku kelu, yah. Memang benar, utang wedding waktu itu diriku lepas tangan, tanpa lagi mau menerima panggilan telepon darinya. Hingga Mozza akhirnya yang harus membayar tagihan semuanya dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Mozz ...."
"Ayo. Apa! Hah, jawab! Mau ngomong apa? Kamu yang membuat diriku juga jatuh ke lubang yang sama sepertimu. Paham! Kamu .... Bum," tangis Mozza seketika pecah membuat dadaku berdesir hebat. Darah yang tadi mendidih kini redup. Mata ini seketika teduh menatap wanita dengan gaun malam yang tipis bahkan, menampakan warna dalamnya, gaun tidur transparan itu tidak lagi sempurna menutup tubuh sintalnya. Tubuh yang dulu bercumbu dan puja akan permainannya saat melayaniku.
"Mozza ...." Ingin aku memeluknya, tapi sayang ...
"Hey, Broo! Cukup!" Pria itu mendorong tubuhku dengan keras agar menyingkir dari hadapannya.
"Jangan ikut campur!" Aku menghardik seraya menampar tangannya agar lepas dari leherku.
"Tolong keluar, atau aku kasar!" Tubuhku di dorongnya dengan kasar hingga keluar dari pintu. Sementara Mozza terkulai di lantai, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sial!" Aku mengumpat berkali-kali. Kasihan juga padanya hingga terjerembab dalam limbah dunia prostitusi gara-gara aku. Bagaimana pun ia pernah menjadi pemilik hatiku, tidak terasa air mataku menggenang nyaris saja mengelinding. Aku bergegas keluar apartemen.
Mengapa aku menjadi pria yang suka menyakiti hati perempuan? Pertanyaan itu menggerayangi otakku. Tiba-tiba saja aku kembali teringat saat Clarisa mengemis cintaku. Tapi apa? Aku menganggap dia hina, jijik menyeruak dalam bilik hatiku kala itu.
"Huff!"
Seorang pria muda sedang tadi bersama Mozza dalam keadaan setengah bugil, kembali bermain menjejali otak ini. Kenapa tidak menghadiahi bogem mentah keduanya?! Ah, untung saja otakku masih bisa berpikir jernih. Aku bisa mengendalikan emosi, menahan amarah sekuat tenaga. Untung saja, hanya akan merugikan diriku sendiri.
Sesampainya di apartemen.
Aku terkejut dari kejauhan terlihat olehku seorang wanita dengan rambut sebahu berbincang dengan Satpam di lobi. Aku turun dengan tergesa. Rahang ini gemeretak menahan emosi.
Sesampainya, "Ada apa? Kamu datang, Bi? Bukankah aku pria menjijikkan, hah!" hardikku sesaat setelah satpam sudah meninggalkan kami berdua.
"Bum ...." Bianca menyebut namaku lirih seraya akan meraih pucuk jemari ini, tapi aku empas kasar.
"Jangan pernah sebut namaku!"
__ADS_1
"Bum, aku ...." Bianca mengiba seraya memeluk perutnya. Wajahnya tertunduk.
"Jangan menyentuh kulitku! Enyalah dari hadapanku!" Suaraku meninggi.
"Bum, a-a-aku," Bianca terbata. Wajahnya pucat postur tubuhnya terlihat lebih kurus.Tanpa perduli aku menarik lengannya untuk masuk ke dalam apartemen agar tidak menarik perhatian orang, bisa merusak citraku saja!
Sesampainya di dalam aku menghempas lengannya. Hingga ia nyaris terjatuh di sofa. Ada duka di sudut netranya tapi tidak membuatku luluh.
"Ayo, katakan! Apa maksudmu datang? Bukankah kamu bisa menitip pesan pada yang lainnya?Agar disampaikan padaku!"
"A-a-aku ...."
"Bagaimana jika ada yang tahu? Bahwa kamu ...."Aku tidak meneruskan ucapanku, rasanya muak dengan sebutan itu. Lagian Bianca tidak layak bersanding denganku. Bumi Respati sang primadona. Dalam hati aku mencibir penampilannya yang tidak modis, jelaslah bukan seleraku
"Bum ... a-a-aku." Bianca terbata tidak melanjutkan ucapannya, entah apa maunya, sejak tadi hanya terbata. Mungkin ia sudah menyesali keputusannya. Kami saling berhadapan, tiada lagi damai antara kami.
"Katakan cepat! Apa? Atau satpam akan mengusir!" ancamanku seraya mendorong keras tubuhnya hingga terjatuh di sofa.
"Bum. Kamu jahat!" Bianca tertunduk, lagi dan lagi memegangi perutnya. 'Bangsat! Perempuan sama saja, munafik.'
"Iya. Haaa .... Haaa, Bumi Respati memang jahat! Karena apa? Hah. Karena ulah kamu sendiri, BI," kelakarku seraya memegang kedua rahangnya. Wajah kami tanpa sekat, hingga bertukar napas.
Rasanya lega telah membalas dendam. Atas apa yang diucapkannya dulu hingga aku merasa sangat hina. Mengapa begitu susah untuk menerima masa kelam toh itikat yang sudah aku tunjukan sangat luar biasa pengorbananku meninggalkan semua gemerlap, teman yang akan mempengaruhi imanku. Tidak berarti apa-apa baginya, saat aku mengiba, hal yang tidak seharusnya aku lakukan Bianca tetap kukuh.
Aku melepaskan cengkraman rahangnya. "Bum .... Aku hamil," katanya membuyarkan amarahku seketika.
"Apa?"
"Bum ...."
"Katakan sekali lagi!" bentak ini, rasanya tidak percaya saja.
"Iya---" Bianca memeluk erat perutnya.
__ADS_1
Seketika jantungku berdebar kencang mendengar penuturannya. Bianca kini telah hamil, ia memohon padaku agar memberinya maaf dan kembali ke desa. Rujuk, kemudian membina rumah tangga demi janin yang dikandungnya. Buah cinta kami katanya.
Bianca berjanji tidak akan mengungkit masa laluku dan ia sudah menerima dengan ikhlas untuk kali ini. Aku tersenyum kecut menatap wajahnya dan janin yang dikandungnya.