Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 06 Tentang Harga Diri Laki-laki


__ADS_3

Tentang Harga Diri Laki-laki


Ding ... dong!


Kembali suara dorbell berbunyi, berulang dan terus diulang.


Cekrek!


Aku segera membuka pintu, sembari mengucek mata yang masih enggan terjaga. Tampak seorang pria berpakaian seragam mengulurkan buket bunga mawar merah padaku.


"Dengan Bapak Bumi Respati?" Pria itu bertanya padaku sembari membaca kartu nama di buket indah itu.


"Iya, saya," jawabku singkat ada rasa heran di benakku.


"Bisa, tanda tangan di sini Pak?"


"Iya," jawabku singkat lagi sembari meraih ballpoint dari tangannya.


"Terima kasih, maaf sudah mengganggu jam istirahat anda." Pria itu pun lantas berlalu.


Aku pun segera masuk sambil memeluk buket bunga mawar merah, terlihat sekilas olehku nama si pengirim membuat jantung ini berdegup seketika dan wajah ini memanas.


Clarisa Santoso mengirimkan buket mawar merah dan bertuliskan Happy Birthday to: Bumi Respati dan kata bijak tampak mengikuti. Rupanya wanita cantik itu masih mengingat saat ia bertanya tanggal dan bulan lahirku saat pertama kali bertemu di cafe.


"Wah, ngak lama lagi ulang tahun, dong," ucapnya malam itu.


Aku hanya mengelus dada dan sedikit menyunggingkan senyum menatap dalam bola mata indah itu.


******


Aku pun meletakkan buket mawar itu di atas meja dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Lumayan lama aku membersihkan diri, saat keluar tampak Adie Permana sudah terjaga dan menyambut kedatanganku dengan wajah semringah.


Prok ... prok ... prok!


Ia bertepuk tangan sembari tertawa kecil. Kemudian Adie mulai berkelar. "Haaa ... haa ... aa! Selamat kawan. Kamu mujur."


Sesekali ia tampak mencium buket bunga mawar merah yang tergeletak di atas meja yang menebarkan aroma harum memenuhi ruangan.


"Selamat, apa sih, Die?"


"Selamat, lo bisa membuat hati Clarisa Santoso, benar-benar jatuh cinta, Brooooo!"


"Ha ...!" Mataku sontak membulat.


"Jatuh cinta? Sama aku, Die?" tanyaku bingung.


Aku merasa tidak paham dengan apa yang diucapkannya.


"Ya, iyalah. Haa ... haaa!"


"Nih, gue kasih tahu. Clarisa Santoso itu wanita sosialita kelas elit. Dulu aku pernah mencoba mendekatinya, tapi nihil, dan kamu yang aku gadang memang mampu menarik hatinya."


"Apaan, sih ...."


"Kamu selera dia. Brooooo!"


Aku masih belum paham atas apa yang di ucapkan Adie tadi.

__ADS_1


"Ah, tauk ah!" balasku sambil mengenakan pakaian.


Aku pun menuju ranjang tingkat yang kami gunakan tidur, lanjut melipat selimut dan bad cover yang berantakan bahkan nyaris jatuh ke lantai.


Lalu Adie bergegas masuk ke dalam kamar mandi terdengar ia bernyanyi-nyanyi kecil. Lumayan lama kemudian ia keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan underpants.


"Auh!"


Adie seketika menangkap handuk yang aku lempar ke wajahnya dengan tertawa kecil.


Ia pun mengeringkan tubuhnya di depan cermin.


Ding ... dong!


Suara dobel kembali berbunyi berulang kali. Aku segera beranjak dan menuju ke arah pintu, kemudian membukanya, tampak seseorang mengantarkan pesanan catering. Aku pun meraih kemasan dari tangan pria berseragam ojek online itu.


"Makasih, Mas," kataku.


"Oh, Mas. Sini dulu!" panggil Adie sembari berjalan ke arah pintu.


"Kenalin ini temanku, Bumi Respati namanya. Orang desa, Mas. Baru sekitar satu bulan ia tinggal bersamaku, jadi jika mengantar pesanan lagi berikan saja padanya," jelas Adie panjang lebar.


Aku melempar senyum pada tukang ojek online itu. Pria itu sontak mengangguk tanda mengerti kemudian ia berpamitan.


"Udah, makan aja duluan, aku mau ngopi dulu," pamit Adie meninggalkan aku di meja makan.


Adie kembali dengan dua cangkir kopi panas di tangannya. Sementara aku memilih untuk menyantap makanan delivery tadi karena hari sudah siang dan perutku sudah lapar.


Tampak Adie memainkan benda pintarnya, sembari sesekali menghisap dalam rokok di antara celah jemari tangannya.


Setelah selesai makan aku bersiap untuk keluar, karena akan kembali mencari lowongan pekerjaan seperti hari-hari sebelumnya.


Aku sudah merasa tak enak, malu rasanya berdiam diri di apartemennya tanpa kembali berusaha mencari pekerjaan. Akan tetapi langkah kakiku seketika terhenti oleh cengkraman keras Adie , ia memegang lenganku sembari berkata.


"I just give a solotion!"


Aku membisu menatapnya.


"Masih ingat dengan tawaranku?"


Aku hanya tertunduk lesu, sudah nyaris satu bulan aku di Jakarta, mencari pekerjaan from dor to dor tapi masih saja nihil.


Sementara pesan masuk dari Neng Surtiyah lewat hanpone terus bergetar pesan masuk mengabarkan bahwa kesehatan Ambu memburuk dan butuh biaya untuk berobat ke Rumah Sakit di kota.


Ambu tidak meminta untuk mengabarkan padaku, tapi semua inisiatif dari Neng Surtiyah karena waktu itu aku sudah berpesan padanya agar selalu memberi tahu keadaan kedua orang tuaku.


"Aku mau berangkat, tolong titip Ambu dan Abah, jika ada sesuatu pada mereka tolong kabari aku secepatnya," pamitkku waktu itu sembari meminta nomor kontak miliknya.


Setelah Adie membelikan handphone segera aku menghubungi nomornya, beberapa hari lalu. Maklum saja di desa masih jarang warga yang bermain handphone di karenakan sinyal yang kurang bagus karena tempat tinggal daerah perbukitan sangat jauh dari kota.


******


Aku sangat bingung dan akhirnya mulai tertarik dengan tawaran Adie, yang sedari awal pertemuanku dengan Clarisa Santoso ia sudah menawarkan jasa itu, tapi aku seketika menolak keras.


Walau Adie sudah menjelaskan detail dan akan mengikat kontrak tentu nominal atas persetujuan dariku jika mau.


"Ah. Aku gak bisa ngelakuin hal seperti itu, jika tidak dengan istriku kelak, Die!" tampik ini kala itu.

__ADS_1


"Ah, sok suci!" Adie mencibir.


"Aku akan menjaga kesucian," ucapku.


"Try to think again," kata Adie penuh penekanan sembari mengangkat kedua bahunya kala itu.


(Coba kamu pikirkan lagi)


Aku seketika kembali duduk di atas ranjang lalu menundukkan kepala dan berseru seraya bangkit.


"Life is money!"


( Hidup adalah uang)


"Yes! Aku terima tawaran Clarisa Santoso!" teriakku dengan nada mantap.


"Ah, seriusan?!"


Sontak mata Adie membulat, lalu aku meraih dan menjabat tangan Adie. Menyetujui tawaran menggiurkan darinya sejak awal.


"Iya---"


"What do yo think?" tanya Adie sembari mengerutkan keningnya menatapku.


(Apa yang kamu pikirkan?)


"Entahlah ...."


Sejenak kembali aku termenung atas keputusan yang baru saja disepakati. Menjadi pelayan hasrat seksual wanita sosialita agar mudah mengais pundi-pundi rupiah. Seperti yang Adie lakukan selama ini.


"Kamu dapat uang, kamu dapat kenikmatan. You laki-laki, Bum! Bebas tak berbekas."


Sedikit senyum tersungging di sudut bibirku yang coba aku rekatkan sempurna walau terasa kaku dan sakit, mendengar penuturan Adie Permana tadi.


Namun, apa daya ini kehidupan Metropolitan menghalalkan segala cara, hal biasa bahkan sudah lumrah tanpa rasa tabu walau banyak mata yang tahu profesi kami.


"Jadi besok aku akan menemui Clarisa Santoso di kantornya untuk membicarakan nominal kontrak kamu."


"Iya---"


"Jangan berubah pikiran, ya!" kelakar Adie sembari menunjuk jari ke hidungku.


Plakk!


Aku menepis tangannya dengan keras agar menyingkir dari hadapanku. Kemudian ia kembali berkelakar.


"Remember the pride of your parents."


(Ingat harga diri kedua orang tuamu)


"Entahlah ...."


"Apa tujuanmu datang ke Jakarta? Hah!" bentak Adie lagi.


"Iya! Iya! Hah. Aku sudah memikirkan hal ini masak-masak!" takasku dengan notasi emosi sembari menjambak rambutku rasanya akan pecah saja.


Adie kini begitu fasih berbahasa Inggris, untung saja aku sedikit paham dengan apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


Karena di sekolah dulu aku pernah menjadi pemandu wisata di tambah lagi setiap hari mendengar celotehnya dalam bahasa Inggris.


Kami pun berjabat tangan tanda kesepakatan atas tawaran menggiurkan darinya sedari awal kedatanganku.


__ADS_2