Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 13 Demi Halal


__ADS_3

Demi Lebel Halal


Kenangan tentang cinta yang tulus, sejati, yang selama ini membuat nurani masih bertahta telah aku tinggalkan seiring roda mobil melaju kencang menembus jalanan Kota Metropolitan Jakarta.


Sementara masih posisi dalam perjalanan segera aku menghubungi Widya Chandra. Rupanya ia sedang berada di rumah, aku terus memacu kecepatan mobil dan akhirnya sampai juga.


Tit ... tit ... tit.


Tampak Widya Chandra keluar saat mendengar suara klakson mobilku sudah berada di halaman depan rumah. Ia pun keluar menyambut kedatanganku dan mengembalikan kunci yang aku titipkan padanya.


Aku bertanya perihal apakah sudah mendapat informasi lowongan pekerjaan, tapi ia belum memberi kabar gembira, akan tetapi setitik harapan ada pada Dimas Anggara Prayoga, ia membutuhkan karyawan karena salah satu karyawan yang paling ia percaya akan mengambil cuti untuk beberapa bulan ke depan.


"Ya, sudah sebentar malam kita hangout di kafenya sekalian memperjelas, Bum!" seru Widya Chandra sesaat sebelum pamit kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Iya, semoga itu rejeki aku, Wid," balasku sambil melenggang menuju ke dalam rumah.


"Iya, semoga kamu masuk kriteria dia, juga. Bum!" sambung Widya Chandra kemudian lenyap dari pandanganku.


Aku hanya bisa mengamini ucapannya dalam hati. Setelah masuk ke dalam rumah segera aku bergegas masuk ke dalam kamar kemudian merebahkan diri di atas ranjang. Rasanya begitu letih menempuh perjalanan seorang diri. Aku teringat Ambu dan Abah kemudian segera untuk menghubunginya lewat aplikasi telepon mengabarkan bahwa anaknya sudah sampai dengan selamat, terdengar suara Ambu dan Abah bergantian di ujung telepon mengucap syukur dan berbicara padaku, sekarang mereka tidak perlu lagi ke rumah Neng Sutiyah jika ingin mengetahui kabar tentang anaknya, karena satu buah Aplikasi telepon seluler aku belikan juga untuk mereka, guna mempermudah melepas kerinduan jika sewaktu-waktu didera rindu ingin mendengar suaraku.


Setelah selesai berbicara panjang lebar dengan Ambu dan Abah aku menutup pembicaraan, dan segera beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri agar rasa penat segera lenyap dari tubuhku. Setelah itu segera tunaikan kewajiban sebagai hamba Tuhan.


Kemudian aku merebahkan diri di atas ranjang rasanya tubuh ini sudah fresh. Tidak terasa kantuk yang bergelayut di pelupuk mataku pun menghantarkan lelap tidurku, hingga tidak terasa saat terjaga jam sudah menunjukkan pukul di mana aku harus melaksanakan salat fardhu Azhar.


Setelah selesai tiba-tiba saja mataku di kejutkan oleh panggilan Video call dari Clarisa Santoso. Dengan tangan bergetar dan dada bergemuruh hebat, aku memutuskan membiarkan panggilan Video call itu berakhir dengan sendirinya, hingga ia kembali mengulang untuk beberapa kali tapi tetap saja aku tidak ingin kembali menjalin komunikasi lagi dengannya.


Selang beberapa waktu kembali aplikasi WA telepon seluler milikku bergetar segera aku meraih dan membacanya dan rupanya dari Adie Permana, ia mengajakku untuk hangout sebentar malam, akan tetapi segera tampik dan membalas pesannya bahwa ia terlambat mengundang karena aku sudah ada jadwal hangout bareng teman.


Tampak ia pun membalas dan memaksakan diri, tapi aku tetap pada pendirian tidak akan menjalin hubungan yang akrab seperti dulu lagi dengannya, itu semua demi niat tulus batin ini ingin bertobat dan mencari pekerjaan dengan cara halal walau entah dengan hasil yang maksimal atau tidak.


Setelah selesai bakda Isyak aku pun keluar untuk menemui Widya Chandra dan mengajak berangkat untuk hangout bareng.


Tok ... tok ... tok.

__ADS_1


"Baru saja, mau nemuin Kakak!" seru Widya Chandra sesaat setelah membuka pintu, tampak ia sudah mengenakan dress kasual dan simpel tidak lupa laptop yang akan selalu menemaninya jika hangout.


"Berarti, udah siap nih?"


"Udah dong, Kakakku," sahutnya sembari mengunci pintu.


"Lest go!"


"Semoga Kakak menjadi kriterianya Mas Dimas Anggara Prayoga, deh. Kakak keren malam ini." sambungnya sambil melirik padaku sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.


Aku hanya berdandan kasual dengan balutan t-shirt denim dengan kemeja berbahan senada melekat di tubuhku yang sixpack lumayan membuatku cool and fresh setelah menempuh perjalanan jauh tanpa beristirahat.


Sesampainya di cafe dan kami pun mengambil posisi duduk ternyaman dengan dua gelas minuman Ice Bland Strawberry dan Ice Bland Coffee juga menu pendamping untuk menemani hangout malam ini pesanan dari Widya Chandra.


Setelah lumayan lama tampak dari kejauhan Dimas Anggara Prayoga berjalan menuju ke arah kami. Akhirnya ia pun gabung duduk bersama kami dan bercerita panjang lebar. Ah, sialan rupanya karyawannya tidak jadi mengambil cuti sementara. Itu berarti tidak ada lowongan pekerjaan untuk aku.


"Maaf, Bum. Aku gak bisa membantu," katanya dengan raut wajah lesu.


"Udah, Mas gak apa-apa, kok," sahutku.


"Thanks Kak, Bum," ucapnya tadi setelah keluar sembari menutup pintu mobil.


"Hemm ...."


Aku hanya mengumam kemudian masuk ke dalam rumah dan segera merebah diri di atas ranjang. Seketika mataku terlelap dalam kantuk yang sedari tadi bergelayut. Keesokan harinya aku di kejutkan dengan suara dobel berbunyi berulang kali. Tidak seperti biasanya jika Widya Chandra ia akan mengetuk pintu.


"Huh, siapa sih," rintihku seraya berjalan gontai menuju pintu.


Cekrek! Mataku membulat sempurna.


"Ah, kamu lagi ... Die?!"


Tampak Adie tertawa lepas dan langsung nyelonong masuk dan duduk di atas sofa ruang tamu sembari mengokang kakinya, kemudian menyalakan sebatang rokok dan menyelipkan di celah bibirnya.

__ADS_1


"Gitu amat, sih Bum!"


"Ada apa, lagi sih?" Aku kembali bertanya padanya.


Akan tetapi ia hanya menggaruk kepala dan mengerutkan keningnya mengamati ruangan rumah sederhana yang menjadi hunian saat ini.


"Yakin lo, atas keputusanmu, Bum?" Adie Permana bertanya padaku tanpa menjawab pertanyaan dariku tadi.


"Huff ...." Aku membuang napas dan duduk di sampingnya.


"Aku akan mencoba dulu, Die," kilahku.


"Kerja apa? Hah!" tampilnya penuh penekanan.


"Huh ... huff!" Kembali aku menarik napas dalam-dalam dan melepaskan keras. Aku kesal baru saja terjaga sudah di hadapkan dengan pertanyaan yang sangat menyudutkan dan membuatku nyaris menyerah. Bagaimana tidak dengan ijazah yang aku miliki tentu hal sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi menurut penuturan Adie Permana.


"Aku mau kerja jadi Resepsionis dulu, Die," jelasku padanya.


"Hah! Apa? You stupid!" Seketika ia berdiri dan berkacak pinggang di hadapanku.


Akan tetapi itu sudah menjadi keputusanku yang tidak bisa di ganggu gugat lagi, hanya itu lowongan pekerjaan di cafe milik Dimas Anggara Prayoga tadi, dan aku mengambil pekerjaan itu walaupun Dimas sudah sempat melarang tapi aku butuh pekerjaan apapun itu asal halal.


"Sudahlah, Die ...."


"Haha ... haa ... Bumi, Bumi!" ejek Adie sembari tertawa kian meninggi.


Aku hanya tertunduk tanpa sepatah kata atas ejekannya, menurutku percuma saja berdebat dengan orang yang tak lagi paham lebel halal sepertinya hanya materi saja dalam benaknya.


"Ah, Die!"


"Kamu tahu? Berapa gaji Resepsionis cafe?! Hah!" teriaknya sesat kemudian ia pun bergegas tanpa permisi lagi.


Aku pun sejenak termenung dan kembali menjatuhkan diri duduk di atas sofa dengan tangan mengepal, ingin saja memecahkan meja kaca yang berbeda di depanku agar lepas beban dilema yang kini bergelayut dalam benakku.

__ADS_1


"Sialan!" teriakku sembari menjambak rambutku dan menengadah ke langit-langit ruang tamu.


__ADS_2