Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 15 Membuka Lembaran baru


__ADS_3

Membuka Lembaran Baru


Tok ... tok ... tok.


"Kakak!"


Tok ... tok.


"Kakak!" panggil Widya Chandra dari luar pintu


Ding ... dong!


Kembali suara dobel berbunyi berulang


"Haduh, nih bocah gak sabar amat, sih! Aku menggerutu sambil bergegas menuju arah pintu dan segera membukanya.


"Astaga!"


"Kakak, jorok! Haisk!" teriak Widya Chandra sembari menutup wajahnya dengan kedua jemari tangannya, saat melihat aku keluar hanya dengan berbalut handuk dan bertelanjang dada dengan busa yang masih memenuhi kepala juga tubuh.


"Habis, orang masih mandi kok. Gak sabar sih, berisik tauk!" timpalku ketus seraya membenahi handuk yang melilit bagian vi**tal kemudian kembali masuk dan membiarkan ia menunggu di depan pintu.


"Udah, di sini saja!" perintahku.


"Husz, sana!"


"Jangan nyelonong masuk!" ancamanku seraya menunjuk jari ke arah hidungnya.


"Hiksz! Enak saja, huuuu," balasnya kesal kemudian membelakangi dengan melipat kedua tangannya.


"Janji, ya!"


"Buruan, ya!" perintahnya padaku.


"Bawel," teriakku dari dalam kamar mandi.


Setelah selesai aku bergegas dan segera mengenakan pakaian hanya dengan dandanan kasual sederhana karena hari ini aku dan Widya Chandra akan pergi melihat-lihat tempat yang strategis untuk memulai usaha.


"Udah boleh, masuk gak?!" Widya Chandra bertanya dengan nada sedikit keras.


"Tunggu!"

__ADS_1


"Capek tahu!" imbuhnya lagi.


"Iya, geh masuk!"Perintahku


Ia pun masuk dengan santai dan matanya mengamati sekeliling ruangan apartemenku. Kemudian ia menjatuhkan diri ke atas sofa.


"Nyaman banget ...." celetuknya.


Aku hanya tersenyum kecut menatap ke arahnya, ia cantik modis walau sederhana selalu mengenakan pakaian feminim, tetapi sifatnya berbanding terbalik ia cuek bahkan terkesan tomboi tanpa polesan makeup yang mencolok sudah cukup membuat paras ayu itu bercahaya dan tidak membosankan ditambah lagi pribadinya yang supel ramah dan tidak pemalu membuat aku semakin nyaman padanya.


"Udah, ayok!" ajakku sembari menarik tangannya dengan lembut.


"Iya, sabar dong, hiksz," timpalnya seraya meneguk tandas just lemon yang masih tersisa di dalam gelas berkaki tinggi yang aku suguhkan tadi padanya. Segera ia berlari kecil menyusul setelah itu.


Akhirnya kami pun berangkat menyusui jalan kota dan mampir ke beberapa tempat yang sudah membuat janji pertemuan dengan kami sehari sebelumnya. Akhirnya salah satu tempat yang menurut kami berdua cocok dan strategis pun sudah kami putuskan dan sekaligus nego kontrak. Lumayan melelahkan seharian kami berdua panas-panasan dari tempat satu berpindah ke tempat lainnya.


Aku tersenyum lepas menatap Widya Chandra yang sedang mengusap peluh yang membasahi wajahnya mengunakan tissue, dengan posisi tangan menyilang di atas setir mobil aku mengucapkan terima kasih padanya.


"Wid, terimakasih atas bantuan kamu selama ini."


"Ah, biasa aja, Kak," jawabnya singkat sembari kembali mengambil tissue.


"Udah, ke warung Padang, yuk. Aku lapar banget nih," ajaknya.


"Gitu amat menatapnya," godanya saat melihat aku masih menatapnya penuh sayang.


"Iya, adikku," jawabku singkat sembari menyalakan mesin mobil dan memacu ke arah warung makan request darinya.


Sesampainya kami pun mengambil posisi duduk di antara ramainya pengunjung yang lain, setelah sebelumnya sudah mengambil menu sesuai selera karena warung makan prasmanan.


Dengan lahap Widya Chandra menikmatinya hingga tandas tak menyisakan sebutir nasi pun di piringnya begitu juga dengan aku, rasa kini lega dengan segelas es teh menambah kesempurnaan makan siang kami.


Setelah selesai aku pun segera mengantarkan Widya Chandra ke rumahnya karena ia tadi datang ke apartemenku mengungkapkan jasa ojek online yang biasa mengantarkan ia pergi hingga menjemput saat pulang pulang kerja.


"Makasih, Kak."


"Emang yakin, gak mampir dulu?" tanyanya padaku saat aku langsung berpamitan padanya.


"Gak, Wid. Akak masih ada janji sama klien sebentar malam, jadi mau rehat sejenak biar fresh sebentar malam," jawabku sembari mengacak rambutnya dan bergegas masuk ke dalam mobil.


"Hiks... hiks!" dekusnya.

__ADS_1


"Gih, masuk, sono!" perintahku sesaat sebelum masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.


"Iya---"


"Jangan cemburu, ya!" Aku mengejek.


"Enak saja!" teriaknya.


Tin ... tin ... tin.


Tampak ia pun tersenyum dengan melambaikan tangannya di depan pintu saat suara klakson mobilku berbunyi dan meninggalkan halaman rumahnya untuk kembali pulang.


Sesampainya di apartemen aku segera membersihkan diri dan beristirahat merebahkan diri di atas ranjang tidak terasa mataku pun terlelap dalam kantuk saat terjaga jam sudah menunjukkan jadwal pertemuanku dengan seorang klien tak lama lagi.


Aku pun segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri, kemudian berdandan agar membuat mata wanita sosialita itu terpesona oleh kharisma diriku dan akan menambah uang tips yang lumayan besar di samping jasa servis yang sudah aku patok.


Mobil pun aku pacu secepatnya ke arah sebuah hotel tempat yang kami sepakati sebelumya. Aku pun turun dan menemui wanita itu yang sudah menantikan kehadiranku dengan deretan menu istimewa memenuhi meja dinner. Tampak wanita paruh baya itu pun tersenyum manis padaku sembari menyeringai tajam seakan tak sabar ingin segera memangsa diri ini dengan liar.


"Hay, Sayang ...." kataku seraya memeluk pinggulnya.


"Oh, me God. Bumi Respati?"


"Yess."


"Aku Irene."


"Waoooow, cantik dan seksi seperti namanya."


Irene mengamati penampilanku dari kaki hingga kepala, yang berbalut fashion branded dengan harga fantastis setimpal dengan harga yang harus ia keluarkan untuk jasa sekali dinner plus servis bersamaku.


Setelah basa-basi dengan bualan yang menjijikkan keluar dari bibirku yang tak lagi dengan kesadaran penuh kami pun menuju ke kamar yang sudah Irene boking sebelumnya. Tampak mawar merah si romantis di atas meja dan di rangka pada tiang tempat tidur membuat suasana semakin memacu adrenalin pria manapun. Permainan dan binal klien bisa diriku imbangi dengan sempurna akhirnya dengan tips tambahan karena kepuasan yang klien dapatkan.


Dengan bayaran fantastis yang sudah berada di tangan aku pun berpamitan pada Irena dengan penuh rayuan maut yang membuai dan bualan yang menjijikkan keluar dari bibirku yang menguarkan aroma alkohol. Tentu saja akan membangkitkan gai**rah kaum hawa peni*kmat jasaku, Irene pun memuji kinerjaku dan ingin kembali menikmati jasaku lagi.


Aku pun selalu menanti panggilan darinya tuturku sembari membuainya dengan gombalan. Tentu saja wanita seperti ini yang akan menjadi ladang empuk yang siap dikeruk hingga ludes demi memuluskan targetku.


****


Aku pun memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Sesampainya dengan langkah sedikit sempoyongan dan baju yang tidak lagi rapi aku masuk ke dalam apartemen dan segera merebahkan tubuh ini di atas ranjang tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Rasanya begitu lelah, sakit di sekujur tubuh ini bak habis bertinju saja hingga mataku pun tak lagi mampu menahan kantuk dan tertidur pulas hingga tersadar saat hari sudah siang dan handphone di sampingku bergetar berulang kali segera kuraih dengan mata yang masih enggan terjaga.


"Huh!" rintihku sembari menggeliatkan tubuh.

__ADS_1


"Oh, Ambu," gumamku dalam hati saat melihat nomor kontak yang masuk.


Rupanya Ambu bertanya perihal kapan kedatanganku karena renovasi rumah yang belum selesai total. Aku pun memberi tahu bahwa akan segera mencari waktu senggang untuk segera pulang.


__ADS_2