
Tak ku sangka wanita cantik itu kemudian duduk tepat di sebelah ku. Kemudian dia tersenyum sambil bertanya,
"Mbak tujuannya mau kemana?" tanyanya.
"Ngg... anu, saya sebenarnya baru pertama kali ini ke kota. Saya berencana mau melamar pekerjaan. Tapi saya belum tahu mau kemana." jawabku jujur.
__ADS_1
Dimulai dari perbincangan kami itulah akhirnya kami berkenalan. Namanya Yuli, usianya 20 tahun, hanya terpaut 2 tahun lebih tua dariku. Dia juga ternyata hendak mencari kerja. Bedanya, dia sudah punya alamat orang yang akan membantunya melamar kerja. Dan saat ini ia sedang menunggu jemputan. Akupun diajak ikut dengannya. Dan aku memberanikan diri bertanya tentang wajah cantiknya yang penuh riasan namun terlihat anggun.
"Oohh ini... Iya saya dulu di kampung sering ikut bibi merias pengantin. Sedikit-sedikit saya belajar, akhirnya bisa sendiri deh. Hehee. karena modal bisa merias inilah aku ditawari pekerjaan di kota ini El." jelasnya padaku.
Aku hanya manggut-manggut sambil memandang dengan kagum. Kami akhirnya sampai juga di rumah orang yang dimaksud Yuli. Aku dikenalkan juga, orang tersebut minta dipanggil Mami Luna. Yang sebenarnya dia seorang waria. Entah siapa nama aslinya, aku tidak ingin mengorek lebih dalam. Siang itu kami diizinkan beristirahat di rumah Mami Luna untuk kemudian sore nanti kami akan diajak ke tempat kerja yang dimaksud. Menurut Mami Luna kerjanya adalah MUA (make up artist).
__ADS_1
"Oke Yuli dan Eli malam indang kita mawar dendong ini pewong-pewong centes eiimm..." kata Mami Luna dengan bahasa ala kaumnya.
Kami mengangguk tanda mengerti. Di hari pertama itu kami berdua hanya jadi helper Mami Luna. Kami memperhatikan cara kerja Mami, teknik, dan stepnya. Aku baru tahu kalau yang kami rias itu adalah sekelompok sexy dancer yang malam itu akan tampil sebagai pengisi acara karena malam itu adalah ladies night. Semua istilah-istilah asing yang aku tau dari Mami Luna. Selesai kami merias, Mami mengajak duduk di lounge. Sepertinya di luar langit sudah mulai gelap. Ruangan yang tadinya saat kami datang terlihat relatif sepi, kini mulai dipadati pengunjung.
Mami kemudian memesan minuman untuk kami. Karena aku tidak begitu mengerti apa yang ada di sana, jadi ku putuskan untuk ikut saja seperti yang dipesan Mami Luna. Tak lama aku diberi suguhan minuman gratis katanya karena ini malamnya para wanita. Kebetulan aku sudah merasa haus saat itu. Tapi alangkah terkejutnya aku, baru masuk di rongga mulut saja lidah ini menolak. Ku semburkan ke arah bawah dan mengenai celana jeans usangku. Dan nyaris aku muntah di tempat itu. Mami terbahak-bahak melihat ku. Sedangkan Yuli belum menyentuh minumannya karena melihat reaksiku barusan.
__ADS_1