
Bertandang
Tanganku merogoh saku celana dan mengambil sebungkus rokok lalu menyalakan sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Berulang kali diri ini memainkan asap, menjadi bola-bola, keluar dari bibir ini.
Lumayan lama Mozza di dalam kamar mandi, hingga sebatang rokok pun habis dan segera mematikan lalu menaruh puntung rokok di atas piring kecil alas teh hangat yang sudah tandas.
Aku melangkah ke sudut ruangan mengambil satu buah kaset CD bertuliskan kumpulan lagu-lagu romantis lalu memasukkan dalam DVD player dan kembali ke sofa, kemudian merebahkan diri.
Terasa begitu lelah tubuh ini hingga lantunan lirih suara seksi milik Alicia Keys dengan judul lagu If I Ain'n Got You serasa membawa lamunanku terbang bebas di angkasa luas.
Lirik lagu yang dinyanyikan Alicia Keys hingga berakhir, tapi Mozza belum juga keluar dari kamar mandi.
"Huuff ...."
Aku menarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan lalu berjalan mondar-mandir dalam ruangan.
Tok ... tok ... tok.
"Sayang ...."
"Sayang ...."
Tok ... tok ... tok.
"Sayang, lama amat, sih?!"
"Mozza .... Sayang."
"Ngapain aja, sih?"
"Plisss, deh."
Tetap saja tidak ada jawaban dari dalam, hanya suara gemericik air saja yang kudengar.
Aku kembali duduk dan menyalakan sebatang rokok sembari mendengarkan musik, kini lantunan suara seksi milik Barry dan Robin Gibb begitu membuai angan ini lagi.
Lagu itu merupakan ekspresi cinta seorang pria terhadap lawan jenis. Menurutnya, rasa cinta ini seperti sebuah sinar yang tidak pernah hadir menerangi hidup selama ini. Ah, sial! Mirip dengan kisah diri ini saja.
__ADS_1
"Oh ... my heart! Mozza ... Sayang," gumamku.
"Ahk ... lama amat, sih," dekusku kesal.
Mata ini sesekali menatap ke arah pintu kamar mandi.
Akhirnya aku pun kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir. Kembali mataku tertuju ke arah pintu kamar mandi, rasanya mataku begitu lelap sekali.
Akhirnya aku kembali duduk dan bersandar merebahkan kepala yang serasa begitu berat.
Entah berapa lama aku terlelap hingga akhirnya Mozza sudah duduk bersimpuh di lantai ia mengamati wajahku dan mendaratkan ciu**man tepat di bibir*ku saat mataku sudah terjaga.
"Ngantuk berat, ya?"
"Hum ...." gumamku.
Kemudian, aku duduk dan mengusap wajahku.
"Huff, lama amat, sih!" gerutu ini kesal.
Mozza mengerling tanpa sepatah kata.
Mozza Pramesti pun hanya menebar senyum manisnya, ia begitu cantik dan seksi dengan balutan gaun tidur meliuk mengikuti bentuk tubuhnya dengan warna transparan senada warna kulitnya, aroma tubuhnya begitu mengoda imanku, membuat bulu kuduk seketika berdiri.
Mozza lalu duduk tepat di sampingku dan mendekap tubuhku erat, lalu ia mulai bertutur berterima kasih atas kesetiaan dan keseriusan cintaku padanya, karena selama ini ia sengaja cuek padaku, karena ia berpikir bahwa aku hanya mempermainkan dirinya saja.
Aku pun mendekapnya erat dan mencium keningnya berterima kasih kepadanya atas hadirnya juga kepercayaannya dan bimbingannya selama ini, juga bantuannya hingga usahaku bisa berkembang.
Awalnya aku begitu buta tentang dunia wirausaha, Mozza yang membuat sosokku hingga seperti sekarang ini, ia sering mengajakku mengikuti seminar tentang wirausaha dan mengajak masuk dalam Komunitas Pengusaha yang membuat namaku semakin bersinar dan berkelas saja.
Mataku tertuju pada jarum arloji di tanganku, jam sudah menunjukkan pukul dini hari.
Aku memutuskan untuk segera pulang.
"Sayang ... aku, pulang dulu, ya." pamitkku seraya bangkit.
"Hemm ...."
__ADS_1
"Sudah dini hari, nih," jawabnya seraya memperlihatkan jarum jam di tanganku.
Mozza mengangguk dan mengikuti langkah ini, ia mengantarkan hingga depan pintu.
" Pamit ya. Assalamualaikum ...."
"Waalaikum salam, hati-hati, ya," jawabnya sembari menebar senyum dan mencium ujung jemariku.
Aku pun mengusap lembut mahkota indahnya, yang tergerai menutupi bagian seksi dadanya, lalu beranjak pergi meninggalkan apartemennya.
Sepanjang perjalanan kembali teringat pada kejadian di Cafe tadi, nyaris saja wanita sialan itu menghancurkan semuanya.
"Huh! Sialan, berani sekali, sih." Aku mengumpat sembari menepuk setir mobil berkali-kali.
"Wanita ******!"
Rasanya, ingin dini hari ini juga aku ke apartemennya menemui, dan memberikan pelajaran, yang membuatnya jera, agar tidak kembali mengusik kesenanganku dengan wanita manapun yang dekat seperti sebelumnya.
Mobil pun aku pacu dengan kecepatan penuh melintasi jalanan kota Metropolitan yang penuh gemerlap lampu menuju apartemen milikku.
Lantunan lagu milik Elvis Presley begitu menyentuh hati sepanjang perjalanan dalam mobil, "Love" lagu ini bercerita tentang keinginan seorang pria untuk bersama dengan seorang wanita pujaannya dan yakin bahwa cinta mereka merupakan takdir yang tidak terhindarkan. Liriknya begitu syahdu menusuk hingga jantungku.
Hatiku begitu tersentuh, bayangan bahagia kini sudah di depan mata, begitu banyak rencana memenuhi kepalaku. Akan segera menghalalkan hubungan cinta kami.
Aku akan segera bertandang ke rumah orang tua Mozza di Bandung.
Terlintas sudah di pelupuk mataku bayangan bahagia wajah Ambu dan Abah saat anaknya pulang dengan calon pendamping hidup, aku pun tersenyum sendiri membayangkan hal itu.
Akhirnya aku sampai di apartemen dan segera memarkir mobil lalu melangkah dengan gontai masuk, dan kini sudah berada dalam apartemen lalu membuka satu persatu pakaianku hingga menyisakan underpants saja kemudian langsung menjatuhkan diri di atas ranjang dengan kasar, merebahkan diri yang terasa begitu lelah.
Silau cahaya sinar matahari pagi menelisik, masuk lewat kaca jendela kamar yang sengaja tidak ditutup dengan tirai semalam. Agar mengusik lelap tidurku karena jadwal pagi ini begitu padat.
Aku lalu duduk lalu menyibak selimut yang masih membungkus tubuhku dengan rapi. Kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lumayan lama, karena sekalian meregangkan otot yang terasa kaku.
Setelah selesai kemudian aku pun berdandan di depan cermin sesekali aku tersenyum simpul menatap cermin sembari mengusap rahang.
Aku begitu detail dengan fashion yang akan kukenakan agar membuat mata klien wanitaku terpesona oleh kharisma diriku. Tentu dengan balutan pakaian branded juga aksesoris yang menambah kesan romantis dan mesra juga kharismatik.
__ADS_1
Segera aku memacu mobil menuju ke arah tempat yang sudah kami sepakati sebelumya.
Di sebuah hotel di kawasan Menteng. Sesampainya aku segera masuk dan seorang resepsionis hotel pun berbisik padaku seraya menunjuk jari ke arah seseorang yang sudah sejak tadi menunggu kedatanganku.