Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 26 Badai Menerpa


__ADS_3

Badai Menerpa


Keseharianku sama dengan warga lain. Sebagaimana layaknya kehidupan orang desa. Seperti biasa aku pergi ke ladang melihat para buruh tani yang sedang memanen hasil bumi milikku. Udara dingin desa yang masih asri tidak membuat surut langkah ini.


"Neng, Aku berangkat duluan, ya ..." pamitkku.


"Iya."


"Assalamualaikum."


Bianca masih sibuk di dapur menyiapkan camilan untuk pekerja. Ia di temani oleh Surtiyah, begitulah setiap harinya. Karena aku mempunyai banyak anak buah.


"Waalaikum salam," jawabnya dari dapur.


Aku pun segera berangkat dengan mengendarai motor metik menyusuri jalanan desa. Sesampainya aku langsung duduk di gubuk sembari mengawasi pekerja. Para buruh yang sedang memanen hasil bumi dibawah terik matahari.


"Juragan, kok sendirian?" sapa salah seorang buruh.


"Iya, Nyonya masih sibuk!"


Aku mengamati , duduk di lantai gubuk memandang lepas jauh di kebun dengan hamparan hasil bumi. Setelah lumayan lama tampak dari kejauhan sana, Bianca bersama Surtyah sedang berjalan ke arahku sembari membawa tentengan wadah kopi dan makanan.


"Ayok! Istirahat dulu!" perintahku, sontak membuat para buruh menoleh.


"Iya, Gan! Siap!" seru mereka seraya melepaskan pekerjaan.


Aku meminta para pekerja untuk istirahat dulu. Minum kopi dan menikmati cemilan buatan istriku. Mereka pun segera menghentikan aktivitas kerjanya lalu duduk bersama di gubuk sembari bercengkrama ria.


Aku tidak segan untuk membaur bersama mereka. Begitu juga mereka kini tidak lagi ada rasa canggung lagi padaku.


Awalnya mereka sangat seggan padaku. Mungkin mengira bahwa aku akan arogan. Seperti Almarhum Abah Rombli. Setelah hari dan Minggu berganti bulan mereka pun berubah persepsi tentang aku "Juragan Bumi Respati"


Buruh tidak segan-segan untuk meminta bantuan jika kesusahan. Mereka menggantungkan hidupnya padaku dengan demikian tidak susah mencari pekerja.


Hidupku jauh lebih tenang walaupun jauh dari gemerlap kehidupan kota. Terkadang hingar-bingar itu bermain liar dalam kepala ini. Namun, aku bertekad membuang jauh masa kelam.


Sawah juga ladang peninggalan dari Almarhum Haji Romli sudah sangat cukup membuat hidupku dan Bianca berkecukupan.


Selama di desa aku memutus hubungan silahturahmi orang-orang kota. Tidak terkecuali Mozza. Aku benar-benar tidak lagi ingin tahu, bagaimana kabarnya, susah tidak perduli. Bagiku kebahagiaan Bianca adalah yang paling utama.

__ADS_1


"Ayo-ayo kerja lagi!" ajak salah satu buruh.


Seketika yang lain mengikuti. Mereka kembali bekerja. Selang beberapa menit, Bianca berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.


"Hati-hati ..."


"Iya---"


Surtyah pun segera mengikuti langkah Bianca. Tidak denganku justru masih betah duduk di gubuk sembari menikmati keindahan alam. Udaranya yang sejuk membuat damai jiwaku.


Nyaris saja mataku terlelap dalam kantuk yang bertandang membuai. Tapi tetiba saja ada rasa tidak enak dalam hatiku hingga aku memutuskan untuk segera pulang.


Sesampainya di halaman rumah belum juga motor berhenti sempurna. Aku di kejutkan oleh suara Surtiyah.


"A'a, cepetan masuk!" pintanya.


Dada ini tersentak, banyak tanya bergelayut. Setelah memarkir motor, aku bergegas masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa.


"Lho, ada apa ini? Kenapa?" tanyaku mencerca.


Semua tergugu, tiada jawaban kudapat.


"Bi ... Sayang. Ada apa?" tanyaku sembari berlutut di depannya, sesaat kemudian meremas jemari tangannya.


Tidak terdengar sepatah jawaban. Bahkan sepatah katapun keluar dari bibir istriku. Berulang kali diriku bertanya, tapi nihil. Bahkan nyaris mematik marah ini. Akhirnya Surtiyah pun berpamitan untuk pulang. Mungkin ia melihat ada api di raut wajah ini.


"Bi, Bum .... Maaf, aku pulang dulu, ya."


"Oh, ya. Silahkan, makasih ya ... Neng," ucapku.


Aku bangkit dan keluar bersama Surtyah. Setelah menutup pintu, aku pun kembali masuk dan duduk di samping Bianca, kami membisu di sudut ranjang. Hingga beberapa saat, Bianca masih diam saja. Ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Membuat darah ini mendidih.


"Sayang, ada apa? Ayolah Sayang."


Aku meraih pucuk jemari tangan Bianca dan mencium ujung jemarinya sembari menatap dalam bola mata indah milik istriku. Akan tetapi tidak ada jawaban yang aku temukan di sana--


Bianca tetap bungkam. Sesekali tangannya menyingkirkan gulir bening yang masih saja menggelinding sedari tadi. Aku bangkit dan berjalan mondar-mandir dengan gusar, lalu kembali bertanya padanya.


Namun, tidak ada jawaban hingga membuat kesal saja! 'Ah, sialan!' Aku memutuskan pergi kembali ke ladang untuk melihat pekerja. Ada rasa marah yang coba kuredam saat Bianca tetap bungkam.

__ADS_1


"Ya sudah jika itu maumu terserah! Ditanya malah diam saja! Apa sih kamu?!" hardikku kesal, lalu pergi meninggalkan dirinya yang masih menangis.


Setelah sore, aku pulang. Akan tetapi, rumah begitu sepi. Setelah mengetuk-ngetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam. Aku memutuskan menelepon Ambu. Ah, benar saja Bianca ada di sana.


Aku segera menyusulnya. Setelah sampai Ambu bercerita, membuat diri ini tercengang. Bahwa tadi Mozza datang dan bertandang ke rumah kami. Sementara itu Bianca tetap bungkam.


Setelah lumayan lama, dan mendapatkan wejangan dari Ambu, Bianca mau juga pulang bersamaku.


Sesampainya di rumah aku meminta penjelasan darinya. Perlahan Bianca memulai merangkai, walau dengan suara parau sepatah dua patah kata keluar dari bibirnya yang tipis.


'Sial! rupanya Mozza telah mengusik ketenanganku!'


Bianca menunduk dan menceritakan semuanya. Terlihat berat ia merangkai. Bianca tidak terima atas ketidak jujuran ini. Sungguh aku jadi murka, hingga nyaris bersikap kasar saat Bianca tetap saja menyudutkanku.


Walau terus aku mengelak tapi Bianca tetap pada pendiriannya. Seakan diri ini pria hina.


"Begitu mudahnya kamu percaya akan omongan orang!?"


"A'a Bumi sudah berdusta padaku!" sahutnya.


"Kamu salah, Bi."


"A'a Bumi tega padaku!" jeritnya terdengar pilu.


Aku mencoba meraih tubuh istriku untuk memberikan ketenangan. Akan tetapi Bianca menolak dan menghempas kasar tanganku, "sial!'


Seketika amarah merajai jiwa ini. Wanita yang aku kasihani berani menatap garang padaku. Tatapan yang tidak pernah sekalipun ia perlihatkan selama ini. Rasanya cintaku padanya tiada artinya, pengorbanan yang telah diri ini berikan menguap serupa angin dalam hitungan jam.


"Harusnya kamu percaya padaku! Bukan pada---"


"Sudah! Sudah! Cukup, A'a. Aku tidak ingin bersentuhan dengan kamu lagi!"


"Apa maksudmu, Bi?"


"Entahlah ...." Bianca mengangkat kedua tangannya ke atas saat aku ingin meraihnya.


Tangisannya kini reda, tapi tidak dengan murka. Kian terlihat murkanya padaku. Mata ini memerah, diriku merasa tidak di hargai. Darah ini mendidih dengan detak jantung tidak lagi beraturan.


"Sepertinya sudah tidak berarti saja aku ini?! Pengorbananku yang rela meninggalkan kehidupan di kota demi kamu, Bi ...! Sudah tidak berharga di matamu!" kelakarlu seraya menunjuk jari ke wajahnya. Setelah itu aku pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2