
Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri aku menjelaskan perlahan Akhirnya ke topik utama dengan hati-hati aku mulai merangkai kata mengatakan bawa Adie meninggal mendadak. Selang beberapa waktu kemudian, terdengar teriakan histeris lewat telepon. Selang beberapa waktu tidak ada suara ayah Adie. Akhirnya seseorang mengajakku berbicara ujung sana tapi bukan Ayah Adie melainkan adiknya, ia meminta penjelasan dariku. Kemudian, dengan detail kembali menjelas sebelum mengakhiri panggilan-- Amar--- adik kandung---Adie mengatakan akan segera datang ke Jakarta. Ucapannya membuatku bernapas lega.
Aku merebahkan diri, rasanya begitu lelah hingga tidak tersadar entah sudah berapa lama aku terlelap. Panggilan telepon dari Clarissa membangunkan, rupanya jarum jam sudah menunjukkan pukul 9.30.
Aku bergegas membersihkan diri lalu berdandan rapi. Kewajiban menemani Clarissa walaupun hati berkecamuk memikirkan sahabat bagaimana dengan jasadnya? Apakah akan dikremasi? Ah, kehidupan harus tetap berlanjut diiringi lirih lagu rohani aku memacu mobil menuju hotel.
Sesampainya aku langsung menuju sebuah kursi. Di sana Clarissa sudah standby menanti dia berdiri saat aku sudah berdiri di depannya, dia merangkul leherku refleks kedua tangan ini memegang kedua pinggulnya.
"Aku turut prihatin, Bum."
"Terima kasih, Cla. Aku sedang terpukul."
"Iya--- berdoa saja, semoga almarhum Adie tenang, Bum ...."
Aku menghela nafas seraya menarik kursi dan duduk dengan kedua tangan menutup wajah. Bagaimana tidak shok rasanya begitu cepat Adie pergi.
"Yah, semoga saja, Cla ...."
"Sudahlah, bukankah sudah niat saja sudah mengadakan ampunan?"
Sejenak aku menghela nafas panjang, "iya, sih." Kemudian kami duduk berhadapan dengan deretan makanan yang sudah dipesan Clarissa.
"Ayo, makan." Clarisa menyodorkan puring kosong.
"Makasih. Makanlah dahulu."
Clarissa menikmati makan malamnya. Kemudian, Clarissa menenangkan diriku yang sejak tadi tidak bersemangat. Memang benar Adie sudah berniat kembali memeluk keyakinan awal, tapi dia mendapat penolakan dari Calorine istrinya. Aku jadi berandai-andai? Apa mungkin Adie bunuh diri gara-gara masalah itu?
Sementara itu Caroline tidak lagi menghubungi. Padahal jelas tidak terhitung jumlah riwayat panggilan dariku, bahkan semua chate dariku hanya dibaca saja. Tapi menurut rekam jejak media sosial yang aku dapatkan, jasad Adie akan diperbolehkan dibawa pulang esok. Karena pihak penyidik menemukan sedikit kejanggalan pada jasad Adie, sungguh membuat hati ini tidak menentu sampai rasanya tidak sanggup melakukan tugas yang sudah terlanjur disepakati olehku dan Clarissa.
Jemariku asik memainkan sendok teh, sejak tadi teh hangat request dariku itu tiada tersentuh. Apalagi makanan, rasanya tidak sanggup menelan.
"Minumlah, nanti pasti rileks." Aku mulai menengguk.
"Makan, ya. Harus, walaupun sedikit." Clarisa mengambilkan nasi beserta lauk dan menyodorkan.
Sejak tadi perutku memang kosong, setelah menikmati hingga tandas, lalu sejenak berbincang, tapi masih dengan topik yang sama. Tentang keluarga Adie dan bagaimana jika Caroline tetap mengkreasikan jasad sahabatku.
"Ah, sudahlah Bum, kita ganti topik saja. Nanti emosimu tidak stabil lagi."
__ADS_1
Aku mengusap wajah, "sepakat, deh ...."
"Nah, gitu dong." Clarisa memencet hidungku, kami pun langsung merubah topik pembicaraan.
Rasanya kian hangat, Clarissa memang pandai merubah suasana. Aku mulai larut dalam tatapan pesonanya. Suaranya yang lembut saat membahas topik seputar ranjang, ditambah lagi tubuh Clarissa dalam balutan dress selutut berwarna kontras dengan kulitnya membuat daraku perlahan memanas.
"Kenapa?" Clarisa menyodorkan sebatang rokok setelah ia menghisap sebatang. Tapi aku menolak.
"Aku terpesona ...." Kami tertawa lepas saat Clarisa mengoda hasrat.
Tanpa basa-basi kami segera menuju kamar. Menghabiskan malam memadu kasih menikmati surga dunia seperti yang kemarin, larut dalam suasana menghempas semua pikiran terbuai dalam cumbu hasrat duniawi yang menggebu. Membuncah mencari titik nikmat ejakulasi bersama. Clarisa mendesah nikmat, melontarkan pujian kinerjaku sebelum kami tertidur pulas. Mungkin karena lelah melakukan hubungan intim semalam, cukup lama durasinya dari biasanya bila aku memberikan servis pada costumer lain. Clarisa memang hebat, sebelum melakukan hubungan dia selalu memberikan suplemen asal Tiongkok, ramuan herbal itu cukup membuat keperkasaan pria meningkatkan dua kali lipat.
"Sayang ...." Aku membisik seraya merapikan rambut Clarisa yang menutupi separuh wajahnya dibalik selimut, dengan posisi berdiri disamping ranjang.
"Mmm ..." Clarisa enggan untuk membuka matanya, tapi langsung menarik kedua lenganku keras hingga tersungkur menindihnya.
"Sudah siang, Sayang ...." Aku menolak halus.
"Mmm .... Gak perduli." Ah, dasar hiperse ks tetap saja ngotot, menagih janji.
"Oke, baiklah costumer terbaiku." Rasanya rada kesal, tapi mau bagaimana lagi, toh aku butuh uang.
"Baiklah, Cla. Sudah siap?" Tanpa menunggu jawaban aku menarik selimut yang menutupi tubuh polos Clarisa dan mulai memainkan sesuka hati.
Liar jemari Clarisa melucuti pakaian yang sempat kukenakan tadi sebelum beranjak.
Kami kembali bergumul seperti semalaman, rencana dua ronde rupanya gagal karena tidak terbangun. Walaupun sudah siang Clarissa masih menagihnya, terpaksa harus dilakukan karena pembayaran sudah masuk rekeningku. Tidak sedikit karena servis doubel.
Seperti perjanjian, semalam tugasku yang bekerja mencari titik nikmat. Hingga membuat Clarisa mengerang merasakan betapa nikmat yang hanya terasa sesaat saja, tidak seimbang dengan kerja kerasku mencapai puncak.
"Ayolah, cemon Beby. Tunjukkan kinerjamu!" perintahku seraya memberikan pukulan keras di bokong sintal Clarisa yang berada didepan wajahku. Cukup keras hingga membuatnya terpacu kian beringas unjuk gigi. Berkali-kali kulakukan itu, Clarisa memang suka diperlakukan seperti kuda betina, hingga bokong mulus itu berlukiskan cap jemariku, kiri dan kanannya.
Sejenak Clarisa menghentikan ******* lembutnya, yang membuat pria manapun mengelinjang. Sesekali membuat aku mendesah, dengan jari jemari kaki bergerak sendiri.
"Pelan-pelan, Sayang----" Aku memohon seraya kembali memberikan cambukan dibokongnya.
"Auhkh ...!" Clarisa mengerang.
"Sakitkah? Terlalu bersemangat aku?"
__ADS_1
"Tidak, Bum. Pukul lagi, aku kian menikmati!" Seperti menabuh gendang saja aku jika bermain dengan Clarisa. Itulah sebabnya dia tidak tergantikan selama ini.
Sesaat kemudian ....
"Kenapa, Sayang ...." Kami beradu wajah dengan posisi kedua tanganku memegang pinggulnya, kedua gunung indah itu mengantung di depan mataku, bahkan nyaris menghujam.
Aku pikir dia akan merubah gaya, rupa Clarisa turun dari ranjang dan menuju sudut, di sana ada seperangkat alat musik biasanya digunakan penghuni kamar berkaroke ria, atau pesta se ks bebas.
Dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, Clarisa memutarkan lagu disko, kemudian segera kembali menuntaskan hasratnya, dentuman musik keras membuat kami larut dalam suasana kenikmatan.
Hingga berkali-kali suara dorbell berbunyi kami indahkan. Bahkan kedua handphone kami yang tergeletak di atas ranjang berbunyi tidak membuat Clarisa mengenghetikan sejenak. Aku pasrah dan menikmati saja, membiarkan pemujaku mencari kepuasan dengan mengeluarkan semua gaya.
Menjadi kebanggaan tersendiri bila costomer seperti kesetanan menikmati keindahan tubuhku. Dengan demikian aku tetap menjadi primadona bagi mereka.
"Cemon, Beby!" Satu cambukan kembali kuberikan, Clarisa mendesah panjang.
"Oh, me God!"
"Lanjutkan, Beby!"
"Oh, me God! Bum ....!" Tubuh Clarisa meliuk gemulai dengan posisi membelakangiku.
Kembali kudaratkan cambukan dikedua bokong mulus itu, sekarang sudah berubah menjadi merah merona. Kembali ulangi bergantian kiri dan kanan, seiring suara Clarisa kian mendesah nikmat.
"Oh, me God! Terima kasih, Bum---"
"Sama-sama, Cla ...." Clarisa terbaring telentang dengan napas memburu.
"Untung barengan, hehe ...." Clarisa mengambilkan tubuhnya menatap dalam bola mataku.
"Itu kamu berhasil." Aku menggodanya.
"Tapi tidak selalu berhasil, kan?"
"Lebih sering berhasil, bukan?"
Kami tertawa lepas, sesaat kemudian aku segera bangkit menuju kamar mandi, guna membuka balon pengaman yang sudah penuh dengan cairan kental.
Dorbell berbunyi tapi tidak kuindahkan. "Sejak tadi mengganggu saja!" Aku mengomel sendiri di kamar mandi.
__ADS_1