
Kembali ke lembah ken*kmatan.
Kemudian aku memutuskan menelepon Dimas guna memberitahu bahwa aku mau mengambil lowongan pekerjaan itu.
"Halo, Bum," tuturnya di ujung telepon.
"Dimas, aku mau ambil pekerjaan kemarin," ucapku.
Dengan nada kaget dan tidak percaya, Dimas kemudian menjelaskan detail bahkan soal gaji yang akan aku terima, menurutnya tidak akan mungkin mampu menopang kehidupanku.
Mungkin ia menilai dari cara berpakaian, gaya hidupku selama ini. Akan tetapi ia mempersilahkan jika saja aku masih tetap ngotot untuk itu.
"Namun, itu terserah kamu, Bum.'
"Hiks!" umpatku saat pembicaraan sudah berakhir.
Aku melempar handpone ke atas ranjang. Kembali sesekali kembali aku mendengus kesal seraya merebahkan diri.
Mataku pun menyalang menatap ke atas dengan berbagai pikiran memenuhi kepalaku.
Akankah kembali menghubungi wanita sosialita itu lagi? Sementara saat ini aku sedang membutuhkan banyak uang karena merenovasi rumah Ambu dan Abah belum selesai di total.
Segera kuraih handpone dan mencoba untuk menghubunginya, tapi urung, kembali aku meletakkan handpone di atas ranjang.
Aku bangkit beranjak keluar dan mengambil posisi duduk di sofa ruang tamu. Kemudian menyalakan sebatang rokok agar bisa membuang sejenak pikiran yang belum juga menemukan solusi hingga membuat kepala ini serasa retak saja.
"Life is money!"
( Hidup adalah uang)
"I just give a solution!"
(Aku hanya memberi solusi)
"Do not be Stupid!"
(Jangan bodoh)
__ADS_1
"Everything is up to you!"
(Semua terserah padamu)
"Do not be Stupid!"
(Jangan bodoh)
"You get pleasure in exchange for money!"
(Kamu mendapat kenikmatan dengan imbalan uang)
"Think!" (Pikirkan) bentak Adie Permana sembari menunjuk jari di kepalanya saat itu beberapa minggu yang lalu sesaat kemudian ia pun pergi.
Kata-kata Adie Permana terus mengusik memenuhi kepalaku, terus saja terngiang di telingaku hingga tidak bisa lagi aku mengendalikan emosi yang meledak-ledak memenuhi rongga dada dan otak ini.
Jika bekerja menjadi Resepsionis tentu saja akan merubah cara berpakaian dan gaya hidupku tentunya. Ah, sialan!
Namun, itu membuat hati ini belum siap menjalani. Mungkin saja, bisa jadi aku pindah kembali mencari tempat kost yang lebih terjangkau dengan kualitas yang tidak baik bahkan buruk.
Karena gaji yang tidak mampu menopang jika masih bertahan di hunian nyaman walaupun sederhana seperti yang kini aku tempati.
Braaakk!
Meja kaca yang ada di depanku menjadi sasaran atas kemarahan yang tidak mampu kuredam. Darah segar pun mengalir dari jemariku terkena serpihan kaca, terasa perih luka bak terasa di siram perasaan air lemon.
Akhirnya aku harus dan kembali jatuh ke lembah ken*kmatan.
Aku pun melangkah kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil handphone untuk menghubungi Adie.
Tanpa rasa canggung apalagi malu kabarkan padanya bahwa kini sudah siap menerima panggilan darinya lagi.
Itu berarti sudah menerima tawarannya. Terdengar puja dan puji syukur dari bibir sahabatku itu dari ujung telepon seluler saat Adie memberi tahu selamat datang kembali.
Rasanya ingin saja membanting handpone agar menghentikan gelak tawa dan ejekannya di ujung sana. Sungguh membuat rasa muak seketika menyeruak membuat isi perutku ingin keluar saja.
Sangat miris itulah kenyataannya aku harus kembali mengecap profesi menjadi pria pemuas n**fsu kaum hawa demi pundi-pundi rupiah dan gaya hidupku yang sudah berubah menjadi pria Metros**ksual dengan dandanan kasual modis serba branded sudah menjadi ciri khas bagian dari keseharian yang tidak bisa aku lepas.
__ADS_1
Seperti biasa dengan dandanan kasual juga modis, tentunya serba branded dan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Setiap malam aku hangout di cafe sembari menunggu klien yang mengajak dinner spesial.
Tahap demi tahap akan kami lewati bersama wanita yang memboking jasaku dan akhirnya jika jarum jam sudah menunjukkan pukul larut malam saat kesadaran pun tidak lagi utuh sepenuhnya, maka akhirnya berlanjut ke kamar sebuah hotel, bergelut dengan peluh keni*matan, memuaskan ha*rat naf**su sek**sual, wanita penikmat kuliner sek**s.
Wanita-wanita berjiwa kuda liar nan beringas rindu akan belai lembut kasih sayang kaum Adam itu pun menjadi langganan tetap, karena servis yang mumpuni sangat memuaskan hasrat sek**sual mereka telah aku kuasai dengan lihai. Pembekalan sebelum terjun menjadi gigolo cukup membuatku liar saat memegang pelana kuda betina.
Aku menganggap ibaratnya mereka adalah seekor binatang liar, aku sudah menjadi pawang mereka, tentu saja dengan tarif yang aku patok semakin fantastis untuk setiap sekali kencan denganku dengan julukan "Sang Primadona" yah, aku primadona dari tanah Pasundan. Di grup arisan kenik**matan sesaat kaum hawa sosialita nama Bumi Respati sudah tenar.
Aku melewati hari-hari penuh limpahan materi dengan gaya hidupku yang makin matre, semua karena status Sang Primadona menjadikan aku pria Metroseks**ual yang berkelas dan akhirnya aku kembali ke pemukiman elit.
Apartemen di kawasan elite di daerah Menteng pun menjadi pilihanku, semua guna menunjang profesi yang aku geluti, karena semua miniatur semua lengkap dari cafe, Bar, Diskotek itu memudahkan gerak ruang kinerjaku.
Sesekali aku pun hangout bareng Widya dan Dimas Anggara di cafenya. Walau sudah tidak lagi tinggal bersebelahan dengannya hubungan antara kami masih terjalin dengan baik.
Sesekali aku juga bertandang ke hunian sederhana tempat tinggal Widya yang jauh dari pusat kota, guna menepi dan mencari udara segar, mencari ketenangan, menjauh dari hiruk pikuk kehidupanku yang hanya berkutat dengan se**ks dan minuman beralkohol.
Terkadang aku setia menunggu hingga selesai jam kerjanya, berdiam diri di kedai makan tepat berada di depan Rumah Sakit Swasta tempatnya bekerja sebagai Apoteker.
Kemudian mengajaknya makan siang dan mengantarkan ia pulang. Begitulah rutinitas menepis jenuh, risih bahkan perlahan ada rasa jijik atas diriku sendiri saat menatap cermin.
Menjadi gigol**o sudah membuat banyak hidupku berubah menjadi pecandu barang haram dan pemabuk.
Namun, Widya terus menjadi pendengar atas keluh kesah selama ini, wanita yang sudah aku anggap adik sendiri itu perlahan membentuk jiwa bisnisku lambat laun muncul.
Ia banyak memberikan masukan positif dan motivasi hingga aku terus berusaha keluar dari lingkaran jerat kehidupan gemerlap dunia malam yang telah mengambil separuh imanku demi uang, telah menghalalkan segala macam cara.
Aku pun sesekali mengikutinya jika ada kajian tentang agama yang ia hadiri bersama Dimas.
"Kakak tidak boleh merasa kotor, kembalilah sebelum terlambat, setidaknya Kakak sudah ada niatan, dari pada tidak sama sekali," tuturnya sembari mengusap lembut kepalaku saat sakau di rumahnya lalu hari.
Aku mengatakan padanya ingin bertaubat ingin kembali menjadi diriku yang dulu, dengan derai air mata yang tak lagi bisa ditahan, hingga cairan bening menyumbat hidung, aku sesenggukan, meringkuk kedinginan dengan keringat bercucuran coba terus untuk bertahan.
"Aku ingin mati!"
"Kakak, pasti bisa. Aku ada untukmu," imbuhnya sembari menutup dengan berlapis-lapis selimut di atas tubuhku yang menggigil hebat. Ia pun tak segan memelukku erat hingga masa kritis dan malaikat maut itu terlewati malam bersama dan pergi entah ke mana.
Seperti itulah kehidupanku bertahun-tahun hingga akhirnya pundi-pundi rupiah menghantarkan aku berani mencoba peruntungan menjadi seorang pengusaha yang bergerak di bidang kuliner.
__ADS_1
Pengalaman menikmati hidangan di restoran , cafe, atas jamuan dari para klien perlahan memupuk jiwaku untuk memulai usaha sendiri.
Semua itu tidak lepas dari campur tangan Widya dan Dimas. Sahabatku itu ternyata berprofesi sebagai seorang Dokter di Rumah Sakit Swasta tempat Widya Chandra juga bekerja.