
Tamu tak di undang
Panorama sunset tampak begitu eksotis, menambah spektakuler suasana intim wedding kami. Sungguh membuat hati kian bahagia.
Wanitaku begitu cantik berjalan anggun di sampingku. Mozza tampil berbeda ia mengenakan gaun pengantin model backless tampak mengeluarkan sisi sens--ualnya, desain sentuhan mewah fur/ bulu dan aksesoris pearl/ mutiara menambah kesan elegan. Mozza begitu sek--si dan cantiknya kian bersinar di moments bahagia seumur hidup kami yang akan terkenang selamanya.
Tangan Mozza memegang bouget ia memamerkan senyum bahagia, begitu manis menyapa para tamu undangan. Riuh tepuk tangan di iringan lagu milik Anji dengan judul "Dia" menambah kesan romantis dan syahdu.
Berada di atas ciff tinggi berlatar belakang laut biru di tambah panorama senja yang indah dengan angin sepoi-sepoi. Kami berdansa, sesekali aku mendaratkan kecupan di keningnya. Hingga tidak terasa hari sudah malam. Ucapan happy anniversary pun bergantian di ucapkan oleh para tamu undangan yang hadir mereka ikut larut dalam kebahagiaan kami.
Tidak hentinya Mozza Pramesti menebar senyum manisnya, saat teman dekatnya meminta bersua foto dengannya. Istriku begitu cantik hingga mataku enggan lepas walau sedetik saja dari pesonanya. Aku benar-benar telah jatuh cinta. Rasanya tidak sabar untuk membopong tubuh sek--si Mozza dengan balutan gaun pengantin. Ingin aku menghempas kasar tubuhnya ke atas ranjang, kemudian mendengar suara lembutnya merintih menahan liar semangatku, seraya meremas mawar merah yang bertaburan di atas ranjang pengantin.
Akhirnya saat yang aku nanti akan segera menikmatinya dalam hitungan menit, karena tamu tinggal sedikit.
Saat tamu mulai keluar semua, aku bernapas lega, tetapi terdengar suara gaduh. Sungguh membuat mataku mendelik. Teriakan perempuan tidak asing suaranya terdengar.
Beberapa pecalang(penjaga) villa tampak berlari mencoba menghentikan langkah seorang wanita. Sepertinya tanpa undangan dan mencoba merangsak masuk. Sedikit tamu yang masih ada pun kaget saat wanita itu kini mulai berteriak-teriak, memanggil namaku dan mengumpat, kemudian membuka semua aibku.
"Bangsat, kamu Bumi!" Cacian dan makian keluar dari bibirnya. Keadaannya terkoyak dan payah.
Aku hanya bisa membisu menatapnya. Bingung harus berbuat apa, sungguh tidak terduga sama sekali. "Ah, sial. Aku telah gegabah." Aku merunduk kesal atas kebodohan diri.
Wajahku terasa meremang, rahang gemeretak menahan amarah. "Ah, sialan!"
Beberapa Pecalang(penjaga) terlihat cekatan. Tidak segan menariknya dengan paksa untuk keluar. Tetapi justru wanita itu tampak histeris, memohon iba padaku.
"Bumi! Kamu tega padaku, Bum!"
Batin ini terasa teriris juga melihat Clarisa histeris seperti itu. Sungguh aku telah membuat hatinya sakit. Tapi apa daya, toh ia bukanlah siapa-siapa lagi.
Mozza shock ia seketika lemas, tertunduk lesu. Sesaat kemudian, lalu bersimpuh di lantai. Beberapa kerabat dekatnya pun coba menenangkan dirinya, Widya ada untuknya, perempuan yang seperti adikku itu setia mendampinginya sedari tadi. Terlihat Widya membantu Mozza untuk berdiri, kemudian memapahnya agar kembali duduk. Sejenak aku tergugu oleh semuanya.
Secepatnya aku mengambil tindakan dan segera berlari keluar, kemudian menghampiri para bodyguard pribadiku yang berjejer berdiri tegap. Dengan tatapan penuh amarah yang membuncah meledak-ledak, aku berteriak dan menampar keras wajah mereka satu per satu. Benar-benar aku murka.
"Begitu saja, tidak becus!"
Plak! Plak! Plak!
"Siap, Bos!"
"Sialan! Apa yang kalian kerjakan, hah?!" murkaku dengan wajah memerah.
"Siap, Bos!"
"Jadi kacau, sudah!" sambungku
"Maafkan, kami, Bos!"
"Cepat keluar!" perintahku seraya menunjuk jari.
Bodyguard pribadiku pun segera bergegas berlari kecil keluar seraya memegangi pipinya akibat tamparan keras dariku. Aku menengok ke belakang tampak Mozza di papah oleh beberapa orang wanita untuk duduk di bangku para tamu, sepertinya sedang di tenangkan oleh Widya dan Dimas.
Segera aku mengikuti keluar. Aku tidak perduli dengan para tamu undangan yang hadir. Mereka kaget, tertegun melihat insiden tak terduga itu. Terus saja aku berlari keluar area wedding.
Tampaknya bodyguard sedang bersitegang dengan seorang pria yang ternyata bodyguard pribadi Clarisa, lelaki kekar itu seketika memberiku bogem mentah tanpa kuduga saat diri ini mendekat.
Bukkk!
__ADS_1
"Laki-laki ******!" hardiknya.
"Bangsat!" Aku melawan dan memberikan bogem telak juga.
Bodyguard Clarisa kembali menghadiahkan sebuah pukulan. Aku pun terhuyung nyaris tersungkur, refleks aku kembali membalas dengan mengayunkan tangan tepat di wajahnya, hingga perkelahian antar kami tidak terelakkan lagi. Saling beradu jotos.
Saat aku terlihat wajahku beberapa kali terkena bogem. Bodyguard pribadiku pun memberiku bantuan setelah melihat diri ini nyaris kewalahan. Akhirnya pria tinggi besar itu pun terhuyung dan tersungkur karena kami gempur bersama. Pria yang dulu memanggilku Bos itu lalu bangkit dan masuk ke dalam mobil, kemudian bergegas pergi.
Sementara Clarisa sudah tidak tampak lagi batang hidungnya. Aku kembali masuk dan coba memberikan penjelasan pada Mozza, ia tampak terpuruk pastinya. Gulir air matanya kembali mengalir membasahi pipinya seketika saat aku mendekati. Apalagi saat mendengar penjelasan dariku, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya lagi.
Aku berulang kali mengusap bibir ini. Darah segar mengalir, rupanya pecah cukup parah.
Sementara Widya dan Dimas hanya bisa mengangkat bahu dan memasrahkan semuanya padaku saat diri ini menatap mereka. Sepertinya mereka tidak lagi bisa memberikan bantuan padaku untuk kali ini.
"Pliss, tolong ...."
"Semua sudah terkuak, maaf Kami tidak bisa lagi berkelit menyimpan rahasia," tutur Dimas Anggara Prayoga lalu pergi sesaat setelah menepuk pundak.
Widya pun mengikuti langkahnya, tampak ia hanya mengerutkan keningnya lalu meninggalkan kami berdua.
"Sayang .... Kamu hanya salah sangka," jelasku.
Seketika Mozza menepis keras tanganku dan berkata "Kamu pembohong!"
Mozza lalu berdiri dan melangkah meninggalkanku begitu saja. Padahal aku terus mencoba menjelaskan apa yang sesungguhnya. Segera kuraih pucuk jemari tangannya untuk menghentikan langkah kakinya lalu memeluknya erat agar meredam emosinya.
"Maafkan, aku. Sayang ...." ucapku lirih sembari menghirup dalam aroma tubuhnya.
Mozza menolak kasar tubuhku dan berlari keluar. Tampaknya ia akan mencari tumpangan di pinggir jalan. Tanpa pikir seketika itu juga aku masuk dalam mobil memacu, ia telah raib.
Selang beberapa waktu aku menghentikan laju mobil, kemudian turun saat melihat Mozza.
"Ayo dong ... jangan begitu. Sayang, malu di lihat orang lewat." Aku memelas.
Akan tetapi tidak juga ia indahkan, lumayan lama aku membujuk. Bukan Bumi Respati jika gagal. Akhirnya Mozza luluh lalu masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan kami membeku. Setelah sampai tempat honeymoon Mozza langsung masuk ke dalam kamar.
Melempar benda-benda ke arahku, ia begitu kecewa atas diriku. Cacian dan umpatan keluar dari bibirnya sampai aku tidak bisa lagi mentolelir atas ucapannya.
"Aku sudah menjelaskan detail, itu terserah padamu! Aku sudah pasrah untuk kali ini!" hardikku
"Ya! Aku tetap dengan keputusanku," ketusnya dengan wajah memerah, gaunnya tidak lagi berbentuk rupa. Rambut yang tadi disanggul rapi kini koyak hingga menutupi separuh wajahnya.
"Perempuan keras kepala!"
"Kamu penipu! Bun!"
"Tidak, Sayang ...." Aku melunak seraya menarik lengannya, tapi Mozza menampik kasar. Jelas membuat aku murka.
"Menjijikkan, keluar! Kamu ,menjijikkan!" kelakarnya.
"Tutup mulutmu!" Aku menunjuk jari ke wajahnya.
"Ambil, ini. Aku tidak butuh itu lagi!" teriaknya.
Aku mendorong keras tubuhnya hingga terpental ke ranjang. Kemudian, memegang keras kedua rahangnya dengan tatapan singa. Mozza mengerang menahan sakit saat tamparan keras mendarat di wajahnya. Aku naik pitam saat ia berani melepaskan cincin pernikahan dari jemarinya lalu melemparkan tepat di wajahku. Sungguh tetiba saja emosiku membuncah tidak terkendali. Rasanya ingin menghabisi perempuan sepertinya.
Mozza pun menangis sejadi-jadinya masih dengan balutan gaun pengantin. Malam yang sejatinya adalah malam berkesan, akhirnya menjadi malam perpisahan dengannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengabulkan permintaanmu. Mulai detik ini juga aku Bumi Respati telah menalak Mozza Pramesti! kita sudah bercerai malam ini!" seruku.
Tampak Mozza hanya tertunduk sambil menyeka gulir bening yang terus mengalir tanpa henti membasahi pipinya. Aku segera berkemas untuk menuju Bandara.
Tanpa menoleh lagi memantapkan langkah kakiku meninggalkan Villa tempat honeymoon kami dengan bantuan sopir kini aku sampai di Bandara dan akan terbang kembali ke Jakarta.
****
Sesampainya, keesokan harinya aku menemui Clarisa di apartemennya. Ia berkacak pinggang menantang titah apapun yang aku katakan, kini ia sudah berani menentang keras ucapanku.
"Sudah berani, kamu. Hah!" hardikku.
"Iya, aku bukan perempuan stupid, Bum. Aku tidak sebodoh yang kau sangka," tantangnya.
"Apa? Hah! Jangan berani menamparku lagi, atau ...." ancamnya.
"Atau apa? Hah!"
"Masuk penjara ...." jawabnya singkat sembari menunjuk kamera CCTV yang merekam adegan kami sejak awal.
"Bangsat! Dasar, perempuan ******!" kelakarku seraya keluar tanpa permisi lagi.
Aku memacu mobil, kencang, menuju Cafe milikku. Sesampainya tampak para karyawan mengamati dengan tatapan aneh, tetapi tidak pedulikan. Mungkin mereka mengetahui insiden tersebut hingga tak satupun yang berani menyapaku.
Tok ... tok ... tok!
Aku mengetuk pintu berulang kali, tapi tidak ada respon. Segera kubuka tuas pintu, rupanya terkunci. "Sialan!"
"Bangsat!" dekusku kesal, saat menyadari bahwa aku tidak membawa kunci duplikat.
"Kenapa, pintunya terkunci?" tanyaku pada waiters yang sedang melintas, seraya menunjuk jari ke arah pintu ruang kerjaku.
"Ke mana sekretaris-ku?"
Ia hanya menggeleng dan melengos saja. Tetiba saja aku merasa ada yang aneh pada sorot mata para karyawan. Sebelum sampai kasir terdengar suara seseorang mengagetkan aku.
"Tolong anda keluar dari sini, atau ...." seru seseorang.
Aku menoleh kebelakang memastikan siapa yang di ajak berbicara, ternyata pria hitam berambut keriting dan brewok kini sudah berdiri tepat di depanku. Pria itu memepet tubuhku hingga tersandar di meja kasir. Tampak penjaga kasir pun berlari menghindar karena ketakutan.
"Atau, apa!" jeritku membalas tajam tatapan sangar itu.
"Atau aku seret dengan paksa!" hardiknya seraya mencengkeram leherku membuat diri susah bernapas.
Segera tampik dan nyaris terjadi adu pukul, namun, terhenti oleh suara Clarisa Santoso yang memberikan isyarat agar meninggalkan kami berdua.
Clarisa begitu cantik dan seksi, ia kini tampak segar dan seperti dulu lagi. Aku pun meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu ia menjelaskan detail bahwa ia sudah memutuskan untuk mengambil semua aset miliknya. "Bangsat!"
Betapa kagetnya aku di buatnya, atas pernyataannya itu. Seketika aku memohon padanya dan menjelaskan bahwa aku dan Mozza sudah bercerai malam itu.
"Sayang, Clarisa. Sayang, apa yang kamu lakukan? Ayolah, Sayang. Aku jadi milikmu lagi seutuhnya, kini," rayuku memelas iba.
"Maafkan, aku. Bumi ...." jawabnya lirih sembari menepis tanganku yang ingin memeluknya.
"Ah, sialan," umpat ini dalam hati.
Permohonan-ku sia-sia, ia sudah memutuskan semuanya dan dalam waktu dekat akan menepi ke negara asalnya. Segera aku keluar, tapi mobil milikku telah raib, aku kembali masuk dan bertanya pada Clarisa, rupanya ia telah mengambil mobil itu juga.
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam saat ia tidak lagi merespon apa pun yang aku katakan. Akhirnya dengan berat hati dengan amarah teramat sangat aku meninggalkan cafe dan memanggil taksi yang melintas.
.