Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 34 Sahabat Laksana Dewa


__ADS_3

"Sudahlah, minum kopi ini, setelah itu isilah perutmu dulu!" Adie meletakan secangkir kopi di atas meja, kemudian berlalu ke arah meja makan.


Sementara ruang yang tadi berantakan sekarang sudah terlihat rapi, botol dan puntung rokok sudah tidak lagi tampak. Mungkin Adie sudah membersihkan, karena hari ini Carolina istrinya akan segera tiba itulah sebabnya aku juga segera pergi.


Aku duduk menikmati kopi, mataku menerawang jauh mencoba berdamai dengan Clarissa, tapi tetap saja ada yang mengganjal dalam hati. Aku harus membuat perhitungan. Aku menarik napas seraya meraba bibir yang terasa yang semakin menebal juga pelipis terasa sakit dan terlihat membengkak.


"Bum! Ayolah ...." Suara Adie dari arah sana.


Aku segera bangkit dan kearahnya tanpa menjawab. Sesampainya langsung menarik kursi dan menikmati makanan yang disuguhkan Adie. Setelah memakan bersama kami tidak banyak bicara, tapi aku tahu Adie terus menerus memperhatikan. Aku menyimpan gundah, mungkin terdeksi dari gimik wajah ini. Setelah selesai makan aku segera berpamitan jangan sampai keadaanku yang seperti ini dilihat oleh Carolina.


"Terima kasih, Die." Aku menghentikan langkah di depan pintu seraya membenahi topi.


"Tidak usah mengucapkan itu, Bum. Jangan gegabah lagi, cukuplah melayani costumer saja, Bum!"


Aku membalikkan badan dan meluaskan senyum pada Adie, "setelah saya babak belur, Die?" Ucapanku membuat Adie menarik lengan ini.


"Aku hanya turut prihatin, Bum! Tapi selebihnya terserah padamu!"


Aku melepaskan cengkraman tangan Adie.


"Sudahlah, sob! Aku bukan anak kemarin sore."


Aku melongos, meninggalkan Adie yang masih ingin memberi nasihat. Sekilas terlihat dia menggeleng kepala. Sesampainya di lobi aku langsung menuju mobil dan langsung menuju apartemenku.


Sesampainya tidak lupa aku mengamati sekitar dari balik kaca setelah memastikan aman aku keluar tergesa deraya berjalan menunduk, tapi langkahku terhenti oleh suara seorang karyawan yang bertugas ia memanggil dan terpaksa aku mendekatinya.


Mata perempuan dibalik meja coklat itu menyiratkan kaget saat kami berhadapan, tapi ia tidak bertanya. "Ada apa?"


"I-i-ini ada titipan dari seseorang. Tadi dia ingin bertemu Pak Bumi, tapi setelah aku antarkan rupanya Bapak sedang tidak berada ditempat." Perempuan itu menjelaskan seraya memberikan bingkisan parsel cantik.


"Oh, ya." Singkat aku menjawab seraya menerima parsel.

__ADS_1


Aku segera berlalu, sesampainya di dalam jemari ini mengusap alamat yang tertera dan nama yang tidak asing olehku. Dari Dokter Dimas Anggara rupanya. Ah, baru saja aku mengingat keduanya.


Aku mengerutkan kening, bertanya-tanya dari mana mereka tahu tempat tinggalku? Tentu saja bukan dari Adie, karena seumur-umur pertemanan kami keduanya tidak pernah bertemu Adie. Bahkan Adie pun tidak memberi tahu tadi, dan Adie hanya tahu berita bahagia Dimas dan Widya menikah dari Mozza.


Senyumku mengembang, Widya adik angkatku itu masih ingat kue kering kesukaanku. Aku membuka tutup salah satu toples cantik dan mulai mencecap manisnya kue nastar selai strawberry seraya membaca kembali nama pengirim, sayang tidak ada tertera alamat lengkap di sana.


Setelah itu aku membersihkan diri, setelah selesai, aku mengompres memar di pelipis ini. Sakit membuat aku mengerang menahan sakit. Sial! Berulang kali aku mendesis dan mengumpat kasar.


Tiba-tiba saja, aku terbayang wajah cantik gadis yang dirumah Clarissa. Iya, aku tahu dia anak Clarissa. Tapi aku tidak tahu namanya, membayangkan wajahnya membuatku terpancing sepertinya ide mendadak ini cukup memacu adrenalin.


Rasanya tubuh ini begitu lelah, cukuplah mengunakan kesempatan ini untuk beristirahat. Lagian mana mungkin akan melayani birahi costumer jika masih babak belur begini. Sungguh tidak elok dipandang mata.


Jemari ini menggeser dan membalas pesan singkat Waatsp satu per satu. Aku memang pandai membuat hati perempuan mengelinjang dengan pujian dan keromantisan dalam bertutur kata. Cukup lama, membuat mata ini tidak lagi mampu menahan kantuk. Akan tetapi, satu pesan masuk lagi. Walaupun sudah didera kantuk aku memutuskan membaca terlebih dahulu agar esok sudah dengan pesan baru. Yah, pesan dan bualan dengan nada mengombal dari para wanita bernafsu kuda liar cukup membuat diri ini merasa diatas awan.


Namun, mataku seketika membulat. Ah, senyum ini seketika mengias membuat kantuk langsung pergi entah ke mana. Ya, Dimitri Vangelis menanyakan kabar diri ini. Entahlah sejak memainkan tubuh indah miliknya pikiran ini tidak bisa lepas dari binar bening matanya saat aku menyetarakan dirinya seperti perempuan pemesan jasaku yang lainnya.


Antusias aku membalas pesannya, padahal ini sudah jam tengah malam. Entahlah tiba-tiba saja aku merasa prihatin terhadap kondisinya.


[ Syukurlah]


[Bagaimana dengan kamu?] Lama tidak ada jawaban membuat aku panik.


[Baik, kok, hanya ....]


[Lho, hanya apa? Sayang?]


[Ah, aku malu untuk mengungkapkan]


[ Gak apa, ayolah. Kenapa malu toh aku sudah dan kamu sudah pernah menyatu]


[Ah, Bum]

__ADS_1


[Betul, kan? Sampai detik ini aku masih bisa merasakan nikmatnya tubuhmu] Aku mendehem seraya mengusap rahang, yakin dia di sana darahnya sedang mendidih.


[Ah, Bumi]


[Aku jujur orangnya, Sayang. Kamu ingat aku kan? Maksud aku kamu mengingat permainan kita kan] Lama tiada jawaban kudapat nyaris saja meletakkan handphone.


[Bum---]


[Iya---]


[Ketemuan, yuk. Eh, maksud aku tanpa lewat bosmu bisa, kan?]


[Bisa saja, nanti aku harus memberikan royalti atas jasaku juga ke Adie] Aku menjelaskan, siapapun bisa langsung membuat janji, tapi sebagai Gigolo dibawah naungan Adie tetap saja harus menunaikan kewajiban seperti yang kita sepakati bersama sebelumnya.


[Tanpa memberi tahu siapa yang memesan jasamu kan, Bum?]


[Ya, tentu jika kamu ingin aku sembunyikan identitas, akan kulakukan itu, Sayang]


Entah kenapa Mitri memberitahu seperti itu, seharusnya aku harus memberi tahu kepada Adie dengan siapa costumernya yang mengajak aku berkencan.


[Oke, malam ini kita ketemu aku menunggumu di sana] Mitri memberitahu alamat sebuah hotel yang akan menjadi tempat melampiaskan hasrat sek__sualnya. Sebuah hotel yang menjamin kenyamanan pengunjungnya. Aku sering main di sana, banyak sosialita yang memilih tempat itu.


Sedikit saja bergerak, rasanya tulang rusukku begitu sakit. Padahal tadi baik-baik saja, aku mengerang saat akan berdiri.


Sepertinya mustahil aku mampu melakukan hubungan intim dengan maksimal malam ini. Ah, aku kembali mengerang saat akan mengenakan jaket jeans, terasa sakit sekali. Sialan! Togar cukup membuat tubuh ini terasa remuk. Tapi aku yakin dia merasakan hal yang sama sepertiku, mungkin lebih parah.


Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan uang malam ini. Apalagi melewati malam bersama Mitri membuatku seperti dihargai. Walaupun memaksakan diri aku segera meraih kunci mobil dan menuju tempat yang sudah kami sepakati.


Sejenak aku memberhentikan mobil, di depan sebuah apotek. Teringat olehku pengaman kesehatan sudah habis, pelayan apotek itu tersenyum saat aku meminta beberapa pengaman dengan berbagai rasa dan bertanya biasanya perempuan lebih suka mencecap rasa apa? Haa, tawanya kian meninggi seraya menatapku. Tidak lupa aku membeli obat penghilang rasa sakit. Rasanya rusukku tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah membayar dan menenggak pil pereda nyeri, aku melanjutkan perjalanan menuju hotel.

__ADS_1


__ADS_2