Sang Primadona

Sang Primadona
chapter 5


__ADS_3

Namanya Rara, ia lebih muda dariku tapi sudah 3 tahun lebih bekerja sebagai LC. Kami suka ngobrol sesekali kalau Rara sedang tidak dibooking. Ketertarikan ku pada pekerjaannya akhirnya memberanikan diriku untuk bertanya lebih banyak.


"Kalo lagi nemani mas-mas di dalam (room) itu kita diapain Ra?" tanyaku menyelidik kemudian dibarengi gelak tawa Rara yang renyah.


"Ya kita nyanyi sambil joget terus kita tuangkan minuman untuk tamu juga. Ya pokoknya jasa room service lah." jawab Rara singkat.


"Kalo ada yang ajak aneh-aneh gimana nanti" tanyaku lebih lanjut.


"Ya tergantung, El"


"Tergantung gimana maksudnya, Ra?"


"Tergantung kitanya mau atau gak" dan Rara terbahak-bahak lagi.

__ADS_1


Aku masih belum puas dengan jawaban Rara. Aku utarakan keinginan ku untuk menjadi seorang lady escort kepada Mami Luna. Mami sempat kaget. Menurutnya aku tidak akan bertahan lama di bidang itu. Ku jelaskan alasan mengapa aku mau jadi LC. Anakku sedang butuh biaya yang besar untuk berobat. Mami sempat menawarkan pinjaman untukku kalau memang perlu biaya untuk berobat anakku, nantinya bisa ku cicil dengan dipotong upah merias. Aku sudah banyak merepotkan Mami, rasanya sungkan untuk banyak membebani lagi.


Mami Luna memberikan gambaran terburuk seandainya aku bertekad bulat masuk ke dunia itu.


"Kalau udah nyebur, Mami kawatir Eli tenggelam. Dunia malam tuh jahat loh cin. Kalau masalah duit jangan ditanya, basah terus dompet tiap hari." begitu wejangan Mami.


Aku tersenyum meringis karena bimbang. Satu sisi, aku perlu biaya untuk Edo. Di sisi lain, pasti orang akan memandang ku dengan sebelah mata. Bagaimana pula kalau ibu tau mengenai keputusan ku ini.


"Pikir lagi El." sambung Mami membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sambil mengangguk kecil.


"Kamu serius mau jadi pemandu lagu El? Dengar-dengar yang biasanya jadi cewek begituan, bisa sambil 'nyambi' loh" kata Yuli membuka obrolan malam kami. Dari sorot matanya, nampaknya ia tidak main-main dengan ucapannya.


"Aku butuh biaya besar untuk Edo, Mbak. Anak semata wayangku. Pelita hidupku. Penyemangat ku. Belahan jiwa ku..." tak sanggup ku lanjutkan ucapanku, pecah tangisku. Yuli memelukku sambil mengusap punggungku.

__ADS_1


"Kalau sudah bulat keputusanmu, aku juga gak bisa berbuat apa-apa El. Baik buruknya nanti kamu sendiri yang akan menanggung" sambungnya.


_


_


Keesokan sorenya, Mami Luna mengajakku ke bar biasa. Ia mengenalkan ku dengan 'mami'-nya para LC.


"Halo, Beb. Panggil aja Mami Mona. Masih polos banget ni muka, dempulan dulu gih nanti sekalian pake wardrobe ya say." sapa wanita setengah baya yang minta dipanggil Mami Mona.


Kurang lebih setahun lamanya aku jadi asisten Mami Luna, jemariku sudah lumayan piawai bermain dengan kuas dan palette. Selesai aku merias wajah sendiri dan memakai 'seragam khas' lady escort, ku temui lagi Mami Mona. Aku merasa agak risih dengan pakaian ini karena belum terbiasa. Para lady escort yang sudah senior memandangi ku. Mungkin karena aku terlihat asing, efek make up batinku.


"Wuuiihh cucok... Mami suka deh. Aturan mainnya begini, karena kamu pemula, tarifmu perjam Rp. 100.000. Selebihnya kalau ada yang kasih tips, 50% buat kamu, 50% buat Mami. Kalau performa kamu bagus, pelanggan puas, tarif perjam bisa dinaikkan. Dan tidak ada sistem gaji bulanan. Libur 1 hari dalam seminggu, kamu yang tentukan mau libur setiap hari apa. Kalau mau izin cuti harus jelas alasannya, bukan karena alasan malas. Kalau malas mending bye. Sudah paham ya?" Mami Mona menjelaskan kepadaku.

__ADS_1



Ilustrasi 'pakaian dinas' kami sehari-hari.


__ADS_2