
Bab 48
"Ini, dari Abang Adie?"
"Apaan, emang?"
Aku langsung mendekati Amar dan meraih kertas dari tangannya. Ah, rupanya tulisan tangan Adie, berisikan coretan isi hatinya. Tulisan yang begitu menyentuh hati, aku tidak tahu kapan kertas itu ada dalam dompetku? Apa mungkin Adie sengaja memasukkan saat pertemuan terakhir kami? Mengingat saat itu aku meletakkan dompet di atas meja, hal itu sudah biasa kulakukan. Karena tidak pernah merasa menyimpan goresan tinta sahabatku.
"Bagaimana akan damai dalam pelukan Tuhan? Jika engkau saja ragu pada Tuhanmu? Bukankah Tuhan itu sama? Sama-sama mengajarkan kebajikan? Dan mengampuni dosa semua umatnya, bahkan baru berniat sekalipun. Semua orang yang sudah mati tempatnya sama, sama-sama menuju alam baka"
"Ah, aku pikir surat wasiat!" Aku mendengus.
"Andaikan, iya---" Amar berlalu dan duduk di sofa bersama yang lain.
Setelah berbincang kami pun segera berangkat. Kami tidak banyak berbicara, keempatnya pun memilih diam. Sepanjang jalan hingga akhirnya sampai juga di depan rumah duka. Aku sengaja tidak masuk untuk mengantarkan, setelah mereka turun, langsung membelokan mobil menuju sebuah klinik. Sengaja mencari tempat praktek yang dekat. Rasanya kian keram saja area yang terluka.
Tempat ini benar-benar asing buatku jujur saja tidak pernah menembus area sini. Setelah parkir, langsung masuk dan mengambil nomor antrian. Tidak terlalu banyak, cukuplah membuat diri ini bernapas lega, dengan demikian secepatnya kembali mendampingi keluar Adie.
Satu dua dan tiga pasien dipanggil, akhirnya tiba giliranku. Badan ini tiba-tiba disengang demam, membuat aku nyaris saja tertidur di bangku pasien.
"Nomor antrian 12!" Suara seorang perempuan yang duduk disamping pintu mengagetkan.
Aku bergegas, sebelum masuk memberikan nomor urut terlebih dahulu padanya. Entah karena wajahku pucat atau kenapa? Perempuan berseragam putih menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin dia heran karena aku memang memakai jaket guna menutupi lenganku.
Setelah menjelaskan keluhan, aku dipersilahkan untuk masuk menemui Dokter dan membawa carik bertuliskan keluhanku tadi. Sesampainya di dalam, mataku membulat sempurna. Ah, hingga berulang kali mengucek mata berharap ini bukanlah mimpi siang bolong.
"Bumi? Bumi Respati?"
"Astaghfirullah! Kamu Dimas Anggara?" Aku meraih uluran tangannya dan menepuk pundak Dimas, pria tampan yang berprofesi sebagai Dokter umum berdiri di depanku. Dia sudah menjadi suami adik angkatku, Widya. Wanita bawel yang begitu perduli terhadapku.
__ADS_1
Sepertinya ini sudah rencana Tuhan, kami sudah lama los kontak.
"Auhkh---- argh!" Aku mengerang menahan sakit teramat sangat hingga membuat rahangku seketika gemeretak.
Mata Dimas Anggara membulat, "Kenapa?" Dimas keheranan, tadi dia menepuk lenganku dengan keras.
"Aku terluka, Dimas. Itulah sebabnya datang ke sini, mencari tempat praktek.. Rupanya Allah SWT berbaik hati, mempertemukan kita."
Aku membuka jaket jeans yang kukenakan. Benar saja, ada darah segar mengalir. Dimas mencerca tanya seraya membersihkan luka. Sementara aku meringis menahan sakit. Apalagi beberapa memar masih menghiasi parasku, bahkan pecah pada bibir ini belum mengering sempurna. Dia bertanya apakah sudah mendapatkan suntikan tetanus? Aku menjelaskan sepertinya tidak, berulang kali Dimas mendecak, setelah mendengar penjelasan dan kronologis kejadian.
"Jangan pulang dulu, Bum." Dimas Anggara mengundang untuk datang ke kediamannya.
Aku setia menunggu, hingga semua pasiennya selesai dan jam praktek pagi tutup nanti. Aku belum sempat menceritakan perihal kematian Adie tadi. Hal yang paling tidak enak itu adalah menunggu. Rasanya menunggu Dokter Dimas seperti separuh hatiku pergi entah ke mana.
Akhirnya yang dinanti keluar juga, Dimas meluaskan senyum seraya mengunci pintu.
"Bagaimana, sudah enakan?" Tadi Dimas memintaku langsung mengenggak obat darinya. Benar saja, dalam hitungan menit cukuplah melenyapkan rasa perih dan berbagai rasa yang sudah untuk menjelaskan.
"Ayok!" Dimas Anggara mengajak, tapi hanya berjalan kaki ke area belakang tempat prakteknya.
"Lho, kok jalan? Emang di mana rumahmu?" tanyaku seraya mengikuti dari arah belakang.
"Ya, di area ini. Aku sengaja menepi Bum. Windya juga sudah resain."
"Lah, sayang dong! Kariernya dibiarkan, padahal lama untuk mencapainya!"
Dimas Anggara tersenyum. "Nanti dirimu tahu jawabannya."
"Ah, bikin penasaran saja!" Aku gerundel sambil mengekor dibelakang.
__ADS_1
"Keputusannya belum lama, kok. Alasan kemanusiaan, Bum. Hidup tidak melulu soal uang, berbagi itu indah." Dimas mulai ceramah lagi, moments yang selalu membuat aku merindukan sosok mereka.
Setelah sampai, Dimas mengucap salam dan suara yang tidak asing olehku datang menyambut salam dari arah dalam rumah. Yah, dia adik angkatku, si bawel Widya Chandra. Penampilannya sudah berbeda, tapi suara khasnya masih tetap sama.
"Kejutan!" Dimas Anggara memegang pundaku dan mendorong masuk hingga membuat Widya menjerit histeris dan berhambur memeluk erat tubuhku.
"Astagfirullah! Kak Bumi Respati?! Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami!" Widya menangis, dari balik cadar hitam aku tahu itu.
"Heyy! Bukan mahram, menjauhlah." Aku menjauhkan tubuhnya. Sementara Dimas justru terkekeh geli melihat kami, Widya enggan melepaskan genggaman tangannya. Bahkan dia kembali memeluk erat tubuhku, membuat aku terharu dan memeluknya balik. Berulang kali aku menghadiahi ciuman di pucuk kepalanya yang kini tertutup rapat hijap hingga menampakkan kedua bola mata indah yang yang tidak pernah terlupakan olehku binarnya yang memesona.
"Sudah, kangen-kangenannya. Siapkan kopi, Sayang." Berat hati Widya melepaskan pelukannya.
"Masih seperti biasanya, kan? Seleranya?" Sejenak Widya menghentikan langkah dan menoleh pada kami yang sudah duduk di sofa.
"Iya, adikku!" Tawa Dimas meninggi, disusul oleh tawaku.
Kami bercerita panjang lebar, rupanya Dimas dan Widya sudah dikaruniai keturunan. Yah, dua bocah sekaligus hadiah dari Allah SWT membuat Dimas Anggara kian bahagia.
Dimas bercerita, istrinya mempunyai teman sekajian. Wanita itu cantik, katanya. Dan masih muda. Dia sedang dalam masalah, bahkan mengalami trauma sikis yang parah. Makanya Windya sibuk, ini mujur aku masih bisa bertemu dengannya. Biasanya Widya sudah mendatangi temannya tersebut untuk mendampingi pergi ke spikolog. Setelah aku bertanya jauh lebih dalam mengorek, rupanya Dimas belum pernah bertemu langsung. Selama ini hanya dari istrinya saja dia tahu.
Pembicaraan kami terhenti, entah kenapa aku tertarik dengan topik Dimas. Menurutnya aku harus mengenal sosok itu, agar bisa mencari jalan Ridha pemilik semesta. Ucapan yang membuat iman ini kembali bertandang. Jujur saja, imanku hanya secuil dan mudah rapuh oleh nafsu sesaat.
"Seru amat ngobrolnya? Bocorin dong, bahas tentang apa nih?" Widya menaruh gelas kopi. Kemudian ikut gabung bersama.
Kemudian, Dimas bercerita tentang tadi sedang membahas temannya. Antusias Widya melanjutkan pembahasan kami yang terhenti. Sama seperti Dimas, adik angkatku menyarankan hal yang sama. Padahal belum berjumpa, sosok yang kami bahas seakan sudah kukenali.
Rasanya sudah lama aku berbincang, akhirnya aku pamit setelah menceritakan bahwa sahabatku Adie meninggal dunia. Keduanya tidak menyangka hal ini. Hingga membuat mereka menerka-nerka apakah benar bunuh diri murni? Pemikiran yang sama sepertiku.
Keduanya mengantarkan hingga depan area prakteknya. Dimas tidak bisa berjanji akan datang menghadiri acara penghormatan terakhir sebelum kremasi.
__ADS_1
"Minta, doanya saja. Semoga sahabatku tenang dan damai nantinya."
Ucapaku di aminkan oleh Dimas dan istrinya, aku membunyikan klakson sebelum pergi. Lambaian tangan Widya melepaskan kepergianku.