Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 17 Dinner Spesial


__ADS_3

Dinner Spesial


Hari-hari kini terlewati penuh dengan kesibukan yang luar biasa.


Walau sudah bergeliat, tetapi bisa dikatakan aku belum bisa mengeruk keuntungan maksimal karena marketing kami sering mengadakan hangout gratis di moments tertentu, misalnya saat hari istimewaku, atau di hari istimewa sekretaris.


Akhirnya dengan promosi seperti itu sudah ada hasil memuaskan yang kudapatkan. Nama cafe milikku pun booming di dunia maya. Bahkan viral, menjadi topik perbincangan, dan kini recommended bagi pelaku Intragramable, dan tersohor sampai Kota Bandung.


Nama cafe milikku sudah sangat familier juga menjadi incaran pengunjung dari luar kota lainnya, terutama saat libur weekend seperti saat ini.


Aku ingin mengundang dinner spesial para sahabatku yang telah mendukung hingga sesukses sekarang.


Tanganku menarik gagang kursi eksekutif, lalu merebahkan diri untuk duduk di atasnya, merilekskan kepalaku yang serasa berat, lalu meraih handphone yang sedari tadi tergeletak di atas meja kerja minimalis modern, semua Furniture yang memenuhi ruang kerja berkonsep minimalis modern, sederhana tapi sangat mewah, sangat nyaman untuk aku seharian beraktivitas di dalam ruangan.


"Halo .... Kak, ada apa?" tanya Widya mendahului bertanya, saat aku menghubunginya.


"Gimana kabar?" imbuhnya bertanya kembali.


"Baik, bawel," jawabku singkat sembari duduk, menggoyang-goyangkan kursi dengan santai.


"Tumben, sekali. Aku pikir sudah tidak punya waktu luang, untuk aku,"balasnya


Aku pun tertawa lepas menangapi celotehnya. Ia mulai merasakan keanehan pada sikapku, menurutnya sudah sombong dan melupakan semua kenangan indah bersamanya, itu tuturnya.


Kami bercerita panjang lebar sembari sesekali ia tertawa renyah memamerkan deretan giginya yang mengenakan behel, lewat layar handphone panggilan Video call.


"Oh, ya. Wind ... Kakak mau mengundang kamu untuk dinner."


"Ah, seriusan?" tanyanya padaku.


Tampak ia tertawa lepas memamerkan giginya yang berpagar pink.


"Hum ...."


"Serius, dong," jawabku.


Ia pun mengutarakan perasaannya yang begitu senang atas undangan dariku, karena sudah lumayan lama aku tidak punya waktu lagi untuknya.


Walau hanya sekedar bertanya kabar, seperti dulu. Apalagi menjemputnya selepas pulang kerja, sudah tidak pernah sekalipun aku lakukan karena kesibukanku sebagai Founder sekaligus merangkap sebagai Owner yang begitu menguras dan menyita waktu juga pikiran juga tenaga.


Jarum jam sudah menunjukkan bahwa sudah waktu jam malam.


Aku sudah bersiap menyambut kedatangan mereka, dengan dandanan formal and modis tentunya, siap memasang wajah tertampan.


Menu istimewa pun sudah tertata rapi di atas meja lengkap dengan lilin dan bunga sebagai pelengkap romantisme.

__ADS_1


Terlihat dari kejauhan Dimas sudah datang, terlihat ia sedang memarkirkan mobilnya.


Sesaat kemudian mereka keluar, melangkah menuju ke dalam cafe bersamaan.


Resepsionis pun menerima dengan ramah lalu menunjuk jari ke arahku.


Mereka pun berjalan menuju ke tempat yang sudah aku sediakan.


Tampak senyuman mereka tersungging sempurna bersamaan, kemudian Dimas dan Widya segera mengambil posisi duduk.


Sebelumnya sudah bersalaman dan mengucapkan happy Birthday padaku bergantian.


"Happy Birthday to, Bumi Respati, makin sukses. Brooooo!" seru Dimas sembari mengulurkan salam persahabatan.


"Thanks, Brother," jawabku sembari memeluknya.


Kini Widya , si adik bawel mengucapkan selamat padaku.


"Happy Birthday to Kakakku, Bumi Respati si pengusaha sukses!" godanya.


Suaranya memancing perhatian pengunjung lainnya, lalu ia mencondongkan tubuh tingginya dan mendaratkan ciuman telak di pipiku seraya merangkul manja di leherku.


"Terima kasihku padamu, Adikku Widya yang bawel," jawabku sembari memegang kedua pinggulnya untuk menjauhkan tubuhnya dariku.


Wanita cantik itu pun tersenyum geli melihat tingkah Widya yang begitu manja, tampak Dimas pun mengerutkan keningnya, menatapku, kemudian melirik ke arah Widya pacarnya.


Aku meraih jemari tangannya lalu kemudian menempelkan tepat di dadaku, mata kami pun beradu pandang dengan tatapan mata penuh gejolak cinta.


Sesekali celoteh Widya nyaris membuyarkan konsentrasi yang sedari tadi aku jaga agar jangan sampai grogi saat moments ini berlangsung.


Ia begitu cantik dengan balutan mini dress warna putih tulang, serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih.


Balutan mini dress meliuk mengikuti bentuk tubuhnya yang seksi begitu mempesona hingga mataku enggan untuk berkedip walau sedetik saja, high heels menambah keanggunan pesona cantik kaki jenjangnya.


Dadaku berdegup kencang nafasku mulai tidak lagi beraturan menahan grogi yang coba hempas sedari tadi, tapi tidak juga mau beranjak.


Ia pun tersenyum dan mengucapkan happy birthday, seketika membuyarkan konsentrasi yang sedari tadi susah mengendalikan.


"Happy Birthday, Sayang ...." ucapnya sembari tertawa kecil.


Aku masih memegang erat jemari tangannya dan perlahan mulai berani untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam dadaku.


"I propose to yo, Mozza Pramesti ...." ucapku sembari mencium jemari lentik itu. (Aku meminangmu, Mozza Pramesti)


Mozza Pramesti tampak tersenyum dan terlihat rona merah muda dari paras wajahnya yang cantik, menahan rasa malu, mungkin juga tidak percaya atas ucapanku.

__ADS_1


"Do you want ...?" tanyaku dengan gimik wajah tegang dan cemas.(Apakah kamu mau)


Terlihat Widya dan Dimas menahan napas menunggu lama jawaban keluar dari bibir Mozza Pramesti.


"Yes! I want to," jawabnya tegas sembari menjatuhkan diri ke dalam pelukanku.


Ia tidak lagi bisa menahan genangan embun yang sedari tadi tertahan ingin mengelinding.


"I love you, Mozza Pramesti ...." kataku tepat di cuping telinganya.


Lalu sedikit menarik tubuhnya agar memberi ruang untuk aku mengambil cincin emas putih lengkap dengan manik berlian yang menambah kesan elegan, yang sedari tadi ada dalam saku celanaku.


Ia pun tersenyum dan kembali memelukku erat setelah cincin itu tersemat di jari manisnya dan mengecup pucuk jemari lentik itu dengan mesra.


Prok ... prok ... prok.


"Yessss! Horeee!"


Serentak Widya dan Dimas bertepuk tangan dan bersorak gembira, kemudian memberikan ucapan selamat pada kami berdua dan mendoakan agar segera cepat meresmikan hubungan cinta kami.


Hubungan kami sudah terjalin cukup lama, semenjak intensnya aku menemani Widya hangout bersama Dimas di Cafenya.


Perlahan hubungan antara kami berdua menimbulkan benih cinta.


Akhirnya kami pun duduk dan menikmati hidangan bersama di temani alunan musik yang menambah kesan romantisme dinner spesial kami.


Lumayan lama kami bercanda dan membahas mengenai Kedepannya tentang usaha juga lainnya, hingga tidak terasa malam makin larut.


Mereka pun berpamitan padaku akan tetapi saat kami baru berdiri tampak keributan di depan.


Tampak resepsionis sedang menahan seorang wanita yang ingin menerobos masuk dengan keadaan mabuk.


Terlihat wanita itu berjalan sempoyongan dengan memegang high heels di kedua tangannya dan berteriak-teriak saat resepsionis tetap melarangnya untuk masuk.


"God damn it ...!"


Wanita itu berteriak lantang hingga menarik perhatian banyak pengunjung lainnya. Maklum saja malam itu Cafe memberikan diskon khusus karena hari istimewaku.


"Chester!" imbuh wanita itu.


"******* ...!


Wanita itu teriak lagi, dengan menunjuk jari ke arahku.


Hingga akhirnya bodyguard pribadiku menariknya dengan paksa dan sedikit kasar, agar segera keluar dari area cafe. Setelah mendapat instruksi dariku.

__ADS_1


Mozza tampak kaget atas peristiwa itu dan ia pun kembali duduk dan tertunduk lesu menatap cincin tunangan yang tersemat di jari lentiknya.


__ADS_2