
Terombang-ambing
Sepanjang perjalanan pikiranku kembali mengingat semua ucapan Bianca. Wanita yang aku gadang sempurna menunjukkan perangainya. Aku hanya butuh ketenangan dan kepercayaan. Dihargai sebagai seorang pria, aku memang kotor. Tapi masih punya harga diri. Kepala ini terasa mau pecah saja. Pertengkaran tadi masih berkecamuk dalam otakku.
"Jangan sentuh aku, lagi. Pergilah!" Bianca menghardik seraya menunjuk jari tepat di wajahku. Aku seketika refleks dan menampar wajahnya. Tidak seorang pun boleh melakukan hal itu padaku.
Plaaakkk! Tamparan keras mendarat di pipi Bianca. Matanya menatap dalam bola mataku, mungkin ia tidak percaya atas apa yang diterimanya. Mata ini memerah, tanganku mengepal. Ingin menghajar tembok agar sedikit redakan marah.
"Jangan pernah menunjukkan jarimu di wajahku!" gertakku. Mataku sontak membulat seraya mencengkeram rahangnya.
"Auhkh, sakit. Kamu kejam, Bum!" teriaknya seraya mencakar dan memukul badanku. Tidak ada lagi tutur katanya yang lembut. Bianca sangat berbeda. Membuatku muak seketika.
"Yah. Aku memang kejam! Karena kamu tidak memahami apa yang aku butuhkan saat ini!' balasku penuh penekanan.
"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Teriakan Bianca serasa mengiris hati ini. Beku rasaku seperti mendadak hangat. Dada ini berdesir, amarah ini sirna. Bianca terkoyak, rambutnya berantakan karena tamparan. Berulang kali ia mengusap pipinya, sedikit darah mengintip celah bibir tipisnya.
"Bi, maafkan ... aku," pintaku melunak seraya menggapainya. Tapi Bianca berontak.
"Jangan! Jangan! Jangan mendekat lagi, Bum!" tegasnya. Saat aku memaksakan diri ingin meraih pinggangnya. Berharap amarahnya mereda. Tapi nihil, murka kembali merajai hati ini.
"Terserah, jika itu mau kamu. Aku tidak akan mengiba lagi." ucapku sembari mengangkat kedua tapak tangan ke atas. Sudah cukup sebagai lelaki aku mengiba pada perempuan desa sepertinya. Bianca terperangah, entah apa yang ia inginkan.
Dengan tersedu Bianca berjalan ke arah lemari. Aku menatapnya, ada iba terbesit di celah hati ini, tapi .... Bianca justru membuang helai demi helai pakaianku hingga tidak tersisa sama sekali. Semua ia lemparkan mengenai wajahku. Rasanya diri ini tidak ia hargai lagi.
"Bangsat!" umpat ini kasar.
"Pergi! Aku tidak ingin hidup seatap dengan lelaki penghianat kotor bahkan sangat menjijikkan!" Bianca meremehkan seraya membuang saliva.
"Apa?" Hah! Apa, katamu? Kotor .... Kamu yang kotor dan murahan!" balasku seraya memegang rahangnya, kemudian mencekik lehernya hingga Bianca tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Hanya tangannya berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan ini.
Menghempas keras tubuh Bianca hingga tersungkur di atas ranjang. Ia jatuh tengkurap. Terdengar tangisnya meninggi, tapi aku tidak perduli lagi.
Aku mulai memasukkan satu demi satu pakaianku dalam koper berukuran besar.
Bianca kembali menangis, mungkin ia menyesali atas apa yang telah diputuskannya. Tanpa lagi peduli padanya aku keluar sembari menenteng koper menuju garasi meninggalkan rumah milik orang sombong.
Aku pergi menuju rumah orang tuaku.
*****
Berbagai macam berkecamuk dalam pikiran ini.
Sesampainya di rumah Abah, aku segera masuk tanpa membawa koper.
Aku menyembunyikan problem yang sedang menimpaku.Tidak elok membawa masalah pada orang tua, cukuplah telan sendiri pahit getir nasibku.
__ADS_1
"Main nyelonong, aja. Istrimu mana? Kok ngak ikut," Ambu bertanya sontak membuat langkah ini terhenti.
"Oh, anu .... Bi, sibuk." Tiba-tiba saja lidah ini kelu.
Aku tidak tega melihat Ambu, apalagi memberi tahu apa yang terjadi. Tubuhku limbung dan tertunduk lesu di atas kursi ruang makan. Ambu terlihat mengerling heran.
"Makan, gih," perintah Ambu.
"Masih kenyang," jawabku singkat. Aku tertegun sejenak memainkan handphone di atas meja.
"Ambu, aku mau ke Jakarta lagi. Ada urusan penting." Tiba-tiba saja lidah ini fasih berkata.
"Hah?! Apa Ambu gak salah mendengar? Bareng istrimu?"
"Iya--- nggaklah. Aku pergi sendiri saja. Bi, sibuk. Mana bisa ninggalin ladang, banyak buruh yang butuh di awasi. Mana sedang panen," jelasku.
"Memangnya ada, urusan?" Ambu terlihat seperti menyimpan banyak tanya.
"Iya--- Ada urusan mendadak hari ini juga aku memutuskan berangkat, agar cepat selesai urusan dan pulang," jelasku.
Mendengar penjelasan, beliau memberikan restunya begitu juga Abah. Dari insting ini sepertinya mereka tahu putranya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Berulang kali Ambu dan Abah saling lirik.
Aku pamit dan memeluk erat wanita yang telah melahirkan diriku. Terulang lagi dan lagi aku telah membuat orang tua kembali menelan pil pahit atas kegagalanku mencoba membina bahtera rumah tangga. Hanya ingin meninggalkan maksiat, itu saja. Tanpa mengorek lukaku.
Bianca wanita yang selama ini aku anggap bakal paham atas sisi kelam, juga salah dan khilaf semasa bujangan, tapi sama saja! Wanita desa yang bertutur kata lembut itu sama saja! Tidak ubahnya seperti begundal-begundal metropolitan. Rupanya mulutnya seperti serigala sangat kejam!Bianca merasa aku suami kotor. Tidak layak lagi menyentuhnya, apa lagi kembali menjadi pemilik hatinya. Mustahil untuk bertahan apa lagi menjelaskan. Pada perempuan seperti itu, sungguh membuat hati ini muak. Berulang kali aku memukul stang mobil.
Aku heran mengapa mereka selalu saja mempermasalahkan hal yang sudah berlalu. Mengapa tidak ada yang mau merangkul agar bisa meninggalkan kubang dosa? Perlahan ada rasa muak menyeruak memenuhi pikiranku. "Begundal! Perempuan sama saja, tidak orang kota pun desa! Sama!"
Aku mendesis, bayangan perempuan-perempuan itu sangat menjijikkan.
Memangnya jika tak berpenampilan menarik mana mungkin perempuan-perempuan itu akan mau padaku. Semua perempuan munafik, sama saja. Tidak ada yang bisa paham dengan hati laki-laki. Hanya menuntut kesempurnaan, sok suci!
***
Kembali bingar-bingar kota Metropolitan mulai mempermainkan memori membawa kembali ke masa itu. Masa yang di mana aku dipuja-puja sebagai sang primadona dengan bayaran termahal. Pemuas napsu se*s wanita-wanita berjiwa kuda liar dan berdompet tebal.
Aku harus bisa kembali bangkit dari keadaan saat ini.
Aku sudah salah mengambil keputusan. Sempat berpikir, harta hanyalah kenikmatan sesaat, tapi nyatanya hidup tanpa gelimang materi tidak mudah!
Saat dengan ikhlas aku membantu Bianca. Namun, apa balasan yang dia berikan padaku? Akhirnya terusir dari rumahnya. Seperti tidak punya harga diri sebagai laki-laki saja aku dibuatnya. Walaupun sudah meminta maaf! Bianca meremehkan diri ini.
Sepanjang perjalanan dentuman musik keras menemaniku. Sesekali aku bersenandung melepas semua kenang tentang cinta pertamaku yang sempat kembali merengkuh sejenak.
Menyalakan sebatang rokok sembari mengemudi di iringi keras dentuman musik. Aku merasa seakan terbawa dalam sebuah riuh Diskotik saja.
__ADS_1
Ah .... Lekukan tubuh perempuan kuda liar bermain mengejek. Sungguh membuatku menelan saliva. Hemm .... Sepertinya harus kembali unjuk gigi. Aku tersenyum lepas mengingat saat itu.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di jok. Mulai mengaktifkan kembali nomor kontak para wanita-wanita pemesan jasaku dulu.
Perjalanan serasa menyenangkan, satu per satu dari mereka secepat kilat merespon. Tidak terkecuali Adie, ia senang mendengar penuturan dariku via telepon.
"Serius, lho. Ngak mengigau?" jawabnya saat aku menghubunginya dan bercerita.
"Sialan, gak percaya saja. Aku sudah dalam perjalanan, Broo!"
"Yang benar saja Bum! Syukurlah banyak yang menanyakan keberadaan kamu," jelas Adie membuatku jumawa.
"Udah. Kabarin saja Die! Aku siap melayani mereka. Haaa ... haa!" Tawaku di ikuti Adie diujung sana.
Aku meminta Adie agar menginformasikan bahwa Bumi Respati "sang primadona" akan kembali.
Harus secepatnya aku mendapat klien karena kini keadaanku benar-benar sedang terpuruk. Pergi tidak sempat meminta sepeserpun dari Bianca. Hanya sedikit tabungan yang tersisa untuk modal hidup sementara.
****
Adie memintaku untuk tinggal bersamanya dulu, untuk sementara. Sebelum mendapatkan klien dan mampu menyewa apartemen lagi. Tawarannya seketika itu juga aku Aminni. Adie sahabat yang terbaik.
Gemerlap lampu, deretan gedung-gedung tinggi seakan menyapa kehadiranku kembali. Lampu diskotik, cafe yang biasa menjadi tempat hangoutku dulu seakan membantu mengembalikan memori dalam kepalaku. Aku tertawa semua sudah ada di depan mataku.
Sesampainya di apartemen milik Adie. Terlihat Adie sudah menunggu kedatanganku di lobi. Kami lalu masuk tanpa banyak basa-basi. Ah .... Rupanya Adie sudah memiliki sudah memiliki Beby dengan wanita asing pasangannya dulu. Ia sukses atas keputusannya.
"Lo, sok suci. Bum," sindirnya sesaat setelah kami duduk dan menikmati secangkir kopi buatan istri bulenya.
"Sekarang .... Apa?! Kamu kembali jadi gembel. Mengenaskan!" ejek Adie.
"Ah. Sudahlah, Die. Jangan membuat aku mengingat semua kenangan tentang .... Ah, Sudahlah. Sekarang aku sudah kembali itu saja." Aku kurang suka saat Adie memberikan ceramah konyolnya.
Draat!!
Handphone milik Adie beberapa kali menyala. Terlihat Adie mengecek deretan notif WA. Adie melempar senyum ke arahku seraya memperlihatkan chat miliknya.
"Terima kasih Die. Kamu teman terbaik sekaligus merangkap Tuhan bagiku. Kau penolong saat genting seperti ini," kataku sambil mengusap wajah. Adie tersenyum melihatku.
"Selamat datang lagi kawan! Ini dunia kita. Wujudkan impianmu, nikmati," ucap Adie seraya menepuk pundak ini.
"Hemm."
"Gih .... Istirahat, besok ke salon. Perawatan, lihat dirimu. Mengenaskan!" Adie kembali menjejak, lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Huuff!
__ADS_1
Aku membuang napas, lalu membawa masuk koper ke dalam kamar. Cermin dalam kamar menyambut, tampak jelas dari ujung kaki sampai kepala. Ah, benar saja. Aku dekil sangat memprihatinkan.
"Bodoh kamu, Bum!" gerutuku seraya menjatuhkan diri ke atas ranjang.