Sang Primadona

Sang Primadona
Bab 37 Membingungkan


__ADS_3

Aku keluar dan langsung berlari kecil masuk. ******* terlihat olehku mobil Adie sudah masuk pelataran. Tidak lama berselang, sahabatku itu nyelonong masuk karena pintu kubiarkan terbuka begitu saja.


Jemariku mulai membuka satu demi satu kancing baju dan menghempaskan ke atas ranjang seraya mendengus kesal dan merobohkan. Berulang kali jemariku menjambak rambut sendiri, rasanya seperti mimpi inside datang bertubi-tubi.


Adie kini duduk di ujung ranjang dengan satu tangan menepuk pundak ini, karena aku sudah dengan posisi tengkurap. Membekap wajah ini dalam bantal, rasanya wajahku terasa remang.


"Bum ...." Adie mengusap punggungku.


Aku tidak merespon hingga beberapa menit, kami geming membisu tanpa kata. Adie bangkit berjalan, kemudian duduk di sofa. Aku mengikutinya dari belakang, kami duduk berhadapan kini.


Aku menatap wajah Adie dengan posisi dua sikut di atas meja dan kedua tapak tangan menyangga wajah. Wajahku mengerut sesaat kemudian jemari ini mengibas kasar rambutku yang acak-acakan.


Sementara itu, Adie terlihat seperti sedang mempersiapkan jawaban atas pertanyaan ini tadi. Sesaat kemudian ia menyalakan sebatang rokok, setelah sebelumnya mengambilkan sebatang untukku dan mematikan api.


Kami kembali larut dalam geming, hanya asap rokok mengepul memenuhi ruangan ber AC. Satu dua tiga batang rokok kami habiskan sebelum memulai percakapan.


"Tolong ceritakan, Die!" kataku seraya bangkit dan melipat kedua tangan depan dada.


"Banyak yang aku sembunyikan darimu, Bum." Adie berkata dengan suara datar seraya mematikan puntung api rokok di atas asbak kaca.


Kening ini mengerut, mendengar penuturan darinya. Apa saja yang dia sembunyikan dariku? Aku kembali duduk ke posisi semula, kami beradu pandang.


'Tolong ceritakan, jangan membuat rasa penasaran ini meledak." Mataku membulat.


Adie mulai bercerita tentang Bianca saat tinggal di Jakarta. Ah, rupanya Adie tahu banyak. 'Ke mana saja aku?' batinku geram.

__ADS_1


Bianca memang ikut hijrah ke Jakarta setelah menikah dengan Bima. Dan saat itu aku benar-benar tidak memedulikan bagaimana keadaan dia. Urusan pribadiku sudah cukup membuat diri ini sibuk, lagian saat itu kenangan tentang Bianca sudah terkubur dalam relung hati ini.


Adie melanjutkan ceritanya, aku kian membisu terasa kelu lidah ini. Bima mantan suami Bianca sekarang menjadi mucikari ****, tapi dia merekrut perempuan. Dia kini sukses, termasuk Mozza menjadi deretan dagangannya


Adie memperlihatkan sebuah situs yang memampang tubuh eksotis Mozza bersama deretan perempuan lainnya. Mozza berpose seksi dan nyaris bu gil. Dengan senyum Pasundan menghiasi paras ayunya di atas ranjang dengan pose menantang.


Tidak terasa tangan ini menjauhkan handphone milik Adie. Rasanya tidak sanggup berlama melihat deretan foto perempuan yang pernah mengisi hati ini. Sesak terasa saat Bianca pun ada di sana dengan pose santun dan tersenyum manis tapi aku tahu itu getir.


Yang menohok hati ini, Mitri terlihat cantik dengan balutan busana muslim juga barusan di update. 'Ah, Mitri dalam bahaya' batinku kian terjejal pikiran tidak karuan.


"Tolong bantu saya, Die!" pintaku seraya meraih jemari Adie.


"Bagaimana, Bum?"


"Aku ingin Mitri lepas dari Bima!"


"Ayolah, Die."


"Saran, lupakan Mitri. Dia bisa membuatmu celaka!" Adie membuang napas kasar.


"Aku tidak perduli, Die. Aku tahu Mitri gadis baik-baik. Ayolah Die!" Entahlah pikiran ini bermanuver jauh.


"Pikirkan lagi masak-masak, Bum!" Adie menatapku.


"Sudah, Die!" Aku menjawab tegas dengan membalas tatapannya.

__ADS_1


Selang beberapa waktu Adie masih membisu. Kemudian dia mulai bercerita, tentang Bima kini, ia sudah menjadi bos besar dan ke mana saja dikawal bodyguard. Tadi bahkan ia berpapasan saat Mitri berontak untuk masuk mobil Bima, Adie membela gadis itu agar dilepas tapi, justru Adie mendapatkan ancaman dari bodyguard Bima.


Itulah sebabnya tadi saat keributan di hotel tidak satu pun petugas keamanan yang datang. Ah, rupanya kehadiran Mitri semalam sudah di intai. Aku mendesis, untung saja mereka tidak mendapati kami saat berhubungan intim. Padahal menurut sepengetahuanku hotel tersebut sangat menjaga kenyamanan pengunjung. Bahkan sudah tidak terhitung olehku berapa kali aku memainkan tubuh costumer di sana.


Bahkan kamar tempatku melampiaskan hasrat bersama Mitri semalam tidak asing buatku. Yah, kamar yang dipesan Clarissa Santoso. Lagi-lagi dia tidak bisa pergi seutuhnya dari rongga kepala ini. Bayangannya acap kali melintas, mengganggu ketenangan.


Adie Kembali mengurai kata, Mitri itu gadis baik-baik. Itu ujar Adie, aku pun bisa tahu tanpa dijelaskan. Rupanya Mitri terjebak kawin kontrak. Bima menikahi Mitri secara kontrak, tapi saat kontrak usai justru Bima enggan untuk melepaskannya.


Mitri tetap kekeh pada pendiriannya, ia tidak lagi mau melanjutkan perjanjian kontrak. Intimidasi berkepanjangan terus menimpanya. Aku menarik napas dalam-dalam dan hembuskan dengan kasar. Ingin rasanya menghancurkan kaca meja, agar reda sedikit sesak dada ini.


Seraya menjambak rambut, aku mengumpat berulang kali. Entah apa saja keluar umpatan dari bibir ini sejak tadi. "Semuanya pendusta!" Aku berteriak keras, hingga suaraku menggema. Bagaimana tidak, Mozza, Bianca, Clarissa Santoso dan yang terakhir Dimitri Vangelis yang sejak awal sudah membawa separuh hati ini.


Sialan! Dia sama saja, membohongi diri ini. Kenapa dan kenapa dia lakukan itu? Pertanyaan ini kembali menjejali kepalaku. Aku emosi dan mengumpat lagi membuat Adie kembali menenangkan diri ini.


Dengan langkah berat, jemari meraih satu botol minuman beralkohol, kemudian menenggaknya. Nyaris saja tandas, aku meletakan gelas dengan jemari bergetar saat Adie berkata. "Bum, mungkin ini teguran dari Tuhan. Kita telah mandi dosa, lihatlah aku! Walaupun bergelimang harta, tapi malam-malam seperti didera rasa ketakutan." Terdengar impossible ucapan Adie, sepertinya dia kesambet setan. Baru kali ini aku mendengar lidahnya menyebut nama pemilik semesta.


Aku menunduk, sejenak iman ini kembali pada raga. Sudah lama sekali aku tidak pernah sekalipun menyembah pemilik jiwa raga. Bahkan saat ini bulan Ramadan tidak pernah sekalipun aku melaksanakan titah pemilik semesta.


Jangankan menyembah untuk menundukkan kepala mohon ampun, tidak sama sekali. Aku masih berjibaku dengan maksiat siang dan malam. Ah, sepertinya Tuhan sedang mengembalikan iman ini. Tidak terasa mata ini berkaca-kaca. "Ya, Allah ...." Bergetar lidah ini menyebut nama-Nya kembali menyebut walaupun bau alkohol menyeruak, rupanya lidah ini masih bisa melafalkan kalimat istighfar.


"Ya, Allah ya Tuhanku. Mohon tunjukkan jalan menuju surga-Mu, aku ingin bertaubat dan membina rumah tangga seperti yang dilakukan oleh orang-orang beriman."


Gemeretak rahang ini, kata-kata yang terucap dari lisanku tulus dari relung hati ini. Aku ingin menarik tangan Dimitri dari lembah nista. Tekat itu kuat dalam hatiku, agar kami sama-sama mencari Ridha pemilik semesta.


Adie menangkup wajah dengan kedua tangannya sejak tadi. Aku memeluknya erat dan memberikan support kata-kata yang menguatkan. Tidak terlintas dalam benak ini, sahabatku itu masih punya iman.

__ADS_1


Saat mendongak, mata Adie sembab.


__ADS_2