
Kembali Lembah Hitam
Tok ... tok ... tok.
Mataku masih enggan terjaga, kembali ketukan pintu kudengar samar memaksa mataku untuk menepis kantuk. Dengan langkah malas aku berjalan ke arah Pintu. Padahal Adie sudah memberi tahu agar cepat bangun karena jadwalnya padat. Tubuh ini terasa begitu lelah.
"Good morning, Bum. Selamat datang kembali, lihat dirimu," sapa Adie sesaat baru saja pintu terbuka.
Kata-kata yang diucapkannya mengejek keadaan ini. Aku terlihat kumuh memang.
"Morning. Die. Happy weekend," kataku.
"Aku gak bisa nganterin kamu, Bum. Tuh bini gue mau shopping. Mungkin kami akan pulang hingga larut, karena mau bertandang ke rumah teman dulu. Kamu ke salon sendiri, bisa, kan?"
"Ya, ellah ... Die. Loe kata aku anak baru apa? Hah!" sahutku sambil melengos.
"Sukur, kalau ingatanmu masih normal," cela Adie sembari tertawa kecil.
Setelah selesai mandi, aku pergi ke salon langganan tempatku memanjakan diri dulu. Seorang pria gemulai menyapa menyambut kedatanganku. Rupanya dia masih mengingat jelas diri ini.
"Hai, tampan. Eksotis banget sih, kamu. Habis berjemur di pantai, ya?"
"Ah .... Sialan!" umpat ini seraya menjatuhkan diri di kursi.
"Hayy! Cius, deh!" Ia kembali menggoda.
"Sudah. Jangan banyak bicara, dandani aku, cepat. Ada klien menungguku!" Aku melanjutkan ucapan.
"Cieee. Gagal move on, balik lagi. Good luck, Bum," godanya.
Tangan kekar tapi lembut itu mulai beraksi. Gaya potongan rambutku kini menambah fresh, Menambah penampilan kian memukau, walaupun kulitku tampak lebih gelap, tapi aura menggoda masih sama seperti yang dulu.
Draaatt ....
Layar ponselku menyala panggilan Video call dari Adie. Ia ingin melihat penampilanku sebelum menemui wanita yang telah memesan jasaku melalui dia. Karena kepuasan konsumen menjadi hal yang sangat Adie perhatikan. Itulah sebabnya bisnisnya semakin banyak costumer. Pria yang ia jajakan semua berkelas.
"Apa, sih?!" Aku mendahului menyapa.
"Waoooow. Kamu eksotis, Bum! Tampak lebih garang, mainkan, Brooooooo!" godanya.
"Siap! Anjir deh, kamu Die. Haaaa!" Kami berkelakar seketika sebelum mengakhiri panggilan call singkat.
"Sudah selesai. Good job, Bum. Semoga lebih sukses," ucap pria gemulai pemilik Barbershop seraya menepuk pundak ini.
"Thanks. Kamu sudah banyak membantu, nanti saat aku mendapat royalti, segera aku membayar," godaku seraya meraba area vitalnya, kemudian bergegas pergi.
"Auhkh! Nackal lo ... Bum. Royalti? Ngaco! Nanti juga Adie datang."
"Iyalah, Bos gue!" teriakku menghentikan sejenak menghentikan langkah di depan pintu.
"Balik dari kampung kamu sudah jadi gembel, kok, tambah malah kayak orang stres!" teriaknya.
"Haaa ... haaa!" Seketika kami berkelakar.
*****
Aku memacu laju mobil arah sebuah cafe yang tidak lagi asing buatku. Sekali dua kali aku menarik napas dalam-dalam, sedikit merapal mantra lalu mengusap di wajahku.
__ADS_1
Sorang wanita cantik duduk menunggu dengan gusar. Mungkin dia sudah menunggu sedari tadi, resepsionis mengantarkan aku hingga ke mejanya.
"Halo, Nona. Ini Bapak Bumi Respati."
Senyumnya seketika mengembang saat resepsionis memberi tahu bahwa aku pria yang ia tunggu sedari tadi.
"Maaf, sudah membuat wanita secantik kamu menunggu lama," kataku berbasa-basi, kemudian meraih pucuk jemari tangannya. Bibirku mendarat ciuman di ujung jemarinya yang lentik dengan cat kuku mengoda hasrat.
"Oh, gak apa-apa, Bum."
"Ah, sepertinya dirimu sudah begitu mengenalku. Tapi kenapa aku belum tahu, siapa nama wanita secantik Anda?"
Ia meluaskan senyum, terlihat deretan gigi putih menawan membuat ingin segera mencecap manisnya.
"Dimitri Vangelis, panggil saja Mitri."
"Waoooow, nama yang sangat cocok untuk wanita cantik sepertimu." Aku memujinya seraya menatap tajam mata teduh, tapi menyimpan kebekuan yang harus segera dipanaskan.
Aroma harum menyeruak dari tubuhnya hingga membangkitkan gairahku yang dulu liar. Kami pun larut dalam cengkerama ringan diiringi musik melo menambah kesan romantis dinner malam pertama pertemuanku dengannya.
Setelah berbincang, rupanya Mitri belum lama menjanda, setelah mengetahui suaminya sering membawa wanita di bawah umur untuk kencan. Akhirnya ia memutuskan untuk berpisah secara resmi beberapa bulan lalu karena merasa muak.
Ada duka di bola mata indah itu terbaca olehku. Kuraih tubuhnya yang ramping meluruh dalam dekapan. Seketika naluri ini tersentuh seakan bisa merasakan apa yang sedang di alaminya saat itu.
"Sudah lama menjadi costumer, Adie. Ya?" tanyaku sembari menjauhkan tubuhnya dariku.
Ia mengusap gulir bening yang masih tersisa di kedua belah pipinya yang ranum. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Aku mengambil tissue dan mengusap lembut matanya yang sembab.
"Lho, kok?" Aku bertanya-tanya.
"Oh, kirain kamu seperti kuda betina yang butuh pejantan tangguh sepertiku." Aku mengejek. Kata-kata ini membuatnya memejamkan mata. Ia menatap tajam ke arahku.
"A-a-aku. Aku hanya ingin membalas perbuatannya padaku! Sungguh, aku bukan perempuan seperti itu." Terdengar lirih suaranya seraya menundukkan kepalanya.
Aku seketika tercengang mendengar penuturan darinya. Kembali aku menenangkan dirinya, dengan menggenggam tangannya erat. Malam makin larut, dinner malam ini begitu istimewa, baru kali ini bertemu klien yang sepertinya. Biasanya liar dan rakus. Geloranya menjijikkan. Hingga memaksaku harus menenggak minuman keras atau pil perangsang agar bisa mengimbangi klienku.
Namun, untuk malam ini. Aku melakukannya dengan sepenuh hati, rasanya berbeda saat mulai memainkan gemulai tubuh mulus nan satun. Ia hanya pasrah saat aku mulai mencumbu dengan rakus. Membuka satu demi satu helai, hingga polos. Mahkota yang tadi tertutup hijab kini tergerai, sedikit menutupi wajahnya saat mulai bermain. Napasnya memburu, sesekali lirih suaranya mengerang menahan kasar perangai ini.
"Pelan-pelan, Bum. Oh, oh ... sakit," ucapnya lirih seraya meremas sprei hingga terkoyak.
"Aku kasar, ya?" tanyaku dicuping telinganya.
"Iya, tapi---"
"Maafkan aku, sudah terbiasa seperti ini."
"Tidak, aku suka, Bum." Rupanya Mitri suka servis dariku. Ia kembali meminta mengulangi seraya tangannya mengusap lembut bulu halus yang tumbuh di dadaku.
Tidak seperti biasanya, justru tubuhku yang menjadi mangsa para wanita pemesan jasaku. Dengan pasrah biasanya kubiarkan mereka memainkan tubuh ini sesuka hati mereka. Asal ada tips tambahan. Atau request apapun dari mereka akan kulakukan semua tentu di bawah pengaruh alkohol juga pil perangsang.
Aku melakukan dengan rasa ikhlas kali ini.
***
Kami pun tertidur pulas setelah kembali mengulang, bercinta. Hingga aku terjaga saat sudah pagi dan seseorang membunyikan dobel. Rupanya waktunya sarapan pagi dari petugas hotel.
Aku membangunkan lelap Mitri dia begitu pulas dibalik selimut. Setelah mandi dan mengenakan pakaian rapi, kami sarapan berdua. Mitri terlihat cantik dengan balutan busana muslim, modis membungkus tubuh rampingnya. Mataku menatap, seakan enggan untuk melepaskannya. Mitri terlihat kikuk, berkali-kali ia membenahi hijab pashmina yang ia kenakan.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Habis, ngeliatin terus."
"Jadi malu dengan permainan semalam, ya?" tanyaku menggoda, rona merah mendominasi wajah Mitri. Ia membuang pandangan wajah ke arah jendela. Tatapan matanya menyimpan ratap.
Dada ini berdesir, suaranya terdengar lembut setiap menjawab pertanyaan dariku.
"Eh, sudah selesai. Aku pamit, Bum ...."
"Mitri ...." Ia tidak mengindahkan panggilan ini.
Mitri keluar, segera diri ini mengikuti langkahnya.
"Maafkan aku .... Sayang. Aku sudah kasar tadi malam. Jujur aku merasa jatuh cinta," bisikku di cuping telinga Mitri sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Senyum di balik bibir tipis Mitri mengembang tanpa kata. Akan tetapi sorotan mata indahnya menyiratkan rasa yang sama sepertiku, "jatuh cinta" mungkin aku terlalu gegabah. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan aku.
****
Setelah sampai di apartemen. Adie sudah siap dengan uang tunai di atas meja dengan dua cangkir kopi panas.
"Kok, sepi. Die? Istrimu mana?" tanyaku sambil mengambil posisi duduk di depannya.
"Masih di rumah teman. Ini aku pulang untuk memberikan hak kamu." Ade menyodorkan beberapa segepok uang merah padaku.
"Thanks, Die."
"Gimana semalam? Hah! Masih lugu, kan?"
"Ah, kok, kamu tahu Die? Banget Die ... kasihan." jawabku seraya jemari ini sibuk menghitung nominal jasaku semalam yang di patok oleh Adie.
"Tahulah. Makanya aku kasih ke kamu. Dia butuh pelampiasan dendam pada suaminya. Lumayan lo, Bum. Perempuan tajir melintir, tuh."
"Serius. Loe, Die?" tanyaku antusias.
"Serius dong, bagaimana? Aku baik, Kan?"
"Kamu mah, Bos mafia terbaik!" kataku sambil terkekeh.
"Mafia, ranjang!"
"Haaa ... itu maksud saya." Tawa kami berdua pecah.
Kami pun membahas banyak hal. Tentang Kedepannya aku tidak akan bekerja sendiri guna mencari klien. Tapi kini aku di bawah naungan Adie, dengan begitu ia wajib menyiapkan tempat tinggal juga semua fasilitas yang aku butuhkan.
Beberapa waktu kemudian.
Kini aku sudah tinggal di apartemen sendiri. Setiap hari siang entah malam tidak ada jeda untukku hanya bercinta dan bercinta. Melayani bokingan dari Adie. Julukan sebagai sang primadona masih sangat menjual hingga terkadang para wanita bernafsu kuda liar itu harus mengisi daftar pertemuan jika ingin merasakan jasaku.
Kesibukanku sebagai primadona sudah membuat aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting. Termasuk Bianca, perempuan desa itu tidak lagi pernah terlintas di pikiranku sama sekali.
Gemulai tubuh mulus para wanita sosialita membuatku enggan jika kembali bercumbu dengan Bianca lagi, bahkan hanya dalam khayal pun risih.
Dari penampilan tentu saja sangat jauh untuk sekedar membangkitkan gairahku. Itulah mengapa tidak ada rasa sesal sedikitpun kini telah meninggalkannya.
Namun, masih ada satu urusan pribadi yang sangat penting menyangkut harga diriku. Moza, yah! Mozza harus mendapatkan pelajaran atas lepasnya semua milikku. Ia penyebab Clarisa Santoso mengambil semua aset miliknya dariku, andai saja Mozza tidak banyak tingkah dan membiarkan hubunganku dengan Clarisa tetap terjalin pasti aku tidak akan kembali ke desa. Apalagi menikahi Bianca secara mendadak.
__ADS_1